Saturday, November 9, 2019

TOLONG CARIKAN DALIL LARANGAN SHALAT SUBUH EMPAT RAKAAT, ADA ENGGAK ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Banyak teman yang sering melakukan amalan-amalan yang tidak ada contohnya dari nabi ataupun sahabat ketika dinasehati selalu berdalih, "khan didalamnya ada doa dan dzikir juga shalawat, lalu letak salahnya dimana?, apakah ada larangannya?", subhanaAllah, mungkin dia belum tau bahwa dalam beragama itu mengikuti contoh dari nabi dan para sahabatnya, atau dilarang keras mengarang-ngarang sendiri sebuah amalan meskipun kita nilai itu baik, karena mustahil kita tau ada kebaikan dalam amalan tersebut sementara Nabi Muhammad Shalallahu alaihi Wasallam tidak tau dan juga tidak diajarkan kepada para sahabatnya?.
Mengutip apa yang disampaikan oleh seorang ustadz dari Malaysia, kata beliau "jika ada seorang melakukan shalat subuh empat rakaat apakah termasuk amalan sesat?, pasti semua orang sepakat itu pelakunya adalah orang yang telah tersesat, karena shalat subuh cuma dua rakaat, apapun dalihnya shalat subuh empat rakaat tetap sesat meskipun pelakunya berdalih didalam shalatnya itu menyembah Allah Azza Wa jalla dan dialamnya ada juga doa, dzikir dan shalawat.
Demikian juga dengan amalan-amalan bid'ah, atau amalan lainnya yang tidak ada contohnya sama sekali dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan juga tidak ada contoh dari para sahabat beliau.
Karena sudah jelas dalam agama kita(Islam) setiap amal ibadah harus mengikuti contoh(yang disunnahkan), dan jika amalan yang dibuat-buat meskipun ada doa, dzikir dan shalwat tetaplah amalan itu masuk dalam amalan sesat.
waallahua'lam."
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)
Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu {السُّبُلَ}, dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu {سَبِيلِهِ}. karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang. (Sittu Duror, hal.52).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini” (Sittu Duror, hal.53).
Sumber Referensi "Jalan Kebenaran hanya satu", karya Ustadz Sa'id Abu Ukasyah di muslim.or

MEREKA ADALAH ORANG YANG BERUSAHA MENJADI BAIK


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu saya ajak seorang teman yang masih awam kepada kajian Sunnah untuk ikut saya shalat Juma'at di Masjid Raudhatul Jannah, karena dia mengaku belum pernah kesana dan ingin tau seperti apa keadaan Masjid Raudhatul Jannah saat Sholat Juma't.
Ketika sampai disana dia heran karena dari luar masjid ini seperti sunyi karena tidak ada suara murattal Al-Qur'an sebagaimana masjid-masjid lainnya ketika menjelang shalat Jum'at, namun ketika dia masuk ke dalam masjid dia sangat terkejut, ternyata didalamnya ada ratusan bahkan ribuan orang tengah membaca Al-Qur'an, meskipun suara mereka pelan ketika membaca namun karena banyaknya orang suaranya jadi lumayan riuh juga, seharusnya hal demikian juga diikuti jamaah masjid-masjid lainnya yakni ketika akan memasuki waktu shalat Juma't yang ngaji adalah orang yang ada di masjid itu, bukan rekaman syaikh fulan atau si fulan, semoga suatu saat kebiasaan seperti ini menular ke masjid-masjid lainnya, aamiin.
Ada komentar teman saya itu yang mengharuskan saya menyanggahnya, dia berkata, "MasyaAllah lihatlah jamaahnya pria jenggotan, celana cingkrang dan gamis, demikian juga dengan jamaah akhwatnya berhijab lebar dan banyak yang bercadar, pasti mereka orang-orang yang baik", saya langsung menyanggahnya, " Bukan orang baik tapi mereka orang-orang yang berusaha memperbaiki diri yaa, karena kalau kita buka riwayat mereka sebelumnya kita akan temukan sebelumnya mereka adalah orang-orang yang banyak berbuat dosa dimasa lalu dan saat ini mereka sedang berusaha keras memperbaiki diri'.
Kalau kita sibak chassing mereka yang gamis mungkin dimasa lalu menyimpan banyak kesalahan dan dosa.
Mungkin didalamnya ada seseorang yang berusaha keras menjauhkan diri dari riba, dan memaksakan diri meninggalkan gaya hidup tinggi untuk turun di gaya hidup yang sederhana agar lepas dari jerat-jerat riba.
Atau mungkin dibalik itu ada seseorang yang suka akan hal-hal yang berkaitan dengan syirik dan kebid'ahan dan saat ini setelah mereka taubat mereka berusaha tidak bersinggungan dengan hal-hal itu karena tau dosanya, dan akan mempersulit mereka kelak saat hisab.
Atau juga dibalik chassing itu ada seseorang yang berusaha menjauhkan diri dari perbuatan yang berkaitan dengan segala bentuk kemaksiatan seperti zina, narkoba, judi dan seterusnya.
Semoga kita juga termasuk orang-orang yang sedang berusaha memperbaiki diri, dan istiqomah diatas ketaatan kepada Allah dan RasulNya, aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Luas ampunanNya…” [An Najm/53 : 32].
Foto jamaah Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru

