Wednesday, October 27, 2021

Jangan jadi atheis ketika senang

 Bismillah




Jadikanwa Jalla pintu pertama Allah Azza

Oleh Siswo Kusyudhanto
Pas di lampu merah depan saya ada seseorang mengendarai motor dengan box dimana ada sticker menarik "Kita adalah Atheis disaat senang dan beragama disaat Susah".
Memang pada kenyataannya seperti itu adanya kita, disaat senang kita sering lupa kalau adalah makhluk yang beragama, banyak yang dalam agama dilarang malah dilanggar dan perintah dalam agama justru ditinggalkan.
Hal tersebut mengingatkan saya akan nasehat seorang ustadz tentang untuk selalu bergantung kepada Allah Azza wa Jalla, kata beliau,
" Banyak dikalangan kita ini menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pintu terakhir, mereka berusaha melakukan segala usaha untuk mendapatkan sesuatu, semua pintu dicoba diketuk untuk mendapatkan pertolongan, ketika semua pintu itu gagal dimintai pertolongan, ketika dia sudah putus asa dan tidak mendapatkan yang dia inginkan baru mengetuk pintu terakhir yakni meminta pertolongan Allah Azza wa Jalla, jangan kita melakukan hal demikian.
Jadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pintu pertama yang kita ketuk, dengan berdoa dan berharap kepadaNya, meminta Allah Azza wa Jalla menolong usaha kita.
Bergantunglah kepada Allah Azza wa Jalla atas segala sesuatunya, insyaallah itu lebih baik. Allahua'lam."
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِيفً۬ا
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa’ : 28)
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir : 15

Katanya Cinta Nabi ?

 Bismillah



Katanya cinta Nabi, tapi dengar sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam langsung kuping panas dan tensinya naik ???
Banyak masjid dan mushola di negri kita dalam beberapa hari terakhir merayakan maulid nabi dengan meriah, mereka yang biasanya jarang datang ke masjid dan mushola merasa wajib datang sehingga masjid dan mushola terasa penuh oleh jamaah.
Makanya kadang miris melihat hal ini, pas perayaan Maulid nabi masjid dan mushola penuh sesak oleh jamaah yang datang, sementara ketika shalat fardhu berjamaah justru malah sepi dari jamaah.
Disinilah kelihatan rusaknya perayaan Maulid nabi, karena maulid nabi tidak pernah ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya untuk dikerjakan justru banyak orang merasa wajib untuk datang, sementara untuk Shalat fardhu berjamaah jelas ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya dan dimuat di banyak Ayat Al-Qur'an dan hadits malah dianggap bukan hal yang wajib untuk dikerjakan, mungkin turun derajatnya dimata mereka para pelaku maulid nabi, Allahua'lam.
Dan yang prihatin adalah mereka merayakan maulid nabi dengan alasan cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam, namun anehnya ketika disampaikan hadits shahih tentang larangan berbuat bid'ah yang jelas disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam, bukan oleh Syaikh atau ustadz fulan, ketika mendengar itu mereka langsung tensinya naik, kuping panas, marah, dan justru mengatakan buruk orang yang menyampaikan hadits itu.
Katanya cinta? Kok kayak gitu ?.
Makanya jangan heran kalau hadits-hadits larangan berbuat bid'ah yang banyak jumlahnya itu asing dan menjadi faktor alergi bagi para pelaku maulid nabi.
Padahal sikap seorang dikatakan beriman adalah ketika bersikap samina watho'na, dengar dan taati atas apa yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya, Allahua'lam.

Siapa yang nyuruh melakukan itu ???

