Sunday, November 27, 2016

Menegakkan agama ini diawali dari dakwah tauhid, bukan diawali dari menegakkan khilafah.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (An-Nahl : 36)
Rasul adalah sesorang yang diberi wahyu dengan syariat-syariat tertentu dan diperintahkan untuk menyebarkannya.
“Sembahlah Allah” adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah kepada-Nya.
Thaghut adalah sesuatu yang melampaui/melewati batasan-batasannya. Setiap yang disembah selain Allah Ta’ala, dalam keadaan dia ridho diibadahi, maka dia adalah thaghut.
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia telah mengutus seorang rasul kepada setiap golongan/kelompok (umat) manusia. Sang rasul itu menyeru kepada umatnya agar mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah serta meninggalkan/mejauhi peribadatan kepada selain-Nya. Demikianlah terus-menerus para rasul diutus kepada manusia sejak terjadinya kesyirikan dari zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam hingga ditutup oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sesungguhnya seruan kepada tauhid dan larangan untuk melakukan syirik adalah “TUGAS UTAMA” para rasul dan seluruh pengikut mereka.
Maka ada sebagian kelompok berusaha menegakkan agama ini dengan memulainya menegakkan khilafah sesungguhnya hal tersebut menyelisihi konsep dakwah para Nabi dan Rasul. Para Nabi dan Rasul mengajak manusia kepada mentauhidkan Allah bukan mendirikan pemerintah dan kesultanan, karena di bagian ayat yang lain menjanjikan bahwa khilafah akan tegak dengan sendirinya jika manusia sudah mentauhidkan Allah, dan janji Allah adalah pasti.
Allah Ta’ala berfirman :
"Allah berjanji bagi orang-orang yang beriman di antara kalaian dan
beramal shalih dan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan sebagai
penguasa (pemimpin) di muka bumi sebagaimana orang-orang terdahulu telah
berkuasa., dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi
mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa, Mereka
tetap beribadah kepadaKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun
denganKu, Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka
itulah orang-orang yang fasik (QS. 24. An-Nur: 55).
Dikutip dr tabligh akbar Ustadz Firanda Adirja dan Ustadz Maududi Abdullah, Abu Darda Pekanbaru.

Alquran itu untuk petunjuk, bukan untuk kesaktian.


Seseorang bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah Lc., "ya ustadz bolehkan mempelajari ilmu tenaga dalam dengan menggunakan jampi yang berasal dari ayat-ayat Alquran?". Ustadz menjawab, mari kita kembalikan perkara ini kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, apakah beliau yang paling tau ayat Alquran dan paling tau bagaimana mengamalkan perintah Allah tersebut melakukan hal demikian?. Dalam sejarah nya beliau tidak melakukan perbuatan seperti itu, demikian juga para sahabat yang berperang, jihad fisabilillah banyak diantara mereka hafal ayat dalam Alquran tidak menggunakan ayat Alquran untuk tujuan membuat mereka sakti. Dalam banyak kisah perang dimasa Nabi dan para sahabat jika mereka berperang maka dilakukan dengan cara berhadapan, bukan dari jarak jauh seperti dalam ilmu tenaga dalam, dan banyak diantara mereka mati syahid, resiko yang dihadapi oleh mereka dalam peperangan adalah dibunuh atau membunuh, bahkan dalam perang Uhud Nabi giginya rontok, matanya terluka dan mengalami cedera, ini membuktikan mereka yang paling tau Alquran tidak menggunakan ayat Alquran sebagai ilmu kesaktian untuk melindungi diri mereka dari cidera dan resiko kematian. Jika Nabi dan para sahabat tidak menggunakan ayat Alquran sebagai sumber ilmu kesaktian, artinya mereka yang menggunakan ayat Alquran untuk ilmu kesaktian asalnya bukan dari yang benar, asalnya bukan dari Allah, namun datangnya dari selain Allah, yakni setan. Kadang ayat-ayat Alquran digunakan sebagai kesaktian dan semacamnya agar amalan yang dilakukan terasa benar, digunakan untuk pembenaran amalan yang menyelisihi itu.
Kedudukan Alquran bagi manusia yang benar yakni digunakan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menetapkan syariat-syariat agama, dan diamalkan dikehidupannya.
Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentadabburi ayat-ayat-Nya. Dia Azza wa Jalla berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapat pelajaran. [Shâd/38:29]
Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), ‘Al-Qur’ân ini ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, wahai Muhammad, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, agar mereka memperhatikan hujjah-hujjah Allah Azza wa Jalla serta syari’at-syari’at yang ditetapkan di dalamnya, kemudian mereka mendapat pelajaran dan mengamalkannya’”. [Tafsîr ath-Thabari, 21/190]
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Apakah jika seseorang pernah berbuat syirik tidak akan masuk Surga?.


Seseorang bertanya kepada Ustadz Firanda Adirja, "ya ustadz saya pernah berbuat kesyirikan dimasa lalu, apakah pasti saya masuk neraka?, dan tidak masuk surga?". Ustadz menjawab, hanya kesyirikan yang dibawa hingga kematiannya yang menjadikan dia tidak akan masuk surga, atau dia pasti masuk neraka jika membawa kesyirikan sampai kematiannya. Jika dia bertaubat dari kesyirikan kemudian Allah mengampuni perbuatan syiriknya dimasa lalu kemungkinan dia akan masuk surga. Karena jika dipahami semua pelaku kesyirikan masuk neraka, maka ini berlawanan dengan kenyataannya dimana para sahabat Nabi sebelum datangnya Islam mereka semua adalah pelaku kesyirikan, mereka para penyembah berhala, namun Allah menjamin mereka adalah calon penghuni surga.
Batasan seseorang berbuat kesyirikan atau mentauhidkan Allah batasannya yakni ajal, jika seseorang melakukan kesyirikan sampai kematiannya niscaya dia adalah salah satu penghuni kekal neraka. Maka perbanyak mohon ampunan Allah atas perbuatan syirik yang mungkin pernah kita lakukan dimasa lalu, semoga Allah mengampuni kita dosa perbuatan itu, dan berharap serta berdoa agar kita menjelang ajal dalam keadaan mentauhidkan Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatan (dosa) mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. [Fâthir/35:45]
Allah akan mengampuni dosa apapun yang dilakukannya, baik berupa kekafiran, kefasikan maupun kemaksiatan lainnya. Semua dosa tersebut termasuk dalam keumuman firman Allah Azza wa Jalla :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [az-Zumar/39:53]
Dikutip dr Ustadz DR. Firanda Adirja MA.

