Wednesday, March 29, 2017

Kenapa hidup di Indonesia mustahil 100% bersih dari riba?


Dalam sebuah kajian seorang jamaah bertanya kepada Ustadz Erwandi Tarmidzi, "ya ustadz mungkikah kita bersih 100% dari riba?', beliau menjawab, "jika kita masih hidup dinegara dengan sistem ribawi mustahil kita hidup bersih sama sekali dari riba, oke misalkan anda gak melakukan pinjaman ke bank, atau tidak melakukan aktifitas meminjamkan uang dengan bunga, anda tinggalkan semua perkara riba, namun bagaimana dengan semisal cara berlangganan listrik atau air anda di rumah?, karena diawal pengajuan berlangganan itu anda disodori perjanjian atau akad dimana salah satu pasal perjanjian itu menyebutkan jika anda terlambat melakukan pembayaran dari tunggakan atas listrik atau air maka ada akan dikenai denda yang sudah ditentukan. Ini jelas akad riba ya, karena anda gunakan dulu listrik atau air dan ini hutang, kemudian jika terlambat ada denda atas keterlambatan itu, salah satu ciri riba adalah adanya denda atas keterlambatan melakukan pembayaran".
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum muslimin itu berkewajiban melaksanakan persyaratan yang telah mereka sepakati.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Makna kandungan hadits ini didukung oleh berbagai dalil dari al-Quran dan as-Sunnah. Maksud dari persyaratan adalah mewajibkan sesuatu yang pada asalnya tidak wajib, tidak pula haram. Segala sesuatu yang hukumnya mubah akan berubah menjadi wajib jika terdapat persyaratan.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnul Qayyim. Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Segala syarat yang tidak menyelisihi syariat adalah sah, dalam semua bentuk transaksi. Semisal penjual yang diberi syarat agar melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu dalam transaksi jual-beli, baik maksud pokoknya adalah penjual ataupun barang yang diperdagangkan. Syarat dan transaksi jual-belinya adalah sah.”
Ibnul Qayyim mengatakan, “Kaidah yang sesuai dengan syariat adalah segala syarat yang menyelisihi hukum Allah dan kitab-Nya adalah syarat yang dinilai tidak ada (batil). Adapun syarat yang tidak demikian adalah tergolong syarat yang harus dilaksanakan, karena kaum muslimin berkewajiban memenuhi persyaratan yang telah disepakati bersama, kecuali persyaratan yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Inilah pendapat yang dipilih oleh guru kami, Ibnu Taimiyyah.”
Berikut ini adalah kutipan dua fatwa para ulama:
1. Keputusan Majma’ Fikih Islami yang bernaung di bawah Munazhamah Mu’tamar Islami, yang merupakan hasil pertemuan mereka yang ke-12 di Riyadh, Arab Saudi, yang berlangsung dari tgl 23–28 September 2000. Hasil keputusannya adalah sebagai berikut:
Keputusan pertama. Syarth jaza’i adalah kesepakatan antara dua orang yang mengadakan transaksi untuk menetapkan kompensasi materi yang berhak didapatkan oleh pihak yang membuat persyaratan, disebabkan kerugian yang diterima karena pihak kedua tidak melaksanakan kewajibannya atau terlambat dalam melaksanakan kewajibannya.
Keputusan kedua. Adanya syarth jaza’i (denda) yang disebabkan oleh keterlambatan penyerahan barang dalam transaksi salam tidak dibolehkan, karena hakikat transaksi salam adalah utang, sedangkan persyaratan adanya denda dalam utang-piutang dikarenakan faktor keterlambatan adalah suatu hal yang terlarang. Sebaliknya, adanya kesepakatan denda sesuai kesepakatan kedua belah pihak dalam transaksi istishna’ adalah hal yang dibolehkan, selama tidak ada kondisi tak terduga.
Istishna’ adalah kesepakatan bahwa salah satu pihak akan membuatkan benda tertentu untuk pihak kedua, sesuai dengan pesanan yang diminta. Namun bila pembeli dalam transaksi ba’i bit-taqshith (jual-beli kredit) terlambat menyerahkan cicilan dari waktu yang telah ditetapkan, maka dia tidak boleh dipaksa untuk membayar tambahan (denda) apa pun, baik dengan adanya perjanjian sebelumnya ataupun tanpa perjanjian, karena hal tersebut adalah riba yang haram.
Keputusan ketiga. Perjanjian denda ini boleh diadakan bersamaan dengan transaksi asli, boleh pula dibuat kesepakatan menyusul, sebelum terjadinya kerugian.
Keputusan keempat. Persyaratan denda ini dibolehkan untuk semua bentuk transaksi finansial, selain transaksi-transaksi yang hakikatnya adalah transaksi utang-piutang, karena persyaratan denda dalam transaksi utang adalah riba senyatanya.
Berdasarkan hal ini, maka persyaratan ini dibolehkan dalam transaksi muqawalah bagi muqawil (orang yang berjanji untuk melakukan hal tertentu untuk melengkapi syarat tertentu, semisal membangun rumah atau memperbaiki jalan raya).
Muqawalah adalah kesepakatan antara dua belah pihak, pihak pertama berjanji melakukan hal tertentu untuk kepentingan pihak kedua dengan jumlah upah tertentu dan dalam jangka waktu yang tertentu pula. Demikian pula, persyaratan denda dalam transaksi taurid (ekspor impor) adalah syarat yang dibolehkan, asalkan syarat tersebut ditujukan untuk pihak pengekspor.
Demikian juga dalam transaksi istishna’, asalkan syarat tersebut ditujukan untuk pihak produsen, jika pihak-pihak tersebut tidak melaksanakan kewajibannya atau terlambat dalam melaksanakan kewajibannya.
Akan tetapi, tidak boleh diadakan persyaratan denda dalam jual-beli kredit sebagai akibat pembeli yang terlambat untuk melunasi sisa cicilan, baik karena faktor kesulitan ekonomi ataupun keengganan. Demikian pula dalam transaksi istishna’ untuk pihak pemesan barang, jika dia terlambat menunaikan kewajibannya.
Keputusan kelima. Kerugian yang boleh dikompensasikan adalah kerugian finansial yang riil atau lepasnya keuntungan yang bisa dipastikan. Jadi, tidak mencakup kerugian etika atau kerugian yang bersifat abstrak.
Keputusan keenam. Persyaratan denda ini tidak berlaku, jika terbukti bahwa inkonsistensi terhadap transaksi itu disebabkan oleh faktor yang tidak diinginkan, atau terbukti tidak ada kerugian apa pun disebabkan adanya pihak yang inkonsisten dengan transaksi.
Keputusan ketujuh. Berdasarkan permintaan salah satu pihak pengadilan, dibolehkan untuk merevisi nominal denda jika ada alasan yang bisa dibenarkan dalam hal ini, atau disebabkan jumlah nominal tersebut sangat tidak wajar.
2. Fatwa Haiah Kibar Ulama Saudi.
Secara ringkas, keputusan mereka adalah sebagai berikut, “Syarth Jaza’i yang terdapat dalam berbagai transaksi adalah syarat yang benar dan diakui sehingga wajib dijalankan, selama tidak ada alasan pembenar untuk inkonsistensi dengan perjanjian yang sudah disepakati.
Jika ada alasan yang diakui secara syar’i, maka alasan tersebut menggugurkan kewajiban membayar denda sampai alasan tersebut berakhir.
Jika nominal denda terlalu berlebihan menurut konsesus masyarakat setempat, sehingga tujuan pokoknya adalah ancaman dengan denda, dan nominal tersebut jauh dari tuntutan kaidah syariat, maka denda tersebut wajib dikembalikan kepada jumlah nominal yang adil, sesuai dengan besarnya keuntungan yang hilang atau besarnya kerugian yang terjadi.
Jika nilai nominal tidak kunjung disepakati, maka denda dikembalikan kepada keputusan pengadilan, setelah mendengarkan saran dari pakar dalam bidangnya, dalam rangka melaksanakan firman Allah, yaitu surat an-Nisa’: 58.” (Taudhih al-Ahkam: 4/253–255)
Jadi, anggapan sebagian orang bahwa syarth jaza’i secara mutlak itu mengandung unsur riba nasi’ah adalah anggapan yang tidak benar. Anggapan ini tidaklah salah jika ditujukan untuk transaksi-transaksi yang pada asalnya adalah utang-piutang, semisal jual-beli kredit dan transaksi salam. [Oleh: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, S.S.] sumber pengusahamuslim.co

Apakah anda Muslim betulan atau pura-pura Muslim?


