Wednesday, December 25, 2019

Ketika tidak menjaga pandangan, pasti kita akan "letih" dibuatnya.




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah menasehati agar menjaga pandangan, karena ketika kita tidak menjaga pandangan pasti kita akan "letih" dibuatnya, karena dari pandangan kita akan masuk sebab yang pemicu syahwat dalam diri kita.
Bertahun-tahun setelah mendengar ini baru paham nasehat beliau, sungguh benar mata adalah jendela bagi jiwa kita, dari mata bisa saja masuk segala hal diluar diri kita, termasuk sebab-sebab yang membuat syahwat kita menjadi liar, misal melihat wanita cantik dengan mata kita tentu menyebabkan angan kita menjadi liar kepada sesuatu yang berkaitan dengan zina, atau ketika kita melihat mobil mewah di jalan membuat kita punya keinginan dan angan-angan untuk memilikinya, bahkan dengan dengan cara zalim sekalipun seperti dengan cara riba, korupsi, menipu dan seterusnya. Melihat smartphone canggih kemudian jadi ingin memilikinya dan menyebabkan kita mengumpulkan uang yang kemudian kita lupa akan sedekah dan lainnya.
Dan banyak lagi syahwat manusia yang diawali dari pandangan mata mereka terhadap sesuatu.
Waalahua'lam.
Jadi makin paham pentingnya menjaga pandangan, insyaallah.
Abu Umamah berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اُكْفُلُوا لِي بِسِتٍ أَكْفُلْ لَكُمْ بِالْجَنَّةِ, إِذَا حَدَّثَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَكْذِبْ, وَ إِذَا اؤْتُمِنَ فَلاَ يَخُنْ, وَ إِذَا وَعَدَ فَلاَ يُخْلِفْ, غُضُّوْا أَبْصَارَكُمْ, وَكُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ, وَاحْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ
“Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”
HR.Ath-Thabrani no:8018 dan Ibnu ‘Adi (Al-Kamil 6/2048) dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani (Ash-Shahihah no:1525) karena ada syahidnya dari hadits Ubadah bin Shamit.
Sumber Referensi "Jagalah Pandangan", karya Ustadz Firanda Adirja LC.MA. di web Muslim or

BANYAK UMAT MUSLIM DIZALIMI, SITU NGOMONG SYIRIK, BID'AH, RIBA DST. ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Prihatin kalau ada orang nyeletuk seenaknya ketika ada orang membahas perkara agama, dia mengatakana " Umat Muslim di banyak negara dizalimi seperti Palestina, Uighur, Irak, Rohingya, Khasmir dan banyak negara lainnya, sementara situ masih ngomongin bahaya Sirik, Bid'ah, Riba dst., apa gunanya ?'.
Jadi ingat beberapa tahun yang lalu dikirimi literatur seorang teman tentang seorang jama'ah yang bertanya kepada seorang syaikh, kenapa para sahabat nabi meskipun jumlah mereka sangat sedikit dijaman itu namun sangat ditakuti orang kafir, bahkan konon jika nama mereka disebutkan diantara orang kafir dijaman itu maka orang-orang kafir gemetar badannya saking takutnya.
Syaikh menjawab, meskipun para sahabat nabi jumlahnya cuma ratusan orang namun karena Aqidah mereka bersih dari kekotoran aqidah seperti syirik, bid'ah dan maksiat, keIslaman mereka bukan sebatas pengakuan, sehingga mereka rela berkorban untuk agama mulai harta bahkan nyawa sekalipun, mereka menganggap dunia adalah rendah, dan mereka tidak pernah takut mati ketika berjihad diatas jalan Allah Azza Wa Jalla. Hal ini yang membuat orang kafir dijaman itu sangat takut menghadapi mereka meskipun jumlahnya hanya beberapa ratus orang saja.
Sebaliknya lihat umat Islam dijaman ini, jumlahnya sampai milyaran orang namun kebanyakan mereka dalam beragama Islam hanya sebatas pengakuan, aqidah mereka kotor oleh syirik, bid'ah dan maksiat, mereka sangat mencintai dunia dan takut mati.
Jadi jelas membangun umat ini dimulai dari membersihkan kekotoran aqidah seperti syirik, bid'ah dan maksiat dikalangan umat Muslim, dan menegakkan Tauhid, Sunnah dan ketaatan.
Waallahua'lam.
Seperti saat ini Umat Islam berjalan diatas muka bumi dengan sangat prihatin- hidup ditengah-tengah penderitaan dan kejadian-kejadian tragis yang menimpa kaum muslimin yang tidak ada bandingannya dalam sejarah, yaitu berkumpul dan bersatunya orang-orang kafir memusuhi kaum muslimin, sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti dalam hadits beliau yang dikenal dan shahih.
تَدَاعَى عَلَيْكُمْ اْلأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا قَالُوْا : أَمَنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ؟ قَالَ : لاَ، أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيُننَزِّ عَنَّ اللَّهُ الرَّهْبَةَ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ لَكُمْ، وَلَيُقْذِ فَنَّ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ، قَالُوْا : وَمَا الْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya’. Mereka berkata : Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : ‘Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn’. Mereka berkata : Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab :’Cinta dunia dan takut akan mati”
(Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud (4297), Ahmad (5/287), dari hadits Tsaubah Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan oelh Al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam As-Shahihah (958).)
Sumber refensi almanhaj.or

