Monday, December 31, 2018

KALAU MUSIK HARAM, TERUS HIBURAN ORANG ISLAM APA DONG ?




Oleh Siswo Kusyudhanto
Sering kali jika disampaikan dalila bahwa musik haram banyak orang menyangkal, " Kalau Musik Haram dalam Islam, terus hiburan untuk orang Islam apa dong?', saya jawab singkat, " Hiburan orang Islam ya dzikir".
Lalu saya jelaskan penjelasan mengenai hal ini dari Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah tentang hal ini, kata ustadz Rahimahullah banyak orang keliru dalam usaha mereka mencari kebahagiaan, mereka pergi jauh kesebuah tempat wisata untuk mencari kebahagiaan, namun hanya kebahagiaan sesaat yang didapatkan, ada orang pergi ke diskotik atau cafe untuk mencari kebahagiaan, namun hanya sesaat kebahagiaan yang dia dapatkan, ada orang menggunakan narkoba dan minum minuman keras untuk mencari kebahagiaan dan melupakan beban hidupnya, namun hanya kesenangan sesaat yang dia dapatkan selanjutnya dia hidup dalam kegelisahaan.
Dan banyak lagi kisah seperti ini, banyak orang keliru dalam mencari kebahagiaan, dan kemudian ternyata dia tidak dapatkan seperti yang ia inginkan.
Kata beliau rahimahullah, kebahagiaan sejati seorang manusia hanya dia dapatkan ketika dia beriman kepada Allah Azza wa jalla, mentauhidkan Allah Azza wa Jalla, kemudian dia selalu berdzikir mengingat Allah Azza wa Jalla, mengagungkan nama-nama Allah Azza wa Jalla dalam dzikirnya, dan Allah Azza Wa Jalla limpahkan kebahagiaan dengan ketenangan jiwanya.
Oleh karenanya pentingnya ilmu tauhid dan makna nama-nama yang dipunyai oleh Allah Azza wa Jalla.
Waallahua'lam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Sumber Referensi, "Menggapaia Ketenangan Hati dengan Mengingat Allah", karya Ustadz Abdullah Taslim di muslim.or

Saturday, December 29, 2018

AKIBAT SALAH NIAT


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada seorang ustadz menyampaikan ke jamaahnya tetnang pentingnya sedekah, dan setiap sedekah akan dibalas oleh Allah Azza Wa jalla dengan nilai yang lebih besar.
Salah satu jamaah jadi tertarik untuk bersedekah secara rutin, dia sedekah 1000 rupiah, tak lama dia mendapat rizki tak disangka-sangka mendapat uang 100 ribu dari temannya.
Kejadian ini tentu membuatnya makin semangat sedekah, esoknya dia sedekah 100 ribu, dan tak mlama tampa disangka-sangka datang temannya memberikan uang sebanyak satu juta rupiah.
Karena mengalami hal demikian makin yakin perkataan si ustadz itu, saking semangatnya dia pinjam 100 juta dan disedekahkan dengan harapan mendapatkan rizki tidak disangka-sangka sebanyak 1 milyar rupiah, namun setelah sedekah sebanyak 100 juta rupiah dan nunggu lama tak kunjung juga dia mendapatkan satu milyar rupiah, dan dia malah ahrus membayar hutangnya 100 juta rupiah.
Demikianlah ilustrasi ketika seseorang beramal mengharapkan selain ridho Allah Azza Wa Jalla, bukan apa yang diinginkan yang dia dapat justru malah musibah yang dia dapatkan. Waalahua'lam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. [Hud : 15-16].

