Wednesday, January 30, 2019

PAJAK DILARANG DALAM ISLAM



Oleh Siswo Kusyudhanto

Beberapa waktu yang lalu ada teman di Amerika bertanya tentang harga mobil di Indonesia, setelah mencari dibeberapa lapak jual beli mobil saya kirim fotonya beserta harga, yakni beberapa jenis mobil matic umur 2-3 tahun pakai alias second, harganya sekitar 100-150 juta rupiah, ketika dia melihat harganya dia terkaget-kaget, dia berkata, " mahal sekali harganya, dan jenis mobilnya juga saya tidak kenal, kalau di Amerika harga mobil second umur 2-3 tahun seperti Ford double cabin atau Chevrolet cc besar cuma 5000 dollar US atau kalau dirupiahkan cuma 70,600,000 rupiah.
Artinya dengan harga satu mobil second di Indonesia dapat dibelikan dua mobil yang secara spesifikasi jauh diatas mobil di Indonesia.

Tentu saja saya jelaskan kenapa bisa semahal itu, penyebabnya pajak mobil yang masuk ke Indonesia sangat tinggi, mobil termasuk dalam golongan barang mewah dan pajaknya yang diterapkan kepada mesin dan onderdil mobil sangat tinggi, pada akhirnya harga jual mobil sangat mahal di Indonesia.
Jadi makin paham kenapa pajak dilarang dalam Islam, harga akhir jadi jauh dari harga sebenarnya akibat penerapan pajak tinggi pada barang yang diperjual belikan.

Dalam sebuah sesi pembekalan Ustadz Erwandi Tarmidzi diundang disebuah acara semacam seminar yang diikuti oleh Kepala Pajak se Jabotabek, sebelum acara ustadz bertanya kepada panitia, "bolehkah saya sampaikan ke mereka bahwa secara syariat pegawai pajak adalah pekerjaan terlarang, seseorang yang bekerja dibidang pajak tidak akan masuk surga?", dan si panitia menjawab, " silahkan ustadz, gak apa2".

Maka ketika diawal penyampaiannya Ustadz Erwandi Tarmidzi menyampaikan:

Islam tidak membenarkan berbagai pungutan yang tidak didasari oleh alasan yang dibenarkan, diantaranya ialah pajak. Pajak atau yang dalam bahasa arab disebut dengan al muksu adalah salah satu pungutan yang diharamkan, dan bahkan pelakunya diancam dengan siksa neraka:

إِنَّ صَاحِبَ المُكْسِ فِي النَّارِ. رواه أحمد والطبراني في الكبير من رواية رويفع بن ثابت رضي الله عنه ، وصححه الألباني
“Sesungguhnya pemungut upeti akan masuk neraka.” (Riwayat Ahmad dan At Thobrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir dari riwayat sahabat Ruwaifi’ bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, dan hadits ini, oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shahih.)

ketika disampaikan demikian tiba2 situasi di tempat itu sangat sunyi.

Dan setiap disampaikan demikian selalu muncul pertanyaan jadul, " Kalau gak ada pajak dalam sebuah negara, terus membiayai operasional negara dari mana sumbernya?'.

Kata Ustadz, " Ya akhi, apakah anda tau Negara Arab Saudi?, disana tidak ada pajak, semua pembiayaan negara dari sumber daya alam mereka.

Lihat jika anda umroh maka anda akan lihat jalan2 tol yang berkilo-kilo meter, bahkan puluhan kilometera kita tempuh, dan itu gratis gak bayar. Bandingkan dengan negara kita, hanya untuk menempuh jalan tol lima kilo meter saja kita disuruh bayar. Kalau ada yang berdalih bahwa itu disebabkan Arab Saudi didalam tanahnya ada minyak, maka ini dalih yang kurang benar, karena jika Arab Saudi punya minyak didalam tanahnya, kita malah punya minyak dibawah tanah dan diatas tanah berupa kebun sawit, kebun kopi, dst, lahan pertanian kita jauh lebih luas dari mereka. soal, kekayaan alam di negri kita jauh lebih besar, masalahnya dikemauan saja, makanya mari kita dakwahkan ke mereka yang memimpin negri ini agar menggunakan cara Islami dalam penyelengaraan Negara, sehingga tidak ada pungutan pajak seperti sekarang ini, yang terlarang secara syariat".