Jika ada beberapa pertanyaan yang disampaikan kepada kita apakah kira2 jawabannya seperti ini.
Apakah anda seorang Muslim?
* iya saya seorang muslim.
Apakah anda suka gossip?
* saya paling suka gossip, mulai gossipin tetangga sampai acara gossip di tv.
Apakah anda selalu shalat berjamaah di Mushola atau masjid?
* saya jarang shalat berjamaah di mushola atau masjid, kalaupun shalat itu seminggu sekali yakni shalat jumat, dan setahun sekali seperti shalat ied.
Apakah anda selalu berdzikir menyebut Asma Allah?
* saya jarang berdzikir, karena urusan dunia saya lebih penting dari mengingat Allah.
Apakah anda suka melakukan korupsi?
* ya sering, hampir setiap hari, saya sering merubah kuitansi dan berbohong agar mendapatkan keuntungan.
Apakah anda suka bersedekah?
* saya jarang bersedekah, jika terpaksa sedekahpun dengan pecahan uang terkecil.
Apakah anda suka nonton flim porno?
* sering, itu hobby saya.
Apakah anda suka berbohong?
* iya, saya sering berbohong, hampir setiap saat berbohong.
Apakah anda orang yang amanah?
* saya sering meninggalkan amanah yang diberikan kepada saya, bahkan sering menggunakan amanah itu untuk keuntungan pribadi.
Dan seterusnya.....
Ketahuilah jika jawaban kita lebih dekat pada jawaban-jawaban itu artinya ke-musliman kita sebatas pengakuan, karena seharusnya setiap yang mengaku dirinya muslim menjauhi gossip, menjauhi berbohong, menjauhi korupsi, menjauhi melihat kemaksiatan dan kemaksiatan lainnya.
Harusnya yang dinamakan seorang muslim adalah orang yang menjauhi segala bentuk maksiat dan taat dalam beramal ibadah kepada Allah Azza Wajalla.
Maka jika muslim hanya sebatas nama dan julukan itulah muslim yang kehilangan identitas sebagai seorang muslim.

Semoga kita jadi muslim sejati, muslim yang menunjukkan identitasnya sebagai muslim, bukan pura2 sebagai muslim Aamiin.

Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc

Apakah ada pemahamam tritauhid?


Kalau diskusi dengan rombongan warung sebelah jika sudah tidak ada hujjah atas amalan2 bid'ah mereka selalu muncul jurus "tritauhid", sesungguhnya ini jelas kelihatan jahil nya, karena tauhid itu tunggal, gak ada istilah tritauhid dalam Islam seperti trinitas dalam nasrani. Dan ini sebenarnya jurus lama, sudah disebarkan kalangan jahmiyah untuk memusuhi dakwah Syaikh Ibnu Taimiyah.
Berikut artikel yang ditulis oleh Ustadz Firanda Adirja dalam web beliau Firanda.co penjelasan atas fitnah tersebut.
******************
KEEMPAT : Pembagian tauhid adalah perkara ijtihadiah, tergantung cara seorang mujtahid dalam meng "istiqroo' dalil-dalil, sehingga berkesimpulan bahwa tauhid terbagi menjadi berapa?.
Karenanya kita dapati :
- Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja, yaitu :تَوْحِيْدُ الْمَعْرِفَةِ وَالْإِثْبَاتِ dan تَوْحِيْدُ الطَّلَبِ وَالْقَصْدِ.
- Ada juga yang membagi dua dengan ibarat yang lain, yaitu : التَّوْحِيْدُ الْعِلْمِيِّ الْخَبَرِيِّ dan التَّوْحِيْدِ الطَّلَبِيِّ الإِرَادِيِّ
- Ada juga yang mengungkapkan dengan ibarat yang lain, yaitu : تَوْحِيْدُ الإِعْتِقَادِ dan تَوْحِيْدُ الْعَمَلِ
- Kita dapati juga ada sebagian orang yang membagi tauhid menjadi 4, seperti Ibnu Mandah yang membagi tauhid menjadi : (1) Tauhid Al-Uluhiyah, (2) Tauhid Ar-Tububiyah, (3) Tauhid al-Asmaa', dan (4) Tauhid As-Sifaat.
- Demikian juga ada yang membagi tauhid menjadi empat dengan menambahkan tauhid yang ke (4) Tauhid Al-Haakimiyah.
Yang menjadi permasalahan bukanlah pembagian, akan tetapi content/isi dan kandungan dari pembagian tersebut, apakah benar menurut syari'at atau tidak??!! Inilah yang menjadi permasalahan, bukan masalah pembagian tauhid menjadi dua atau tiga atau empat, atau lebih dari itu.

KELIMA : Ternyata kita dapati para ulama terdahulu –jauh sebelum Ibnu Taimiyyah- telah membagi tauhid menjadi tiga. Hal ini jelas membantah pernyataan mereka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kreasi Ibnu Taimiyyah rahimahullah di abad ke 8 hijriyah. Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh telah menukil perkataan para ulama salaf jauh sebelum Ibnu Taimiyyah yang membagi tauhid menjadi tiga. Diantara para ulama tersebut adalah :
(1) Al-Imam Abu Abdillah 'Ubaidullahi bin Muhammad bin Batthoh al-'Akburi yang wafat pada tahun 387 H, dalam kitabnya Al-Ibaanah.
(2) Al-Imam Ibnu Mandah yang wafat pada tahun 395 Hijriyah dalam kitabnya "At-Tauhid".
(3) Al-Imam Abu Yusuf yang wafat pada tahun 182 H (silahkan merujuk kembali kitab al-qoul as-sadiid)

KEENAM : Ternyata kita juga dapati ahlul bid'ah juga telah membagi tauhid
Pertama : Kaum Asyaa'roh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesaan) Allah mencakup tiga perkara, ungkapan mereka adalah:
إن الله واحد في ذاته لا قسيم له وواحد في صفاته لا نظير له، وواحد في أفعاله لا شريك له
"Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.
Salah seorang ulama terkemukan dari Asyaa'iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata :
"Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan :
… "Keesaan" dalam istilah kaum (Asyaa'iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan :
"(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian….
(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya…
(3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru…"
(Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni. 1/336-338)
Ulama besar Asya'iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :
"Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesaan pada Dzat, (2) Keesaan pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesaan pada perbuatan-perbuatanNya…"
(Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri 'alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114)

Kedua : Abu Hamid Al-Gozali menyatakan bahwa tauhid yang berkaitan dengan kaum muslimin ada 3 tingakatan, karena beliau membagi tauhid menjadi 4 tingkatan, dan tingkatan pertama adalah tingkatan tauhidnya orang-orang munafik.
Adapun tingkatan-tingakatan yang berikutnya :
(1) Tauhidul 'awaam تَوْحِيْدُ الْعَوَّام (Tauhidnya orang-orang awam)
(2) Tauhidul Khoosoh تَوْحِيْدُ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang khusus, مَقَامُ الْمُقَرّبِيْنَ) dan
(3) Tauhid Khoosotil Khooshoh تَوْحِيْدُ خَاصَّةِ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang super khusus مُشَاهَدَةُ الصِّدِّيْقِيْنَ)
Beliau rahimahullah berkata :
للتوحيد أربع مراتب ...
فالرتبة الأولى من التوحيد هي أن يقول الإنسان بلسانه لا إله إلا الله وقلبه غافل عنه أو منكر له كتوحيد المنافقين
"Tauhid memiliki 4 tingkatan…tingkatan pertama dari tauhid adalah seseorang mengucapkan dengan lisannya laa ilaah illallah akan tetapi hatinya lalai darinya atau mengingkarinya, sebagaimana tauhidnya orang-orang munafiq"
Lalu Al-Gozali menyebutkan 3 tingkatan tauhidnya kaum muslimin, ia berkata :
والثانية أن يصدق بمعنى اللفظ قلبه كما صدق به عموم المسلمين وهو اعتقاد العوام
(1) Yang kedua : Yaitu ia membenarkan makna lafal laa ilaaha illallahu dalam hatinya sebagaimana pembenaran orang-orang awam kaum muslimin, dan ini adalah aqidahnya orang-orang awam
والثالثة أن يشاهد ذلك بطريق الكشف بواسطة نور الحق وهو مقام المقربين وذلك بأن يرى أشياء كثيرة ولكن يراها على كثرتها صادرة عن الواحد القهار
(2) Yang Ketiga : Yaitu dengan metode Kasyf (pengungkapan) dengan perantara cahaya Allah, dan ini adalah orang-orang muqorrobin (yang didekatkan), yaitu jika ia melihat sesuatu yang banyak akan tetapi ia melihatnya –meskipun banyak- timbul dari dzat Yang Maha Satu Yang Maha Kuasa
والرابعة أن لا يرى في الوجود إلا واحدا وهي مشاهدة الصديقين وتسميه الصوفية الفناء في التوحيد لأنه من حيث لا يرى إلا واحدا فلا يرى نفسه أيضا وإذا لم ير نفسه لكونه مستغرقا بالتوحيد كان فانيا عن نفسه في توحيده بمعنى أنه فنى عن رؤية نفسه والخلق
(3) Yang Keempat : yaitu ia tidak melihat di alam wujud ini (alam nyata) ini kecuali hanya satu, dan ini adalah pengamatan orang-orang as-siddiqin. Dan kaum sufiah menamakannya al-fanaa dalam tauhid, karena ia tidaklah melihat kecuali satu, maka iapun bahkan tidak melihat dirinya sendiri. Dan jika ia tidak melihat dirinya dikarenakan tenggelam dalam tauhid maka ia telah sirna dari dirinya dalam mentauhidkan Allah, yaitu maknanya ia telah sirna tidak melihat dirinya dan tidak melihat makhluk" (Ihyaa 'Ulumiddiin 4/245)

KETUJUH :Ternyata sebagian ulama Ahlul Kalaam juga mengenal istilah tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah,
Abu Mansuur Al-Maturidi (pendiri madzhab Al-Maturidiyah, wafat 333 H) dalam kitabnya At-Tauhid beliau berkata :
(Kitaab At-Tauhid, Abu Manshuur Al-Maturidi, tahqiq : DR Muhammad Aruusi, Terbitan Daar Shoodir, Beirut, hal 86)

KEDELAPAN : Kenapa harus pengingkaran besar-besaran terhadap pembagian tauhid menjadi tiga?. Rahasianya karena pembagian ini menjelaskan akan bedanya antara tauhid Ar-Rububiyah dengan tauhid Al-Uluhiyah. Dan barangsiapa yang mengakui tauhid Ar-rububiyah akan tetapi beribadah kepada selain Allah maka ia adalah seorang musyrik. Inilah pembagian yang mereka ingkari, mereka hanya ingin pembicaraan tauhid hanya pada dua model tauhid saja, yaitu tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat.
Karena dengan dibedakannya antara tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah semakin memperjelas bahwa aqidah mereka tentang bolehnya berdoa kepada mayat-mayat penghuni kubur dan beristighotsah kepada para wali yang telah meninggal adalah kesyirikan yang nyata !!!
Mereka tidak mempermasalahkan jika seandainya tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat, karena dalam buku-buku aqidah mereka ternyata memfokuskan pembicaraan pada dua model tauhid ini. Jika kita setuju pembagian tauhid hanya dua saja, maka bisa saja dikatakan ini adalah dualisme ketuhanan, sebagaimana penyembah dua dewa atau dua tuhan, dan ini juga kesyirikan. Sebagaimana trinitas adalah kesyirikan demikian juga dualisme ketuhanan juga terlarang

Sunnahnya kemana amalannya kemana?