MEMBELA KALIMAT TAUHID YANG BENAR


Oleh Siswo Kusyudhanto
Giliran diajak demo membela Kalimat Tauhid katanya, semangatnya luar biasa. Segala upaya dan dana dikerahkan untuk ikut aksi itu, rela jalan kaki jauh, rela berhutang untuk ongkos perjalanan, rela beli bendera lafadz tauhid, topi lafadz tauhid, kaos lafadz tauhid dan seterusnya.
Sementara dalam kehidupannya masih percaya berkah kuburan seorang yang dianggap alim dan ngalap berkah disana, masih suka pakai jimat, pakai ilmu kebal, dan seterusnya.
Atau juga suka mengamalkan amalan yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau alias bid'ah.
Juga dalam kehidupan sehari-hari bergelimang dengan riba yang jelas diharamkan dan diperangi Allah dan RasulNya.
Dan seterusnya, banyak pelanggaran syariat Allah dan RasulNya dalam kehidupannya.
Padahal membela agama yang benar adalah menegakkan Tauhid dan Sunnah, dan memberantas Syirik, Bid'ah dan maksiat, mulai dari diri sendiri dan keluarga, InsyaAllah.
Dan tentu tidak ada jalan lain membela kalimat tauhid yang benar adalah belajar ilmunya, bagaimana makna Tauhid sesungguhnya, bagaimana konsekuensi dari kalimat Tauhid, juga rukun-rukunnya dan seterusnya, kemudian berusaha mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari, ini adalah cara yang paling benar membela kalimat Tauhid.
Waalahua'lam.
Allah berfirman,
ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ
“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah…” [Muhammad: 19]
Allah juga berfirman,
ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺷَﻬِﺪَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“Melainkan mereka yang mengakui kebenaran, sedang mereka orang-orang yang mengetahui (mengilmui).” [Az-Zukhruf: 86]
Sumber Referensi, " Membela Kalimat Tauhid adalah dengan cara mengilmuinya", karya Ustadz Dr. Raehanul Bahraen di Muslim.or

ADAB MELETAKKAN AL-QUR'AN PALING ATAS



Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman yang sangat rajin menyusun mushaf dan buku di rak Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru, tiap selesai shalat fardhu berjamaah dia selalu sibuk merapikan Mushaf dan buku yang disusun tidak semestinya, yang paling sering di keluhkan banyak orang tidak mengetahui bahwa dalam meletakkan Mushaf Al-Qur'an seharusnya paling atas dari buku atau kitab selain Mushaf. Saya sampaikan bahwa mungkin banyak orang belum mengetahui adab yang satu ini.
Berikut kisah bagaimana adab meletakkan Al-Qur'an harusnya paling diatas,
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita, Ada beberapa orang dari Yahudi mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk datang ke Quf (nama suatu lembah di Madinah). Lalu beliau mendatangi mereka di Baitul Midras (tempat belajar Yahudi). Mereka mengatakan, ‘Wahai Abul Qosim, ada lelaki di antara kami yang berzina dengan wanita. Tolong berikan putusan hukum untuk kami. Merekapun membawakan kursi untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau duduk. Lalu beliau bersabda, “Bawakan Taurat kepadaku.” Lalu mereka membawakan Taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengambil kursinya dan beliau letakkan Taurat di kursi itu. Beliau bersabda, “Aku beriman kepadamu dan kepada Dzat yang menurunkanmu.” Kemudian beliau bersabda, “Panggil orang yang paling ngerti Taurat di antara kalian!” Lalu datanglah seorang pemuda. Hingga akhir kisah, kedua yahudi yang berzina tadi mereka dirajam. (HR. Abu Daud 4451 dan dihasankan al-Albani)
Dalam pembahasan ini, menjadi titik poin dari hadis di atas adalah sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau meletakkan Taurat. Beliau letakkan kitab suci itu di atas kursi, bukan di lantai. Yang ini menunjukkan bagaimana penghormatan beliau terhadap kitab Allah, termasuk Taurat.
Dan semua upaya memuliakan Al Quran adalah kewajiban. Memuliakan dalam arti melindungi Al Quran dari kondisi dihinakan. An-Nawawi mengatakan, “Ulama sepakat wajibnya menjaga mushaf Al Quran dan memuliakannya.” (al-Majmu’, 2/71).
Artinya, jangan sampai Al Quran yang mulia ini kita letakkan di sembarang tempat seperti di lantai, karena kemungkinan besar Ia akan terinjak atau dilangkahkan oleh orang yang sedang berjalan. Jika ingin menyimpannya di tumpukan buku, maka taruhlah ia di posisi paling atas, agar tidak tertumpuk buku lainnya. Ini merupakan salah satu adab sebagai tanda bahwa kita telah memuliakan Kalam Allah subhanahu wa ta’ala.
Sumber Referensi,"Perhatikan ini adab meletakkan Al-Qur'an", karya Muhammad Nashir, di web suara muslim.

NASEHAT DAPAT MELALUI BANYAK JALAN



Oleh Siswo kusyudhanto

Ada teman asal Indonesia di Amerika pesan fladisk kajian para ustadz pemateri kajian Sunnah, dan sudah saya kirim kesana. Pada suatu hari dia berjalan dimobilnya menuju tempat kerja dan mendengarkan kajian yang di bawakan oleh Ustadz Maududi Abdullah tentang kampung akhirat, yang sarat nasehat tentang tujuan sebenarnya manusia selama hidup adalah berusaha meraih kedududkan terbaik di akhirat yakni surga.
Rupanya ada beberapa kata dari Ustadz Maududi Abdullah yang sangat menyentuh teman saya itu sehingga membuatnya menangis, air matanya membasahi pipinya sambil terus menyetir mobilnya.
Maklum dia pergi merantau jauh ke Amerika serikat untuk mengejar dunia, berburu dollar, , padahal banyak resiko yang dia tempuh, sementara tujuan hidup seorang Muslim yang sebenarnya adalah Akhirat, yakni surga.