HANYA ORANG BERIMAN YANG BERSIKAP "SAMINA WATHO'NA".




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menjelaskan kaidah dan adab beragama yang membedakan mana orang beriman dan mana orang munafik bahkan kafir.
Beliau mengatakan, " Dalam banyak ayat di Al-Qur'an sering kita temukan panggilan Allah Azza wa Jalla kepada orang beriman, seperti wahai orang beriman, atau semacamnya, hal ini menunjukkan bahwa syariat Allah dan RasulNya hanya ditunaikan oleh orang-orang yang beriman dan berlaku kepada mereka saja, sementara orang yang kufur kepada syari'at Allah dan RasulNya ketika disampaikan perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla mereka menimbang dahulu dengan akal dan untung ruginya, jika syariat itu menguntungkan baginya maka dia kerjakan jika tidak menguntungkan baginya maka dia tinggalkan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman yakni ketika disampaikan syariat Allah dan RasulNya berkata "Samina watho'na, saya dengar dan saya taati", karena orang beriman yakin perintah dan larangan Allah dan RasulNya menyelamatkan mereka meskipun mungkin itu sangat sulit diamalkan, aamiin."
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An Nuur [24]: 51)
Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa sesungguhnya sifat orang yang benar-benar beriman (yaitu yang imannya dibuktikan dengan amalan) apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Rasul memberikan keputusan di antara mereka niscaya mereka akan mengatakan, “Kami dengar dan kami taati”, sama saja apakah keputusan tersebut dirasa cocok ataupun tidak oleh hawa nafsu mereka. Artinya mereka mendengarkan keputusan hukum Allah dan Rasul-Nya serta memenuhi panggilan orang yang mengajak mereka untuk itu. Mereka taat dengan sepenuhnya tanpa menyisakan sedikitpun rasa keberatan.
Hakikat kebahagiaan adalah bisa meraih perkara yang diinginkan dan selamat dari bahaya yang ditakutkan. Dan Allah pun membatasi kebahagiaan hanya ada pada orang-orang seperti mereka. Sebab orang tidak akan pernah berbahagia tanpa berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya (lihat Taisir Karim Ar Rahman, hal. 572)
Sumber Referensi, "Delapan Kaidah Muslim dan Muslimah", karya Ari Wahyudi di Muslim.or