Wednesday, November 23, 2016

Andai istriku adalah seorang ahlul bid'ah




Saya gak kebayang kalau punya istri seorang ahlul bid'ah yang sangat taat kepda kebid'ahannya, apalagi ditambah amalan-amalan syiriknya, mungkin yang terjadi setiap saat adalah pertengkaran diantara saya dan istri saya, niscaya jauh dari keluarga sakinah mawwadah warohmah.
Maka saya sangat bersyukur mempunyai istri yang beramal ibadah diatas dalil sahhih sesuai Alquran dan hadist.
Bayangkan bagaimana gak bertengkar kalau misal saya berusaha menjauhi amalan bid'ah dan syirik sementara istri saya hobby berat sama bid'ah dan kesyirikan?.
Istri saya ingin mengadakan tahlil kematian untuk orang tuanya sementara saya berusaha melarangnya, dan saya sampaikan bahwa amalan sunnah justru berlawanan dengan amalan tahlil kematian, berdasarkan hadist Ja'far, harusnya jamaah yang menyantuni makanan pada ahli mayat, bukan malah sebaliknya malah minta makan pada ahli mayat.
Misal juga jika istri jadi panitia shalawat akbar di lapangan desa, mengundang seorang habib untuk memimpin acara tersebut, menghabiskan dana hingga belasan atau puluhan juta untuk segala pernak perniknya seperti sewa tenda, kursi dan tentu amplop bagi sang habib, Tentu saya akan melarangnya dengan keras karena shalat dan dzikir seperti itu jelas berlawanan dengan sunnahnya, karena sunnahnya dzikir dan bershalawat dilakukan dengan suara pelan, tidak berjamaah dan tidak ada tuntunannya dilakukan dalamacara khusus seperti itu, yang jelas dzikir dan shalawat cara sunnah jauh lebih murah, tidak repot dan pasti berpahala.
Juga misal istri saya berencana ikut rombongan ngalap berkah ke makam-makam orang yang dianggap wali, padahal hal demikian masuk perkara syirik, karena jika alasannya berwasilah(perantara) maka bertawassul dengan amal ibadah adalah yang paling benar, bukan bertawassul melalui bantuan kuburan. Mungkin sebelum dia pergi bersama rombongannya tentu saya akan bertengkar dengan istri saya, karena saya istri saya, orang yang saya cintai berbuat kesyirikan,
Atau juga ketika ikut repot menjadi panitia maulid nabi, tentu saya akan bersuara untuk melarangnya, karena jelas amalan itu tidak ada tuntunannya, tidak pernah diamalkan para sahabat nabi, bahkan juga para imam madhzab, dan yang jelas Nabi tidak pernah ulang tahun dan tidak pernah meminta umatnya memperingati kelahirannya, yang diminta Nabi adalah iitiba'(mengikuti jalannya, memahami syarait2 yang diajarkan beliau dan mengamalkannya dalam kehidupan).
Dan banyak lagi amalan dari istri saya yang ahlul bid;ah menjadi sumber pertengkaran diantara kami,
Memang benar kata para ulama persatuan yang haq diatas dalil sahhih Alquran dan hadist, sementara paham yang menyelisihi adalah sumber perpecahan umat.

Dan firman-Nya.

“Artinya : Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.” [Hud : 118]

Tatkala Rasulullah bersama para sahabatnya, ia menggaris di atas tanah garis yang lurus dan menggariskan garis-garis lain di kanan dan kirinya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk garis lurus tersebut seraya berkata: “Ini adalah jalan Allah”. Dan beliau menunjuk garis-garis yang bercabang di kanan dan di kirinya dengan mengatakan: ”Ini adalah jalan-jalan sesat, di setiap ujung jalan-jalan ini terdapat setan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat ini (QS al An’am : 153).

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” [al An’am :153]
Allah Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).


Ciri orang bodoh adalah mudah menuduh.


Dikisahkan dari Ustadz Adi Hidayat Lc., beliau ketika memandu jamaah haji dari Indonesia pada th.2010. Pada saat setelah menerima rombongan jamaah seperti biasanya beliau mengajak para jamaah untuk shalat di Masjidil Haram, ketika masuk waktu Isya'. Setelah selesai shalat berjamaah Isya' merekapun kembali ke penginapan, dalam perjalanan pulang ke penginapan itu diantara jamaah nampak ada beberapa orang berdiskusi tentang imam shalat Isya' di Masjid Masjidil Haram barusan, "kok imamnya gak mengucapkan basmalah dulu waktu membaca Alfatihah?", kata seorang bapak, dan dijawab oleh orang disebelahnya, " mungkin imamnya orang Muhammadiyah ", beberapa orang membenarkan perkataan temannya, " iya, mungkin juga". Ustadz mendengar pembicaraan mereka cuma senyum2, maklum mungkin mereka awam dan tidak paham bahwa basmalah diucapkan sebelum Alfatihah hanya pendapat madzhab syafiiyah, karena madhzab syafiiyah memahami basmalah adalah termasuk ayat dalam surat Alfatihah, sementara tiga madhzab lainnya tidak menganggap basmalah bagian dari Surat Alfatihah.
Keesoknya ketika menjelang Shalat Subuh kembali rombongan menuju Masjid Masjidil Haram. Sepulangnya dari shalat subuh diantara jamaah ada yang bersuara keras dan didengar oleh Ustadz Adi Hidayat, " benar khan apa kata saya imamnya itu orang Muhammadiyah makanya waktu shalat subuh tadi kita tidak membaca qunut".
Ustadz hanya tersenyum mendengar perkataan salah satu jamaah rombongannya itu.
Padahal sejak jaman nabi dan para sahabat basmalah juga tidak disebut oleh imam shalat, demikian juga dalam membaca qunut, tidak setiap saat shalat subuh qunut dibaca oleh Nabi dan para sahabat.
Waallahua'lam.