Dari mendengar kajian itu dia banyak mendapatkan ilmu yang sarat nasehat dan berbersumber dari Al-Qur'an dan hadist.
Agama adalah sarat dengan nasehat namun ada sebagian orang yang ketika dinasehati meskipun dengan dalil sahhih sekalipun justru malah ingkar dan menyangkalnya, orang-orang seperti ini mungkin masuk orang-orang yang banyak melakukan pembenaran atas perbuatan dan tindakannya.

Sebaliknya orang-orang yang mencari kebenaran dia akan menerima nasehat dari manapun datangnya asal disertai dalil sahhih dari Al-Qur'an dan hadist sahhih.
Wa'alahua'lam.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mencari kebenaran, bukan pembenaran, aamiin.


عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Derajat Hadits:

Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadits no. 55 dan no. 95.

Sumber Referensi, "Agama adalah Nasehat", karya Ustadz Abdullah Zein MA. di web Muslim.or

Friday, December 28, 2018

Pantun dikit




Membeli gulali di taman ria
Ke Pekanbaru beli parfum dobha
Sungguh beruntung seorang pria
Jika memiliki istri yang sholeha

Sudahkah kita berjiwa Hanif ?


Bercerita seorang teman, Kemarin tanpa sengaja dia menemukan sejumlah uang didepan sebuah ruko, agak lumayan, sebenarnya dia sudah pengen masukin ke kantong, maklum sedang cekak isi dompet, namun ketika memungut uang itu jadi teringat nasehat Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah, beliau menasehati agar melakukan segala sesuatu karena ridho Allah Ta'ala, InsyaAllah selamat, karena demikianlah sifat sifat seorang Muslim yang Hanif, merasa diawasi semua gerak-geriknya oleh Allah Ta'ala secara terus menerus, akhirnya uang itu oleh teman kasihkan pemilik ruko terdekat dan minta menyimpan nya, siapa tau ada yang kehilangan uang itu.
MasyaAllah nasehat beliau sungguh membekas di hati banyak orang, termasuk saya dan teman saya, semoga Allah Azza wa Jalla selalu merahmati Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah, begitu banyak ilmu warisan beliau kepada jamaah kajian, aamiin.

TAGIHLAH HUTANGNYA JIKA KAMU SAYANG KEPADANYA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada seorang teman Amerika bertanya soal uang yang dipinjam temannya senilai $1200, atau sekitar 17,5 juta rupiah dan hutang itu belum juga dibayar padahal sudah berjalan selama hampir 5 tahun dan jelas si peminjam punya kemampuan untuk membayarnya melihat dia berasal dari keluarga kontraktor besar dan dia sendiri sudah bekerja di sebuah stasiun televisi nasional. Lalu saya sarankan untuk ditagih kepadanya, jika kita kasihan kepadanya, karena orang yang berhutang kemudian pada suatu ketika ternyata mati dan hutangnya belum juga lunas nyawanya terancam tergantung di langit, waalahua'lam.
Seperti dituturkan oleh Ustadz Erwandi Tarmizi, ketika seseorang berhutang kemudian mati dalam keadaan berhutang maka dia terancam nyawanya mengantung di langit, sampai hutangnya dilunasi.
Ini kenapa kita sebagai seorang Muslim sebaiknya tidak membiasakan diri berhutang, karena ancaman akan hal ini selalu ada, sebabnya kematian tidak pernah kita tau kapan datangnya, jangan-jangan kita mati dalam keadaan berhutang.
Waalahua'lam.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :
نَفْسُ الْـمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّىٰ يُقْضَى عَنْهُ
Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai hutang dilunasi.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya (II/440, 475, 508); Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 1078-1079); Imam ad-Darimi dalam Sunan-nya (II/262); Imam Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya (no. 2413); Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2147).
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 6779).
SYARAH HADITS
Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang sempurna, mudah dan mengatur hubungan antara manusia dengan Khâliq (Allâh) Azza wa Jalla serta mengatur hubungan antara manusia dengan manusia dan makhluk lainnya.
Islam mengatur mu’âmalah (intraksi) manusia dengan peraturan terbaik. Agama Islam mengajarkan adab dan mu’amalah yang baik dalam semua transaksi yang dibenarkan dan disyari’atkan dalam Islam, misalnya dalam transaksi jual beli, sewa menyewa, gadai termasuk dalam transaksi pinjam meminjam atau utang piutang yang akan kita bicarakan.
Utang piutang adalah mu’âmalah yang dibenarkan syari’at Islam. Mu’âmalah ini wajib dilaksanakan sesuai syari’at Islam, tidak boleh menipu, tidak boleh ada unsur riba, tidak boleh ada kebohongan dan kedustaan, dan wajib diperhatikan bahwa utang wajib dibayar.
Sumber referensi: "ruh-seorang-mukmin-tertahan-pada-hutangnya-hingga-dilunasi", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