UNTUK YANG MAU POLIGAMI, LIHAT RESIKONYA JANGAN CUMA NIKMATNYA




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dapat cerita dari seorang ustadz tentang ustadz lain yang ditawari menikah oleh seorang janda kaya raya, pengusaha asal Pulau Batam, punya perusahaan dengan omzet milyaran rupiah setiap bulan dan juga punya apartemen mewah di Singapura dan Jakarta, si janda siap menjadi istri kedua si ustadz jika jadi menikahinya.
Namun si ustadz menolak tawaran si wanita itu dengan sangat halus, intinya dia sangat berterima kasih serta tersanjung dengan tawaran itu namun setelah menimbang kemampuan dirinya dalam menjalani berpoligami pada akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa dirinya belum mampu menjalani kehidupan berpoligami, terutama soal adil dalam urusan lahir maupun bathin, baik kepada istri pertama dan juga istri kedua. Si Ustadz juga sampaikan resiko yang harus dihadapi kelak saat hisab jika tidak mampu bersikap adil dalam kehidupan poligami.
MasyaAllah, mendengar kisah ini kagum dengan sikap ustadz tersebut, tawaran menggiurkan seperti itu ditolak secara halus dengan mengedepankan pertimbangan syariat dan akhirat, seharusnya sikap ini juga dimiliki oleh kita yang akan memutuskan untuk memiliki istri lebih dari satu, pertanyaan yang pertama kita sampaikan pada diri sendiri, "apakah kita sudah mampu bersikap adil?", Jika merasa mampu lanjutkan, jika merasa belum mampu tidak usah dilanjutkan, masing-masing dari kita yang tau kemampuan atas syariat yang satu ini.
Waalahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [An-Nisaa`/4:3]
Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah, jika kamu takut tidak berbuat adil di antara isteri-isteri, sebagaimana firman Allah.
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ

[Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil (yakni dalam perkara batin, Pen.) di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. –an-Nisaa` ayat 129-], maka barangsiapa takut dari hal itu, hendaklah dia membatasi dengan satu (isteri) atau terhadap budak-budak wanita, karena tidak wajib pembagian di antara mereka (budak-budak itu), tetapi disukai, barangsiapa melakukan, maka itu baik; dan barangsiapa tidak melakukan, maka tidak ada dosa.(Tafsir Ibnu Katsir)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ.
“Barangsiapa memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan pundaknya miring sebelah.”
Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), at-Tirmidzi (no. 1141), Ahmad (II/295, 347, 471), an-Nasa’i (VII/63), Ibnu Majah (no. 1969), ad-Darimi (II/143), Ibnu Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307—al-Mawaarid) dan lainnya, dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 2017).
Sumber Referensi 1.,"Syarat Poligami", karya Ustadz Abu Muslim Al Atsy'ari di almanhaj.or, 2. "Suami hari berlaku adil kepada istrinya", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almamhaj.or

