Tuesday, January 31, 2017

Inilah manhaj kami, Manhaj Salaf.


Jika seseorang bertanya, "apakah Manhaj Salaf ini aliran baru?", maka kami akan menjawab justru ini aliran kuno, kami ingin mengkunokan agama kami seperti halnya agama para sahabat Nabi, para tabi'in dan tabi'ut, karena Allah menjamin siapa saja yang mengikuti mereka dengan surga(At Taubah 100), juga Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam sudah menyatakan kaum terbaik dari umat ini adalah hanya tiga generasi, disaat beliau hidup, setelahnya dan setelahnya.
Jika seseorang bertanya,"sejak kapan aliran berdiri?", maka kami akan menjawab ketika pertama kali Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam diangkat menjadi Rasul, maka sejak itulah Manhaj Salaf berdiri.
Jika seseorang bertanya," siapa ulama pendirinya?", maka kami jawab ulama pendirinya adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam.
Jika seseorang bertanya,dimana didirikannya Manhaj Salaf ini pertama kali?, maka kami jawab di Gua Hira ketika pertama kali wahyu turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam."

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Qur`an dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al-Firqatun Najiyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari an-naar (neraka) (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash c), disebut juga Ath-Thaifah Al-Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban z). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An-Najiyah, karya Asy-Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali)
Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al-Qur‘an dan Sunnah Rasulullah dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur‘an dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah r di dalam Sunnahnya. Sedangkan Allah telah berwasiat kepada kita:
“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.
Referensi dr artikel, "Mengapa Harus Bermanhaj Salaf?", ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.) di asyariah.blogspot.co

Islam kebanyakan dipahami sebagai kebiasaan dan ada istiadat

"Islam di Indonesia ini kebanyakan dipahami sebagai adat istiadat dan sekedar kebiasaan, bukan Islam yang dipahami karena keikhlasan, taat dan beriman kepada Allah dan RasulNya, sehingga kebanyakan umat muslim di negri ini tidak ada sikap samina wato'na terhadap perintah yang datangnya dari Allah dan RasulNya. Akhirnya dalam masyarakat kita kebanyakan muslim tidak mengetahui mana bid'ah dan mana Sunnah, juga mereka tidak mengetahui mana Tauhid dan mana Kesyirikan. Sesungguhnya inilah bencana bagi agama ini."
Dikutip dr Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah.

Ilmu itu didepan kita.


Kata Ustadz Maududi Abdullah kalau ada seseorang beramal dan terus beramal tampa tau ilmunya setelah itu dia bertanya kepada orang seperti ustadz, "maaf pak ustadz saya sudah beramal dan beramal, apakah amalan saya ini benar?", itu ibarat seperti seseorang berjalan dalam gelap dan dia membawa senter, namun senter itu disimpannya disakunya dalam keadaan mati, kemudian setelah berjalan jauh disebuah titik pemberhentian dia berhenti dan dia memakai senter untuk melihat jejak kakinya ke belakang, padahal harusnya cahaya senter itu didepannya, bukan dibelakang dia. Itulah kebodohan, karena dalam dia berjalan mungkin sudah menginjak lumpur dan kotoran hewan sebelumnya baru dia lihat jalannya. Kalau dia memakai senter didepannya mungkin dia akan tau jalan yang bagus dan baik untuk ditapaki dan dapat memghindari jalan berlumpur dan kotoran hewan. Artinya cari ilmunya kemudian amalkan itulah sikap yang baru benar, ilmu itu didepan menuntun kita kepada amalan yang benar.
Waallahua'lam.

Mencampur adukkan yang haq dan bathil adalah hasil tipu mushlihat setan.


Beberapa waktu yang lalu saya melihat di tv seseorang yang dulu dikenal sebagai anak band, dan kemudian dia telah berhijrah mengikuti firqoh tertentu diwawancari seorang reporter, diantara pertanyaan wartawan itu ada pertanyaan yang jawabannya bikin prihatin, pertanyaannya soal musik. "Bagaimana tanggapan anda mengenai hukum musik itu haram menurut beberapa kalangan umat muslim?, karena anda sekarang sedang sibuk membuat group musik Islami maka perlu saya tanyakan kepada anda", si anak band yang sedang pakai sorban gaya India itu menjawab, " yang mengharamkan musik itu mungkin belum paham benar hukum musik dan kedududkannya dalam Islam, kita maklumi saja"., subhanaallah, jawaban jahil, kalau mengatakan yang berpaham musik haram belum mengerti hukum Islam lebih mendalam, astaghfirullah, pernyataan tersebut sama saja dia menghinakan Imam Syafii dan para ulama besar yang memfatwakan musik haram. Ini tentu jawaban yang sangat bodoh, Imam Syafii hafal jutaan hadist beserta sanadnya pendapatnya mengatakan dalam Kitab Al Umm, " alat musik sama halnya dengan daging babi", ini jelas bertolak belakang dengan pernyataan si anak band, sementara si anak band mungkin baru hafal satu dua biji hadist dan mungkin sanadnya juga gak tau sama sekali.
Mendengar jawaban itu jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, " karena kebodohan sudah merajalela ditengah umat kita, maka mereka cenderung berimprovisasi dengan agama seakan ada sebagain urusan tidak disampaikan oleh Rasulullah, padahal semua perkara dalam agama ini telah disampaikan semuanya kepada kita, tak secuilpun perkara tertinggal, tidak sedikitpun ada perkara yang tidak ada aturannya dalam agama ini. Dengan dalih ada urusan yang belum disampaikan Rasulullah itu mereka merubah-rubah hukum dalam agama ini dengan improvisasinya, yang terjadi akhirnya mereka mencampur adukkan yang haq dan yang bathil agar terlihat samar, semisal hukum musik asalnya adalah haram, namun mereka mencoba mengIslamisasikan musik agar terasa benar dan halal."
Sesungguhnya mencampur yang hak dan yang bathil adalah larangan dalam agama ini.
Allah Ta'ala berfirman:
(وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ) [سورة البقرة 42]
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." [Qs. Al-Baqoroh: 42]
✍ Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
『 Dua kondisi yang akan selalu beriringan karena barangsiapa yang mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan maka dia telah menjadikan kebenaran bercampur dengan kebatilan sehingga tersamar dari yang haq sebatas apa yang tampak dari kebatilan maka jadilah bercampur aduk,
❝ dan barangsiapa yang menyembunyikan kebenaran maka dia butuh untuk mengisi tempatnya dengan kebatilan sehingga menjadi tercampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. ❞
☝️ Dan oleh karenanya setiap orang yang menyembunyikan dari ahli kitab apa yang telah Allah turunkan maka pastinya akan tampak kebatilan, dan demikian halnya ahli bid'ah maka engkau tidak akan menjumpai seseorang pun yang meninggalkan sebagian sunnah yang wajib untuk dibenarkan dan diamalkan melainkan dia terjatuh kedalam sebuah kebid'ahan. 』
——○●※●○——
📚 Majmu' Al-Fatawa (7/137).
Referensi dr : "Jangan engkau campur yang haq dan bathil", dari Ustadz Muahmmad Abu Abdillah Al-Biribisi, di blog, ihdhinassirathalmustaqim.blog

Sunday, January 29, 2017

Betapa bengis dan jahatnya pelaku riba.


Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda, "Jauhilah tujuh dosa besar yang membawa kepada kehancuran,” lalu beliau sebutkan salah satunya adalah memakan riba. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits yang lain Nabi shallahu ‘alahi wasallam mengancam pelaku riba dengan lebih tegas, beliau bersabda,
"Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (Shahih, Silsilah Shahihah no.1871)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Hakim dan dishahihkan oleh beliau sendiri, dijelaskan, "Bahwa satu dirham dari hasil riba jauh lebih besar dosanya daripada berzina 33 kali".
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad yang shahih dijelaskan, "Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari hasil riba dan dia paham bahwa itu adalah hasil riba maka lebih besar dosanya daripada berzina 36 kali".
Maka bayangkan betapa jahat dan bengisnya seseorang yang mampu berzina sebanyak itu dan bahkan pelaku riba paling ringan setara dengan berzina dengan ibu kandungnya sendiri, lelaki seperti apa yang mampu melakukan kemaksiatan seperti itu?, maka jauhi riba.
Dikutip dr Ustadz Muhammad Arifin Badri

Waspadai berita bohong(HOAX)!!!