Monday, December 24, 2018

YAKIN TAHAN MASUK NERAKA ?



Oleh Siswo Kusyudhanto

Benar kata seorang ulama, hanya orang-orang yang masuk beriman yang mengimani perkataan Allah dan RasulNya sehingga mereka berusaha menjaga diri dari larangan Allahd an RasulNya dan berusaha istiqomah didalam amalan yang diserukan oleh Allah dan RasulNya.
Peringatan dan Perintah Allah dan RasulNya bagi orang beriman adalah nyata bagi mereka.

Sementara orang-orang fasik, ketika mereka diingatkan bahaya pelanggaran syariat mereka menganggapnya sepele, peringatan Allah dan RasulNya seperti cerita fiksi bagi mereka, dinilainya sebuah kebohongan.
Padahal azab neraka sangat berat, coba aja bakar jari dengan api sepotong lilin selama 5 menit aja, sanggup enggak?.
Padahal azab neraka sangat lama dan berat, derajatnya jauh lebih dahsyat berjuta kali lipat dari panasnya api sepotong lilin, waallahua'lam.

Maka ketika diingatkan Allah dan RasulNya menjauh syirik maka segera tinggalkan, dan berusaha menegakkan tauhid..

Ketika diingatkan Allah dan RasulNya menjauhi bid'ah segera tinggalkan, dan berusaha menegakkan sunnah.

Ketika diingatkan Allah dan RasulNya menjauhi riba dan meninggalkan riba maka segera tinggalkan, dan berusaha bermuamalah/transaksi dengan cara yang dihalalkan syariat.

Ketika Allah dan RasulNya mengingatkan untuk menjauhi perbuatan zalim seperti menipu, berbohong dan seterusnya segera tinggalkan, dan berusaha menjaga diri dalam kejujuran, menjadi orang yang dapat dipercaya, dan seterusnya.

Dan semua larangan Allah dan RasulNya segera tinggalkan, dan berusaha berada istiqomah diaats ketaatan kepada Allah dan RasulNya, karena siksa neraka sangat berat.
InsyaAllah.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185).

SUNGGUH KETIKA DIHINA ADALAH SANGAT BERAT


Oleh Siswo Kusyudhanto
Suatu hari saya berusaha menasehati seorang teman yang melakukan amalan tahlil kematian untuk orang tuanya, seperti adat didaerahnya jika ada orang meninggal maka mereka mengadakan tahlil kematian, dan diselenggarakan dengan sangat meriah, bahkan untuk menyediakan makanan bagi jamaah Tahlil Kematian mereka harus menyembelih kambing dan ayam, juga menyediakan rokok yang jumlahnya tidak sedikit, akibatnya biayanya sangat besar, sampai seperti teman itu meminjam uang ke rentenir yang jelas akadnya jelas riba, bunganya jelas sangat tinggi.
Namun nasehat saya kepada teman itu tidak dihiraukannya, padahal saya sudah menyakinkan bahwa amalan ini tidak ada sunnahnya sama sekali, bahkan dijaman nabi dan para sahabat banyak juga orang mati karena perang dan sakit, namun tidak sekalipun mereka mengadakan acara serupa, membuktikan amalan ini sebenarnya tidak perlu diselenggarakan karena tidak ada tuntunannya sama sekali.
Namun nasehat saya dibalas dengan perkataan sangat keras dan cenderung mirip hinaan, dia berdalih bahwa ini amalan sudah turun temurun sejak dulu kala seperti itu, dan mengatakan saya mudah menyebut orang lain membid'ahkan dan mengkafirkan, subhanaAllah.
Mendengar itu langsung saya terdiam dan kemudian pergi meninggalkannya, sambil menahan rasa sakit hati, karena maksud baik saya justru dibalas dengan sesuatu yang buruk, bahkan dituduh sangat buruk, subhanAllah, sungguh hidayah adalah milik Allah Azza Wa Jalla.
Beberapa waktu berlalu dan kemudian hari saya dengar teman saya itu terlilit hutang jutaan rupiah kepada rentenir dan harus menjual beberapa barang dirumahnya untuk menutup hutangnya yang terus berbunga dan berbunga, subhanAllah.
Jadi teringat kisah dalam Shirah Nabawi ketika Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam saat beliau mendapatkan banyak hinaan dari kaumnya dengan berbagai sebutan, mulai orang gila sampai tukang sihir dan sebagainya, namun beliau selalu sabar, selalu istiqomah mendakwahkan agama ini, semoga beliau menjadi panutan kita semua agar istiqomah diatas Tauhid dan Sunnah, dan istiqomah menghindari Syirik dan Bid'ah, aamiin.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ
“Sesungguhnya kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)” (QS. Al-Hijr [15]: 95)
Dan juga berfirman,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakut-nakutimu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az-Zumar [39]: 36)
Sumber Referensi, "ketika-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam-dihina-dan-direndahkan", karya Diterjemahkan dari status facebook Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul hafidzahullah pada tanggal 18 Januari 2015 pukul 19:03., di almanhaj.or.