Dapat pesan dari seorang teman seorang pemuda, bunyi pesannya," sementara hp saya off selama 40 hari kedepan, jangan hubungi saya, karena saya akan meneruskan dakwah nabi, khuruj fisabilillah, dan dilarang membawa hp."
Subhanaallah, syubhat yang nyata, karena dakwah sunnah tidak demikian, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dalam banyak hadist disebutkan beliau jika berdakwah berdiri didepan para sahabat dan menyampaikan risalah, bahkan sampai menjelang akhir hayat beliau berdiri didepan ribuan sahabat dalam haji wadha'(haji terakhir) menyampaikan risalah dan wasiat2 terakhir beliau. Dan seumur hidup Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam setiap hari berdakwah namun selalu pulang kerumah, menjalankan amanah sebagai kepala keluarga dan pemimpin umat.
Lalu kalau dakwah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam mengamalkan dakwah seperti itu, mereka berdakwah tidak seperti sunnahnya, apa namanya?, hebatnya syubhat yang ditanamkan kedada, menyakini amalan itu adalah Sunnah padahal tidak sekalipun dakwah seperti disebutkan dalam hadist, DAN GAK ADA PERINTAHNYA seperti itu. Waallahua'lam.
Jika mereka ditegur atas perbuatannya itu mereka berdalih,"ini khan baik", padahal baik dan benar tentu mengikuti perintah Allah dan RasulNya.
Allâh Azza wa Jalla menamakan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, karena buruknya perbuatan maksiat yang mereka lakukan dalam menentang Allâh Azza wa Jalla dan Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh berfirman :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi !” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar (Qs al-Baqarah/2:11-12).
Maka baik dan benar tentu ketika dalam amal ibadah kita iitiba' kepada jalan Rasulullah dan para sahabatnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [an Nisaa’: 115].
Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang wajibnya bagi setiap kita untuk ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya dalam masalah ibadah, namun juga wajib berittiba’ dalam masalah-masalah yang lain. Dengan ittiba’ ini, kita akan mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan dan kemenangan.
Para sahabat, mereka mendapatkan kemuliaan, kemenangan, izzah, dengan sebab mereka ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekali saja, maka mereka mendapatkan kekalahan, sebagaimana yang masyhur kita ketahui tentang kisah Perang Uhud. Pada Perang Uhud tersebut para sahabat mendapatkan kekalahan, karena pasukan pemanah tidak taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu disebabkan karena perbuatan mereka.
Abu Bakar ash Shiddiq, seorang sahabat yang dijamin oleh Allah masuk surga, mengatakan :
لَسْتُ تَارِكاً شَيْئاً كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَعْمَلُ بِهِ إِلاَّ عَمِلْتُ بِهِ ، فَإِنِّيْ أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئاً مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ
Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang Rasulullah lakukan kecuali untuk aku amalkan, karena aku khawatir, jika aku tinggalkan perintah Rasulullah, maka aku akan sesat. [HR Bukhari, no. 3093, dan diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam kitabnya, al Ibanah, I/245-246 no. 77]
Imam Abu Abdillah bin Ubaidillah bin Muhammad bin Baththah yang wafat pada tahun 387H dalam kitabnya al Ibanah pada juz pertama, berkata: “Wahai saudara-saudaraku, Abu Bakar ash Shiddiq, ash shiddiqul akbar, beliau takut apabila kesesatan menimpa dirinya. Kalau dia menyalahi sesuatu dari salah satu saja dari perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana nanti akan ada satu zaman, yang orang yang ada di zaman tersebut, mereka memperolok-olok Nabi mereka, mereka memperolok-olok perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka berbangga menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kita mohon kepada Allah dari ketergelinciran, dan kita mohon keselamatan dari amal yang jelek”. [al Ibaanah, I/246].
Referensi dr artikel "wajib iitiba' kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, di web Almanhaj.or.id

Manusia cenderung melanggar larangan dalam agama


Kalau mendengar ada orang bilang "cari yang haram susah apalagi yang halal?", jadi ingat ketika Ustadz Syafiq Reza Basalamah menanyakan kepada jamaah kajian, " coba antum cari 10 barang haram di pasar?", lalu seorang jamaah mencoba menjawab, dan ternyata dicari jawabannya cuma tiga, yakni daging babi, bangkai dan darah. Lalu Ustadz Syafiq Reza Basalamah mengatakan, "sejujurnya yang haram dipasar itu sedikit, sementara yang halal jauh lebih banyak, mungkin kalau antum sebutkan semua akan mencapai ribuan item. Namun memang sifat manusia adalah selalu penasaran mencoba hal yang dilarang, dan meninggalkan peringatan yang datang kepada nya. Sampai hal ini juga dimanfaatkan beberapa orang untuk mendatangkan keuntungan, semisal ada rumah makan yang menyediakan ikan bakar, mereka kemudian mereka membuat iklan dipinggir jalan dengan baliho besar berbentuk ikan kuning terang dan ditulis, JANGAN MENENGOK KEKIRI 100 Meter lagi, justru gara2 tulisan itu semua orang menengok kekiri semua, karena dibuat penasaran oleh tulisan itu, tentu mereka bertanya-tanya kenapa gak boleh menengok kekiri, ada apa disebelah kiri?. Demikian halnya misal di rumah antum punya 10 lemari, kemudian antum pesan kepada istri agar dari 10 lemari itu ada 1 lemari tidak boleh dibuka sama sekali sementara yang 9 lainnya boleh dibuka. Maka pasti lemari yang dilarang untuk dibuka itu akan dibuka juga oleh istri antum, memang demikianlah sifat dari manusia kepada larangan, mereka cenderung untuk melanggarnya. Sama halnya dalam perkara agama, hal2 yang dilarang agama meskipun sulit untuk mendapatkan nya pasti manusia cenderung untuk mencoba melanggarnya, sementara seruan atau perintah melakukan amal ibadah malah ditinggalkan. Padahal meninggalkan seruan Allah dan RasulNya dan kemudian berbuat maksiat akan mendatangkan azab kepada seseorang yang melakukannya, semua dimulai dari rasa penasaran untuk mencoba kemaksiatan. "
Allah berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. [An Nur:63].

Sekiranya berbahaya bagi aqidah kita, wajib diblokir.


Di inbox saya ada beberapa orang yang berpaham syi'ah atau khawarij mengirimkan pesana agar berbaiat kepada para ulama mereka, subhanaAllah, langsung saya blokir, karena setelah saya pertimbangkan sepertinya saya tidak mampu menasehati mereka, maka ketimbang aqidah tauhid yang saya miliki rusak, dan saya ingin saya jaga kebersihannya dari hal yang mengotorinya. Hal ini saya lakukan sesuai nasehat para ustadz, seperti Ustadz Abu Zubair Hawaary, beliau pernah mengingatkan dalam sebuah kajian, "sekiranya kita tidak mampu menghadapi syubhat yang akan kita jumpai, sebaiknya kita menghindarinya, sejatinya hati kita lemah dihadapan syubhat, sementara syubhat sangatlah kuat. Dan hal seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak jaman para sahbt, tabi'in dan tabi'ut."
Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:

َاْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ.
“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.”
Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya.(Lihat Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawi (I/171), Mukhtasharul ‘Uluw lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 141), cet. Al-Maktab al-Islami, tahqiq Syaikh al-Albani.)
Sekelas ulama besar seperti Imam Malikipun ingin menghindari syubhat agar tidak mempengaruhi dirinya dan para muridnya.
Kejadian ini juga menunjukkan salah satu ciri pelaku kebid'ahan adalah suka mempertanyakan makna istiwa'nya Allah diatas Arsy.
Ustadz Firanda Adirja dalam sebuah kajian menyebut, "sekiranya antum adalah pengurus sebuah group media sosial, atau aktif dimedia sosial, akan banyak antum temui orang2 yang menebarkan syubhat dikalangan umat muslim, mulai paham atheis, khawarij, pelaku kebid'ahan, kaum liberal dan seterusnya. Harusnya antum berhati-hati dalam perkara ini, sekiranya ada seseorang yang punya potensi menebarkan syubhat dan kerusakan aqidah dalam group atau orang itu menjadi teman antum, sebaiknya diblokir langsung saja. Karena jika mereka apra perusak agama ini diberi kesempatan untuk menebarkan pahamnya maka itu menjadi dosa bagi antum, karena memfasilitasi mereka perusak agama ini, waallahua'lam".