Dulu ketika masih sekolah saya sempat mengikuti beberapa pelatihan jurnalistik oleh media skala Nasional, banyak teman seangkatan pelatihan saat ini bekerja di beberapa media massa baik koran dan televisi nasional. Namun kalau melihat kehidupan sehari-hari mereka, melihat apa yang mereka kerjakan kadang apa yang disampaikan merka lewat tulisan dan tayangan sering kali menyerempet kepada ketidak jujuran, bahkan cenderung mengandung kebohongan, itu mereka lakukan agar mendapat perhatian lebih dari pembaca dan penontonnya, dengan demikian ratting dan penghasilan mereka naik dengan sendiri nya, bikin saya miris dan takut untuk terjun didunia pemberitaan. Mungkin dengan alasan itu saya jadi mikir2 mengikuti jejak teman2 saya ke dunia pemberitaan.
Dijaman ini dimana internet menjadi kebutuhan sehari-hari dan jangkauannya sangat luas hingga masuk kerumah-rumah, kantor-kantor, sampai pelosok desa, memudahkan tersebarnya berita secara cepat dan luas. Demikian juga dengan tersebarnya berita bohong, dengan cukup satu sentuhan "share", maka sebuah berita bohong dapat menjangkau langsung kepada ribuan bahkan jutaaan orang, melalui berita tersambung dengan cara di share dari orang satu kepada lainnya.
Makanya jangan heran kita selalu disuguhi banyak berita setiap hari, dan banyak diantaranya adalah berita bohong.
Sungguh benar Allah Azza wa Jalla mengingatkan hal ini jauh hari, jauh sebelum ada koran, tv dan internet, sudah diingatkan 1400an tahun yang lalu kepada umat manusia agar berhati-hati dalam menanggapi berita hoax.
Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].
Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”
Maksudnya, janganlah kalian menerima (begitu saja) berita dari orang fasik, sampai kalian mengadakan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu.
(Dalam ayat ini) Allah memberitahukan, bahwa orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta, akan tetapi kadang ia juga benar. Karenanya, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka ditolak.
Kemudian Allah menyebutkan illat (sebab) perintah untuk meneliti dan larangan untuk mengikuti berita-berita tersebut.
Allah berfirman.
أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
“Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya”.
Kemudian nampak bagi kamu kesalahanmu dan kebersihan mereka.
فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [Al Hujurat : 6]
Terutama jika berita tersebut bisa menyebabkan punggungmu terkena cambuk. Misalnya, jika masalah yang kalian bicarakan bisa mengkibatkan hukum had, seperti qadzaf (menuduh) dan yang sejenisnya.
Sungguh, betapa semua kaum muslimin memerlukan ayat ini, untuk mereka baca, renungi, lalu beradab dengan adab yang ada padanya. Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong yang disebarkan orang fasiq yang jahat! Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyakkan, akibat berita yang tidak benar!Berita yang dibuat oleh para musuh Islam dan musuh umat ini. Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan persatuan umat ini, mencabik-cabiknya dan mengobarkan api permusuhan diantara umat Islam.
Betapa banyak dua saudara berpisah disebabkan berita bohong! Betapa banyak suami-istri berpisah karena berita yang tidak benar! Betapa banyak kabilah-kabilah, dan kelompok-kelompok saling memerangi, karena terpicu berita bohong!
Allah Azza wa Jalla Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui, telah meletakkan satu kaidah bagi umat ini untuk memelihara mereka dari perpecahan, dan membentengi mereka dari pertikaian, juga untuk memelihara mereka dari api fitnah.
Akan tetapi sangat disayangkan, tidak ada satu pun masyarakat muslim yang bebas dari orang-orang munafiq yang memendam kedengkian. Mereka tidak senang melihat kaum muslimin menjadi masyarakat yang bersatu dan bersaudara, dimana orang yang paling rendah diantara mereka dijamin bisa berusaha dengan aman, dan apabila orang akar rumput itu mengeluh, maka orang yang di tampuk kepemimpinan juga akan mengeluh.
Wajib atas kaum muslimin untuk waspada dan mewaspadai musuh-musuh mereka. Dan hendaklah kaum muslimin mengetahui, bahwa para musuh mereka tidak pernah tidur (tidak pernah berhenti) membuat rencana dan tipu daya terhadap kaum muslimin. Maka wajiblah atas mereka untuk senantiasa waspada, sehingga bisa mengetahui sumber kebencian, dan bagaimana rasa saling bermusuhan dikobarkan oleh para musuh.
Sesungguhnya keberadaan orang-orang munafiq di tengah kaum muslimin dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar. Akan tetapi yang lebih berbahaya, ialah keberadaan orang-orang mukmin berhati baik yang selalu menerima berita yang dibawakan orang-orang munafiq. Mereka membuka telinga lebar-lebar mendengarkan semua ucapan orang munafiq, lalu mereka berkata dan bertindak sesuai berita itu. Mereka tidak peduli dengan bencana yang ditimpakan kepada kaum muslimin akibat mengekor orang munafiq.
Referensi artikel ;
BERITA DAN BAHAYANYA, Oleh
DR Abdul Azhim Al Badawi, di web Almanhaj.or.id.co

Dengerin dimana saja Kajian Sunnah.


Radio Saku + flashdisk, harga Paket 250 ribu.
Radio merk itsuyama, ukuran 12cm x 7cm, dengan fasilitas input USB dan SD card, memungkinkan mendengarkan kajian dimana saja baik flashdisk ataupun SD card. Radio ini dilengkapi baterai hp yang mampu digunakan selama 5 jam operasional, dan dapat di charge kembali.
USB seri 3 dari Ar-Ribath berisi 100 jam kajian nonstop, dari para ustadz kajian Sunnah di Indonesia, diantaranya Ustadz Syafiq Reza Basalamah, Ustadz Firanda Adirja, Ustadz Erwandi Tarmidzi, Ustadz Abu Haidar As Sundawy, Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Ustadz Abdullah Taslim dan ustadz lainnya, total sejumlah 13 ustadz, dan dengan berbagai tema kajian yang patut didengar, dipahami agar menjadi ilmu manfaat dalam kehidupan sehari-hari, karena agama adalah nasehat.
Bagi teman2 yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.

Jauhkan kesyirikan dari mereka sejak dini.