Monday, January 28, 2019

INI SALAH SATU SEDEKAH ATAS NAMA ORANG TUA YANG SESUAI SUNNAHNYA



Oleh Siswo Kusyudhanto
Alhamdulillah hari ini sudah membagi Mushaf Al-Qur'an ke berbagai tempat seperti Mushola, Masjid dan kelompok bacaan Al-Qur'an, membantu mendistribusikan sumbangan/sedekah seorang teman dengan mengatas namakan orang tuanya, semoga pahala para pembacanya terus mengalir kepada kedua orang tua yang sudah wafat, Aamiin.
Totalnya sejumlah 90 Mushaf, dan terkirim mulai dari sekitar Kota Pekanbaru, Lampung, Indramayu, sampai Pondok Pesantren di Kota Ambon.
Memang seharusnya demikian sikap seorang anak, bersedekah atas nama orang tua adalah salah satu cara berbakti kepada kedua orang tua jika keduanya telah wafat. Waalahua'lam.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أُمّـِيْ افْـتُـلِـتَتْ نَـفْسُهَا (وَلَـمْ تُوْصِ) فَـأَظُنَّـهَا لَوْ تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَـهَلْ لَـهَا أَجْـرٌ إِنْ تَـصَدَّقْتُ عَنْهَا (وَلِـيْ أَجْـرٌ)؟ قَالَ: «نَعَمْ» (فَـتَـصَدَّقَ عَـنْـهَا).
Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba (dan tidak memberikan wasiat), dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya (dan aku pun mendapatkan pahala)? Beliau menjawab, “Ya, (maka bersedekahlah untuknya).”
[Shahîh, HR al-Bukhari (no. 1388), Muslim (no. 1004), Ahmad (VI/51), Abu Dawud (no. 2881), an-Nasa-i (VI/250), Ibnu Majah (no. 2717), dan al-Baihaqi (IV/62; VI/277-278).]
Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam Ahkâmul-Janâ-iz (hlm. 217), “Redaksi ini milik al-Bukhari di salah satu dari dua riwayatnya, tambahan yang terakhir adalah miliknya dalam riwayat lain. Juga Ibnu Majah dimana tambahan kedua miliknya, sedangkan tambahan pertama milik Muslim.”
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma :
أَنَّ سَعْـدَ بْنَ عُـبَـادَةَ -أَخَا بَـنِـيْ سَاعِدَةِ- تُـوُفّـِيَتْ أُمُّـهُ وَهُـوَ غَـائِـبٌ عَنْهَا، فَـقَالَ: يَـا رَسُوْلَ اللّٰـهِ! إِنَّ أُمّـِيْ تُـوُفّـِيَتْ، وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، فَهَلْ يَنْـفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ بِـشَـيْءٍ عَنْهَا؟ قَـالَ: نَـعَمْ، قَالَ: فَـإِنّـِيْ أُشْهِـدُكَ أَنَّ حَائِـطَ الْـمِخْـرَافِ صَدَقَـةٌ عَلَـيْـهَا.
Bahwasanya Sa’ad bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– ditinggal mati oleh ibunya, sedangkan ia tidak berada bersamanya, maka ia bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan aku sedang tidak bersamanya. Apakah bermanfaat baginya apabila aku menyedekahkan sesuatu atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau saksi bahwa kebun(ku) yang berbuah itu menjadi sedekah atas nama ibuku.”
[Shahîh. HR al-Bukhari (no. 2756), Ahmad (I/333, 370), Abu Dawud (no. 2882), at-Tirmidzi (no. 669), an-Nasa-i (VI/252-253), dan al-Baihaqi (VI/ 278). Lafazh ini milik Ahmad.]
Sumber Referensi," Sedekah untuk orang tua yang sudah meninggal dunia", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas.

PENGEN SELAMAT CUMA MODAL AKAL ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ngeri lihat video ada seorang budayawan ngomong soal agama lalu mengatakan "agama itu pakai akal, yang di Al-Qur'an dan Hadist itu cuma yang tersurat, sementara Allah suruh kita cari yang tersirat dengan akal kita", dan perkataan itu dengar banyak orang yang awam soal ini, subhanAllah. Bagaimana caranya selamat hanya dengan modal akal?.
Jadi teringat perkataan seorang ustadz kajian Sunnah, beliau mengatakan, " dahulu kala para nelayan jika berada ditengah lautan dan tidak tau arah maka mereka melihat gugusan bintang di langit untuk mengetahui posisi mereka dan arah mana yang akan mereka tempuh, dengan perkembangan teknologi saat ini nelayan dapat menggunakan kompas bahkan juga GPS untuk dapat mengetahui posisi mereka dan arah haluan kapal.
Begitu pentingnya petunjuk dalam urusan mencari ikan bagi para nelayan, namun jauh lebih penting lagi yakni petunjuk kehidupan, dan petunjuk yang hak adalah Al-Qur'an dan Sunnah (Hadist), bahkan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam menjamin siapa saja yang berpegang teguh kepada keduanya, yakni menggunakan keduanya untuk petunjuk bagi kehidupan didunia dan juga akhiratnya tidak akan dia tersesat.
Karena dengan petunjuk dalam Al-Qur'an dan Hadist kita dapat mengetahui mana yang hak dan yang bathil, mana Tauhid dan mana Syirik, mana Sunnah dan mana Bid'ah, mana muamalah yang halal dan mana yang riba, dan seterusnya, waalahua'lam."
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13)
Sumber Referensi,"Kaidah Penting Memahami Al-Qur'an", oleh Ustadz Muslim Atsyari di Muslim.or

Saturday, January 26, 2019

LINGKUNGAN PEMAHAMAN SUNNAH INSYAALLAH AMAN

Lingkungan pemahaman Sunnah memang bikin aman, suasana kios di lingkungan Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru, ketika masuk shalat dhuhur ditinggal begitu saja, dan insyaallah aman