 Bismillah

Pelaku bid'ah selalu membela dengan ribuan dalih atas amalannya, "yang penting niatnya baik", " Ada doa dan dzikir nya" Dan seterusnya, namun ketika ditanya "Apakah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan mengamalkan amalan itu? ", ya jelas pasti bingung jawab, karena memang amalan yang masuk bid'ah tidak ada sama sekali perintah dari Allah dan Rasul-Nya.
Konsekuensi nya kalau tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya tentu tidak pernah akan ada pertanyaan kelak saat hisab, disaat itu pasti tidak ada pertanyaan " Berapa kali hadir di acara Maulid Nabi, tahlil kematian, haulan, shalawat nariyah dan seterusnya ".
Allahua'lam.
Konsekuensi lainnya belum jelas apakah mengamalkan amalan-amalan bid'ah itu mendatangkan pahala, kalau ternyata justru malah mendatangkan dosa bagaimana?
Karena Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam mengancam bid'ah tempatnya di neraka, artinya resiko berat bagi mereka yang mengamalkan amalan bid'ah, alias amalan yang tidak ada tuntunan dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam dan Khulafaur Rasyidin.
Jadi kenapa anda masih amalkan? Apa yang anda harapkan dengan mengamalkannya?
Kenapa tidak saja kerjakan dan menyibukkan diri pada amalan yang sudah jelas ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya seperti shalat, membaca Al-Qur'an, zakat, sedekah, doa dan dzikir dan lainnya. ? Ini jelas amalan yang ada jaminan dari Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya mendapatkan pahala dan jadi pengurangan dosa kelak, Allahua'lam.
Semoga selamat dari tipu daya dan dalih para pelaku ke bid'ahaan, Aamiin.
Heru Mukti, Irdaniam Binti Mhd Zaila dan 81 lainnya
60 Komentar
25 Kali dibagikan
Suka
Komentari
Bagikan

Lihatlah kebawah

 Bismillah


Oleh Siswo Kusyudhanto
Tadi siang pas sedang dalam perjalanan nampak ada dua anak penjual pisang goreng, nampaknya mereka kakak beradik, mungkin usia si kakak sekitar kelas 6 SD dan adiknya lebih muda beberapa tahun, si kakaknya membawa baskom diatas kepalanya yang berisi pisang goreng, sementara si adik berteriak-teriak menawarkan goreng pisang sepanjang jalan kepada orang-orang, MasyaAllah, jadi terharu melihat perjuangan dua bocah ini.
Melihat mereka jadi makin bertambah rasa syukur didada.
Jadi teringat nasehat Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah, kata beliau cara melembutkan hati yang keras yakni untuk selalu melihat keadaan orang yang dibawah kita seperti yatim piatu, fakir miskin, orang sakit dan lainnya. Semoga Allah Azza Wa Jalla selalu merahmati beliau, Aamiin.
Memang benar nasehat beliau, mungkin hati ini sering keras karena selalu melihat orang-orang yang jauh diatas kita, dengan melihat orang-orang yang memamerkan kekayaan dan kehebatan perkara dunia sering membuat kita jadi sulit untuk mensyukuri atas apa yang Allah Azza Wa Jalla berikan kepada kita, padahal masih banyak orang yang keadaan mereka jauh lebih buruk dari kita, Allahua'lam.

Murtad karena bertemu dengan Isa Al-Masih ???