Friday, December 6, 2019

TEMPATKAN PASANGAN KITA SEBAGAI KEKASIH SELAMANYA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Baca tulisan disebuah truk "papa kerja mama belanja" jadi ingat beberapa waktu yang lalu pas sedang dijalan ada sepasang suami istri bertengkar hebat,, di istri nampak membawa tas besar mungkin baju dia, dugaan saya si istri ingin kabur dari rumah, ada beberapa orang malah menonton pertengkaran pasangan itu, sebagian percakapan mereka terdengar oleh saya si suami mengatakan si istri terlalu banyak menutut padahal penghasilannya pas-pasan, sementara si istri merasa dia tidak pernah dihargai oleh si suami padahal dia sudah bekerja sebaik mungkin di rumah mereka, SubhanaAllah.
Namun pertengkaran itu segera usai ketika pasangan itu menyadari pertengkaran mereka banyak ditonton orang, sepasang suami istri itu segera bergegas dari tempat itu, dan penontonpun bubar.
Jadi teringat nasehat Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah, kata beliau jika ingin awet dalam berumah tangga dan selalu muncul sikap romantis maka tempatkan pasangan kita sebagai kekasih selama, tidak saja saat pertama menikah, namun selamanya menjadikannya kekasih, selayaknya kekasih adalah seorang yang selalu istimewa dimata kita, selalu berbuat sebaik mungkin untuk kekasih kita, selalu merindukan bersamanya, ketika bersamanya kita merasa bahagia dan seterusnya.
Dengan demikian sikap romantis dan saling menjaga perasaan dan memuliakan kepada pasangan kita akan terjaga selamanya, waalahua'lam.
Dalam hadits disebutkan keutamaan berbuat baik kepada istri,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي وغيره
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”
(HR. At-Tirmidzi, 3/466; Ahmad, 2/250 dan Ibnu Hibban, 9/483. Hadits dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.)
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak [An-Nisâ’/4:19]
Sumber Referensi "keutamaan berakhlak baik kepada orang lain, terutama kepada istri", di web almanhaj.or

BAHAYANYA BERITA HOAX !


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu ada berita yang saya terima dari seseorang dan itu bikin saya kaget sekaligus marah, disebutkan dalam berita itu SDIT Bin Baz Curup Rejanglebong Bengkulu dibakar orang, saya hampir saja share berita ini ke grup Facebook dan WA yang saya ikuti, namun sebelum itu saya sempat berfikir tentang kebenaran berita ini, kemudian saya ingat ada teman aktivis dakwah di Curup Rejanglebong Bengkulu, dan saya hubungi dia menanyakan kebenaran berita ini, kata beliau soal SDIT Bin Baz terbakar memang benar, namun kalau penyebabnya adalah dibakar orang itu sangat tidak benar, karena menurut pihak berwajib disebut penyebab kebakaran adalah adanya konsleting listrik disalah satu bagian gedung sekolah itu, Alhamdulillah, jadi lega mendengar kebenaran berita tersebut, cuma prihatin atas kerugian salah satu sekolah berbasis Sunnah di Curup Rejanglebong Bengkulu ini, perkiraan kerugian ditaksir mencapai 100 juta rupiah.
Semoga teman-teman disana diberikan kesabaran dan segera bangkit juga segera memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat kebakaran ini, sehingga proses belajar mengajar kembali normal kembali, Aamiin.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz mengingatkan bahaya menerima sebuah berita yang tersebar apalagi didukung fasilitas seperti sosial media dan media internet membuat berita makin cepat sampai kepada khalayak ramai, dan kadang berita tersebut tidak semuanya benar alias hoax, maka sebagai bentuk kehati-hatian kita dalam menerima berita adalah dengan jalan cross check ke sumber berita yang terpercaya, ini adalah upaya agar kita tidak salah dalam bersikap akibat menerima berita yang kita terima, dan mungkin saja kita akan menyesal akan hal ini dikemudian hari karena kesalahan kita itu,
Waalahua'lam.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].
Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Sumber Referensi "BERITA DAN BAHAYANYA" Oleh Syaikh DR Abdul Azhim Al Badawi di web almanhaj.or
Foto SDIT Bin Baz Curup Rejanglebong Bengkulu yang terbakar beberapa waktu yang lalu.