Ketika disampaikan Alquran dan hadist dicap pemecah belah umat?


Dikisahkan ada keluarga besar mafia hidup disebuah daerah, keluarga itu terdiri dari seorang ayah yang berprofesi pemasok narkoba terbesar didaerah itu, seorang istri yang berprofesi pengelola rumah judi, dan ada 10 orang anak yang kebanyakan berprofesi sebagai penjahat, ada yang jadi tukang copet, pengedar narkoba, tukang rampok, dst., anak paling bungsu didalam keluarga itu ketika melihat keluarganya setiap saat bermaksiat akhirnya hati nuraninya terketuk, jiwanya berontak mencari kebeneran, fitrahnya menuntut yang haq. Maka pada suatu hari tampa sepengetahuan anggota keluarganya, dia pergi ke sebuah masjid dimana ada kajian sunnah digelar, ketika dia duduk menyimak kajian dia mendapat banyak kebenaran apa yang disampaikan ustadz, kebenaran dari dalil sahhih Alquran dan Hadist. Akhirnya hampir tiap ada kajian dia selalu hadir, duduk menyimak dan mencatatnya, lama kelamaan makin banyak ilmu syar'i yang dimilikinya.
Pada suatu saat si bungsu duduk bersama anggota keluarga yang lain di meja makan, seperti biasa mereka mengobrol segala hal, dan diantara obrolan itu si bungsu menyampaikan ilmu syar'i yang dibawa pulang dari kajian sunnah, berupa peringatan Allah dan sabda Rasulullah akan haramnya maksiat dengan lemah lembut, dan anggota keluarga yang lain diam menyimak. Rupanya dakwah lemah lembut itu dipahami negatif oleh sang ayah, dia merasakan dakwah si bungsu mengancam aksi maksiat yang terpelihara selama ini, karena dari sanalah mereka dapat menghidupi diri mereka. Si ayah langsung berdiri langsung berteriak dan mengarahkan telunjuknya pada si bungsu, "sudah hentikan!!!, kamu telah memecah belah keluarga ini dengan ocehanmu!". Langsung saja suasana mendadak senyap dan akhirnya acara makan malam hari itu bubar.
Ini sekedar cerita ilustrasi, bagaimana seseorang yang menyampaikan kebenaran dari Allah dan RasulNya tidak selalu benar dimata kebanyakan orang, terutama jika kebenaran itu berlawanan dengan maksiat yang dilakukan kebanyakan orang disekelilingnya, apalagi jika kemaksiatan itu dianggap lumrah, umum dilakukan.
Seorang yang menyampaikan sunnah niscaya dicap sesat oleh ahlul bid'ah.
Seseorang yang yang menyampaikan tauhid niscaya dicap sesat oleh pelaku kesyirikan.
Maka ikuti kebenaran dari Allah dan RasulNya, jangan ikuti kebanyakan orang, karena kebanyakan orang belum tentu benar.
Waallahua'lam.

Kebanyakan manusia menyesatkan, Allah waa jazzalla berfirman ;
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ
“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah (Qs:al An’aam:116)

Monday, November 21, 2016

Amar ma'ruf nahi munkar, inilah dakwah sunnah.


Di inbox saya ada seseorang berpesan agar saya tidak memposting tentang perkara larangan bid'ah dengan alasan karena itu memecah belah umat. SubhanAllah, jadi ingat perkataan Ustadz Abu Tohir Jones Vendra, kata beliau, "Dakwah sunnah itu amar ma'ruf nahi munkar, mengajak manusia kepada kebaikan dan mengajak manusia meninggalkan kejahatan. Kalau dakwah hanya mengajak kebaikan dan meninggalkan ajakan meninggalkan kejahatan, maka itu bukan dakwah sunnah. Alquran menceritakan Nabi Musa Alaihi wa sallam, didalamnya sekaligus Alquran menceritakan juga kejahatan Firauan. Secara garis besar Alquran menceritakan mana kebaikan dan mana kejahatan. Maka mustahil jika dakwah hanya menyampaikan mana aqidah tauhid dan meninggalkan cerita keburukan bid'ah dan syirik. Mustahil jika dakwah menyampaikan dakwah mana kebaikan dan meninggalkan dakwah mana keburukan.
Jika kita beriman kepada Allah dan perkataan RasulNya maka kewajiban kita menyampaikan mana yang amar ma'ruf dan juga menyampaikan mana nahi munkar."
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali Imrân/3:104]
Kesimpulannya dakwah sunnah menyampaikan ajakan kebaikan dan ajakan meninggalkan keburukan, kalau hanya mengajak kebaikan tampa menyampaikan mana keburukan seperti bid'ah dan syirik, itu namanya bukan dakwah sunnah, tapi dakwah GAUL.
Waallahua'lam.

MUSIBAH adalah ujian sekaligus AZAB.


Seseorang bertanya kepada Ustadz Abu Haidar As Sundawy, "ya ustadz jika saya mendapat suatu musibah, apakah itu ujian ataukah azab atas dosa saya?", lalu beliau menjawab, " jika terjadi musibah kepada seseorang, maka itu dapat menjadi ujian atas keimanan dan ketakwaan seseorang, apakah dia mampu menyikapi musibah itu dengan kesabaran dan tetap beriman meskipun mendapatkan musibah seperti itu. Musibah juga dapat merupakan azab atas dosa yang pernah dilakukannya dimasa lalu." Lalu beliau menyampaikan kisah Muhammad bin Sirin salah satu pembesar tabi'in dimasanya, bagaimana seorang ulama besar menyikapi musibah yang dihadapinya.
Suatu hari salah satu pekerja Muhammad bin Sirin melaporkan adanya bangkai tikus yang masuk salah satu tong madu, dan sesuai syariat jika terjadi demikian maka harus dibuang beserta wadahnya.
Lalu pekerja Muhammad bin Sirin mengeluarkan tikus tadi dari tong madu, namun celakanya mereka lupa tong yang manakah yang ada tikusnya tadi..
Dengan kewara'annya ibnu Sirin, maka beliau membuang semua tong madunya
Dan itu musibah yang sangat besar
Beliau bangkrut, rugi besar dari kekayaan dunia, akan tetapi karena wara' beliau menjauhi syubhat..
Maka ada yang berkata kepada beliau: ini kerugian yang sangat besar..
Maka ibnu Sirin menjawab:
Ini adalah pembalasan atas dosaku yang kutunggu selama 40 th.
Beliau ditanya lagi:
Dosa apakah gerangan?
Beliau:
Suatu hari aku melihat orang telanjang, lalu aku pun manggilnya (mengejek) wahai si fakir!
Subhanallahil 'azhim...
Muhammad bin Sirin menanti pembalasan sebuah dosanya selama 40 th, bagaimana yang bermaksiat sepanjang siang dan malam.
Suatu kaum sedikit berbuat dosa sehingga mereka tahu dari dosa manakah datangnya suatu musibah..
Seorang (merasa berdosa dengan) mengejek orang telanjang dengan "Hai si fakir!", bagaimana dengan orang yang selalu merendahkan manusia siang malam..
Nas'alullah assalamah wal 'afiyah...
Dikutip dr dauroh Ustadz Abu Haidar As Sundawy dan tulisan Ustadz Abu Yahya Badrussalam.