Melihat anak muda berkalungkan jimat, dan berjalan beriringan dengan orang tuanya, jadi ingat perkataan Ustadz Kholid Syamhudi, "dijaman ini karena banyak diantara umat muslim awam akan agamanya, akhirnya kebanyakan orang tua panik ketika anaknya punya nilai buruk dalam pelajaran matematikanya, mereka akan bertindak cepat dengan mengkursuskan anaknnya agar dikemudian hari nilainya bagus, bahkan dengan membayar mahal sekalipun para orang tua mau melakukannya. Sementara kebanyakan orang tua tidak sedikitpun ada sikap takut anaknya berbuat kesyirikan yang sangat dilarang dalam agama ini. Padahal ketika nilai matematika seorang anak buruk hal itu tidak akan membuatnya masuk neraka, sementara seseorang anak yang kemudian hari sampai dewasa berbuat kesyirikan akan terancam masuk neraka dan ditimpa azab karena perbuatan syiriknya. Harusnya setiap orang tua muslim kuatir anaknnya berbuat kesyirikan, dan berusaha dengan menjaga agar anaknya jauh dari perbuatan kesyirikan, yakni dengan cara mengenalkan aqidah tauhid sejak dini kepada merka."
Sesungguhnya wajib atas setiap muslim dalam kehidupannya untuk khawatir terjerumus dalam setiap dosa yang menyebabkan kemurkaan dan kemarahan Allah Jalla wa ‘ala. Dan perkara yang paling besar bagi seorang hamba yang seseorang tersebut wajib khawatir darinya dan bersemangat untuk menjauhinya, serta bersungguh-sungguh untuk menjauhinya adalah syirik (menyekutukan) Allah Jalla wa ‘ala.
Benar, syirik kepada Allah Jalla wa ‘ala adalah dosa yang paling besar dan yang paling membahayakan. Syirik kepada Allah adalah kezaliman yang paling besar, dosa yang paling besar, dan merupakan dosa yang tidak diampuni (jika tidak bertaubat sebelum mati). Syirik kepada Allah merusak rububiyah, mencacati uluhiyah, merupakan buruk sangka kepada Rabb-nya seluruh makhluk Jalla wa ‘ala. Syirik kepada Allah Jalla wa ‘ala menyamakan selain Allah dengan Allah, menyamakan sesuatu yang kurang dan miskin dengan Dzat yang Maha Kaya dan Maha Agung Jalla wa ‘ala. Sesungguhnya kekhawatiran kita terhadap dosa syirik kepada Allah Jalla wa ‘ala harus lebih besar dari kekhawatiran kita dari seluruh perkara yang lain. Terdapat nash dan dalil-dalil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya -semoga sholawat dan salam atasnya. Jika seorang hamba memikirkan dalil-dalil tersebut serta merenungkannya, niscaya akan mendatangkan ke dalam hatinya perasaan khawatir dari syirik dan menjadi peringatan darinya serta menjaga dari terjerumus ke dalamnya.
Dan diantara dalil tersebut adalah firman Allah Jalla wa ‘ala di 2 tempat dalam surat An Nisa ( ayat 48 dan 116)
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An Nisa : 48 dan 116).
Dalam ayat tersebut terdapat penjelasan bahwa barangsiapa yang berjumpa dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam keadaan berbuat syirik, maka sesunggunya ia tidak akan mendapatkan ampunan Allah. Bahkan tempat kembalinya ke neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak pula diringankan azabnya.
Referensi dr artikel , "Kewajiban menjauhi kesyirikan dan kuatir terjerumus kepadanya", Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Abbad, di web almanhaj.or.id. co

Salah satu penyebab istiqomah dalam amal ibadah adalah tergantung siapa teman kita?.


Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Zubair Haawary menyebutkan sebab-sebab seseorang istiqomah dalam amal ibadah, yakni tergantung dari siapa teman kita, kata beliau, " jika kita ingin istiqomah dalam amal ibadah maka pilihlah teman-teman yang mendukung kita agar punya semangat beramal ibadah dan menjauhi kemaksiatan. Jangan anda ingin istiqomah dalam amal ibadah namun disisi lain teman2 anda justru mendorong kepada kemaksiatan, tentu keinginan agar istiqomah dalam amal ibadah akan sulit tercapai, karena pengaruh teman kepada seseorang sangatlah besar. Jangan duduk bersama teman2 yang suka membicarakan gossip artis, menggibah(gossip), suka namimah(adu domba), bahas politik dan seterusnya, tapi carilah teman yang mengajak ke kajian agama, yang mengajak kita bersedekah, teman yang menasehati kebaikan dan seterusnya."
Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap remeh. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tak salah dalam memilihnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman -HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)
Sudah dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang.
Referensi dr artikel, "Teman anda cerminan diri anda", dr Ustadz Abu Ahmad Yai di web almanhaj.or.id

Salah satu Ciri akhir jaman yakni ketika umat muslim kebanyakan beragama dengan syahwatnya.


Melihat di tv pagi ada acara dakwah, dimana ada beberapa pengisi materi dan juga dihadiri beberapa penonton, menurut saya ini kontradiktif, yang disampaikan adalah tentang agama namun tata caranya jauh dari Islami, wanita dan pria yang bukan mahramnya berkhalwat, bercampur aduk juga bercanda tawa diantara mereka, bernyanyi dan bersuka ria, seperti seakan tidak serius dalam menyampaikan ke pada khalayak baik penonton distudio atau jutaan penonton tv dirumah, subhanaallah. Namun inilah yang disukai dijaman ini, gaya dakwah gaul, yang jauh dari kaidah Islam. Jadi ingat kata Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah, "ciri dari tanda akhir jaman diantaranya adalah merajalelanya kebodohan, sehingga orang kebanyakan beragama menurut kan syahwatnya. Hal ini terlihat saat ini dimana banyak orang a lebih suka kepada kajian agama yang penuh canda dan tawa, padahal setelahnya mereka tidak mendapatkan apa2 selain kesenangan saat itu, dan mereka meninggalkan kajian agama yang benar2 serius menyampaikan ilmu haq, ilmu syar'i yang disampaikan dengan cara yang benar, ilmu yang mampu membuat orang memperbaiki amal dan ibadahnya."
Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda,
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَ يُثْبَتَ الْجَهْلُ
“Diantara tanda-tanda kiamat: Diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kejahilan”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (80), dan Muslim dalam Shohih-nya (2671)]
Di akhir zaman, seperti zaman kita ini, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda,
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ
“Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. [HR. Al-Bukhoriy (6654)]
Di tengah kabut kejahilan menyelimuti manusia, tersebarlah berbagai macam maksiat berupa pembunuhan, pencurian, perzinaan, dan kerakusan terhadap harta. Ini semua diakibatkan oleh hilangnya ilmu agama yang bermanfaat di tengah manusia. Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda dalam riwayat lain ketika menyebutkan tanda dekatnya hari kiamat,
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُُرُ الْهَرْجُ
“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. [HR. Al-Bukhoriy (989) dan Muslim (157)]
Al-Imam Ibnu Baththol –rahimahullah- berkata , “Semua yang dikandung oleh hadits ini berupa tanda-tanda kiamat sungguh kami telah melihatnya dengan mata kepala. Ilmu sungguh telah diangkat, kejahilan muncul, diletak kannya penyakit rakus dalam hati, fitnah (musibah) merata, dan pembunuhan banyak”. [Lihat Fath Al-Bari (13/16)

"Akidah Golongan yang selamat"


Penyusun: Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami
Tahqiq: Ahmad bin Ali Alusi Madhkhali

Ukuran: 15,5 cm x 24 cm
Tebal: 366 Halaman
Berat: 0,6 kg, Soft Cover
Judul Kitab Asli: A’lam As-Sunnah Al-Mansyurah Li I,tiqad Ath-Thaifah Al-Manshurah

Resensi:

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Buku ini akan mengupas tuntas tentang pelajaran-pelajaran masalah akidah dalam bentuk tanya-jawab yang akan membawa pelakunya pada golongan yang selamat, amin. Berikut di antara isinya:
Apa arti Kufr Juhud?
Yakni kekafiran karena menyembunyikan kebenaran dan tidak mau tunduk terhadap kebenaran tersebut secara lahir, meskipun secara keyakinan mengakui dan mengetahui kebenaran tersebut. Seperti Fir’aun dan kaumnya terhadap Musa Alaihissalam, atau kekafiran kaum Yahudi terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (An-Naml: 14).
Firman Allah Azza wa Jalla tentang orang-orang Yahudi,
“Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya.” (Al-Baqarah: 89).
Firman Allah Azza wa Jalla, “Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui .” (Al-Baqarah: 146)
Harga 65 ribu, Harga belum termasuk ongkos kirim, bagi teman yang berminat silahkan inbox atau hubungi lewat WA 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.

Thursday, January 26, 2017

Hinakan dunia

"Jika seseorang selesai melakukan shalat, setelah itu dia pergi keluar dari rumah dan ketika dijalan dia nampak mobil mewah kemudian dia merasa mobil itu terasa lebih besar dari shalat yang baru dilakukannya, maka sesungguhnya dalam hatinya masih dipenuhi sifat cinta dunia, jika itu terjadi dapat menjerumuskan kepada kemaksiatan apapun, dia masih sanggup mencuri, menipu dan berbuat curang agar tercapai kecintaannya akan dunia. Oleh karenanya biasakan besarkan amal ibadah dihati kita dan rendahkan serta hinakan dunia, insyaAllah itu menjadikan kita zuhud, dan terhindar dari perbuatan2 zalim".
Dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Jangan sampai salah bawa bekal.