Friday, March 24, 2017

Apakah pelaku bid'ah kekal di neraka?


Kadang kalau ada seseorang atau ustadz menyampaikan hadist2 tentang larangan bid'ah serta kesesatan bid'ah biasanya muncul reaksi negatif dari sebagian orang, seperti "orang itu suka mengkafirkan", atau seperti , "kayak surga dia yang punya" dan banyak macamnya. Dari reaksi ini sebenarnya adalah indikasi ketidak tahuan orang yang bereaksi negatif akan perkara bid'ah, sejatinya bid'ah bertingkat-tingkat, dari bid'ah kecil sampai yang terberat yang berkaitan dengan amalan syirik.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy pernah ditanya salah satu jamaah, "ya ustadz apakah pelaku bid'ah kekal di neraka?, karena seperti kita ketahui Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam menyebut bid'ah adalah sesat dan tempatnya di neraka.", beliau menjawab, " kalau merujuk pada pendapat ulama dan dalil2 sahhih yang ada adapun pelaku bid'ah selama tidak membawa amalan syirik sampai kematiannya dia tidak kekal dineraka, atau selama dia bersyahadat dan menyakininya dia ada kemungkinan masuk kedalam surga. Hakekatnya neraka adalah sarana untuk membersihkan dosa seseorang sebelum dirinya dimasukkan ke surga, dan ini berlaku juga kepada pelaku dosa-dosa besar lainnya, dalam hal ini juga termasuk juga dosa-dosa dari perbuatan bid'ah. Namun masalahnya azab neraka itu bukan perkara ringan, ini perkara yang sangat berat, azab neraka adalah siksa yang beratnya tidak pernah dapat dibayangkan manusia, maka menjauhi dosa-dosa besar termasuk amalan bid'ah itu lebih baik, waallahua'lam."
Apabila penduduk jannah telah masuk jannah dan penduduk neraka telah masuk neraka, Allah akan berfirman, ”Barang siapa di hatinya ada seberat biji sawi keimanan, keluarlah ia (dari neraka)! ” Maka mereka akan keluar dalam keadaan hangus dan menghitam legam, kemudian mereka akan dilemparkan ke nahrul hayah (sungai kehidupan), lalu mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya biji yang dibawa aliran air.” Lalu beliau melanjutkan, ”Tidaklah kalian tahu bahwa biji tumbuh berwarna kuning dan meliuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ubadah bin Shamit menuturkan, Rasulullah bersabda :
" من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل " أخرجاه
“Barang siapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. ( HR. Bukhori & Muslim )
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban bahwa Rasulullah bersabda :
" فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله "
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan
لا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan ( pahala melihat ) wajah Allah”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah bersabda :
" قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله " ( رواه ابن حبان والحاكم وصححه ).
“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingatMu dan berdoa kepadaMu”, Allah berfirman :” ucapkan hai Musa لا إله إلا الله ”, Musa berkata : “ya Rabb, semua hambaMu mengucapkan itu”, Allah menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya – selain Aku - dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat لا إله إلا الله diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat لا إله إلا الله lebih berat timbangannya.” ( HR. Ibnu Hibban, dan imam Hakim sekaligus menshahihkannya ).

Biker Sholeh.


Dulu kalau jumpa Ustadz Maududi Abdullah mengendarai motor, setiap melihat box belakang pada bagian motor beliau selalu baca "touring ke taman-taman surga", belum paham maksudnya apa, pas kajian beliau membahas keutamaan dzikir baru paham maksud dari sticker di box motor beliau.
Dalam kajian itu Ustadz Maududi Abdullah menjelaskan sebuah hadist, " kenapa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam menyebut majlis dzikir meliputi kajian2 ilmu adalah taman-taman surga?, kenapa kok beliau tidak menyebut pemandangan indah seperti gunung, pantai dan semacamnya sebagai taman surga?, karena dari majlis-majlis ilmu orang yang hadir mendapat pahala dan ilmu yang dapat membawanya menuju jalan-jalan surga."
Dan sticker dibox motor Ustadz Maududi Abdullah menjelaskan kepada saya bahwa klub biker yang beliau bina mengkhususkan touring hanya kepada kegiatan sosial, yang yang utama touring menuju ke kajian2 ilmu, MasyaAllah, biker sholeh.

Majlis dzikir adalah taman surga di dunia ini.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562)
Dalam hadits lain lebih dijelaskan bentuk dzikir yang mereka lakukan, sebagaimana hadits di bawah ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda,”Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” [HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya].
Sumber artikel keutamaan dzikir, almanhaj.or.id

Ngaku Cinta Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, tapi tidak mengenalnya.


Dijaman ini setiap orang memerlukan idola, setiap orang memerlukan panutan, dan dijaman ini orang ingin mengidolakan sosok yang nyata sehingga mudah baginya untuk menirunya, sehingga pada akhirnya mereka mengidolakan para artis, pemain sepak bola, penyanyi, pensinetron, boy band dan seterusnya. Kalau mereka ditanya kenapa mereka tidak mengidolakan sosok Nabi atau Rasul yamg jelas baik budi pekertinya dan dijamin surga?, maka serempak mereka memjawabnya "itu tidak nyata, itu fiksi atau khayalan", padahal keadaan nyata dan tidak nyata tergantung presepsi mereka. Kita ambil contoh, semisal seseorang diantara mereka diauruh tinggal disebuah rumah angker yang terkenal dihuni sosok kuntilanak, maka pasti jikapun dia mau tinggal dirumaj itu selama tinggal dirumah itu akan diliputi ketakutan, karena dalam kepalanya diliputi sosok kuntilanak yang sewaktu-waktu akan mengganggunya, dia membuat sosok kuntilanak menjadi nyata, padahal tidak ada sama sekali namanya kuntilanak didunia ini. Kenapa ini terjadi?, ini terjadi akibat karena sejak kecil kita dicekoki flim tentang kuntilanak dan cerita horor hantu bernama kuntilanak, akhirnya sosok yang semula fiksi menjadi sosok nyata dalam benak mereka.
Namun anehnya jika mereka yang umat muslim ditanya apakah mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, maka jawabannya " ya saya sangat mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam ", padahal faktanya mereka lebih melihat sosok kuntilanak lebih nyata karena mereka lebih mengenalnya.
Demikian halnya kenapa para pendakwah menyampaikam kisah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, menyamlaikan kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam beripa hadist secara terus menerus, bertahun-tahun sampai berabad-abad, dan turun temurun, agar umat ini tidak menganggap Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam asalah sosok khayalan, namun melihat sosok Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam sebagai sosok yang nyata, dengan demikain diharapkan dapat menjadi idola nyata dan panutan bagi umat muslim. Hasil akhir dari mengidolakan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam adalah keimanan dan ketaatan, ini yang menjadi tujuan para ulama.
Ahlus Sunnah mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengagungkannya sebagaimana para Sahabat Radhiyallahu anhum mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari kecintaan mereka kepada diri dan anak-anak mereka, sebagaimana yang terdapat dalam kisah ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam Radhiyallahu anhu, ia berkata:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ.
“Kami mengiringi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.’” [HR. Al-Bukhari (no. 6632), dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam Radhiyallahu anhu.
Berdasarkan hadits di atas, maka mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu selain kecintaan kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah. Mencintai Rasulullah adalah cinta karena Allah. Ia bertambah dengan bertambahnya kecintaan kepada Allah dalam hati seorang mukmin, dan berkurang dengan berkurangnya kecintaan kepada Allah.
Dikutip dr kajian Ustadz Abu Zubair Haawary Lc.
Sumber referensi: almanhaj.or.-wajibnya-mencintai-dan-mengagungkan-nabi-muhammad-wajibnya-mentaati-dan-meneladani-nabi

Jalan selamat cuma satu, dan itu jalan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam.


Di permukaan bumi ini banyak umat muslim yang mengaku pengikut Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, namun sangat sedikit diantara mereka benar-benar mengikuti apa yang diamalkan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, bahkan lebih banyak diantaranya membuat amalan sendiri dan menyelisihi apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Padahal risalah telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, semua perkara agama ini telah disampaikan oleh beliau, sehingga tidak sedikitpun perkara tertinggal, dari perkara berumah tangga, berdagang, sampai perkara yang berkaitan dengan kenegaraan, apa yang disampaikan beliau sudah sempurna. Namun ada sebagian kelompok manusia dengan keyakinannya berada diatas kebenaran membuat amalan2 baru yang tidak pernah ada contoh nya, mereka membuat jalan sendiri kesurga seakan lebih tau dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam mana jalan ke surga, dan ini jelas mustahil mereka lebih tau jalan kesurga dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam.
Padahal yang paling mengetahui jalan mana yang menuju surga dan demikian halnya mana jalan yang menuju ke neraka adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, waallahua'lam.