Sunday, November 20, 2016

Raja Dang Ndutpun gagal paham tentang makna Bid'ah.


Qodarullah, tadi malam tampa sengaja remote tv saya terpencet dan menyalakan tv, tampa sengaja saya melihat adegan di flim berjudul, "sajadah ka'bah", tepat pas adegan hanya beberapa menit, namun ketika itu ada adegan dimana Komar dan si Raja dnag dut sedang terlibat dalam sebuah percakapan, si Komar ketika melihat si Raja Dang Ndut berdzikir dengan menggunakan tasbih berkata, " Pak haji jangan menggunakan biji tasbih karena kata ustadz kami itu amalan bid'ah, Nabi dulu berdzikir dengan menggunakan ruas jarinya", lalu si Raja Dang Ndut terdiam sesaat kemudian dia menunjuk jam dinding Masjid, "itu apa?", si Komar menjawab," itu jam dinding", kemudian si Raja Dang Ndut beranjak menuju jam dinding masjid yang tertempel di dinding, dan dia mengambilnya, kemudian dia kembali kepada si Komar, si Raja Dang Ndut memegang jam dinding kemudian membuat posisi tangannya seakan mau melempar jam dinding keluar masjid, melihat itu tentu si Komar terkejut, "eh eh, pak haji mau apain jam dindingnya?", lalu si Raja Dang Ndut berkata, " saya akan lempar jam dinding ini, karena ini Bid'ah", si Komar menjawab, " jangan pak haji jam dinding ini untuk mengetahui waktu shalat telah masuk", lalu si Raja Dang Ndut berkata," jam dinding tidak ada dijaman nabi, dulu nabi menandai waktu shalat dengam melihat matahari ", lalu si raja pergi dan si Komar senyum-senyum.
Melihat adegan ini seakan si Raja Dang Ndut menyampaikan pesan bahwa semua yang baru adalah bid'ah termasuk jam dinding, tentu ini pemahaman Bid'ah yang kurang benar, karena jam dinding adalah fasilitas penunjang dunia, tidak ada sangkut pautnya dengan amal ibadah. Sementara biji tasbih adalah bukan bid'ah lagi, namun sudah tasyabuh(memiripkan) dengan umat agama lain, karena biji tasbih sudah digunakan oleh umat Hindu dan Budha, dan dua agama ini lahir jauh sebelum Islam datang. Menurut sejarah Hindu telah ada di jaman 15 abad sebelum Masehi, Budha ada 5 abad sebelum Masehi, sementara Masehi adalah penanggalan nasrani/umum saat ini yakni 2016, dan agama Islam penanggalannya baru 1438 tahun. Kesimpulannya penggunaan biji tasbih sudah ada jauh sebelum Islam datang, dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat beliau tidak sekalipun disebut dalam hadist menggunakan biji tasbih dalam berdzikir. Kalau itu perbuatan yang baik niscaya mereka dahulu yang mengamalkannya, bukan kita duluan yang mengamalkan nya.
Wabah kesalahan memahami makna bid'ah menjadi masalah diantara umat Islam kita, bahkan diantaranya berusaha menyamarkan makna amalan bid'ah agar mirip dengan sunnahnya, mungkin itu dilakukan motivasinya tidak lain agar amalan bid'ah itu terasa benar.
Waallahua'lam.
Semoga lepas dari pemahaman yang salah, Aamiin.

Wahabi itu apa? Pahami baru comment

.
Ada beberapa definisi kata wahabi, mungkin puluhan jenis definisi dari kata ini, namun kebanyakan yang sering menyebut wahabi tidak mampu menjelaskan definisinya secara jelas dan akurat. Namun kebanyakan mereka menisbatkan wahabi pada pengikut ulama pejuang tauhid yakni Syaikh Muhammad Abdul Wahab.
Misal ada pendapat yang menyebut wahabi adalah pengikut Syaikh Muhammad Abdul Wahab, dan ciri paham ini anti madzhab. Ini sungguh aneh jika melihat kitab karya beliau, misal dalam Ushul Tzalazah beliau mengutip beberapa pendapat ulama besar lintas madhzab juga pendapat Imam Syafii, bahkan beliau menuliskan autobiografi dari sang imam di catatan kakinya. Wahabi anti Madzhab??
Definisi lain menyebut wahabi adalah khwarij, paham radikal yang mudah menumpahkan darah muslim yang lain, masih dalam Kitab Ushul Tzalazah, Syaikh Muhammad Abdul Wahab dengan jelas2 menyatakan haram hukumnya menumpahkan darah seorang muslim tampa alasan yang jelas.
Atau definisi wahabi yang lain menyebutkan bahwa paham wahabi adalah mujasimah yang menganggap Allah seperti makhluk, ini juga pendapat yang jelas keliru. Karena dalam Kitab Syarah At tauhid atau Fathul Majid jelas beliau mengkritik paham mujasimah, dan menyebut Allah tidak serupa dengan apapun juga, apalagi serupa makhluk. Maka pendapat itu terpatahkan juga.
Kesimpulannya mereka yang sering menyebut wahabi sesat sejatinya hanya korban fitnah, dan kebanyakan diantara mereka tidak pernah selembarpun membaca dan mempelajari kitab2 karya Syaikh Muhammad Abdul Wahab.
Waallahua'lam.
Maka bagi siapa saja yang sering menyebut wahabi sesat saya sarankan belajar kitabnya dahulu sebelum menyebarkan comment dan tuduhan yang didasari informasi yang bukan dari sumbernya.
Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Kemana kecintaan kita pada agama ini?