Dalam sebuah kajian di Bogor, Ustadz Abdullah Zein MA, bertanya kepada jamaah kajian, "diantara jamaah yang hadir adakah yang berasal dari kota yang jauh?, diantara jamaah ada beberapa orang yang mengangkat tangan, ada yang dari Jakarta, Bandung dan daerah lain seputar Bogor, dan ketika dicek ternyata diantara jamaah ada yang dari tempat yang jauh yakni berasal dari Jambi, kemudian jamaah itu ditanyai ustadz, " benar dari Jambi?", "benar ustadz", kata orang itu, lalu ustadz bertanya lagi," berapa banyak bawa baju dari Jambi untuk persiapan menginap disini?", "cukup banyak Ustadz, ada beberapa stel", lalu ustadz bertanya," kalau misal sampeyan pergi ke tetangga terdekat di Jambi sana apakah perlu bawa koper dan baju? ", " tentu tidak ya ustadz khan dekat dan sebentar", lalu Ustadz Abdullah Zein MA menjelaskan hal ini, " demikianlah kita melihat bekal akherat, karena perjalanan kita dari sejak dimatikan oleh Allah, kemudian dialam kubur, sampai ke akherat adalah perjalanan panjang maka perlu bekal yang cukup. Maka bagi mereka yang menganggap dunia adalah utama dari akheratnya, seperti halnya orang pergi dari Jambi menuju Bogor dan tidak membawa bekal apa2 kemudian di Bogor akhirnya kerepotan, sementara pergi ke tetangga yang jaraknya dekat dia malah bawa koper dan banyak pakaian ini juga bikin repot. Maka biar gak repot untuk ketetangga gak perlu bawa koper dan banyak baju sebaliknya untuk perjalanan yang jauh bawa koper dan cukup baju juga agar gak repot".
Hari akhirat adalah hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna dan hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia. Juga pada hari itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata penuh penyesalan:
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” [al-Fajr/89:24]
Maka hendaknya setiap Muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan bagi manusia yang sesungguhnya. Kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [al-Hasyr/59:18]
Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qatâdah rahimahullah[1] berkata: “Senantiasa tuhanmu (Allah Azza wa Jalla ) mendekatkan hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok”.
Referensi dr artikel, "perjalanan menuju akherat", Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni MA, di almanhaj.or.id

Agar selamat ditengah jaman fitnah berpegang teguhlah kepada Risalah.


Di inbox saya ada beberapa teman yang bertanya tentang Hadi tv, mereka sering menonton acara dalam tv itu dan kemudian bertanya ini tv dari paham apa, dan ketika saya jawab itu channel tv yang dimiliki orang syi'ah dan mensyiarkan paham syi'ah kepada masyarakat baru mereka kaget, kekagetan mereka terutama sudah sering mengkonsumsi ajaran didalamnya dan baru tau kalau itu dari syi'ah. Kemudian saya sarankan dia untuk mengacak channel tv itu agar tidak ada lagi kemungkin untuk nonton lagi, sehingga syubhat2 yang disebarkan mereka tidak sampai kepada kita dan keluarga. Melihat hal ini jadi ingat perkataan Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, kata beliau, "kita mau tidak mau sedang hidup dijaman yang penuh fitnah itu ujian bagi kita, ketika kita menisbatkan diri kepada Ahlu Sunnah maka kita akan hidup ditengah kelompok2 yang sesat dan menyesatkan. Ibarat kita berdiri ditengah kerumunan, dan sekitar kita ada banyak orang yang berusaha menanamkan syubhat kelompoknya kepada kita, di belakang kita ada paham khawarij yang berusaha menanamkan syubhat khilafah dan daulah, di samping kiri ada orang berpaham syi'ah ingin menanamkan syubhat kecintaan ahlul bait dan menistakan para sahabat Nabi, ada orang berpaham tassawuf yang ingin menamkan syubhat ilmu filsafatnya, dan dikanan kita ada orang berpaham liberal yang ingin menanamkan paham sekulernya. Dan sikap kita ditengah kerumunan itu tidak jalan lain agar kita selamat selain berpegang teguh kepada risalah yang disampaikan Allah dan RasulNya."
Suatu saat seseorang bertanya kepada Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan ; Berikanlah nasihat kepada kami terutama di zaman ini, dimana banyak fitnah didalamnya, dan tersebarnya ahlul bida’ (orang yang membuat ajaran baru dalam agama) dan wafatnya para ulama
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:
"Pertama, aku nasihatkan kepada anda untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala memperbanyak do’a agar Allah menguatkan kita diatas agama ini dan menjaga kita dari buruknya fitnah.
Kemudian, aku nasihatkan kepada anda untuk menuntut ilmu, menuntut ilmu dari para ulama dan bersemangat untuk menuntut ilmu, karena sesungguhnya seseorang tidak akan terjaga dari fitnah -dengan izin Allah- kecuali dengan ilmu yang benar.
Adapun apabila engkau tidak memiliki ilmu yang benar, boleh jadi engkau berada dalam fitnah namun engkau tidak menyadarinya dan tidak mengetahui bahwasanya hal tersebut adalah fitnah. Maka belajarlah (ilmu agama) dari para ulama, dan janganlah anda malas untuk menuntut ilmu, apapun yang terjadi."
dalam hadits yang mutawatir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya.”
Beliau menyatakan pula,
افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqah ‘ golongan ’ dan telah terpecah orang-orang Nashara menjadi tujuh puluh dua firqah dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah. Semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah.” (Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Zhilalul Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shahihain -rahimahumallahu-)
Karena itulah, Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh di atas apa yang para shahabat berada di atasnya dan mengikuti mereka.” Lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1/176.
Referensi dr "Nasehat dijaman Fitnah", oleh Muhammad Oksa di web Muslim.or.id, dan " pijakan seorang Muslim ditengah gelombang fitnah ", oleh Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di web as-nashihah.co

Kematian mengajari kita banyak hal.


Di Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru beberapa waktu yang lalu ada jenasah di shalatkan disitu, sebenarnya sudah sering ada jenasah di masjid ini, namun yang tidak biasa kala itu yang hadir menshalatkan mencapai ribuan orang, mungkin bagi yang tidak mengetahui akan bertanya-tanya sipakah gerangan yang dishalatkan? Kenapa ada ribuan orang hadir untuk menshalatkan dia seakan itu adalah kematian seorang ustadz atau orang penting? Kenapa banyak sekali orang hadir mengantarkan kepergiannya?, seakan jamaah yang hadir ribuan orang itu sangat mencintai sang jenasah.
Ketahuilah sang jenasah adalah seorang pemuda berusia beliau kurang lebih 17 tahun, usia pelajar yang duduk di kelas dua menengah atas. Diantara jamaah Masjid Raudhatul Jannah namanya sangat dikenal karena segala kebaikan amal ibadahnya, meskipun usinya belia namun apa yang dilakukan selama hidupnya dapat menjadi teladan bagi siapa saja. Dari pembicaraan jamaah Masjid Raudhatul Jannah menyebarkan keharuman amalan2 si pemuda, diantaranya dia aktif di halaqah Alquran yang biasa disebut tahsin, dalam hal puasa juga luar biasa, puasa daud tidak pernah putus diamalkannya, dalam hal sedekah dia sering membeli kurma dan kemudian membaginya kepada siapa saja di lingkungan masjid, demikian juga dia sering belanja buku dan membagikan kepada para teman2 seusianya dan banyak lagi amalan indah dikenang banyak orang. Jika kebanyakan remaja menghabiskan waktunya di jalanan, di warnet, dan hal yang tidak berguna lainnya, tidak dengan si pemuda Rahimahullah, dia menghabiskan waktunya di Masjid Raudhatul Jannah, setiap selesai sekolah, tidak pulang ke rumah namun ke masjid, dan menyibukkan dengan aktifitas amal ibadah hingga sore hari, bahkan baru pulang ke rumah selepas isya'.
MasyaAllah, pemuda dengan penuh amalan indah itu dipanggil Allah Azza wa Jalla lebih cepat melalui sebuah kecelakaan tragis.
Terima kasih, engkau mengajari amalan2 indah, semoga menjadi teladan bagi remaja usiamu dan kami semua, semoga Allah Azza wa Jalla merahmati dirimu, aaminn.
Yuk perbanyak amalan indah disisa hidup kita, agar menjadi bekal perjalanan panjang berikutnya, sebelum kematian itu datang kepada kita.
Benar kata Ustadz Abu Zubair Haawary, "salah satu kunci agar istiqomah dalam amal ibadah yakni perbanyak ingat kematian, karena dengan demikian kita akan selalu ingat bekal kita berupa amal ibadah itu masih sangat sedikit".
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. [HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].
Dalam riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu. [Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333].