Shiratal mustaqim yang merupakan jalan kebenaran jumlahnya hanya satu dan tidak berbilang, Allah Ta’ala berfirman :
وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa“ (Al An’am:153).
Hal ini dipertegas oleh penafsiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sllam tentang ayat di atas. Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
خطَّ لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يومًا خطًّا فقال: هذا سبيل الله. ثم خط عن يمين ذلك الخطّ وعن شماله خطوطًا فقال: هذه سُبُل، على كل سبيل منها شيطانٌ يدعو إليها. ثم قرأ هذه الآية:(وأن هذا صراطي مستقيمًا فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله)
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat satu garis lurus, kemudian beliau bersabda, “ Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di samping kiri dan kanan garis yang lurus tersebut. Setelah itu beliau bersabda , “Ini adalah jalan-jalan (menyimpang). Di setiap jalan tersebut ada syetan yang menyeru kepada jalan (yang menyimpang) tersebut.“ (H.R Ahmad 4142).(Lihat Jaami’ul Bayaan fii Ta’wiil Al Qur’an)
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.
Sumber: Referensi "shiratal mustaqim", muslim.or.id

Only on Pekanbaru




Perang melawan riba, jadikan Pekanbaru Kota Sunnah.
Para aktivis anti riba di Kota Pekanbaru banyak memasang baliho peringatan akan bahaya riba, salah satunya adalah di dekat Simpang Mal SKA jl.Soekarno Hatta ini, selain tempatnya strategis juga menjadi saingan bagi baliho iklan-iklan disekitarnya yang menawarkan produk ribawi, materinya dibuat oleh Ustadz Abu Zubair Haawary Lc., pimpinan Ponpes Ma'had Ibnu Katsir Rumbai, Pekanbaru.
Semoga baliho ini jadi peringatan bagi siapa saja yang melihatnya agar menjauhi produk2 riba, karena riba diperangi oleh Allah dan RasulNya.
Juga semoga menginspirasi teman2 di seluruh pelosok negri ini untuk membuat peringatan bahaya riba didaerahnya, aamiin.

Monday, March 20, 2017

Taukah anda seseorang dapat gagal nikah gara2 riba


Dalam sebuah kajian Ustadz Erwandi Tarmidzi mengatakan, "saya selalu menasehati para pemuda untuk segera menikah dan tidak menunda-nundanya dengan alasan menabung dulu untuk perisapan menikah, karena apa yang mereka tabung sebenarnya menyusut dari nilai semula, dan itu diakibatkan oleh praktek ribawi di negri ini. Misal kita punya uang 100 juta pada tanggal 1 Januari diawal tahun, maka dengan adanya inflasi sebesar 7% maka pada tanggal 31 Desember jumlah tabungan kita tetap sama 100 juta namun nilainya menyusut hanya senilai 93 juta, hilang 7 juta karena inflasi. Lebih jelasnya jika terjadi dalam jangka waktu panjang, misal anda punya uang pada th.1990 sebesar 2 juta, pada saat itu anda dapat membeli sepeda motor baru dari dealer, dan anda punya uang yang sama yakni 2 juta rupiah pada tahun 2016 apakah anda dapat sepeda motor baru dengan uang sejumlah itu? tentu tidak sama sekali, karena pada th.2016 anda dapat mendapatkan sepeda motor baru dengan harga 15 juta, jadi antara th.1990 sampai 2016 terjadi inflasi sebesar 13 juta !!!. Lalu pertanyaannya siapa yang mencuri uang kita? kemana larinya nilai uang itu?, jawabannya yakni nilai uang itu larinya kepada tangan-tangan pelaku riba, mulai dari bank, rentenir, perusahaan2 leasing, merekalah lintah darat yang mencuri uang kita. Maka janganlah kita jadi pelakunya karena jika kita pelaku riba sebenarnya yang dizalimi adalah semua orang di negri ini, sejumlah 200 juta lebih orang, waallahua'lam".
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَا أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنَ الرِّبَا إِلاَّ كَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهِ إِلَى قِلَّةٍ
“Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit.” [HR. Ibnu Majah, dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ
“Jika telah nampak perbuatan zina dan riba di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka sendiri untuk merasakan adzab Allah.” [HR. Al-Hakim dan Ath-Thabarani, dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas c, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah di dalam Shahihul Jami’]
Kesimpulannya bagi para pemuda yang punya niatan menikah segeralah menikah, jangan nunggu tabungan anda cukup besar, karena seiring waktu uang tabungan anda dicuri oleh para pelaku ribawi, waallahua'lam.

Kenapa mendakwahkan larangan bid'ah dan syirik adalah penting?


Sebagian orang ketika melihat posting yang membahas tentang perkara bid'ah atau syirik reaksinya selalu menunjukkan ketidak senangan, muncul comment "kenapa membahas bid'ah terus sih?, bahas yang lain kenapa?", atau juga muncul comment, " jangan memecah belah umat", dan semacamnya. Padahal dakwah yang paling utama dan menjadi tugas utama para nabi dan rasul adalah dakwah Tauhid, sebelum mereka menyampaikan perkara syariat, dan dakwah Tauhid meliputi larangan berbuat bid'ah dan larangan berbuat kesyirikan. Bayangkan jika seseorang hanya mengerti syariat tampa tau mana perkara Sunnah dan mana perkara bid'ah, ketika berjumpa seseorang yang penampilannya santun, berjubah dan bersorban dikiranya orang baik, dan orang itu datang kepadanya dengan mengajarkan amalan kebid'ahan, karena tidak tau ilmunya maka amalan itu diterima dan diamalkan, maka akan banyak orang mengamalkan amalan bid'ah dengan dasar "ini khan baik". Atau juga ketika seseorang tau tentang syariat saja dan tidak tau tentang larangan syirik, maka dia melakukan amalan sesuai yang diketahuinya seperti shalat, suatu saat dia akan melakukan shalat dengan menghadap ke kuburan yang jelas terlarang secara syariat.
Berikut beberapa pendapat ulama mengenai betapa pentingnya dakwah Tauhid :
Salah satu diantara keistimewaan para pengikut manhaj salaf adalah memiliki semangat yang sangat besar dalam menyebarkan aqidah sahihah, memberikan pengajaran dan nasehat bagi umat manusia, memberikan peringatan kepada mereka dari segala bentuk bid’ah dan ajaran-ajaran baru, serta berupaya keras untuk membantah orang-orang yang menyimpang dan kaum ahli bid’ah (lihat Khasha’ish al-Manhaj as-Salafi oleh Prof. Dr. Abdul ‘Aziz bin Abdullah al-Halil, hal. 13)
Setiap perilaku maksiat dan penyimpangan yang dilakukan seorang hamba, pasti akan menghasilkan dampak buruk yang membahayakan, minimal kepada diri mereka para pelakunya sendiri. Apalagi jika kemaksiatan dan penyimpangan itu merupakan sesuatu yang paling dibenci oleh Allah, yakni mempersekutukan-Nya dengan segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Tentunya kemurkaan Allah melebihi kemurkaan yang disebabkan kemaksiatan dan kezhaliman lain dari seorang manusia yang masih mungkin dimaklumi dan diampuni-Nya (lihat Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita karya H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd. Hal. 13 penerbit Abu Hanifah Publishing cet. I, 2007)
Tauhid adalah sebuah ungkapan yang tidak asing lagi bagi kaum muslimin. Pada umumnya, kita sebagai kaum muslimin pasti menginginkan atau bahkan telah mengaku sebagai orang yang bertauhid. Akan tetapi, pada kenyataannya bisa jadi masih banyak di antara kita yang belum memahami hakikat dan kedudukan tauhid ini. Bahkan orang-orang yang merasa dirinya telah bertauhid sekalipun, bisa jadi belum mengenal seluk-beluk tauhid dengan jelas (lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid karya guru kami al-Ustadz Abu ‘Isa hafizhahullah, hal. 12 penerbit Pustaka Muslim cet. IV, 1430 H)
Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah memaparkan, bahwa manusia itu bermacam-macam. Bisa jadi mereka adalah orang yang tidak mengerti tauhid -secara global maupun terperinci- maka orang semacam ini jelas wajib untuk mempelajarinya. Atau mereka adalah orang yang mengerti tauhid secara global tetapi tidak secara rinci maka orang semacam ini wajib belajar rinciannya. Atau mereka adalah orang yang telah mengetahui tauhid secara global dan terperinci maka mereka tetap butuh senantiasa diingatkan tentang tauhid serta terus mempelajari dan tidak berhenti darinya. Jangan berdalih dengan perkataan, “Saya ‘kan sudah menyelesaikan Kitab Tauhid.” atau, “Saya sudah menuntaskan pembahasan masalah tauhid.” atau, “Isu seputar tauhid sudah habis, jadi kita pindah saja kepada isu yang lain.” Tidak demikian! Sebab, tauhid tidak bisa ditinggalkan menuju selainnya. Akan tetapi tauhid harus senantiasa dibawa bersama yang lainnya. Kebutuhan kita terhadap tauhid lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap air dan udara (lihat dalam video ceramah beliau al-I’tisham bi as-Sunnah, al-sunna.)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Diantara perkara yang mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang ilmu tauhid dari kalangan belakangan (muta’akhirin) lebih memfokuskan pembahasan mengenai tauhid rububiyah. Seolah-olah mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb [Allah] -walaupun mungkin ada orang yang mengingkari Rabb [Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta]- akan tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam syirik ibadah!!” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/8])
Imam Ahli Hadits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Nuh -‘alaihis salam– telah menetap di tengah-tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh (baca: 950 tahun). Beliau mencurahkan waktunya dan sebagian besar perhatiannya untuk berdakwah kepada tauhid. Meskipun demikian, ternyata kaumnya justru berpaling dari ajakannya. Sebagaimana yang diterangkan Allah ‘azza wa jalla di dalam Muhkam at-Tanzil (baca: al-Qur’an) dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan mereka -kaum Nuh- berkata: Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian; jangan tinggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (QS. Nuh: 23).
Orang yang mentauhidkan Allah, maka Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa cinta kepada iman dan Allah akan menghiasi hatinya dengannya serta Dia menjadikan di dalam hatinya rasa benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman itu) indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” [Al-Hujurat: 7]
Referensi dr "umat memerlukan dakwah tauhid", karya Ari Wahyudi di muslim.or.id

Waspadai pedofil disekitar kita.