Taukah anda para imam madzhab seperti Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafii dan Imam Ahmad adalah puncak-puncak ilmu dalam dunia Islam, mereka penghafal sejuta hadist beserta sanadnya, lautan ilmu bagi manusia, sumber ilmu yang selamanya dijadikan rujukan. Padahal ketika dijaman mereka alat dan sarana prasarana sangat sederhana, mereka menulis dengan dengan bulu angsa dicelupkan ke tinta jika ingin menulis, dan mereka membaca kitab di bawah sinar pelita dari minyak hewan yang sangat redup cahayanya diwaktu malam. Jika mereka akan mengambil sebuah hadist dari seorang ulama maka mereka akan mengambilnya dengan perjalanan darat, dan itu dilakukan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Namun keadaan seperti itu tidak menghalangi mereka untuk menuntut ilmu, karena semangat dan perjuangan mereka mendapatkan ilmu didasari karena kecintaan kepada agama ini.
Namun lihat saat ini dengan semakin majunya jaman, semakin bertambahnya waktu makin sedikit orang yang berilmu, padahal saat ini ada sarana prasarana yang jauh sangat bagus, ada listrik yang menerangi kapanpun manusia ingin menggunakan nya, ada laptop dan komputer yang mampu menyimpan ratusan atau bahkan ribuan buku sekaligus, ada alat transportasi yang memudahkan orang pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat, ada internet yang menghubungkan manusia satu ke manusia yang lain di muka bumi yang berbeda jauh jaraknya dengan cepat dan banyak lagi kemudahan dijaman ini.
Yang hilang dari kita mungkin rasa cinta pada agama ini, mungkin telah terkikis syahwat dunia atau kita terlalu sibuk dengan asyiknya nikmat dunia.
Disadari atau tidak, kita tidak seperti para ulama besar ataupun para imam madzhab dalam mencintai agama ini.
Waallahua'lam.

Nama Islam hanya "Islam".


Macolm Little seorang warga negara Amerika, afro Afrika, lebih dikenal dunia dengan tokoh pergerakan anti rasisme dalam sejarah Amerika sebagai Malcolm X. Inisial X menunjukkan bahwa ia adalah eks perokok, eks pemabuk, eks Kristen, dan eks budak.
Pada tahun 1964 Malcolm X melakukan perjalanan haji ke Makkah dan Madinah, disana terbuka wawasannya tentang bagaimana universalnya Islam, dilihat ribuan manusia dengan berbagai warna kulit, berbagai suku bangsa yang berbeda dalam kegiatan amal ibadah yang sama. Berhaji merubah cara pandang dia tentang perjuangannya yang didasari kebencian kepada kulit putih, bahwa yang dia yakini selama ini adalah salah, dia menemukan fakta bahwa Islam adalah universal, tidak hanya untuk orang Arab, tidak hanya untuk orang berkulit putih, kulit sawo matang atau juga tidak hanya untuk yang berkulit hitam, Islam adalah Rahmatan Lil Alamin.
Maka ketika kita melihat saat ini banyak dikalangan umat muslim terutama di negri kita, ada sekelompok orang memberi nama agamanya dengan Islam Nusantara, yang konon bergaya lebih santun, meskipun kenyataannya paling anarkis dari semua kelompok, melihat faktanya diberbagai daerah seperti Aceh, Samarinda, Pamekasan, Surabaya, dan banyak daerah, justru pelakunya dari mereka yang mengaku Islam Nusantara yang super santun.
Sejatinya penamaan tampa didasari dalil sahhih adalah sebuah kebathilan, karena memecah belah umat ini, lihat makin hari makin banyak kelompok memberi stempel pada dirinya?.
Sebaliknya kita kembali kepada Islam sebagaimana sumbernya, Islam cuma Islam namanya, dan pahamnya yakni paham generasi pertama Islam, karena Nabi sudah berpesan, "sebaik-baik salaf(pendahulu) adalah aku", maka ikuti kaum salaf, gaya hidup Nabi dan para sahabat, bukan bikin gaya sendiri. Islam adalah pemberian Allah kepada umat manusia secara keseluruhan di muka bumi, Islam diturunkan bukan khusus untuk orang Jawa, orang Tionghoa, orang Sunda, orang Bugis, orang Melayu, orang Papua, orang Madura dst., bahkan juga tidak khusus diturunkan untuk Nusantara.
Waallahua'lam.

Allah Ta’ala,

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.

Jangan menghinakan Allah.


Ketika dia akan bermaksiat nampak olehnya tetangga nya maka dia tidak jadi bermaksiat.
Ketika akan melakukan maksiat ada temannya dia tidak jadi berbuat maksiat.
Ketika dia akan bermaksiat nampak mertuanya dia tidak jadi melakukan maksiat.
Namun ketika dirinya sendirian, hanya di lihat oleh Allah justru dia melakukan maksiat sepuasnya.
Orang seperti ini disebut oleh banyak ulama sebagai penista Allah, seakan menganggap Allah tidak mampu melihat dan menghisab perbuatan seseorang. Dia menganggap Allah lebih rendah dari manusia, yakni dengan meninggalkan ridho Allah dan mengutamakan ridho manusia.
Sementara seorang mukmin melakukan segala sesuatu karena mengharapkan ridho Allah, baik ada manusia ataupun tidak. Bahkan jika dia melakukan sesuatu karena dia yakin Allah ridho atas perbuatannya sekalipun manusia tidak ridho atas perbuatannya.
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Friday, November 18, 2016

Surat Cinta bagi para pengamal amalan bid'ah.