Berdoa meminta surga tanda tidak ikhlas dalam beramal ibadah?.


Dalam masyarakat kita ada sekelompok orang yang memahami bahwa jika seseorang beramal ibadah dan berdoa hanya berharap surga maka orang itu tidak ikhlas dalam amal ibadah dan doanya. Ketahuilah ini adalah pemahaman yang bathil, karena faktanya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, manusia yang paling mulia di permukaan bumi sekaligus orang yang paling memahami agama ini dari siapapun masih berdoa mengharapkan surga dan meminta para sahabat untuk selalu berharap meraih surga.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun Meminta Surga
Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, “Do'a apa yang engkau baca di dalam shalat?”
أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ
“Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan 'Allahumma inni as-alukal jannah wa a'udzu bika minannar' (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu'adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).”[HR. Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih wa Dhoif Sunan Abu Daud no. 792.]
Nabi Menyuruh Meminta Tempat yang Mulia untuknya di Surga
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.”[HR. Muslim no. 875]
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.
Benar juga, kalau beramal ibadah dan berdoa tampa berharap surga, ibarat seseorang berjalan tampa tujuan, kalau ditanya mau jalan kemana?, dia menjawab,"pokoknya berjalan", subhanaallah.

Jauhi pemahaman syafa'at kesyirikan.


Dulu mungkin karena masih jahil dan jauh dari pemahaman Sunnah, beragama masih didasari ikut2an, akhirnya sering ikut cari keberkahan dari makam2 orang yang dianggap wali Allah, ikut haul disana sini dan seterusnya. Semua itu dilakukan berharap kelak saat hisab dapat syafa'at dari orang2 yang dianggap suci dan dekat dengan Allah Azza wa Jalla atas amalan2 nya. Setelah mengenal Sunnah baru mengerti pemahaman syafa'at yang benar, dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah Lc menjelaskan panjang lebar tentang syafa'at, "tidak ada keraguan ada syafa'at dalam agama kita, namun syafa'at atau lebih umum dikenal orang adalah rekomendasi adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki oleh Allah dan siapa saja orang yang mendapatkannya juga atas kehendak Allah Azza wa Jalla, jadi bukan kehendak orang yang diberikan syafa'at, bahkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam pun juga demikian, beliau memberikan syafa'at kepada orang2 yang diijinkan oleh Allah diberikan syafa'at, karena syafa'at mutlak milik Allah Azza wa Jalla saja".
Perhatikanlah firman Allah, “Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah lah syafa’at itu semuannya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Az Zumar: 44)
Ketahuilah, ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa syafa’at segenap seluruh macamnya itu hanya milik Allah semata. Allah kemudian memberikan kepada sebagian hamba-Nya untuk memberikan syafa’at kepada sebagian hamba yang lainnya dengan tujuan untuk memuliakan menampakkan kedudukannya pemberi syafa’at dibanding yang disyafa’ati serta memberikan keutamaan dan karunia-Nya kepada yang disyafa’ati untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih baik atau kebebasan dari adzab-Nya.
Syarat Terjadinya Syafa’at
Orang yang memberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at itupun bukan sembarang orang. Syafa’at hanya terjadi jika ada izin Allah kepada orang yang memberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan yang disyafa’ati. Allah berfirman, “Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al Anbiya: 28) dan firman Allah, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-(Nya).” (An Najm: 26). Dan juga firman-Nya, “Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab: ‘(Perkataan) yang benar, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’.” (Saba: 22-23)
Referensi dr artikel "Syafa'at hanya milik Allah"_ karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc., web almanhaj.or.id

"Fatwa-Fatwa Terkini".


Penulis : Majmu’ah Minal Ulama
Deskripsi : xxii+656 hal., xviii + 580 hal., xxxiii+672 hal.(HC)
Harga : @Rp.105.000,-/Jilid
Satu hal yang selaras dengan akal manusia, bahwa ucapan kelompok manapun dalam suatu masalah tidak akan diterima kecuali bila mereka yang mengucapkannya adalah orang yang menekuni dan menguasai bidang tersebut. Adalah aneh bilamana Anda melihat banyak di antara kaum muslimin begitu mudah menerima ajaran agama mereka dari siapa saja tanpa proses pengecekan atau penelitian terlebih dahulu.
Kita sering menyaksikan dan mendengar kelompok-kelompok orang yang berlomba-lomba mengeluarkan fatwa sebelum merujuk kepada ahlinya, menyanggah hukum syari’at, padahal mereka bukan ahlinya serta suka mengevaluasi pendapat ulama padahal mereka ibarat orang yang duduk di deretan paling belakang dalam suatu kafilah.
Manakala kebanyakan orang telah bermalas-malasan untuk mencari ulama dan bertanya kepada mereka serta adanya orang yang tak dikenal yang terlalu berani mengeluarkan pernyataan dan fatwa, maka terjadilah sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa kelak manusia akan menjadikan orang-orang yang jahil sebagai pemimpin, mereka ditanyai lalu memberikan fatwa tanpa landasan ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.
Oleh karena itu, amat mendesak sekali kebutuhan akan adanya pendekatan melalui fatwa dan jawaban terhadap masalah yang tengah dialami oleh setiap muslim dan muslimah, sehingga bagi pencari kebenaran terdapat peluang untuk mendapatkannya dan menimba dari sumbernya yang orisinil, apalagi bila sumbernya itu mampu memuaskan kebutuhan dan menuntaskannya.
Bagi siapa saja yang mengamati buku yang penuh mutiara-mutiara fatwa dan ucapan berharga ini, baik dari sisi telaah, analisa, tata letak bab, susunan dan penyebutan sumber serta takhrij yang dilakukan oleh pengoleksinya, pasti dia akan mengatakan bahwa pekerjaan ini bukanlah hal yang gampang apalagi dianggap kecil artinya.
Saya bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan buku ini bermanfaat bagi yang telah mengumpulkannya, membacanya dan mengamalkannya serta bermanfaat bagi kaum muslimin seluruhnya.
Bagi teman yang berminat silahkan hubungi lewat inbox atau hubungi WA saya di 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.

Ilmu agama adalah cahaya bagi umat manusia.