SELAMATKAN KELUARGA-MU DARI API NERAKA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya punya kenalan seorang ibu, seorang wanita asal Indonesia, dia menikah dengan seorang bule Amerika dan tinggal di Washington DC., Dari pernikahan mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang tumbuh dewasa, wanita ini sangat berpegang teguh kepada agama Islam, namun karena hidup ditengah negara yang mayoritas kafir tentu banyak hal yang melanggar syariat Islam disekitar kehidupannya.
Akibat banyaknya hal buruk disekitar mereka akibatnya banyak mempengaruhi keluarga ini, suami si wanita berselingkuh dengan wanita lain, dan anaknya yang diasuhnya terbiasa hidup gaya orang kafir, si anak perempuan biasa mengkonsumsi minuman alkohol dan juga bergaul bebas dengan lawan jenisnya, sering gonta-ganti pacar, juga sering pulang larut malam dan sering duduk di cafe atau bar dan semacamnya.
Dan budaya seperti ini sudah merambah ke dalam kehidupan sebagian besar anak muda di Indonesia, minum alkohol, narkoba dan pergaulan bebas.
Melihat anaknya melanggar syariat Islam tentu si ibu berusaha mengingatkan si anak agar menjauhi perbuatan demikian, namun hal tersebut mendapat perlawanan dari si anak, sehingga sering diantara mereka terjadi pertengkaran disebabkan hal tersebut.
Mendengar cerita ibu tersebut jadi tiba-tiba merasa bersyukur, di Indonesia meskipun dihempas badai westernisasi, dimana masyarakat kita menuju gaya hidup kebarat-baratan masih banyak upaya umat Islam mempertahankan syariatnya agar menjadi gaya hidup umat Islam kebanyakan dinegri ini.
Coba saja kalau sekeluarga hidup di Amerika serikat, pasti sangat berat menjaga anggota keluarga kita dari perbuatan dosa, karena lingkungan disekitar kita sudah biasa melakukan hal demikian.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abdullah Zein MA. Menyebutkan, " Dikatakan sukses itu bukan karena harta melimpah atau kedudukan/jabatan yang tinggi, Sukses menurut agama Islam adalah ketika satu keluarga masuk ke dalam Surga,. Ini adalah sukses yang sebenarnya. Oleh karenanya Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk menjaga anggota keluarga kita dari api neraka, yakni mencegah para anggota keluarga kita berbuat sesuatu yang melanggar syariat Allah dan RasulNya. Caranya tentu dengan mengajak mereka untuk selalu diatas ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla."
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[at-Tahrîm/66:6]

ADAB MELANDASI ILMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dengar disebuah posting sosial media ada seorang ustadz menjawab sebuah pertanyaan dan kemudian dijawab dengan sangat tidak beradab, dijawab pertanyaan itu dengan bahasa yang sangat kasar, tidak sepatutnya sampaikan seorang yang berilmu, melihat hal ini sangatlah bikin prihatin, padahal dia mungkin memang termasuk orang yang berilmu, dan ngakunya salafi garis -garis pula, Allahu Akbar!.
Dalam sebuah kajian Ustadz Ali Ahmad bin Umar menyebutkan, " Dahulu para ulama hadist ketika ditanya mengenai mana mendahulukan ilmu atau adab/akhlak ?, mereka menjawab, kami belajar ilmu hadist selama 10 tahun namun kami belajar mengenai adab selama 20 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa adab sangat penting dipelajari, adab adalah landasan dari ilmu yang dimiliki seseorang, maka kalau hanya mengutamakan ilmu dan meninggalkan bagaimana beradab yang baik mungkin yang terjadi seperti sekarang ini banyak orang yang memiliki ilmu namun sangat sedikit yang beradab.Walahua'lam."
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)
Bahkan dengan akhlak mulia, seseorang bisa menyamai kedudukan (derajat) orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.)
Sumber Referensi, "Keutamaan Berakhlak Mulia", oleh Ustadz Muhammad Saefudin Hakim di muslim.or.id