Wahai temanku seaqidah, yang mengaku mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Kita mencinta sosok manusia yang sama, kita mengaku pengikut orang sama yakni Rasulullah.
Kenapa amalan dan tatacara beragama kalian berbeda dengan yang diajarkan beliau?
Kenapa kalian berdzikir tidak seperti beliau?
Kenapa kalian memperingati kematian seseorang tidak seperti beliau?
Kenapa dalam melantunkan pujian shalawat kepada beliau tidak mengikuti sebagaimana para sahabat saja?, karena mereka pasti benar dan paling tau bagaimana bershalawat, yakni tidak bersuara keras, tidak berjamaah dan tidak menggunakan musik.
Kenapa kalian membuat perayaan ulang tahun bagi Nabi, padahal amalan itu tidak pernah diserukan oleh beliau, bahkan sama sekali tidak pernah diamalkan para sahabat hingga para imam madhzab, padahal merekalah yang paling mencintai Nabi da agama ini.
Kenapa kalian berdakwah meninggalkan anak dan istri hingga pergi nn jauh disana, padahal hisab kelak dimulai dari rumah? dan Nabi paling tau agama ini dari siapapun dimuka ini, beliau paling tau cara berdakwah dan bagaimana mengamalkan perintah Allah?.
Kembalilah wahai teman, kembali ke jalan ini, jalan yang diridhoi oleh Allah dan RasulNya.
Aku sampaikan bukan karena benci pada kalian, tetapi aku sangat mencintai kalian.
Aku juga bukan sok suci dan merasa paling benar, namun aku tidak rela jika kalian masih melakukan amalan2 kesalahan yang dulu pernah aku lakukan, ketika aku tau itu salah maka aku bertekad untuk hijrah pada jalan yang benar, jalan yang Rasulullah ajarkan.
Hijrahlah teman, kepada yang sesuai As sunnah, karena hidup cuma sekali, dan jalan kebenaran cuma satu diantara puluhan atau ribuan jalan yang salah, Nabi sudah sampaikan itu.
Janji Allah dan RasulNya adalah pasti, sementara syahwat kita adalah semu dan ditunggangi setan.
yuk kembali ke sunnah.

November 2016

Hati-hati menamai anak anda, jika tidak fatal akibatnya.


Lewat sebuah jalan, nampak dipinggir jalan ada tanah dengan spanduk penandaan siapa pemilik tanah itu, cuman yang bikin istighfar nama pemiliknya itu, di spanduk tertulis "Tanah ini milik Putri Allah", Astaghfirulloh !!!, SubhanAllah, sejak kapan Allah punya anak gadis?, padahal Allah tidak beranak dan diperanakkan. Ketahuan dulu orang tua orang itu sangat jahil, sampai-sampai menamai dengan nisbat kepada anak Allah.
Jadi ingat pembahasan soal ini bersama Ustadz Abu Haidar As Sundawy, kata beliau memberi nama seseorang dengan nama Allah adalah terlarang, haram hukumnya memberi nama seperti ArRahman atau ArRohim kepada seorang anak, namun jika memberi nama rahman atau rohim diperbolehkan, karena tidak menunjukkan nama dan sifat Allah.
Allah melarang dan mengancam siapapun yang mempermainkan nama Allah dan menggunakannya secara tidak benar. Allah berfirman;
{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأعراف: 180]
Hanya milik Allah Al-Asmaul Husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) nama-nama-Nya . nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al-A’rof; 180)
Waallahua'lam.
Semoga posting ini jadi pengingat kita semua, Aamiin.

Kenapa ketika Allah memanggil manusia tidak datang?


Adzan adalah panggilan Allah melalui muadzin, namun panggilan Allah itu banyak dilalaikan oleh manusia, mereka pura2 tidak tau dan pura2 tidak mendengar. Lihat masjid dan mushola sepi ketika selesai adzan, namun anehnya manusia dapat bangun pada dini hari untuk melihat pertandingan sepak bola ditelevisi karena Ronaldo atau Messi bermain dipertandingan itu, padahal Ronaldo atau Messi tidak pernah manggil kita sama sekali?.
Firman Allah sangat jelas menyebut adzan adalah panggilanNya dalam At Taubah Ayat 3:
وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ
“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia”
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Wednesday, November 16, 2016

Saya diusir dari semua group Jamaah Tabligh karena menyampaikan ayat dan hadist ini.


Perintah Allah tentang menjaga keluarga setiap saat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)
Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua, sebab kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)
Ketika Ustadz Maududi Abdullah membahas ayat dan hadist ini menyebutkan, " ini menunjukkan bahwa kelak hisab diawali dari diri kita, kemudian keluarga kita, bukan dari tempat yang jauh. Lalu mereka pergi jauh dari rumah dengan alasan dakwah dan syi'ar agama dengan tujuan menyelamatkan seseorang agar mendapat hidayah, sesungguhnya mereka sangat keliru, karena hisab dimulai dari keluarga kita, artinya kita dan keluarga kita dahulu yang perlu diselamatkan, bukan orang yang jauh dari rumah, karena tidak ada sedikitpun jaminan bahwa kita dan keluarga kita selamat dari api neraka".
saya sampaikan ini karena ingin mengajak saudara-saudara kita mengikuti sunnahnya dan meningalkan amalan yang tidak pernah ada contohnya dari Nabi, ataupun para sahabat, tidak juga pernah diamalkan para imam madzhab sekalipun.
Syukron, semoga Allah memberikan hidayahNya, Aamiin.

Kitab fikih Sunnah


"Shahih Fikih Sunnah lengkap", karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Kitab yang terdiri dari empat jilid ini khusus membahas ilmu fikih sesuai kaidah Sunnah lengkap dengan dalil sahhih dari Alquran dan hadist, juga didukung dengan fatwa para ulama besar ahlus sunnah. Mencakup semua aspek kehidupan manusia, dari mulai perkara jual beli, berumah tangga, hukum bagi pelaku maksiat, juga amal ibadah mulai shalat, zakat, haji dan seterusnya.
Dengan membaca kitab ini diharapkan pembaca mengetahui hukum Islam yang benar, sesuai dalil sahhihnya.
Harga satu set 550 ribu belum termasuk ongkos kirim, bagi yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga info manfaat, syukron.

Tidak ada jaminan sedikitpun seseorang tidak berbuat maksiat.