Membaca sebuah berita berkaitan dengan terungkapnya group facebook para pedofilia dan tekad polisi untuk memproses semua orang yang terlibat didalamnya mulai adminnya sampai membernya yang berjumlah 7000 orang sungguh bikin prihatin, karena hal tersebut terjadi di negri ini yang mayoritas muslim. Apalagi disebutkan dalam berita yang dirilis kepolisian bahwa dari akrifitas group ini sudah menelan 13 anak-anak sebagai korbannya, subhanaallah.
Sebenarnya group seperti ini banyak sekali, hampir setiap kota besar di Indonesia punya group khusus gay dengan anggota mencapai ribuan orang, hal ini menunjukkan penyuka sejenis di negri ini makin besar jumlahnya, bahkan konon data aktivis LGBT menyebut member mereka mencapai ratusan ribu orang, subhanallah.
Oleh karenanya wajib bagi kita menjaga keluarga dari pengaruh yang ditebarkan para penyuka sex nyleneh ini, dengan cara memberi bekal pengetahuan agama yang cukup kepada anggota keluarga kita, dan memberi pendidikan sex sedini mungkin sesuai dengam kemampuan anak dalam menerimanya karena bahaya kaum pedofilia selalu ada disekitar kita, maka wajib waspada akan hal ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela dan menghina para pelaku penyuka sesama jenis ini.
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ﴿٨٠﴾إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas” [Al-A’raf/7: 80-81]
Dalam kisah kaum Nabi Luth ini tampak jelas penyimpangan mereka dari fitrah. Sampai-sampai ketika menjawab perkataan mereka, Nabi Luth mengatakan bahwa perbuatan mereka belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya.
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ
“Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya” [HR Tirmidzi : 1456, Abu Dawud : 4462, Ibnu Majah : 2561 dan Ahmad : 2727]
Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ
“Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad]
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا
“Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)” [HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]

Referensi Almanhaj.or.id.co

Waspadai hadist lemah dan palsu disekitar kita!


Jika suatu saat kita bermaksud membeli sebuah barang di Mal, setelah kita membelinya dan membawanya pulang kerumah, ketika kita membuka bungkusannya ternyata barang yang kita beli itu adalah bajakan tentu kita akan marah dan mengembalikan lagi ketempat membelinya dengan tujuan menukar dengan barang yang asli. Jika dalam perkara jual beli kita ingin mendapat sesuatu yang terbaik, bagaimana dengan perkara Surga?, tentunya kita juga tidak ingin menggunakan ilmu bajakan untuk meraihnya, karena pasti yang kita dapat bukan surga sungguh dengan ilmu bajakan. Termasuk dalam hal ini adalah ilmu agama diantaranya tentang hadist, sedapat mungkin juga dengan melalui pengetahuan hadist sahhih.
Sebagaimana kita bersikap ilmiah dalam perkara-perkara dunia maka kita juga harus bersikap ilmiahlah dalam perkara agama. Jangan mengambil sebuah hukum atau syariat yang bersumber dari hadits lemah apalagi hadits palsu. Atau ikut-ikutan menyebarkan hadits-hadits lemah dan palsu tanpa menjelaskan status hadits itu. Bahkan ada yang dengan mudahnya mengatakan: “Hadits shahih!” padahal hadits tersebut palsu. subhanallah!! Perbuatan seperti ini telah diancam dalam sebuah hadits yang mulia, “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Bukhari juz 1 dan Muslim juz 1). Hadits ini statusnya shahih dan mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan). Betapa banyak hadits lemah dan palsu yang beredar di kalangan umat Islam karena mereka tidak selektif dalam mendengar dan mengambil hadits, akibatnya adalah munculnya masalah dan penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat, beribadah, berakhlak dan berakidah.
Maraknya Hadits Dhoif dan Maudhu’
Di negeri kita ini banyak sekali hadits-hadits lemah dan palsu yang laris di telinga masyarakat. Di samping ketidaktahuan tentang ilmu hadits, banyaknya para da’i yang menggembor-gemborkan hadits-hadits tersebut memberikan andil dalam menyemarakkannya. Salah satu contohnya ialah hadits, “Carilah ilmu sekalipun ke negri Cina.” Hadits ini adalah hadits mungkar dan batil, tidak ada asal usulnya serta tidak ada jalan yang menguatkannya. Demikianlah para imam ahli hadits telah mengomentari hadits ini seperti Imam Bukhari, Al Uqaili, Abu Hatim, Yahya bin ma’in, Ibnu Hibban dan Ibnu Jauzi. Selain dari sisi sanad yang lemah, maka hadits inipun juga memiki cacat dalam maknanya. Sebab negeri maju ketika itu adalah romawi dan persi, bagaimana Rasulullah hendak memerintahkan sahabatnya untuk belajar ke negeri China yang bukan termasuk negeri adidaya? Dan bagaimana pula Rasulullah menyuruh sahabatnya belajar pergi ke negeri kafir yang jelas-jelas akan membahayakan akidahnya? Wallahul musta’an!
Hadits lain yang laris manis adalah hadits, “Perselisihan umatku adalah rahmat.” Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada asal usulnya dan tidak dikenal oleh ahli hadits, artinya mereka tidak pernah mendapati hadits ini baik dalam status shahih, dhaif ataukah maudhu’. Bahkan Imam Ibnu Hazm berkata, “Ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab jika perselisihan adalah rahmat, maka konsekuensinya persatuan adalah azab. Ini tidak mungkin dikatakan seorang muslim. Karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan serta antara rahmat dan azab.”
Contoh sebuah hadits palsu yang terkenal adalah hadits, “Barang siapa yang shalat seratus rakaat pada malam nishfu sya’ban dari bulan sya’ban, ia baca pada setiap rakaat sesudah Al-Fatihah: Qulhu 10X, maka tidak ada seorangpun yang shalat seperti itu melainkan Allah kabulkan semua hajat yang ia minta pada malam itu ….”. Hadits ini palsu (Lihat Al-Maudhu’at karya Imam Ibnul Jauzi) dan menjadi sumber bid’ah dalam peringatan malam nishfu sya’ban, memberatkan umat dengan sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah. Dan beliau sendiri tidak pernah mengucapkan perkataan ini!
***
Referensi "Maraknya hadist palsu", Penulis: Abu Ilyas R. Handanawirya
Artikel web .muslim.or.id

Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq (Edisi Luks)


Fiqih Sunnah Versi Lima Jilid, terbitan Keira Publishing yang menjadi satu-satunya pemegang Copyright kitab "Fiqih Sunnah [4 jilid], dan memiliki hak terjemah dan cetak resmi di Indonesia.
Copyright didapatkan dari Syaikh Mohammed Sayyid Sabiq (putra Syaikh Sayyid Sabiq) sekaligus pemilik dan direktur penerbit Dar El-Fath Lil I'lam El-Arabi, Kairo, Mesir
Adapun daftar bahasan dalam Fiqih Sunnah terbitan Keira, adalah sebagai berikut:
Jilid pertama: memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, seperti pemaparan, hal-hal terperinci mengenai thaharah (bersuci) dan tata caranya, adzan, syarat sah shalat, jenis-jenis shalat, tata cara shalat dalam kondisi tertentu, keistimewaan hari Jumat dan hukum melaksanakan shalat Jumat.
Jilid kedua: melanjutkan pemaparan mengenai ibadah yaitu Khutbah Jumat, shalat Id, zakat, puasa, itikaf, tata cara pengurusan jenazah, serta ditutup dengan pembahasan lengkap tentang doa, zikir, dan shalawat.
Jilid ketiga: masih melanjutkan pemaparan tentang ibadah, yaitu ibadah haji dan tata caranya. Selanjutnya, dipaparkan secara rinci hal-hal tentang pernikahan, seperti ijab kabul, syarat pernikahan, syarat wali, hak antara suami-istri, walimah, khutbah dan doa pernikahan, tabaruj (berhias), poligami, jenis-jenis dan hukum talak, idah dan hak pengasuhan anak.
Jilid keempat: dilanjutkan dengan pembahasan sanksi kriminal, hukum khamar dan narkotika, sanksi zina dan menuduh orang lain berzina, murtad,perampokan dan pencurian, diyat, jihad, jizyah atau pajak, harta rampasan perang, serta perlindungan keamanan bagi non muslim.
Jilid kelima: memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah antarsesama manusia, meliputi hubungan jual-beli, utang-piutang, riba, penyembelihan kurban, akikah, penjaminan, pengadilan, pakaian, wakaf, hibah, pernafkahan, hingga wasiat dan pewarisan.
Harga satu set 700 ribu, harga belum termasuk ongkos kirim, bagi teman yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.