PENTINGNYA ILMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu di masjid kampung sebelah ada perayaan Maulid Nabi, dan dalam acara tersebut mengundang seorang ustadz, dan karena disalurkan speaker luar maka suaranya terdengar sampai rumah saya, dalam salah satu bagian ceramah itu si ustadz menyebutkan, " Ada sebagian orang mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah bid'ah, ini tidak benar, ini adalah bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, kenapa para sahabat nabi tidak pernah melakukan perayaan Maulid Nabi dijamannya? Hal ini karena para sahabat nabi bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam sementara kita tidak pernah menjumpai beliau.", Mungkin jama'ah yang awam mendengar itu mengiyakan karena mereka tidak mengetahui kebenaran hal tersebut.
Prihatin mendengar apa yang disampaikan si ustadz, padahal kalau mau belajar sejarah kita akan tau bagaimana amalan maulid nabi ini muncul, amalan ini tidak pernah diamalkan oleh para sahabat nabi, juga generasi yang hidup setelah itu yakni generasi Tabi'in dan Tabi'ut, dimana generasi kedua dan ketiga ini banyak diantara mereka tidak pernah berjumpa langsung dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan mereka tidak pernah mengamalkan amalan Maulid Nabi.
Bukan itu saja, para ulama kibar setelah generasi Tabi'in dan Tabi'ut juga tidak pernah amalkan amalan ini.
Sebut saja Imam Syafi'i, beliau lahir tahun 150 Hijriyah, sementara Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam wafat pada tahun 11 Hijriyah, artinya Imam Syafi'i selama hidupnya tidak pernah menjumpai Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam karena dia lahir 139 tahun setelah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam wafat. Dan Imam Syafi'i tidak pernah sekalipun diketahui pernah mengamalkan amalan Perayaan Maulid Nabi.
Waallahua'lam.
Makin mengetahui pentingnya menuntut ilmu, termasuk tentang sejarah Islam.
Dalam sebuah kitab Syaikh Ibnu Qayyim Rahimahullah menyebutkan, " Ketika engkau tidak memiliki ilmu pengetahuan bisa saja seseorang membawakan kepadamu kotoran dan kamu percaya bahwa itu bisa menjadi emas.".
Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata ketika menjelaskan tentang pentingnya ilmu syar’i dan kebutuhan manusia terhadapnya,
ان الانسان إِنَّمَا يُمَيّز على غَيره من الْحَيَوَانَات بفضيلة الْعلم وَالْبَيَان وَإِلَّا فَغَيره من الدَّوَابّ وَالسِّبَاع أَكثر أكلا مِنْهُ واقوى بطشا وَأكْثر جماعا واولادا واطول اعمارا وَإِنَّمَا ميز على الدَّوَابّ والحيوانات بِعِلْمِهِ وَبَيَانه فَإِذا عدم الْعلم بقى مَعَه الْقدر الْمُشْتَرك بَينه وَبَين سَائِر الدَّوَابّ وَهِي الحيوانية الْمَحْضَة فَلَا يبْقى فِيهِ فضل عَلَيْهِم بل قد يبْقى شرا مِنْهُم
“Manusia itu dibedakan dari jenis binatang dengan adanya keutamaan ilmu dan bayan (penjelasan). Jika manusia tidak memilki ilmu, maka binatang melata dan binatang buas itu lebih banyak makan, lebih kuat, lebih banyak jima’ (berhubungan seksual), lebih banyak memiliki anak, dan lebih panjang umurnya daripada manusia. Manusia itu dibedakan dari binatang karena ilmu dan bayan yang dimilkinya. Jika keduanya tidak ada, maka yang tersisa adalah adanya sisi persamaan antara manusia dan binatang, yaitu ‘sifat kehewanan’ saja. Dan tidak ada keutamaan manusia atas binatang, bahkan bisa jadi manusia lebih jelek darinya.” [Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/78]
Sumber Referensi "Urgensi pentingnya Ilmu Syar'i", karya Ustadz DR. Saifudin Hakim di web Muslim.or

Siapa bilang yang berseragam polisi jahat ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Banyak teman bercerita tentang keburukan perilaku polisi baik dijalan atau tempat lainnya, padahal faktanya tidak demikian yaa, sama dengan instansi lainnya ada juga oknum yang jahat dan banyak juga yang baik seperti hal dalam masyarakat juga demikian.
Seperti siang ini ada nampak ibu-ibu berhijab syar'i dan bercadar motornya mogok di simpang lampu merah Mal SKA karena kehabisan bensin, tak lama berselang ada petugas polisi menghampiri dan menanyakan kepada si ibu ada masalah apa dengan motornya, kemudian ibu bercadar itu menyampaikan masalahnya yakni motornya kehabisan bensin. Mengetahui hal tersebut Pak Polisi ini menawarkan diri untuk mendorong motor si ibu sampai ke pom bensin terdekat, dan itu lumayan jauh sekitar 1 kilo meter dari simpang lampu merah.
Akhirnya motor yang kehabisan bensin itu didorong oleh Pak Polisi yang baik hati ini sampai ke pom bensin dengan kakinya, sementara si ibu naik diatasnya, MasyaAllah.
Sesampainya di pom bensin si ibu mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Polisi.
Pelajaran penting bagi kita, jangan menghukumi seseorang karena seragamnya, juga karena fisiknya, tapi lihat hati, amalan dan perbuatannya, waalahua'lam.
Dalam sebuah hadits disebutkan
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh:
1. Muslim dalam kitab Al Birr Wash Shilah Wal Adab, bab Tahrim Dzulmin Muslim Wa Khadzlihi Wa Ihtiqarihi Wa Damihi Wa ‘Irdhihi Wa Malihi, VIII/11, atau no. 2564 (33).
2. Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhud, bab Al Qana’ah, no. 4143.
3. Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539.
4. Baihaqi dalam kitab Al Asma’ Wa Shifat, II/ 233-234, bab Ma Ja’a Fin Nadhar.
5. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, IV/103 no. 4906.
Sumber Referensi almanhaj.or