Saturday, December 22, 2018

HANYA SALAFI IMITASI YANG IKUT BERPOLITIK PRAKTIS


Ngaku salafi tapi kok ikut demo, ikut aktif di partai politik, ikut menghujat lawan politik, dan seterusnya, ini mah kelakuan salaf imitasi, karena Salafi Sejati berjuang menegakkan Tauhid dan beramal Sholeh, Salafi sejati bersiasat untuk dapat menegakkan Tauhid dan beramal sholeh, bukan ikut sibuk berebut kekuatan politik diantara berjibun partai politk. Walahua'lam.
Allah Azza Wa Jalla berfirman :
{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) }
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

KEKUATAN UMAT MUSLIM DI INDONESIA SEBENARNYA BERAPA ORANG ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Berdasarkan data yang dilansir oleh The Pew Forum on Religion & Public Life, penganut agama Islam di Indonesia sebesar 209,1 juta jiwa atau 87,2 persen dari total penduduk. Jumlah itu merupakan 13,1 persen dari seluruh umat muslim di dunia.(th.2016).
Cuma kalau kita survei lebih detail berkaitan dengan amal ibadah seperti disebutkan jumlah 209,1 juta jiwa itu nampak besar sekali jumlahnya, namun sebenarnya akan sangat kecil, gak percaya?.
Disebutkan dalam sebuah survey nasional bahwa hanya sekitar 17 % penduduk Muslim saja yang tertib melakukan shalat fardhu berjamaah di masjid dan musholla selama lima kali sehari.
Artinya cuma 35 juta orang Muslim saja yang aktif shalat fardhu, sisanya kebanyakan hanya shalat seminggu sekali alias shalat Jum'at atau setahun sekali alias shalat ied.
Dari sekian itu kalau disurvei lebih detail lagi semisal apakah mereka memahami ilmu tafsir dari bacaan saat shalat?, Maka jumlahnya sangat kecil lagi.
Atau pertanyaan yang lebih mendalam lagi soal agama dan disurvei seperti ilmu fikih dan hadist maka mungkin kekuatan Umat Islam yang kita ketahui di Indonesia tinggal beberapa gelintir orang saja.
Subhanallah.
Menjadi pekerjaan besar bagi Umat Islam di Indonesia membangun kekuatan dengan jalan Istiqomah di atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Insyaallah.

TV HARAM ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Agak aneh rasanya melihat ada sekelompok orang tidak pernah capek mentahzir dengan tema yang sama sudah bertahun-tahun yang lampau bahwa tv hukumnya haram, tidak ada tema lain selain ini.
Seorang ustadz menjelaskan dalam sebuah kajiannya, " mereka salah paham memahami fatwa seorang ulama soal ini, padahal yang diharamkan dalam fatwa tersebut adalah televisi yang bermuatan maksiat dan sejenisnya yang materinya melanggar syariat Allah dan RasulNya. Jika televisi materinya siaran adalah kajian atau tayangan haji dan umroh di tanah suci tentu hukumnya tidaklah haram, karena tidak ada satupun komponen televisi haram hukumnya, jika kita buka sebuah televisi dalamnya adalah kabel, plastik dan kaca".
Maka sungguh aneh kalau televisi dihukumi haram secara mutlak oleh mereka, apalagi jika mendengar cerita banyak teman diluar negri yang banyak mengetahui paham Ahlu Sunnah Manhaj Salaf dari media sosial juga televisi, justru mereka tidak tau apa itu Manhaj Salaf ketika masih ada di Indonesia kerena terbatasnya akses mereka.
Seperti diceritakan seorang teman di Amerika Serikat, jika sudah menjelang sore mereka duduk didepan televisi mengikuti kajian rutin oleh para ustadz kajian Sunnah di Indonesia yang diselenggarakan pagi hari di Indonesia, maklum selisih waktu antara Indonesia dengan Amerika Serikat hampir 12 jam.
Sungguh sangat mengharukan dan bangga mengetahui di negara tempat segala bentuk maksiat dunia berkumpul masih banyak juga orang yang mengikuti kajian Sunnah Manhaj Salaf, alhamdulillah.
Dari sana mereka mendapatkan banyak pengetahuan agama yang disertai dalil sahhih, baik soal aqidah dan syariat, dan dengan ilmu tersebut mereka dapat amalkan dalam kehidupan di negra mayoritas kafir itu.
Hidayah ternyata dapat melalui banyak jalan sampai kepada seseorang mungkin diantaranya yakni melalui siaran televisi, waalahua'lam.
Allah berfirman.
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين
Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. [Yusuf/12:108]
Foto siaran kajian live Ustadz Muhammad Nuzul Zikri disalah satu rumah Muslim di sebuah negara bagian Amerika Serikat