Masih ingat dulu sekali saat saya diterima disebuah bank skala nasional, setelah itu kami menjalani training produk dan sistem perbankkan beberapa bulan sebelum terjun ke kantor2 cabang. Dalam sebuah sesi tanya jawab saya bertanya kepada pembawa materi, seorang ahli dalam sistem perbankkan, pertanyaan saya, "maaf apakah apa yang kita kerjakan ini masuk riba yang diharamkan oleh agama Islam?*, jawaban trainer, " oh itu bukan riba ya, kita ini sebenarnya berdagang, cuma yang kita perdagangkan adalah uang, kita ambil dari Bank Indonesia uang dengan bunga 11%, dan kita jual lagi kepada masyarakat dalam bentuk kredit dengan bunga 24%, selisih dari Bunga Bank Indonesia yang disebut BI Rate dengan bunga kredit kita itulah hasil keuntungan dari jual beli yang kita kerjakan, jadi gak haram", saya mendengar itu cuma manggut2, maklum namanya juga gak tau sama sekali, dan percaya dengan yang disampaikan trainer bahwa apa yang kami kerjakan tidaklah haram dan bukan riba. Namun sekarang kalau ingat2 saat itu jadi tertawa, menertawakan kebodohan saya saat itu, sekaligus sangat bersyukur, karena para ustadz dalam beberapa kajian yang saya ikuti telah menyampaikan pemahaman yang benar soal riba, sekarang baru tau bahwa yang dilakukan orang2 yang berpakaian rapi di bank2 itu sama halnya dengan rentenir yang ada dikampung-kampung dan pasar-pasar, riba mutlak yang diharamkan dalam agama ini. Baru dari hal ini saya menyadari betapa pentingnya ilmu, dengan ilmu seseorang sulit ditipu, karena dengan ilmu seseorang tau mana yang haq dan bathil, mana yang haram dan mana yang halal, mana kesesatan dan mana hidayah.
Kata Ustadz Abu Haidar As Sundawy, "seseorang melakukan kemaksiatan didunia yang terang benderang dibawah lampu yang terang menyorot padanya, namun sesungguhnya dia melakukan dalam dunia yang gelap gulita, sehingga tidak tau mana yang haram dan halal, dia tidak tau mana kesesatan dan mana Hidayah, dia tidak mengerti mana yang haq dan mana yang bathil. Semuanya disebabkan dirinya tidak punya ilmu atas perbuatannya itu, karena ilmu adalah penerang di dunia yang gelap gulita ini."
Firman Allâh Azza wa Jalla :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا﴿١٧٤﴾فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allâh akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.[An-Nisa/4:174-175]
MAKNA KATA:
بُرْهَانٌ : Hujjah, argumentasi. Yang dimaksud dengan kata al-burhân dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
نُورًا مُبِينًا : al-Qur’an al-karîm
وَاعْتَصَمُوا بِهِ : Berpegang teguhlah dengan al-Qur’an dan dengan semua syari’at yang dibawanya
فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ : Di surga
صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا : Jalan yang bisa menghantar mereka keharibaan Rabb mereka di akhirat
PENJELASAN AYAT
Ketika menjelaskan ayat pertama, Syaikh Abdulmuhsin bin Abbad al-Badr hafizhahullâh mengatakan, “Dalam ayat ini terdapat pemberitahuan dari Allâh Azza wa Jalla untuk para hamba-Nya bahwa mereka telah kedatangan dalil-dalil yang pasti kebenarannya dari Allâh Azza wa Jalla yang menunjukkan rubûbiyah dan uluhiyah-Nya; kitab yang menunjukkan bahwa Dia-lah ilah yang haq yang semua jenis ibadah hanya boleh diperuntukkan kepada-Nya. Dalam ayat tersebut terdapat pemberitahuan dari Allâh Azza wa Jalla bahwa Dia telah menurunkan kepada para hamba-Nya cahaya yang terang yaitu al-Qur’an. Allâh Azza wa Jalla menurunkannya kepada Rasul-Nya. Kitab itu berisi hidayah yang menunjukkan jalan yang lurus kepada umat manusia. Kitab itu berisi hal-hal yang bisa membimbing manusia agar terselamatkan dari kegelapan menuju cahaya… Allâh Azza wa Jalla menamakan kitab yang diturunkannya itu sebagai cahaya karena kitab itu menerangi jalan yang bisa menghantarkan para hamba untuk meraih kebaikan dan keberuntungan. Diantara ayat-ayat yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan padanya bahwa al-Qur’an itu sebagai cahaya yaitu:
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا
Maka berimanlah kamu kepada Allâh dan rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan [At-Taghâbun/64:8]
Juga dalam firman-Nya:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا
Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. [Asy-Syûrâ/42:52]
Juga dalam firman-Nya:
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung [Al-A’râf/7:157]
Juga dalam firman-Nya:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ﴿١٥﴾ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allâh, dan Kitab yang menerangkan.
Dengan Kitab itulah, Allâh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allâh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus [Al-Maidah/5:15-16]

Tetangga yang baik itu mahal.


Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah mengisahkan tentang betapa mahalnya tetangga yang baik , berikut kisahnya:

Seseorang datang kepada orang yang akan menjual rumahnya, maka terjadi percakapan diantara mereka, "maaf pak saya dengar bapak mau menjual rumah?", dijawab, " iya pak benar saya akan menjual rumah saya", dan ditanya kembali, "terus kalau boleh tau harganya berapa ya pak?, saya berminat membeli rumah bapak", si penjual rumah berkata, " satu milyar pak", mendengar harga itu seketika si calon pembeli rumah kaget, "waduh mahal amat ya pak, apa gak salah pak harganya?, karena setau saya pasaran rumah disini mungkin rumah bapak paling mahal cuma 500 jutaan." Si penjual rumah membenarkan, "benar pak harga rumah saya adalah 500 juta, namun saya punya tetangga yang baik, dia tidak pernah berbuat sesuatu yang mengganggu saya dan keluarga, bahkan dia sering membantu keluarga kami dalam banyak hal, ketika saya atau anak dan istri saya sakit mereka datang berkunjung, jika rumah kami tinggal dalam waktu lama seperti pulang kampung mereka menjaga dan mengawasi rumah saya, jika saya membutuhkan pinjaman uang mereka mau memberikan pinjaman dan banyak kebaikan2 dari tetangga saya itu. Rumah itu saya jual beserta tetangga saya, jadi harga rumah 500 juta, dan 500 juta untuk harga tetangga saya pak, jadi total semua 1 milyar". Mendengar hal tersebut calon pembeli rumah itu agak heran, namun dia memahami kenapa harganya jadi 1 milyar, karena mendapatkan tetangga yang baik memang sulit.
Rasulullah menggambarkan arti pentingnya kedudukan
tetangga dengan mengatakan.
مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).
Muttafaqun ‘alaih, Shahih Bukhari no: 5555, 5556 dan Shahih Muslim no: 4756, 4757 dari hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar.

Referensi Almanhaj.or.id.

Monday, January 23, 2017

Ya Ustadz kenapa tahlil kematian dilarang, khan ada bacaan ayat Alquran dan dzikir didalamnya?


Dalam sebuah kajian seorang bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah Lc., " ya ustadz kenapa melakukan tahlil kematian dilarang, khan ada bacaan Surat Yassin didalam kegiatannya, khan itu ayat Alquran juga? dan juga dilanjutkan dengan dzikir?'.
Beliau menjawab dengan sebuah hadist :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)
Nabi Muhammad Shallallahu alihi wasallam sudah memperingatkan kita agar menjauhi amalan-amalan yang tidak ada contohnya, lafadznya sudah jelas yakni " menjauhi", artinya tidak boleh mendekat, jika dilarang mendekat artinya sangat terlarang untuk mengamalkannya, dan jika kita tetap mengamalkannya maka itu masuk dalam perbuatan pelanggaran atas seruan beliau.
Juga kita lihat amalan beliau dalam banyak hadist, bahkan diribuan hadist tidak ditemukan beliau pernah mengamalkan demikian, padahal dijaman beliau ada ratusan bahkan ribuan orang meninggal karena tua, perang dan sakit, tak satupun disebutkan kisah beliau membaca ayat tertentu kemudian memimpin doa dan dzikir. Padahal banyak dikalangan sahabat, keluarga bahkan cucu beliau meninggal dunia, namun amalan itu tidak pernah diamalkan sama sekali oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassallam ataupun para sahabat.
Kalau yang paling tau dan mengerti agama ini tidak pernah mengamalkan amalan itu apakah artinya jika kita justru mengamalkan duluan dari mereka?, jawabannya, itulah pelanggaran.
Waalllahua'lam.

" Panduan lengkap Membenahi Akidah", karya Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan.


