Thursday, April 27, 2017

Ketika amalan bid'ah mengikis amalan Sunnah.


Dulu ketika masih remaja paman saya meninggal dunia karena sakitnya, saat itu tahun 90an, dan setelahnya malam-malam dirumah paman disibukkan dengan acara tahlil kematian, dan pada malam peringatan hari ke seribu meninggalnya paman tampa saya sengaja mendengar bibi saya mengeluh kepada beberapa orang famili tentang besarnya biaya pengadaan tahlil kematian, hingga memaksa pihak keluarga paman berhutang pada orang lain, jumlahnya hampir sebesar 500 ribu atau setengah jutaan untuk menutupi kebutuhan tahlil kematian paman. Jumlah itu sangat besar ditahun 90an, karena harga motor honda terbaru saat itu cuma 2 jutaan, kalau dikonversi dengan nilai barang sekarang seperti motor honda yang sudah sekitar 15 jutaan maka 500 ribu nilainya saat itu sama dengan 5 jutaan dijaman sekarang, subhanaallah.
Jadi berandai-andai, kalau saat itu sudah kenal pemahaman Sunnah mungkin saya akan ikut menasehati bibi dan pihak keluarga paman, agar menjauhi amalan tersebut, karena hal ini tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya.
Setelah mengenal dakwah Sunnah saya baru tau bahwa sunnahnya dalam peringatan kematian adalah jamaah memberi makan kepada keluarga yang ditinggalkan, sementara dalam tahlil kematian justru terbalik, keluarga yang meninggal dunia justru memberi makan kepada jamaah yang datang, subhanaallah.
Jadi ingat pembahasan tentang hal ini bersama Ustadz Maududi Abdullah, kata beliau, " salah satu ciri amalan bid'ah adalah dia menjadi saingan utama dari amalan yang sudah disyariatkan, ketika amalan bid'ah itu diamalkan maka amalan yang sesuai Sunnah justru hilang atau tidak diamalkan." Dalam kajian lain ketika membahas tahlil kematian beliau mengatakan, "untuk melihat amalan ini benar atau salah kita kembalikan lagi kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, telah kita ketahui bersama dijaman beliau banyak orang meninggal dunia, hingga ribuan orang mati dijaman beliau, entah karena disebabkan peperangan ataupun karena sakit, namun tidak satupun kisah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam mengadakan acara tahlil kematian bagi yang meninggal dunia, hal ini menunjukkan amalan ini tidak benar, karena mustahil ada orang yang lebih mengetahui agama ini dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Mustahil beliau tidak mengetahui perkara baik dalam agama ini, dan beliau tidak pernah mengamalkan tahlil kematian ini, waallahua'lam."
Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat.
“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian).” [Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]
Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang kami turunkan di atas).
Berkata Imam Syafi’iy : “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317]
Kemudian beliau membawakan hadits Ja’far di atas.
Referensi dr.TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN ) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’ PARA SHAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM
Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Di web almanhaj. Or.id

No comments:

Post a Comment