 Bismillah


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu saya baca berita adanya seorang presenter salah satu TV nasional yang semula seorang Muslim yang taat beribadah kemudian murtad, alias keluar dari Islam setelah shalat tahajud dan tertidur kemudian didalam mimpinya ditemui seseorang yang mengaku sebagai Isa Al-Masih, dan orang yang mengaku Isa Al-Masih itu menyuruhnya masuk agama Nasrani, esoknya tidak beberapa lama dia masuk Nasrani, astaghfirullah.
Jadi teringat kejadian serupa di kota saya juga mirip, ada seorang wanita sekeluarga murtad setelah shalat tahajud dan dimimpikan bertemu Isa Al-Masih yang menyuruhnya murtad, esoknya si wanita dengan suami dan tiga anaknya dibaptis, astaghfirullah.
Saya sendiri beberapa tahun yang lalu juga mimpi serupa bertemu seseorang yang mengaku Isa Al-Masih dan menyuruh saya murtad, cuma dalam mimpi itu saya ketawa dan mengatakan "anda bukan Isa Al-Masih, tapi jelas setan", habis itu saya terbangun dan masih ketawa-tawa, sebabnya seseorang yang dalam mimpi saya mengaku sebagai Isa Al-Masih wujudnya mirip orang bule, rambutnya lurus dan pirang, kulitnya putih bersih dan tinggi badannya tinggi sekali.
Kenapa saya langsung mengetahui itu adalah setan dan bukan Isa Al-Masih, karena sebelumnya saya dengar kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawi mengenai Isra Mi'raj, seperti dijelaskan dalam peristiwa Isra Mi'raj bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam bertemu dengan Isa Al-Masih dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam jelaskan ciri fisik dari Isa Al-Masih sebagai berikut ;
Nabi Isa adalah seorang laki-laki yang perawakannya sedang, yaitu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.
Kulitnya merah, dadanya bidang, rambutnya keriting dan lebat, rambutnya klimis seolah-olah baru keluar dari kamar mandi, dan terkadang rambutnya diurai sampai ke bahunya.
Ciri-ciri fisik Nabi Isa Alaihi Salam ini terdapat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
Jadi teringat nasehat Ustadz Ali Ahmad bin Umar, kata beliau menuntut ilmu syar'i sangat penting bagi seorang Muslim, karena seseorang Muslim yang berilmu sangat sulit disesatkan oleh Setan, dalam menyesatkan seorang Muslim yang berilmu perlu banyak cara dan tipu muslihat yang dilakukan oleh Setan untuk menyesatkan nya. Sedang seorang Muslim yang ahli ibadah namun bodoh dalam ilmu agama sangat mudah disesatkan oleh Setan karena banyak hal yang tidak diketahui meskipun dia rajin beramal ibadah.
Kata beliau lagi, itu kenapa setan lebih takut kepada orang berilmu daripada seorang ahli ibadah namun bodoh dalam ilmu agama, Allahua'lam.

Sunday, August 29, 2021

TERPAKSA BERBUAT RIBA?, WHAT! !!??

 Bismillah



Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya maklum kalau ada orang bilang "Enak aja situ ngomong, saya melakukan akad riba karena terpaksa" mungkin dia awam terhadap bahaya riba baik didunia dan akhirat.
Padahal dalam hukum Islam namanya terpaksa alias darurat adalah ketika tidak melakukan hal itu nyawa taruhannya alias mati, padahal sangat sedikit sekali kasus misal jika tidak melakukan riba kemudian orang itu mati, semisal masuk rumah sakit dan harus beli obat satu-satunya yang mahal harganya sampai jutaan rupiah, dan dia tidak punya uang sama sekali, pinjem tetangga juga keluarga tidak dapat, dan dia butuh uang cepat sehingga harus pinjam rentenir dengan akad riba, mungkin kasus serupa terjadi perbandingan satu dengan satu juta kasus, Allhua'lam.
Faktanya hampir mayoritas kredit yang berjalan di Indonesia adalah akad kredit barang konsumsi seperti motor, perabotan rumah, HP, alat elektronik, mobil dan rumah, sisanya adalah kredit perusahaan untuk produksi.
Hal ini menunjukkan bahwa riba yang terjadi di Indonesia mayoritas disebabkan oleh kebutuhan gaya hidup, jadi bukan karena ada unsur paksaan atau keadaan darurat, atau sebenarnya mungkin syahwat kita yang memaksa untuk memiliki barang dan kemudian mendorong berbuat riba? Allahua'lam.
Kalau penyebab utama bertumbuhnya praktek riba karena syahwat artinya mungkin mayoritas Umat Islam di Indonesia meninggalkan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk bersikap zuhud dan qona'ah pada urusan dunia, Allahua'lam.
Jadi ingat sebuah kajian Ustadz Erwandi Tarmidzi di Jakarta, ketika seseorang bertanya, "Ustadz jika tidak dengan cara riba mustahil bagi saya memiliki rumah, masa keong saja punya rumah saya yang manusia malah enggak punya rumah ?".
Ustadz Erwandi Tarmidzi menjawab, "ya sangat berbeda ya kalau keong tidak punya rumah mati dia, kalau antum gak punya rumah masih bisa hidup sebagai wajarnya, jika harus melalui cara riba untuk memiliki riba ini jelas berbahaya, karena nikmatnya memiliki rumah melalui cara riba tidak sebanding dengan azab karena perbuatan riba kita.
Jika mampunya baru ngontrak rumah, sebaiknya ngontrak rumah dulu dan hindari perbuatan riba, karena riba jelas diharamkan Allah dan RasulNya, Allahua'lam. "
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/708)
Sumber referensi "Balasan bagi para pelaku riba", oleh Muhammad Safifudin Hakim di muslim. Or. Id

Yasinan minumnya Ashiil air mineral? Kenapa enggak?