KITA SERING MENYIMPANG DARI AMANAH ALLAH, NAMUN ALLAH MAHA PENGAMPUN


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam kajian Sabtu Pagi yang lalu dalam pembahasan Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad Abdul Wahab di Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru, ada bagian disinggung oleh ustadz yang menarik untuk direnungkan, yakni tentang sifat Allah yang Maha Pengampun.
Kita diberi amanah umur oleh Allah Azza wa Jalla, namun sebagian umur kita lebih banyak kita gunakan untuk bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.
Kita diberi amanah mata oleh Allah Azza wa Jalla, namun mata kita sering digunakan untuk melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Kita diberi amanah telinga oleh Allah Azza wa Jalla, namun telinga kita lebih sering digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Kita diberi amanah tangan oleh Allah Azza wa Jalla, namun tangan kita sering digunakan untuk melakukan hal zalim yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla.
Kita diberi amanah kaki oleh Allah Azza wa Jalla, namun kaki kita sering digunakan untuk melangkah ke tempat-tempat maksiat dan dimana ada perbuatan yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla.
Kalau disebutkan satu persatu demikian banyaknya kezaliman yang kita lakukan, demikian banyaknya kejahatan yang pernah kita lakukan, dan begitu banyak perbuatan kita yang mengingkari amanah yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla kepada kita.
Namun betapapun banyaknya dosa dan kejahatan yang pernah kita lakukan, Allah Azza wa Jalla sediakan ampunan yang sangat luas kepada hambaNya, bahkan menyediakan surga untuk orang-orang yang bertaubat, yakni orang-orang yang meninggalkan segala bentuk kezaliman dan kemudian kembali kepadaNya.
Betapa Maha Pengampun Nya Allah Azza wa Jalla, betapa besar kasih sayang Allah Azza wa Jalla kepada hambaNya.
Waalahua'lam.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [az-Zumar/39:53]

Wednesday, November 6, 2019

JANGAN LETAKKAN HARGA DIRIMU KE SESUATU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam kajian Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab beberapa hari yang lalu di Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru, ketika Ustadz membahas tentang keutamaan tauhid dan dengan tauhid seseorang kelak akan selamat di akhirat, beliau membahas tentang riwayat sabda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam ini yang disampaikan kepada Mu'adz bin Jabal, dalam riwayat hadits tersebut dikisahkan beliau Shallallahu alaihi wa Sallam menaiki seekor keledai membonceng Mu'adz bin Jabal, kata Ustadz,
"lihat bagaimana agungnya sikap Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, beliau hanya menaiki seekor keledai, seperti kita ketahui dijaman itu keledai adalah tunggangan paling rendah levelnya, diatas keledai adalah Onta dan paling atas secara level adalah kuda, artinya kuda kendaraan paling mewah dijaman itu, padahal beliau adalah pemimpin negara, pemimpin umat, punya banyak pengikut, namun beliau bersikap sederhana dalam segala hal termasuk soal tunggangannya.
Seharusnya ini menjadi teladan bagi kita dalam mengarungi kehidupan.
Bandingkan dengan keadaan saat ini banyak diantara kita meletakkan marwahnya(dalam kamus besar bahasa Indonesia, Marwah artinya martabat, gengsi, pangkat) kepada tunggangan dan materi, banyak orang saat ini menyematkan marwahnya kepada mobilnya, merasa malu jika menaiki kendaraan yang sederhana, seakan bukan level dia, pada akhirnya dia naik kendaraan yang sesuai marwahnya, akibat meletakkan marwahnya kepada mobilnya ketika mobilnya tergores sedikit saja dia sedih dan marah bahkan stress.
Padahal kendaraan bisa berganti setiap waktu.
Sejatinya kemuliaan tidak terletak kepada sesuatu kenakan, tapi tergantung dari keimanan, amal dan ibadah kita kepada Allah Azza wa Jalla.
Waallahua'lam."
Dalam sebuah hadits disebutkan,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh:
1. Muslim dalam kitab Al Birr Wash Shilah Wal Adab, bab Tahrim Dzulmin Muslim Wa Khadzlihi Wa Ihtiqarihi Wa Damihi Wa ‘Irdhihi Wa Malihi, VIII/11, atau no. 2564 (33).
2. Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhud, bab Al Qana’ah, no. 4143.
3. Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539.
4. Baihaqi dalam kitab Al Asma’ Wa Shifat, II/ 233-234, bab Ma Ja’a Fin Nadhar.
5. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, IV/103 no. 4906.
Sumber Referensi "Ikhlas" karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