JANGAN KITA TERMASUK ORANG BODOH, MENINGGALKAN AKHIRAT UNTUK MERAIH DUNIA.



Oleh Siswo Kusyudhanto
Kata Ustadz Ali Ahmad seseorang yang demi mengejar kenikmatan dunia kemudian mengorbankan akhiratnya ibarat seperti orang beli mobil kemudian berhadiah payung, dia ambil payungnya dan mobilnya dia tinggalkan untuk orang lain. 
Yang mahal dan mewah ditinggalkan demi sesuatu yang murah dan harganya sangat kecil, ini namanya orang yang bodoh.
Banyak orang rela mendapatkan ancaman azab neraka dengan berbuat zalim seperti menipu, merubah kuitansi, berbohong, mengurangi timbangan dan seterusnya demi mendapatkan sedikit kenikmatan dunia, dan mengorbankan akhiratnya.
Semoga kita tidak termasuk orang yang bodoh, yakni mengorbankan akhirat kita demi mendapatkan dunia yang tidak berharga sama sekali, aamiin.
Waalahua'lam.
Allâh Azza Wa Jalla berfirman :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mau memahaminya? [Al-An’âm/6:32]
Juga firman-Nya
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allâh itu lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak mau memahaminya? [Al-Qhashas/28:60]
Juga firman-Nya:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
Allâh meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). [Ar-Ra’du/13:26]
Juga firman-Nya:
أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [At-Taubah/9:38]
Sumber Referensi " Relakah engkau tukar Akhirat dengan dunia?", Karya Syaikh Shalih al Budair di almanhaj.or.id

Wednesday, December 19, 2018

JANGAN MARAH DAN JANGAN BERKATA KASAR


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada salah satu tetangga di lingkungan rumah saya kalau sudah bertengkar suami istri keluar perkataan kasar yang sangat besar suaranya sampai didengar satu blok perumahan.
Diantara perkataan kasar seperti yang keluar dari si istri kepada suami dan anaknya, " dasar setan kau", "dasar anak setan", subhanallah.
Mungkin karena emosi yang keluar adalah tentu apa yang terlintas dihatinya entah baik atau bahkan juga buruk dia tidak pernah mempertimbangkannya, logikanya kalau suaminya setan dan anaknya setan, tentu ibunya setan juga, subhanallah.
Semoga kita dijauhkan dari marah yang berlebihan sehingga membuat kita tidak tau baik dan buruknya yang keluar dari lisan kita, karena pasti ada hisab atas perbuatan kita dan perkataan kita, aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al Humazah: 1)
Dalam sebuah hadist disebutkan,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ
“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”.
[HR ath-Thabraniy, Abu asy-Syaikh dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1201, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 534 dan al-Adab: 396].
Dalam hadist lain juga disebutkan,
عن عقبة بن عامر رضي الله عنهما قال: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلىَ خَطِيْئَتِكَ
Dari Uqbah bin Amir radliyallahu anhu berkata, aku pernah bertanya, “Wahai Rosululllah, apakah keselamatan itu?”. Beliau menjawab, “Jagalah lisanmu atasmu, lapangkanlah rumahmu dan menangislah atas dosa-dosamu”.
[HR at-Turmudziy: 2406 dan Ahmad: II/ 212, IV/ 148, 158, V/ 259. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1961, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 888, Misykah al-Mashobih: 4837 dan al-Adab: 400].
Sumber Referensi, almanhaj.or id, kajiansunnah.co, dan rumoysho.co