Paham khawarij perlu direhabilitasi


Di inbox saya ada teman curhat tentang keponakannya yang terkena syubhat khawarij ISIS, dan sudah berpuluh kali dinasehati namun tidak ada perubahan, dan saya sampaikan kepadanya agar mengajaknya ke kajian sunnah, karena hanya dengan ilmu dia akan berubah sendiri, dan dengan ilmu dia menjadi tau paham yang sunnah dan mana yang menyelisihinya.
Mendengar ceritanya saya jadi ingat cerita teman kajian yang berprofesi sebagai sipir di penjara Kota Pekanbaru, kata dia disebuah sel ada dua orang tahanan spesial karena keduanya ditangkap di Malasyia ketika akan pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan tentara ISIS, dan dari Malasyia dideportasi kembali ke Pekanbaru. Karena paham dia berbahaya bagi tahanan yang lain dipenjara itu maka dalam berinteraksi selalu diawasi oleh para sipir, termasuk teman saya mengawasi didalam sel dan mungkin dia paling banyak yang ditugaskan oleh atasannya mengawasi keduanya karena dianggap memiliki ilmu agama yang cukup. Maka dalam keseharian kedua tahanan diberi kesempatan mengajari tanahan yang lain tentang ilmu tajwid namun ketika membicarakan tentang jihad dan ISIS langsung ditegur. Kepada kedua orang ini pihak penjara juga mendatangkan seorang ustadz kajian Sunnah agar menasehati mereka dengan disertai dalil2 sahhih, semoga segala upaya itu membuka wawasan mereka tentang jihad yang benar, aamiin.
--------------------------------------------------------------------------
Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?”

Jawab beliau hafizhohullah,
Ya Subhanallah .. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka:
Mengkafirkan kaum muslimin
Keluar dari taat pada penguasa
Menghalalkan darah kaum muslimin
Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya.
[Dinukil dari Fatawa Asy Syar’iyyah fil Qodhoya Al ‘Ashriyyah, hal. 86]
***
Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman.
Salah satu pemimpin besar mereka saat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
“Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih).
Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini.
Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus. Wallahu waliyyut taufiq.

Riyadh-KSA, 15 Rajab 1432 H (16/06/2011)
Sumber referensi ; sifat dari khawarij/rumaysho.co

Thursday, March 16, 2017

Sudah siapkah kita ketika kematian itu datang?


Diceritakan Ustadz Abdullah Zein dalam sebuah kajian beliau, dikisahkan beliau kembali ke Kota Madinah dari Indonesia untuk melanjutkan study S2nya pada th.2006. Ketika menuju komplek Univ.Madinah beliau menaiki sebuah taksi, dan sepanjang perjalanan itu sopir taksi bercerita tentang pengalamannya semalam, selain sebagai sopir taksi dia juga kerja sambilan sebagai satpam di sebuah rumah sakit Kota Madinah. Pada semalam sebelumnya dia mendengar seorang dokter A menyampaikan kepada dokter B perihal keadaan penyakit salah satu pasien, dokter A berkata, " maaf dok kita perlu diagnosis lebih mendalam kepada pasien kita yang satu ini, mungkin besok pagi sudah ada hasil laboratoriumnya, kita akan tau terapi apa yang tepat dengan data itu".
Menjelang pagi diklinik rumah sakit ada berita yang sangat mengagetkan semua pegawai, pagi itu dokter A dikabarkan meninggal dunia semalam, menurut penuturan istri dokter A sepulang dari bekerja begitu masuk rumah dokter A tersungkur dia mendapat serangan jantung dan mati seketika.
Mendengar cerita si sopir itu Ustadz Abdullah Zein merasa prihatin dan menurut beliau inilah bukti bahwa kematian kapan saja datangnya, bahkan seorang dokter sekalipun tidak tau penyakit yang ada pada dirinya adalah penyebab kematiannya. Maka ketika kematian itu datang persiapkan jauh sebelumnya, dan karena kematian tidak pernah mengabari akan datang sehingga seharusnya kita menjaga diri dari perbuatan dosa dan memperbanyak pahala dari amal ibadah yang kita kerjakan.
Kalau setiap hari berbuat dosa apakah itu layak dijadikan bekal?, karena jika lebih banyak dosa yang kita kerjakan artinya dikemudian hari ada azab yang akan kita terima akibat dari perbuatan dosa2 itu, waallahua'lam.

Orang-orang yang munafik (Al-Munāfiqūn):11 - "Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan."

Makhorijul Huruf Hijaiyah


Al Qur’anul Karim adalah Kalamulloh [Firman Alloh] yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril. Al Qur’an merupakan mu’jizat terbesar bagi kaum muslimin yang menjadi sumber segala ‘ilmu baik aqidah, fiqih, nahwu dan penjelas serta pembantah bagi orang yang berbuat durhaka. Bahkan Al Qur’anul Karim pun dapat menjadi obat dan rohmat yang tiada tara. Dan membaca Al Qu’an merupakan ibadah.
Alloh dan Rosul-Nya telah mewajibkan kaum muslimin untuk dapat membaca Al Qur’an dengan tartil.
Alloh Jalla wa ‘ala berfirman,
ورتل القرآن ترتيلا
“Dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil” [Al Muzammil :4].
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya,
mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Al Baqoroh :121].
Dan Firman-Nya :
ورتلناه ترتيلا
“…Dan kami membacanya dengan teratur” [Al Furqon :32].
Maka wajib bagi kita untuk membaca Al Qur’an sesuai dengan apa yang telah Alloh turunkan. Dan tidaklah mungkin seorang muslim dapat membaca Al Qur’an dengan tartil [disertai dengan hukum-hukumnya] kecuali dengan belajar ilmu tajwid. Dan salah satu pembahasan yang penting dalam ilmu tajwid adalah pembahasan tentang makhorijul huruf, yang dengan mempelajari ilmu tersebut kita dapat membedakan satu huruf dengan huruf yang lainnya. Untuk itu marilah kita simak apa itu makhorijul huruf?.
MAKHROJ secara bahasa adalah tempat keluarnya sesuatu. Sedangkan menurut istilah adalah tempat keluarnya huruf dan perbedaan satu dengan yang lainnya.
Dan telah terjadi khilaf [perselisihan] diantara para ulama tentang jumlah makhorijul huruf.
29 makhroj, karena semua huruf mempunyai tempat keluar yang khusus . Mereka berdalil bahwasannya kalau masing-masing huruf itu tidak ada makhroj khusus, maka tidak bisa dibedakan antara satu dengan yang lainnya.
17 makhroj, ini adalah pendapatnya madzhab jumhur diantaranya Imam Ibnul Jazary, Kholil bin Ahmad Al Farohidiy.
16 makhroj, dengan membuang makhoj rongga mulut [Al Jauf] mereka menjadikan “alif” sama keluarnya dengan “hamzah”, “ya” di tengah lisan dan “wawu” di kedua bibir. Dan ini adalah pendapatnya Sibawaih dan Asy Syathibi.
14 makhroj, dengan membuang makhroj Al jauf[ rongga mulut] dan menjadikan huruf “lam”, “ro’” dan “nun” satu makhoj dan ini adalah pendapatnya Ibnu Kaisan, Qurthub, Al Jarmy, Ibnu Ziyad dan Al Faro’.
Dari pendapat-pendapat ini yang rojih adalah pendapat jumhur. Kemudian dari 17 makhroj ini terbagi menjadi lima bagian, yaitu :
1). AL JAUF [rongga mulut, yakni celah panjang yang berada di belakang tenggorokan sampai ke mulut. Keluar darinya huruf-huruf mad yaitu ا و ي
Terkumpul dalam kalimat : نوحيها - أونينا - أتجا د لونني
2). AL HALQ [tenggorokan] , yang terbagi menjadi 3 bagian:
Tenggorokan bagian bawah, keluar darinya huruf ء dan ه
Tenggorokan bagian tengah, keluar darinya huruf ح dan ع
Tenggorokan bagian atas, keluar darinya huruf غ dan خ
3). AL LISAAN [lisan], dibagi menjadi 10 bagian :
Pangkal lisan dengan langit-langit atas, keluar darinya huruf ق
Bawah pangkal lisan dengan langit-langit atas, keluar darinya huruf ك
Tengah lisan dengan langit-langit atas, keluar darinya huruf ش, ي dan ج
Salah satu tepi lisan sampai pada ujungnya berpapasan dengan langit-langit atas, keluar darinya huruf ل
Tepi lisan bertemu dengan gigi geraham dan langit langit atas, keluar darinya huruf ض
Ujung lisan di bawah makhroj ل bertemu dengan bagian atas dari langit-langit atas, keluar darinya huruf ن
Punggung lisan denga gusi atas, keluar darinya huruf ر
Ujung lisan dengan antara ujung dua gigi atas dan bawah [ dengan tetap ada lubang [celah] diantara keduanya yaitu antara ujung lisan dan 2 gigi atas dan bawah], keluar darinya huruf ص, س dan ز
Ujung lisan bertemu dengan pangkal dua gigi atas, keluar darinya huruf ط ,د dan ت
Ujung lisan bertemu dengan ujung dua gigi atas, keluar darinya huruf ث, ذ dan ظِ
4). ASY SYAFATAAN [kedua bibir], yang terbagi menjadi 4 bagian :
Perut bibir bawah bertemu dengan ujung dua gigi atas, keluar darinya huruf ف
Bertemunya antara bibir atas dan bawah dengan sedikit menekan, keluar darinya huruf ب
Bertemunya antara bibir atas dan bawah dengan menekan sedikit lebih ringan, keluar darinya huruf م
Bertemunya antara bibir atas dan bawah namun ada sedikit rongga, keluar darinya huruf و
5). AL KHOYSYUUM [Batang hidung], keluar darinya sifat ghunnah [ dengung], yaitu mim [م] dan nun [ ن ] yang bertasydiid, urutannya ada 5 yaitu:
Syiddah
Naaqis
bighunnah
Ikhfa’
Sukun Berharokat.