Puisi untuk Istriku


Aku ingin mengajakmu
Rumah kita mungkin sangat kecil
Cukup untuk merebahkan punggung dan meluruskan kaki
Juga mungkin sangat murah
Kayunya sudah mulai lapuk
Dindingnya sudah mulai menjadi abu
Cat ditemboknya juga mulai kusam
Namun aku ingin mengajakmu menjadikan istana
Jika engkau bertanya bagaimana
Aku ingin melapangkan rumah dengan doa
Menjadi indah dengan suara ayat Al-Qur'an
Menjadikan mewah dengan penuh rasa cinta
Dan suatu hari kita mengatakan "rumahku surgaku".
Maukah wahai istriku?.
Pekanbaru, Rabu, 30 Oktober 2019
By Siswo Kusyudhanto
------------
Allah Ta’ala berfirman:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan [25]: 74)

MAULID NABI RASA "HAULAN"


Oleh Siswo Kusyudhanto
Masih ingat dibenak saya dulu ketika masih remaja pernah ngaji kepada seorang kyai di Jawa Timur, dan beliau sering mengajak kami untuk menghadiri haulan seorang kyai atau juga sering dipanggil dengan "gus" di luar kota, kadang untuk sampai pergi kesebuah haulan kami persiapkan jauh-jauh hari karena jauhnya perjalanan yang harus ditempuh dan kadang membutuhkan bekal yang tidak sedikit.
Secara bahasa kata “haul” berasal dari bahasa Arab, Haala-Yahuulu-Haulan yang artinya setahun atau masa yang sudah mencapai satu tahun. Secara kultural, “haul” ialah peringatan hari kematian seorang tokoh masyarakat, seperti syaikh, wali, sunan, kiai, habib dan lain-lain yang diadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal wafatnya. Untuk mengenang jasa-jasa, karomah, akhlaq, dan keutamaan mereka.
Sebenarnya, acara haul tidak dikenal dalam syariat Islam. Haul tidak ada pada masa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, shahabat, tabi’in, dan tabiut-tabi’in. Peringatan tersebut tidak pula dikenal oleh imam-imam madzhab: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Karena memang perayaan ini adalah perkara baru dalam agama Islam. Adapun yang pertama kali mengadakan haul dalam sejarah Islam adalah kelompok Rofidhoh (Syi’ah) , mereka menjadikan hari kematian Husain a pada bulan A’syuro sebagai hari besar yang diperingati.
Kalau ditanya apa hubungannya maulid dengan haulan?
Dulu karena masih jahil saya kira maulid nabi sudah diajarkan sejak jaman Rasulullah, jaman para sahabat dan juga para imam madhzab, belakangan baru tau bahwa maulid nabi adalah perkara baru jauh setelah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam wafat. Dan saya dulu yakin bahwa tanggal 12 Robi'ul awal adalah benar tanggal kelahiran beliau Shalallahu alaihi wa sallam. Belakangan baru tau itu semua tidak sesuai fakta dan sejarah.
Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)
Kapan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam lahir, Syaikh Sholeh Al Munajjid dalam web Islamqa menyebutkan, tanggal dan bulan lahirnya Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal ini masih diperselisihkan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 8 Rabi’ul Awwal, seperti pendapat Ibnu Hazm. Ada pula yang mengatakan tanggal 10 Rabi’ul Awwal. Dan yang masyhur menurut jumhur (mayoritas) ulama adalah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Selain itu ada yang mengatakan, beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan, ada pula yang mengatakan pada bulan Shafar. Sedangkan ahli hisab dan falak meneliti bahwa hari Senin, hari lahir beliau bertepatan dengan 9 Rabi’ul Awwal. Dan inilah yang dinilai lebih tepat.
Jika kita meneliti lebih jauh, ternyata yang pas dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal adalah hari kematian Nabi ­-shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Meski mengenai kapan beliau meninggal pun masih diperselisihkan tanggalnya. Namun jumhur ulama, beliau meninggal dunia pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awwal, dan inilah yang dinilai lebih tepat.
Jika demikian, yang mau diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal apakah kematian beliau?! Wallahul musta’an.
Tulisan ini saya susun bukan untuk melecehkan amalan teman yang masih melakukan kedua amalan itu, namun sekedar untuk mengingatkan agar sebelum beramal untuk mecari dulu siapa yang pernah amalkan amalan ini?, atau lebih tepat "siapa yang pertama kali yang mengamalkannya?".
Karena agama ini ilmiah, jelas sumber dan asal usulnya, insyaallah dapat dicari asal usulnya, waallahua'lam.
Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua.
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)
Sumber referensi :
1. "Hukum Haulan", quransunnah.wordpress
2. "Sejarah kelam Maulid Nabi" karya Ustadz Muhammad Tuasikal Msc. di rumaysho.c
3. "Kapan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam lahir?" karya Ustadz Muhammad Tuasikal Msc. di web muslim.or
4. "Jalan Kebenaran Hanya Satu", karya Sa'id Abu Ukasyah di web muslim.or