Berkata Ibnul Qoyyim, “Diriwayatkan bahwasanya dahulu di kota Mesir ada seorang pria yang selalu ke mesjid untuk mengumandangkan adzan dan iqomah serta untuk menegakkan sholat. Nampak pada dirinya cerminan ketaatan dan cahaya ibadah. Pada suatu hari pria tersebut naik di atas menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan dan di bawah menara tersebut ada sebuah rumah milik seseorang yang beragama nasrani. Pria tersebut mengamati rumah itu lalu ia melihat seorang wanita yaitu anak pemilik rumah itu. Diapun terfitnah (tergoda) dengan wanita tersebut lalu ia tidak jadi adzan dan turun dari menara menuju wanita tersebut dan memasuki rumahnya dan menjumpainya. Wanita itupun berkata, “Ada apa denganmu, apakah yang kau kehendaki?”, pria tersebut berkata, “Aku menghendaki dirimu”, sang wanita berkata, “Kenapa kau menghendaki diriku?”, pria itu berkata, “Engkau telah menawan hatiku dan telah mengambil seluruh isi hatiku”, sang wanita berkata, “Aku tidak akan memnuhi permintaanmu untuk melakukan hal yang terlarang”, pria itu berkata, “Aku akan menikahimu”, sang wanita berkata, “Engkau beragam Islam adapun aku beragama nasrani, ayahku tidak mungkin menikahkan aku denganmu”, pria itu berkata, “Saya akan masuk dalam agama nasrani”, sang wanita berakta, “Jika kamu benar-benar masuk ke dalam agam nasrani maka aku akan melakukan apa yang kau kehendaki”. Maka masuklah pria tersebut ke dalam agama nasrani agar bisa menikahi sang wanita. Diapun tinggal bersama sang wanita di rumah tersebut. Tatkala ditengah hari tersebut (hari dimana dia baru pertama kali tinggal bersama sang wanita dirumah tersebut-pen) dia naik di atas atap rumah (karena ada keperluan tertentu-pen) lalu iapun terjatuh dan meninggal. Maka ia tidak menikmati wanita tersebut dan telah meninggalkan agamanya”.
( dr Kitab Ad-Da’ wad Dawa’ hal 127)

Kiamat sudah dekat, kenapa masih bandel?


" Tentang adanya Kiamat Allah dan RasulNya sudah mengabarkan betapa dahsyat akibatnya kepada manusia, betapa menderitanya manusia jika itu terjadi. Maka ketika kabar itu telah sampai melalui petunjuk Alquran dan Hadist kepada umat manusia, harusnya manusia bersiap untuk menghadapinya. Namun banyak manusia yang fasik, mengingkari kabar itu, dan itu tidak membuat takut sama sekali kepada Allah. Maka dia membiarkan keadaan agama yang dimilikinya apa adanya, dia tidak mau tau entah agamanya, mungkin bercampur aduk dengan kemaksiatan, kebid'ahan dan kesyirikan, dan dia tidak mau tau itu. Dia beragama hanya menuruti keinginan hati dan syahwatnya.
Sementara orang beriman ketika mendengar kabar dahsyatnya kiamat membuat dirinya sangat takut kepada Allah, dia berusaha menjauhi laranganNya dan menjalankan semua perintahNya, maka dia sibuk mencari jalan selamat dengan belajar agama yang benar, mencari jalan kebenaran yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dia hanya beramal yang telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat nya, dan meninggalkan amal ibadah yang tidak pernah diajarkan Nabi."
Dikutip dr Ustadz Syamsu Rizal

Setan memberi nama indah untuk kemaksiatan.


Kemarin saya posting dengan menyebut jilbobs, dan penamaan itu ditegur seseorang dengan mengatakan, "jangan menyebut demikian, karena MUI melarang menyebut demikian dengan alasan justru merendahkan makna jilbab, bilang aja jilbab yang belum sesuai syariat", SubhanAllah, kerjaan orang liberal. Langsung teringat perkataan Ustadz Abu Zubair Haawary, kata beliau orang-orang liberal yang mengagungkan pluralisme selalu berusaha menghaluskan istilah untuk kemaksiatan dengan berbagai dalih, semisal dulu diera 80an wanita nakal disebut Wanita Tuna Susila(WTS), dan mereka menghaluskan istilah itu dengan alasan hak azasi manusia dan adab kesopanan menjadi Pekerja Sex Komersial(PSK), tentu dengan perubahan istilah ini yang sebenarnya terjadi adalah melegalkan kegiatan prostitusi itu sendiri, akibatnya melacurkan diri dianggap sebagai salah satu pekerjaan, karena tidak ada penistaan dalam istilah itu, akhirnya prostitusi berkembang pesat, pergaulan bebas merajalela, dan yang jelas mensukseskan pekerjaan setan.
Allah SWT berfirman, “Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa’,” (QS. Thaha: 120).
Ibnul Qayyim berkata, “Para pengikut iblis menamakan perbuatan-perbuatan terlarang dengan nama-nama yang disukai hati. Mereka menamakan khamar dengan ‘Ummul Afrah (Induk kesenangan).
Merekalah yang menamakan riba dengan “faedah” (tambahan), pengumbaran aurat perempuan dengan “kebebasan perempuan”, ikhtilath (pencampuran) antara lelaki dan perempuan dengan ‘kemajuan’ dan “masyarakat modern”, artis dan aktor, penyanyi, musik, perbuatan musum dan sejenisnya dengan nama “seni”. Semua ini mereka lakukan guna menarik hati manusia agar cenderung kepada kekejian dan keburukan.
Waallahua'lam.
Semoga selamat dari penamaan zalim seperti itu, aamiin.

Jilbobs itu syariat siapa?


Kalau dijalanan lihat ada wanita berpakaian ketat namun berhijab hanya di kepala, ini bikin bingung, syariat siapakah yang diikuti?, karena jika melihat perintah di Alquran dan hadist namanya hijab itu sekujur tubuh bukan bagian tertentu saja yang dihijabi. Untuk mereka memang bagian kepala yakni rambut tertutup, namun bagian leher kebawah bikin istighfar, semua lekukan tubuhnya terlihat jelas, SubhanAllah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.

Friday, November 11, 2016

Shalat di Gua Hira'???