 Bismillah



Oleh Siswo Kusyudhanto
Alhamdulillah saya termasuk orang yang dapat banyak pelajaran dari para Ustadz tentang teknik berdakwah, mulai yang konvensional seperti mengajak orang datang ke kajian, membagi buku ke kalangan masyarakat, sampai yang digital seperti share link kajian, kasih link web para Ustadz dan seterusnya.
Banyak cara berdakwah yang sesuai kemampuan kita masih awam akan ilmu agama, jadi tidak ada alasan untuk tidak berdakwah.
Beberapa waktu lalu saya sedang lewat sebuah lingkungan dan nampak sedang ada acara yang dihadiri puluhan orang, selidik punya selidik ternyata mereka sedang Yasinan, dan ketika lewat pas depan lokasi Yasinan saya di bikin kaget sekaligus tersenyum, dipintu masuk acara Yasinan itu tertumpuk sejumlah konsumsi untuk jamaah, termasuk beberapa karton air mineral merk Ashiil, MasyaAllah.
Ini menurut saya salah satu teknik dakwah yang cerdas, mungkin kalau kita bilang bahwa Yasinan tidak ada tuntutannya kepada mereka yang suka Yasinan pasti dituding balik "suka mengkafirkan", padahal menurut beberapa ulama berbuat bid'ah belum kafir, tapi bid'ah baru masuk dosa besar seperti dosa besar lainnya, tidak membuatnya keluar dari Islam, Allahua'lam.
Dengan mengenalkan merk Ashiil air mineral diharapkan mereka familiar dengan logo dan namanya dengan demikian mereka akan mudah menerima link kajian Ashiil TV atau posting media sosial Ashiil, Aamiin.
Kalau dalam dunia pemasaran ini namanya "branding", apa sih itu branding?
Istilah branding berasal dari kata brand yang berarti merek. Lantas, apa itu branding yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan bisnis? Branding merupakan pencitraan agar suatu produk dapat menarik dan melekat di benak konsumen. Bisa dibilang bahwa branding bisa diartikan sebagai bentuk komunikasi perusahaan dengan konsumen yang menjadi sasaran.
Misal setiap hari kita berangkat bekerja di pagi hari, setiap hari kita melewati baliho besar pasta gigi merk "Ajib", dan demikian juga ketika pulang bekerja kita melewati baliho yang sama, padahal kita adalah konsumen setia merk pasta gigi
mantap
, namun karena setiap hari kita melihat baliho merk Ajib tanpa kita sadari suatu saat ketika pasta gigi dirumah habis kita kemudian mencari rak pasta gigi yang diambil bukan merk pasta gigi merk
mantap
lagi, tapi merk ajib, demikianlah branding bekerja, Allahua'lam.
Semoga tulisan ini menginspirasi teman-teman dalam berdakwah, Aamiin.
-------
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 125).

Ustadz bagaimana mengetahui seorang pendakwah aqidahnya lurus?