Ada begitu banyak buku dan rujukan akidah yang dapat dikaji dan dipelajari, dan masing-masing memiliki kelebihan dan keistimewaan. Namun, di antara hal yang harus menjadi perhatian setiap Muslim, sebelum terpesona dengan karakter tulis sebuah buku, atau tertarik layoutnya yang apik dan rapi, serta balutan covernya yang menarik mata, adalah mengetahui latar belakang penulis dan kebersihan akidahnya berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ini sangat penting, karena Nabi telah memperingatkan, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; mereka semua di neraka kecuali satu, yaitu: orang-orang yang meniti jalanku dan jalan para sahabatku”.
Penulis buku ini, Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan adalah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memiliki otoritas di zaman modern ini, beliau dikenal bersih dan lurus akidahnya serta menjadi panutan para penuntut ilmu di seantero kolong langit. Dan sebegitu banyak karya tulis beliau yang telah diterima secara luas di dunia Islam, merupakan salah satu bukti kapasitas keilmuan beliau.
Salah satu yang menjadi keunggulan buku ini, adalah kajian dan sajian yang tuntas dalam tema-tema yang dimuatnya. Sebagai contoh: berita tentang berbagai fitnah dan huru hara akhir zaman yang akan terjadi sebagai tanda dekatnya Hari Kiamat, berhasil disajikan penulis dengan urutan yang padu dan apik, yang jarang bisa kita temukan di sumber-sumber lain. Begitu pula tentang berbagai fase di Hari Kiamat ketika manusia akan menghadap Tuhan mereka untuk ditimbang amalnya dan mendapatkan pengadilanNya, berikut berbagai rincian peristiwa di sana, hingga masing-masing golongan masuk surga atau neraka; semuanya diuraikan secara urut, ilmiah, dan menyeluruh berdasarkan dalil-dalil dan dasar pijakan ilmiah yang shahih.
Harga buku 100 ribu, harga belum termasuk ongkos kirim, bagi yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga jadi info manfaat, syukron.

Harusnya malu kepada semangat mereka.


Ada cerita dari seorang teman yang dekat dengan Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah semasa masih hidup, kata teman itu sekitar tahun 2000an sering mengantar beliau dengan motornya ke bandara Siltan Syarif Kasim. Kalau beliau pergi ke Jakarta selalu membawa sejumlah kaset pita kosong satu kotak, berisi puluhan biji, gunanya untuk diisi di Radio Rodja dengan materi kajian dari para ustadz dakwah sunnah yang tersimpan di Radio Rodja. Sekembalinya beliau dari Jakarta selalu membawa oleh2 kaset pita yang sudah terisi dan kemudian dibagikan keberbagai tempat di Pekanbaru, bahkan didistibusikan hingga jauh seperti daerah kepulauan Riau. Dari kaset2 pita itulah kajian para ustadz sampai kepada jamaah kajian Sunnah di pelosok Riau. Di bagian kepulauan Riau yang sangat terpencil, bahkan ada cerita dari seorang teman, karena sangat terpencil listrik juga gak ada dan sangat tergantung kepada genset, maka mereka dapat mendengarkan kaser pita itu hanya dimalam hari ketika ada listrik dari genset, mereka duduk menglilingi tape recorder dan mencatat materi kajian, dan tak jarang kaset pita itu diputar berulang-ulang. Menurut Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah waktu itu kata beliau, "harusnya kita malu pada teman2 dari kepulauan yang sangat terpencil, mereka mendengarkan kaset kajian itu sampai berbulan-bulan dengan semangat, mereka yang paling sering meminta kaset baru, karena mereka sangat membutuhkan ilmu syar'i, sementara kita yang ada disini dimana banyak kajian ilmu malah bermalas-malasan", subhanaAllah.
Sama halnya ketika saya mendengar cerita teman dari Tulang Bawang Lampung tadi sore, saking semangatnya mereka mencari ilmu syar'i sampai mereka rela menyewa bus berombongan ke Jakarta hanya untuk mengikuti dauroh atau tabligh akbar, padahal perjalanan dari Tulang Bawang Lampung ke Jakarta sekitar 9 jam ! , MasyaAllah, semangat mencari ilmu yang patut dicontoh dan teladan bagi kita semua.
Kata para ulama Salaf, " kekurangan makan hanya membinasakan tubuh seseorang, dia hanya kehilangan dunianya, namun kekurangan ilmu syar'i membuat seseorang kehilangan dunia dan akheratnya".
Waallahua'lam.

Yuk cari jalan selamat.


Dari Sahabat ‘Auf bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ummat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk neraka. Ummat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasûlullâh, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘al-Jamâ’ah.’”
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Mâjah dan lafazh ini miliknya, dalam Kitâbul Fitan, Bâb Iftirâqul Umam (no. 3992).
2. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitâbus Sunnah (no. 63).
3. al-Lalika-i dalam Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 149).
Hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1492).
Dalam pembahasan hadist ini Ustadz Maududi Abdullah menyebut. "Golongan yang selamat adalah mereka yang beramal dan beribadah paling mendekati amal ibadah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dan para sahabat, semakin jauh mereka kemiripannya dengan amal ibadah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dan para sahabat makin jauh juga mereka dari keselamatan, makin jauh mereka dari surga". Waallahua'lam.
Yuk cari jalan keselamatan, dengan belajar ilmu syar'i, meniru amalan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dan para sahabat, dan menjauhi amalan2 yang menylisihi amalan mereka.

Buku "Panduan Ilmu Tajwid Bergambar"

Buku "Panduan Ilmu Tajwid Bergambar", Penulis Dr. Aiman Rusydi Suwaid , penerbit Zam-Zam Mata Air Ilmu, isi 179 halaman.
Buku ini berisikan tentang pembahasan ilmu tajwid secara lengkap dan detail, yang memadukan antara ilmu tajwid klasik dengan fakta-fakta ilmu suara modern dan fisika suara, disertai gambar-gambar yang menjelaskan organ-organ suara, organ terkait, dan hal yang bersifat abstrak.
Adapun pembahasan yang lainnya di dalam buku ini yaitu pembahasan tentang kesalahan-kesalahan yang terjadi ketika membaca AL-Qur’an disertakan juga kupasannya.
Daftar Isi :

Seputar Al-Quranul Karim
Ilmu Tajwid
Ta’awwudz Dan Basmalah
Huruf-huruf Arab
Organ-organ Suara Dan CaRa Terbentuknya Sura Dan Huruf
Makhraj-Makhraj Huruf Arab
Sifat-Sifat Huruf Arab
Kesalahan-Kesalahan Yang Paling Menonjol Ketika Melafalkan Huruf-Huruf
Hijaiyah
Dua Huruf Yang Paling Bertemu
Hukum-Hukum Mim
Hukum-Hukum Nun
Hukum Mad
Menyempurnakan Harakat
Bahasan-Bahasan Terpisah
Waqaf Dan Ibtida’ (1)
Waqaf Dan Ibtida’ (2)
Ar-Raum Dan Isyamam
Hamzah Washal
Hamzah Qatha’
Fase Perkembangan Penulisan Dan Pemberian Harakat Mushaf
Menghafal Al-Qur’an.
Harga buku 39 ribu, harga belum termasuk ongkos kirim, bagi teman2 yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.

Suka mengkafirkan?, sebenarnya justru kami suka mengIslamkan.




Didalam masyarakat sering kali ada tuduhan bahwa Dakwah Sunnah suka mengkafirkan, padahal tuduhan ini tidak ada dasarnya sama sekali, bahkan seperti Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MA., dalam sebuah kajian beliau menyebutkan, "jika Dakwah kami dituduh suka mengkafirkan mohon dibuktikan, sampaikan bukti dimana dan kapan itu terjadi, karena secara syariat haram hukumnya mengkafirkan sesama muslim, mungkin dengan menyampaikan fakta dapat menjadi koreksi kepada Dakwah kami".
Sejatinya Dakwah Sunnah adalah mengIslamkan banyak orang, bukan mengkafirkan, melihat banyak fakta justru terbalik dengan apa yang dituduhkan itu. Kekafiran adalah perbuatan yang mengingkari atau melanggar perintah Allah dan RasulNya, sementara orang yang aktif mengikuti Dakwah Sunnah adalah orang2 yang berusaha mengikuti perintah Allah dan RasulNya, serta berusaha istiqomah didalamnya. Lihat bagaimana mereka jadi menjauhi perkara2 ribawi, bagaimana mereka menjauhi perkara2 syirik dan Bid'ah, lihat juga mereka menjauhi perkara2 maksiat seperti menjauhi musik dan zina dan seterusnya.
Dan gerakan Dakwah Sunnah secara aktif mengajak orang2 diluar Islam agar mengenal Islam dengan benar dan melebur didalam Islam dengan memeluknya.
Jadi tuduhan bahwa dakwah ini suka mengkafirkan sangat jauh dari faktanya. Waallahua'lam.