Maroji’ :
- Panduan Praktis Tajwid & bid’ah–bid’ah seputar
- Al Qur’an serta 250 Kesalahan dalam Membaca Al Fatihah oleh Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashory.
-oOo-
Bab Makhorijul huruf adalah salah satu bab yang sangat penting dalam ilmu tajwid.
Makhroj (المخرج) secara bahasa adalah: “Tempat keluar” (محل خروج).
Dan secara istilah adalah :
محل خروج الحرف وتمييزه من غيره
“Tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan
huruf yang lainnya.”.
Tempat-tempat keluarnya huruf ini dibagi secara umum dan secara khusus.
Tempat-tempat keluarnya huruf secara umum ada 5 :
Rongga mulut (الجوف)
Tenggorokan (الحلق)
Lidah (اللسان)
Dua bibir (الشفتين)
Rongga hidung (الخيشوم)
Adapun tempat-tempat keluarnya huruf secara rinci ada 17 :
Rongga mulut (huruf mad yang tiga : ا،و،ي)
Pangkal tenggorokan (ء،ه)
Tengah tenggorokan (ع،ح)
Ujung tenggorokan (غ،خ)
Pangkal lidah paling belakang (ق)
Pangkal lidah sedikit ke depan (ك)
Tengah lidah dengan langit-langit (ج،ش،ي)
Sisi lidah bertemu geraham atas (ض)
Dibawah sisi lidah setelah dhad (ل)
Ujung lidah setelah lam (ن)
Ujung lidah setelah nun (ر)
Ujung lidah bertemu gusi atas (ط،د،ت)
Ujung lidah bertemu ujung gigi depan yang atas (ظ،ذ،ث)
Ujung lidah diantara gigi atas dan gigi bawah (lebih dekat ke bawah) (ص،س،ز)
Bibir bawah bagian dalam bertemu ujung gigi atas (ف)
Dua bibir (و،ب،م)
Rongga hidung (ghunnah/ dengung)
Berikut file flash makhorijul huruf untuk memudahkan dalam belajar, yang ana dapatkan dari baiyt-essalafyat, semoga bermanfaat..
>> Download file Flash nya <<
[Sumber : Posting oleh Ummu Shofa]
Maroji’ :
al-Khulashoh min Ahkamit tajwid, Abu Azzam Khumais bin Nashir al-Umari
Bimbingan Tahsin dan Tajwid, Abu Abdil Haq
Syarh al-Muqoddimat al-Jazariyyah, DR Ibrohim bin Said ad-Dausari
Forum Baiyt-essalafyat.

Alquran adalah sebuah pelajaran


Kemarin hari jumat ada teman saya baru pertama kali menjadi Khatib Shalat jumat untuk pertama kalinya di Masjid desa kami, tema yang dibawakan adalah menjaga diri dan keluarga dari siksaan api neraka, Ketika mengawali khutbahnya ada sekelompok jamaah pengembara masuk masjid mungkin mereka akan berangkat ke sebuah daerah, karena temanya adalah menjaga keluarga tentu berlawanan dengan sedang mereka lakukan, justru mereka meninggalkan keluarga dengan alasan dakwah sekalipun. Maka selama jalannya khutbah mereka terlihat gelisah, apalagi ketika teman saya sebutkan Surat At Tahrim 6 beserta tafsirnya dari Ibnu Katsir, makin kelihatan mereka sangat gelisah, nengok kanan kiri, karena dalam tafsir ayat itu disebutkan kewajiban setiap kepala keluarga agar selalu menjaga keluarganya berada dijalan yang diridhoi oleh Allah. Dan puncak kegelisahan mereka terlihat ketika shalat jumat dilaksanakan, begitu imam mengucapkan salam langsung mereka kabur.
Padahal ciri mukmin sejati harusnya ketika mendengar sebuah ayat disampaikan dia dapat mengambil pelajaran dari ayat itu kemudian amalkan, kenapa alergi kepada perkataannya Tuhannya???. Dan sebaliknya jika ingkar kepada ayat2 Alquran mereka sangat sedikit mengambil pelajaran darinya, waallahua'lam.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? [al-Qomar/54:17]
TAFSIR AYAT:
Al-Qur`ân adalah cahaya yang menerangi umat manusia di dunia ini. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur`ân) [an-Nisâ/4:174]
Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah mengatakan, “Tidak diragukan lagi, bahwa al-Qur`ân al-‘Azhîm merupakan cahaya yang diturunkan Allâh k ke dunia untuk menjadi sumber pelita. Melalui cahaya itu, diketahui perbedaan antara kebenaran dan kebatilan, yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang berbahaya serta perkara hidayah dan kesesatan”.
Allah Azza wa Jalla telah memuji orang-orang yang beriman karena mereka mengkuti al-haq dalam firmannya:
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, [a-Ra’d/13:19]
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang makna ayat ini: “Maka tidaklah sama orang yang meyakini kebenaran yang engkau bawa –wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dengan orang yang buta, yang tidak mengetahui dan memahami kebaikan. Seandainya memahami, dia tidak mematuhinya, tidak mempercayainya, dan tidak mengikutinya”
Sumber referensi almanhaj or id.co

Peliharalah rasa takut kepada Allah Azza Wajalla.


Mungkin dulu ada disebuah waktu kita adalah pelaku berbagai kemaksiatan, pernah meghiasi biografi kita dengan perbuatan maksiat, sisi lembar hitam yang pernah lakukan, mungkin disuatu ketika kita pernah mencari tempat-tempat sepi agar kemaksiatan yang pernah kita lakukan tidak terlihat oleh orang lain. Sesungguhnya saat itu rasa takut kita kepada Allah Azza Wajalla tengah tercabut dan digantikan rasa takut kepada orang lain.
Maka untuk menjaga agar selalu istiqomah dalam amal ibadah peliharalah rasa takut kepada Allah Azza Wajalla, insyaAllah sikap ketaatan akan mengikutinya. Karena rasa takut kepada Allah Azza Wajalla yang ada pada diri seseorang akan menjauhkan dirinya dari perkara-perkara yang tidak diridhoi oleh Allah Azza Wajalla dan kemudian punya harapan besar kepada Allah Azza, hal ini menimbulkan semangat dan tekad dalam menempuh ketaatan kepada Allah Azza Wajalla. Seseorang yang takut kepada Allah Azza Wajalla akan melihat sesuatu yang hanya diridhoi oleh Allah Azza Wajalla, hanya mendengar sesuatu yang diridhoi oleh Allah Azza Wajalla, berbicara hanya membicarakan hal yang diridhoi oleh Allah Azza Wajalla, juga melakukan segala sesuatu yang diridhoi oleh Allah Azza Wajalla.
Maka akan kita jumpai orang yang mampu menahan diri untuk berbuat maksiat dan ada juga orang yang mudah melakukan kemaksiatan, kedua keadaan ini pembedanya adalah kadar rasa takut kepada Allah Azza Wajalla yang ada masing2 orang.
Sesungguhnya ketakutan seseorang kepada Allah Azza Wajalla adalah benteng iman yang kokoh sehingga setan sulit mmbisikkan tipu dayanya.

Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44).
Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah, salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc

Friday, March 10, 2017

Siapakah yang patut disebut dengan"ulama"?.


Di negri kita banyak orang dengan mudah melekatkan panggilan ulama kepada seseorang, padahal istilah ulama harusnya memenuhi kaidah khusus sehingga seseorang patut disebut dengan panggilan ulama. Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah menjelaskan soal ini, "ulama adalah pewaris para Nabi, yang dimaksud adalah pewaris ajaran-ajaran Nabi. Sebagaimana statusnya yang sebagai pewaris maka dia punya kewajiban menjaga keaslian serta kemurnian ajaran Nabi, juga karena hanya pewaris dengan sendirinya tidak berhak sedikitpun merubah-rubah ajaran Nabi. Jika suatu saat kita temukan seseorang yang disebut ulama namun bertindak merubah-rubah ajaran Nabi, yang semula di halalkan kemudian dia haramkan ataupun sebaliknya yang harusnya haram kemudian dia halalkan, sejatinya dia bukanlah seorang ulama, karena dia bukan pewaris ajaran Nabi, jangan diikuti orang yang seperti ini."
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)
Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali mengatakan: “Kebijaksanaan Allah atas makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas mereka. Maka barang siapa yang mendapat hidayah maka itu wujud fadhilah (keutamaan) dari Allah dan bentuk rahmat-Nya. Barangsiapa yang menjadi tersesat, maka itu dengan keadilan Allah dan hikmah-Nya atas orang tersebut. Sungguh para pengikut nabi dan rasul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal shalih pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka. Sungguh Allah telah menegakkan hujjah melalui mereka atas setiap umat dan suatu kaum dan Allah merahmati dengan mereka suatu kaum dan umat. Mereka pantas mendapatkan pujian yang baik dari generasi yang datang sesudah mereka dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kejujuran dan doa-doa yang barakah atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya atas mereka dan semoga mereka mendapatkan balasan yang lebih dan derajat yang tinggi.” (Al-Manhaj Al-Qawim fi At-Taassi bi Ar-Rasul Al-Karim hal. 15)
Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin. Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya. Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 140)
Referensi dr Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi Judul: Ulama Pewaris nabi, di
quransunnah.wordlpress.co