Tuesday, December 18, 2018

SURAT AL-QUR'AN APA YANG KITA BAWA MATI?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Suatu hari pernah kami selesai shalat isya' berjamaah kemudian datang rombongan sekeluarga ke masjid kami dan melakukan shalat isya' secara sendiri-sendiri, salah satunya ada kakek tua umur sekitar 70an tahun, namun ketika melakukan shalat isya' sendiri dia menguatkan bacaannya sehingga kami mendengar apa yang dibaca dalam shalat, mulai rakaat pertama yang dibaca adalah cuma surat Alfatihah dan Surat Al Ikhlas, tanpa doa i'ftitah, kami yang mendengar tentu agak heran.
Dan orang yang mendengar bacaan si kakek pasti akan menyimpulkan bahwa dia hanya hafal dua surat itu saja, mengingat yang dibacanya cuma itu, tiba-tiba kami merasa kasihan kepada nya.
Jadi teringat kepada kajian seorang ustadz, beliau mengatakan, kelak kita akan ditanya "Apa Kitabmu?", Jawaban pertanyaan ini bukan seperti ketika kita menjawab saat ujian di SMP atau SMA yang tergantung dari hafalan kita akan materi pelajaran yang ditanyakan, dan jika kita tidak tau jawabannya kita dapat mengetahui dari cara menyontek.
Pertanyaan "Apa Kitabmu?, Kelak yang menjawab adalah amalan kita, bagaimana pengetahuan kita terhadap Al-Qur'an, berapa banyak kita membacanya, memahaminya, dan juga mengamalkannya.
Maka sungguh memprihatinkan jika ada seorang yang mengaku beragama Islam suatu hari meninggal dunia, sementara yang dibawa mati hanya beberapa surat pendek, hanya kul-dan-kul, itupun tidak tau makna yang terkandung didalamnya dan tidak tau bagaimana mengamalkan surat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kemungkinan dia akan sangat sulit menjawab pertanyaan "Apa Kitabmu?.
Maka untuk kita mudah menjawab pertanyaan tersebut penuhi kewajiban kita membaca Al-Qur'an, memahami maknanya dan berusaha mengamalkan dalam kehidupan kita . Penuhi hak Al-Qur'an pada diri kita,
Waalahua'lam.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur`ân) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. [al-A’râf/7:52].
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur`ân) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”. [an-Nahl/16:89]
Sumber Referensi, "Petunjuk terbaik hanya dari Al-Qur'an", karya Ustadz Abu Ashim bin Musthafa di almanhaj.or id

Monday, December 17, 2018

HATI-HATI KUFUR TAMPA SADAR


Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya pribadi meskipun sejak dulu diijinkan oleh istri untuk berpoligami namun sampai hari ini saya tidak melakukan syariat Allah dan RasulNya tersebut, padahal jika mau sudah saya lakukan sejak dulu, belum tau juga jika suatu hari Allah Azza wa Jalla mengkondisikan hal tersebut, waalahua'lam, hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui Nya.
Pertimbangan tentu karena didasarkan kepada ilmu, selain nikmatnya tentu juga konsekuensinya, termasuk juga ancamannya jika tidak mampu berlaku adil dalam mengarungi hidup poligami, dan sungguh adil itu sangat sulit karena sifatnya sangat subyektif, tergantung keimanan dan keilmuan pelakunya.
Sayangnya banyak orang yang jelas termasuk umat Islam keliru bagaimana bersikap kepada poligami, mereka tidak melakukan poligami tapi sekaligus juga membencinya, seakan ini aturan primitif dari masa lalu yang perlu diberantas, padahal syariat itu datangnya dari Allah Azza wa Jalla dan juga diamalkan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, kalau sampai membencinya tentu yang menjadi pertanyaan "Bagaimana keadaan syahadat orang itu?".
Sikap yang benar terhadap poligami mungkin seperti yang dituturkan oleh Ustadz Ali Ahmad bin Umar, kata beliau syariat poligami pandangan kita harusnya sama seperti pandangan kita terhadap syariat Allah dan RasulNya lainnya.
Mungkin sama cara melihatnya seperti kita melihat Haji, banyak orang tidak mampu berangkat haji karena keadaan mereka, namun mereka tidak membencinya, harusnya demikian juga dalam kita melihat poligami, ketika tidak ada kemampuan mengamalkannya jangan membencinya, karena jika sikap kita sampai pada benci pada poligami maka tentu kita akan terancam pada kekufuran, dan pada tingkatan tertentu dapat menjadi kafir, dan ini sangat berbahaya bagi keIslaman kita, bisa jadi kita masuk neraka karena hal tersebut,
Waalahua'lam.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang hak itu datang kepadanya ? Bukankah dalam Neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir ?” [Al-Ankabut/29 : 68]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
“Yang demikian itu adalah karena mereka beriman (secara) lahirnya lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti” [Al-Munafiqun : 3]
Sumber Referensi, "Definisi Kuffur dan jenisnya", karya Syaikh Shalih Ustaimin di almanhaj.or.id