 Bismillah



Ada teman bertanya kepada seorang ustadz, "Sekarang ini banyak sekali kajian dari berbagai kelompok, bagaimana cara mudah mengetahui bahwa sebuah kajian diisi oleh ustadz yang aqidahnya lurus? "
Ustadz menjawab, ' Untuk mengetahui jawaban ini mari kita kembalikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, ketika beliau ingin mengetahui apakah aqidah seseorang lurus beliau menanyakan dimana Allah Azza Wa Jalla, ketika ditanya demikian kemudian seseorang menjawab - Allah diatas langit - , maka jawaban ini menunjukkan aqidahnya lurus, dan sebaliknya jika jawabannya misal Allah di mana-mana atau tidak bertempat meskipun pemateri kajian itu gelarnya panjang atau lulusan perguruan tinggi terkenal luar negri, maka segera tinggalkan dia, Allahua'lam. "
------
Dahulu aku memiliki seorang budak wanita yang menggembalakan kambing-kambing milikku di daerah antara gunung Uhud dan Jawwaniyyah. Suatu hari aku menelitinya, ternyata ada seekor serigala yang membawa seekor kambing dari kambing-kambing budak wanita itu. Aku adalah manusia biasa, aku terkadang marah sebagaimana mereka marah. Maka aku menamparnya dengan sangat keras. Kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan hal itu perkara yang besar terhadapku.
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Aku bertanya,“Wahai Rasûlullâh! tidakkah aku merdekakan dia?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bawa dia kepadaku”. Maka aku membawanya menghadap Beliau. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di manakah Allâh?” Wanita itu menjawab, “Di atas langit”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapakah saya?” Wanita itu menjawab, “Anda adalah utusan Allâh”. Beliau bersabda, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang wanita mukminah”. [HR. Muslim, no. 537; dan lain-lain)
MA’IYYATULLAH
Berkaitan dengan sifat ketinggian bagi Allâh Azza wa Jalla , bahwa Allâh Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya, berada di atas langit dan arsy-Nya, sebagian orang memiliki kerancuan dengan sebab kesalahan memahami sifat lain yang dimiliki oleh Allâh Azza wa Jalla , yaitu sifat ma’iyyah (kebersamaan Allâh dengan makhluk).
Sehingga sebagian orang beranggapan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala berada dimana-mana. Ini adalah aqidah yang batil. Oleh karena itu, kami akan menambahkan sedikit keterangan tentang sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala tersebut, sehingga menjadi jelas aqidah yang haq ini. Di antara sifat Allâh adalah al-ma’iyyah.
Ma’iyatullah ini ada dua:
1. Ma’iyyatul ‘Aammah (Kebersamaan Yang Umum). Yaitu Allâh Azza wa Jalla bersama seluruh makhluk-Nya dengan ilmu-Nya, perhatian-Nya, kekuasaan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan lainnya dari makna-makna kekuasaan, seperti firman-Nya: وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ Dia (Allâh) bersama kamu di mana saja kamu berada. [Al-Hadid/57: 4]
2. Ma’iyyatul Khooshoh (Kebersamaan Yang Khusus). Yaitu Allâh bersama sebagian hamba-Nya dengan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya. Seperti firman Allâh:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. [An-Nahl/16: 128]
Adapun ayat-ayat al-Qur’an yang disangka oleh sebagian orang menunjukkan keberadaan Allâh Azza wa Jalla di mana-mana. Seperti ayat yang telah kami sebutkan di atas: وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ Dia (Allâh) bersama kamu di mana saja kamu berada. [Al-Hadid/57: 4]
Karena maksud firman Allâh “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”, adalah Allâh Azza wa Jalla bersama kamu dengan ilmu-Nya dan pengawasan-Nya, di mana saja kamu berada. Yaitu kebersamaan Allâh Azza wa Jalla yang umum. Dan maksudnya bukanlah dzat Allâh berada di mana-mana bersama makhluk-Nya. Hal ini sangat jelas jika kita memperhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, dan mengikuti penjelasan para Ulama Salaf.
Ayat ini secara lengkap berbunyi:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya, dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadîd/57:4]