Ya Ustadz bolehkan mendatangi dukun agar mendapat kesembuhan?


Dalam sebuah kajian seseorang bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah, " ya ustadz bolehkah mendatangi dukun dan meminta tolong kepadanya agar membantu mendatangkan kesembuhan, kemudian ternyata sembuh?".
Beliau menjawab, " ada seseorang yang miskin setelah beberapa tahun, ada tetangganya yang menyembah dewa tidak berapa lama rizkinya melejit, dalam beberapa tahun si penyembah dewa buka toko dimana-mana. Sementara si miskin itu sudah meminta kepada Allah namun nasibnya tidak berubah meskipun sudah berjalan bertahun-tahun. Apakah artinya menyembah dewa itu benar?, tentu tidak, kenyataan tidak dapat dijadikan pembenaran, karena kebenaran yang haq ketika sesuai syariat."
"Sama halnya dengan ketika seseorang sakit bertahun-tahun kemudian dia menempuh cara berobat dengan cara yang haram, tentu tidak dibolehkan. Misalkan seserong menempuh pengobatan dengan meminum darah ular, mnum air kencing sendiri, makan otak kera dan seterusnya adalah cara yang dilarang secara syariat. Jika misal kemudian dari pengobatan itu menjadikannya sehat, tetap haram."

Dari Abu Hurairah, ia berkata,
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيثِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari obat yang khobits (yang haram atau kotor).” (HR. Abu Daud no. 3870, Tirmidzi no. 2045 dan Ibnu Majah no. 3459. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Dari Abud Darda’, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
“Allah telah menurunkan penyakit dan juga obatnya. Allah menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah, namun jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud no. 3874. Sanad hadits ini dho’if kata Al Hafizh Abu Thohir)
Sumber referensi rumaysho.co

Kira2 ibadah sampeyan ditukar dengan isi Surga dapat apa?.


Kira2 ibadah sampeyan ditukar dengan isi Surga dapat apa?.

"Kalau sampeyan pergi ke Mal paling mewah di Jakarta, bawa uang sepuluh ribu, kira2 dapat beli apa di Mal itu?, mungkin uang sepuluh ribu itu hanya cukup untuk parkir, berbeda dengan misal sampeyan bawa sepuluh juta pergi ke Mal itu mungkin pulang bawa barang belanjaan yang cukup banyak. Demikian juga dengan Surga, jika sampeyan cuma shalat setahun dua kali yakni shalat ied, atau yang agak mendingan Shalat seminggu sekali yakni Shalat Jumat, kira2 dapat apa di Surga?, padahal Surga itu dagangan Allah Azza wa Jalla, dan Surga itu mahal".
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda
,أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ"
"Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga." (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasan. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami': 6222)

Dikutip dr Ustadz Abdullah Zein MA.

Thursday, January 19, 2017

Buku "Panduan Amal Sehari Semalam"


"Panduan Amal Sehari Semalam", karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsari.
Banyak orang yang memandang hidup ini identik dengan menikmati berbagai kesenangan dan kelezatan duniawi.
Siang malam mereka habiskan waktu untuk mengejar dan mengurus urusan dunia. Dunia yang fana telah memperdaya mereka hingga melupakan kehidupan yang sebenarnya yaitu akhirat.
Orang-orang seperti ini pada hakikatnya sudah putus asa untuk menggapai kedudukan yang lebih mulia dan lebih utama. Sebab hakikat hidup jelas bertolak belakang dengan apa yang mereka yakini dan berlawanaan dengan apa yang mereka duga.
Hidup hakikatnya mengabdikan diri dengan beribadah kepada Rabb Yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Itulah tujuan penciptaan jin dan manusia. Maka seorang muslim hendaknya memperhatikan setiap detik yang ia lalui. Jangan sampai waktu terbuang percuma tanpa ada nilai ibadah di sisi Allah.
Oleh karena itulah, kita perlu mengetahui bimbingan nabawi dalam setiap gerak langkah dan ucapan kita sehari-hari, sehingga setiap detik kehidupan yang kita lalui benar-benar bernilai pahala di sisi Allah Azza wa Jalla.
Buku ini merangkum sebuah panduan bagi aktivitas muslim sepanjang siang dan malam, semenjak ia membuka matanya bangun di pagi hari hingga tidur kembali dan bangun di tengah malam, sesuai yang dicontohkan oleh teladan dan guru yang paling mulia, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Dengan menerapkan sunnah ini, insya Allah kita dapat mengisi waktu dengan nilai-nilai kebaikan.
Harga buku 75 ribu, belum termasuk ongkos kirim, bagi teman yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.

Buku Fikih Asm'aul Husna


Buku Fikih Asm'aul Husna karya Prof.DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-'Abbad Al-Badr.
Ada satu firman Allah Ta’ala yang artinya “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu (QS. Al-A’raf : 180)”.
Dalam buku diterangkan secara jelas dan detail tentang sifat Allah dan Asmaul Husna dan juga dijelaskan berdasarkan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang shahih, dan manhaj salafush shalih yang lurus.
Harga buku 105 ribu, harga belum termasuk ongkos kirim, bagi teman2 yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.

Kelak orang yang berbuat kekafiran(maksiat) tega menukar surga dengan anaknya.


Didunia ini banyak seseorang berbuat kejahatan dengan alasan demi anak, ingin dianggap menjadi pahlawan bagi anak2nya, ketahuilah ini adalah kepahlawanan yang keliru, karena ini adalah kepahlawanan yang mencampakkan seseorang ke dalam neraka. Kelak orang2 yang berbuat demikian justru ingin menukar anaknya yang telah dijadikan alasan berbuat kejahatan dengan surga agar dirinya selamat.
Maka biasakan mendidik anak2 kita agar mampu bersabar dalam kemiskinan, jika pagi makan telur sebutir dan harus dibagi untuk siangnya maka lakukan dengan sabar, atau jika makan hanya dengan nasi dan kuah nasehatkan kepada mereka agar bersabar. Jika mereka mampu bersabar dalam keadaan miskin, niscaya mereka akan menjadi orang2 yang tangguh dimasa depan, dan didik mereka dengan menanamkan bahwa kesuksesan didunia ini harus diraih dengan kerja keras dan perjuangan hebat. Sampaikan kepada mereka pentingnya hidup sederhana dengan makan makanan yang halal menjauhi makanan dari perbuatan haram, dan sampaikan peringatan akan kerasnya azab neraka jika berbuat kejahatan demi untuk meraih kecukupan. Katakan pada anak2 kita bahwa sebenarnya sebagai pekerja di kantor atau instansi tertentu kita dapat melakukan seperti kebanyakan orang(korupsi), namun tidak kita lakukan karena kita ingin menjauhi azab neraka, dan karena kita ingin masuk surga bersama anak2 kita.
Karena surga yang dapat menebusnya hanyalah IMAN. Dan hanyalah orang-orang mukmin yg memiliki iman yg bisa dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Nyatalah bahwa ternyata “iman tidak dapat dibeli walaupun dengan emas sepenuh bumi”. Jangankan dengan emas sepenuh bumi, tebusan manusia pun tidak dapat mengeluarkan seseorang yg tidak memiliki iman dari siksa neraka.
Dalam Islam tidak dikenal filosofi lilin, menerangi sekitarnya namun dirinya hancur, yang dikenal dalam Islam yakni memgajak orang lain masuk surga sedangkan kita sudah masuk surga duluan.

Firman Allah;
يُبَصَّرُونَهُمْ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ (١١)
وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ (١٢)
وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ (١٣)
وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ (١٤)
كَلا إِنَّهَا لَظَى (١٥)
Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan sauradaranya. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya naar itu adalah api yang bergejolak. (Q.S. Al-Ma’arij: 11-15)
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.