Lihat ada gambar seseorang yang sedang shalat digua hira', tempat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menerima wahyu pertama, dan foto itu dilike ribuan orang, hal itu bikin geli, kata Ustadz Maududi Abdullah orang yang melakukan shalat menghadap ke dalam Gua Hira' itu orang jahil karena arah kiblat yakni kabbah adalah menghadap keluar gua, bukan kedalam gua, dan ketika Jibril menyampaikan wahyu pertama kali kepada Nabi, posisi Nabi saat itu sedang duduk menghadap keluar Gua, bukan kedalam gua, SubhanAllah, amalan jahilun.

Sampeyan pasti wahabi


Ada seseorang bilang, "sampeyan pasti wahabi", saya jadi bingung dengar itu, lalu saya tanya, " kenapa sampeyan bilang saya wahabi?", lalu dia bilang,"karena sampeyan gak ngamalkan tahlil kematian, gak ikut perayaan maulid nabi, gak ikut perayaan isra mi'raj, gak ikut dzikir berjamaah dst. ", lalu saya bilang, "kalau yang gak melakukan amalan itu semua adalah wahabi maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat beliau, para tabi'in dan tabi'ut juga para imam madzhab adalah wahabi semua karena mereka tidak melakukan amalan2 itu", langsung orang itu terdiam, makanya jangan asal bikin kriteria, SubhanAllah.

Tuesday, November 8, 2016

Ya ustadz kenapa kita tidak ikut demo?


Dalam sebuah kesempatan seorang jamaah bertanya kepada seorang ustadz, "ya ustadz kenapa kita tidak ikut demo seperti mereka ?", jawaban ustadz, " karena kita ahlus sunnah, artinya segala sesuatu termasuk bersikap kepada pemerintah mengikuti sunnahnya, dan cara demikian bukan yang diserukan dalam As sunnah ". Jamaah itupun masih belum puas, " lalau bagaimana kita menasehati pemerintah agar mengikuti aspirasi kita?", si ustadz beranjak dari tempatnya, kemudian mendekati jamaah, sangat dekat, dan berbisik seakan memberi nasehat, jamaah itu bingung, "dengan cara berbisik?", " iya", jawab ustadz. Si jamaah masih merasa belum puas atas jawaban itu, " kalau pemerintah tidak mau mengikuti aspirasi kita setelah kita nasehat?", si ustadz menjawab," ya doakan, itulah usaha kita", si jamaah belum puas juga," kalau misal saya ikut cara mereka demo?", lalu si ustadz menjawab, " ya artinya anda keluar dari ahlus sunnah dengan sendirinya, karena itu bukan amalan sunnah, karena arti ahlus sunnah adalah pengikut amalan-amalan yang telah disunnahkan, dan ajaran Rasulullah tidak ada cara yang demikian dalam menasehati pemerintah". Baru jamaah itu terdiam.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ
“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151)[1]
nasihat
Ketika membawakan hadits di atas, al-Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan sebuah kisah. Kata beliau, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama ‘Iyadh bin Ghunm radhiallahu ‘anhu yang menjadi penguasa di wilayah Syam (Siyar A’lamin Nubala, 2/354

Thursday, November 3, 2016

Aqidah Ahlus sunnah sejati adalah yang paling mendekati fitrah manusia.



Sore tadi dengar istriku menjelaskan makna dari Al A'raaf 54 kepada anakku yang masih kecil, "Allah bersemayam diatas arsy nak", dan anakku manggut2 tanda mengerti, Alhamdulillah. Anakku langsung paham, karena dia melihat ayah dan ibunya jika berdoa menengadah keatas, juga ketika dia dimasjid dan mushola dia melihat banyak orang ketika berdoa menengadah keatas, juga melihat tetangga dan temannya melakukan hal demikian jika berdoa, bahkan teman sekelas nya yang nasrani juga jika berdoa menengadah keatas, dan demikian juga dirinya sendiri juga ketika berdoa menghadap keatas, seakan yang diminta ada diatas.
Saya tidak terbayang kalau ibunya punya paham aqidah tauhid kayak warung sebelah, kemudian mengatakan, " Allah itu ada dimana-mana, ada juga dihati kita nak", niscaya anakku akan bingung dan akan banyak bertanya, "jika Allah ada dimana-mana, apakah Allah ada di got yang kotor?, apakah Allah ada di wc yang bau?, apakah Allah ada diantara sekumpulan sampah? Dst.". Lalu semua petanyaan itu niscaya tidak akan terjawab, apalagi kalau dia tanya, " katanya Allah Maha Besar dan Maha Tinggi bagaimana ada didalam hati kita ibu?", niscaya akan skak mat, ibunya gak akan dapat menjawabnya.
Jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, "yang mengerti dan tau bagaimana Allah adalah Allah sendiri, jika Dia sudah mengatakan bahwa diriNya bersemayam diatas arsy maka kita wajib dengar dan taati, tidak mentakwil sesuai kemauan kita, karena mustahil kita lebih tau dari Allah?. Seorang anak kecil ketika ditanya dimana keberadaan Allah niscaya dia akan menunjukkan keatas, karena fitrah manusia memang demikian, sementara ada seorang profesor ketika ditanya dimana keberadaan Allah, berdasarkan sedikit informasi yang dia terima dari beberapa orang mengatakan Allah ada dimana-mana, maka dengan percaya diri dia menjawab, Allah ada dimana-mana. Jika dibandingkan dari jawaban keduanya, maka jawaban anak kecil itu lebih jujur. Dan menjadi naluri bagi kita, setiap manusia ketika ditimpa sebuah perkara yang berat yang sekiranya sulit diselesaikan sendiri sehingga membutuhkan bantuan dari Allah, dia mengatakan, KITA SERAHKAN KEPADA YANG DIATAS".
Mahatinggi di atas segala makhluk-Nya, Allah tetap bersama mereka dimana saja mereka berada, yaitu Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
“Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “…Pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pandangan Salafush Shalih seperti Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam-Imam lainnya sejak dahulu hingga sekarang, yaitu mem-biarkannya seperti apa adanya, tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya/hakikatnya), tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ta’thil (penolakan). Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut faham musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka makna tersebut sangat jauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang menyerupai-Nya. Seperti yang difirmankan-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ [Asy-Syuuraa: 11]