Dakwah pasti ada hambatan, kalau tanpa hambatan itu jalan tol

 Bismillah



Oleh Siswo Kusyudhanto
Alhamdulillah sejauh ini Allah Azza Wa Jalla mudahkan saya ikut bisa membantu kelas-kelas bacaan Al-Qur'an di berbagai daerah di indonesia, jumlahnya sejauh yang terdata sudah sekitar 400 titik lokasi dan tersebar di sekitar 30 provinsi di Indonesia, juga diikuti oleh santri dan anggota kelompok bacaan Al-Qur'an sekitar 10 ribu orang.
Terima kasih yang tidak terhingga kepada para donatur Mushaf Al-Qur'an yang namanya tidak dapat sebutkan satu persatu karena jumlahnya ada ratusan orang, juga terima kasih kepada para ustadz dan ustadzah pemateri kelas bacaan Al-Qur'an dan Tahfizh yang telah membantu menyalurkan dan mengawasi penggunaan Mushaf Al-Qur'an bantuan donatur, syukron, semoga apa yang mereka bantu dan kerjakan menjadi catatan pahala disisi Allah Azza Wa Jalla Aamiin.
Namun sejauh ini juga tidak sedikit hambatan yang menghadang program ini mulai sedikitnya donatur dan banyaknya permintaan Mushaf Al-Qur'an dari berbagai daerah sehingga perlu waktu lama untuk dapat memenuhinya, ditambah lagi pemberlakuan karantina wilayah disejumlah wilayah di Jawa terutama sehingga menyebabkan beberapa penerbit Mushaf Al-Qur'an tutup, dan akibatnya kami sulit dalam pengadaan Mushaf Al-Qur'an, qodarullah.
Dari sekian hambatan ada beberapa hal yang agak memprihatinkan saya dan orang yang terlibat karena disebabkan fitnah yang beredar di masyarakat, semisal ada kelompok bacaan Al-Qur'an lokasi di Kampar Riau dipaksa bubar setelah lokasi tersebut dikunjungi Singa Aswaja dan melakukan tablik akbar di lokasi itu, atau di sebuah masjid yang lokasinya di Sukabumi Jawa Barat bubar karena fitnah wahabi dikalangan pengurus masjid, namun alhamdulillah masih beraktivitas seperti biasa bertempat di teras rumah warga yang agak luas, juga terjadi hal serupa lagi-lagi fitnah Wahabi di sebuah masjid di Lombok Barat, dan ada beberapa lagi di lokasi lain.
Intinya hambatan selalu ada dalam kegiatan dakwah baik teknis ataupun disebabkan faktor manusia, tapi itulah dakwah, ketika kita bertekad masuk dalam kegiatan dakwah pasti ada saja hambatannya, kalau jalan tol InsyaAllah tidak ada hambatan.
Namun segala hambatan itu justru menambah semangat dan menambah tekad untuk makin banyak membuka kelas-kelas bacaan Al-Qur'an, karena masih banyak saudara seiman buta Al-Qur'an, alias tidak dapat membacanya, masih banyak saudara kita buta ilmu agama, InsyaAllah.
Seorang ustadz menasehati, " Lagian cobaan kita dalam berdakwah belum ada apa-apa nya dibandingkan dengan cobaan yang menimpa para Nabi dan Rasul", saya selalu ingat nasehat ustadz tentang ini, mungkin ini yang membuat para ustadz selalu mengabaikan segala fitnah, selalu bersabar dan tidak baperan ketika kajiannya dibubarkan atau diusir, Allahua'lam.
----
Ingat peringatan Allah Azza Wa Jalla dalam firman-Nya:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman’ TANPA diuji?! Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang dusta“. (QS. Al-Ankabut: 2-3).
Ingat pula Sabda Nabi –shallallahu’alaihi wasallam-:
أشدُّالناسِ بلاءً الأنبياءُ ، ثم الأمثلُ فالأمثلُ ، يُبتلى الناسُ على قدْرِ دينِهم ، فمن ثَخُنَ دينُه اشْتدَّ بلاؤُه ، و من ضعُف دينُه ضَعُف بلاؤه ، و إنَّ الرجلَ لَيُصيبُه البلاءُ حتى يمشيَ في الناسِ ما عليه خطيئةٌ
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling baik (setelahnya), lalu orang yang paling baik (setelahnya). Maka siapa yang agamanya berbobot, cobaannya juga berat. Siapa yang agamanya lemah, cobaannya juga ringan. Dan sungguh seseorang akan terus ditimpa cobaan, hingga dia berjalan di tengah-tengah manusia tanpa dosa sedikitpun“. [(HR. Ibnu Hibban no. 2900, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 993).