PERLUNYA BERDOA AGAR ISTIQOMAH


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, " Jika Allah Azza wa Jalla menghendaki seseorang untuk Istiqomah diatas ketaatan dan keimanan maka 1000 preman yang datang kepadanya tak dapat sedikitpun dapat menyesatkannya. Sebaiknya jika Allah Azza wa Jalla sudah menyesatkan seseorang maka jika dikirim kepadanya 1000 ulama untuk memberinya nasehat tak dapat sedikitpun dapat membuat dia kembali kepada ketaatan dan keimanan kepada Allah Azza wa Jalla.
Oleh karena itu pentingnya kita selalu berdoa memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar selalu diberikan hidayah yang kemudian membuat kita istiqomah berada diatas ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam yang manusia jelas ma'shum, bersih dari dosa dan kesalahan saja selalu berdoa agar diteguhkan diatas agama Islam, apalagi kita yang seringkali berbuat kesalahan dan dosa tentu jauh lebih perlu berdoa untuk selalu Istiqomah diatas ketaatan dan keimanan. Waalahua'lam."
Doa yang paling sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini Sahhih.)
Sumber Referensi,"Jika Badai Menghadang", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di web rumoysho

Friday, January 25, 2019

SAMBIL NUNGGU MATI KITA SIAPKAN BEKAL APA ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kemarin pagi dikirimi rekaman nasehat dari Ustadz Firdaus, beliau adalah pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Al Markiz Lipat Kain, Kampar. Isi tentang kematian dan persiapan menunggu datangnya kematian, kemudian bekal apa yang akan kita bawa ketika dijemput kematian itu, dan terakhir beliau nasehatkan agar menyiapkan bekal sebaik mungkin yaitu berupa amal ibadah yang pasti berguna kelak di alam kubur dan akhirat. MasyaAllah, syukron atas nasehatnya ustadz, jazakallahu khairan sangat bermanfaat.
Memang pada dasarnya kita hidup cuma menunggu datangnya kematian, dan kematian pasti datang kepada kita cepat atau lambat, dan ketika kematian datang kepada kita tidak ada satupun yang dapat menghalanginya, bersembunyi di manapun juga kematian pasti datang jika sudah waktunya.
Masalah terbesar bagi kita adalah ketika sedang menunggu kematian datang kita isi dengan apa?.
Banyak diantara kita ketika hidup dan dalam proses menunggu mati itu diisi dengan perbuatan yang tidak dapat menjadi bekal yang berguna kelak, bahkan justru menjadi fitnah baginya kelak, banyak diantara kita dalam waktu menunggu datangnya kematian justru diisi dengan banyak perbuatan dosa, dan segala bentuk kemaksiatan, atau justru diisi dengan kegiatan bersusah payah mengejar dunia yang kelak ketika kita kumpulkan sangat banyak namun akhirnya ditinggal juga di dunia, sebuah perbuatan sia-sia belaka.
Dan mungkin sangat beruntung seseorang yang menunggu kematian datang dia sibuk beramal ibadah dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
Jikapun ia sibuk bekerja mengumpulkan harta dia akan gunakan hartanya itu dijalan Allah Azza wa Jalla dalam bentuk zakat dan sedekah.
Atau jika dia sibuk mendapatkan kekuasaan dia gunakan kekuasaannya untuk mengajak banyak orang kepada ketaatan pada Allah dan RasulNya.
Menjadi pertanyaan bagi masing-masing dari kita, ketika sedang menunggu datangnya kematian kita disibukkan oleh apa?, Karena itu adalah bekal kita untuk menjalani kematian, alam kubur dan setelahnya yakni akhirat.
Waalahua'lam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran:185].
Sumber Referensi almanhaj.or

SYARIATNYA MEMANG MENIKAH !


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada dulu saya punya teman yang bertekad seumur hidupnya membujang dan tidak menikah, alasannya dengan membujang hidup lebih praktis, tidak ada tanggung jawab kepada orang lain, soal makan dan kebutuhan hidup hanya untuk diri sendiri, gak ribet. 
Ketika masih umur 25 tahun sumpahnya di sampaikan kepada teman lainnya, sampai sekitar umur 35 tahun dia bertahan untuk hidup membujang namun justru ketika masuk umur 35 tahun hidupnya mulai tidak tentu arah, hidupnya dari satu kostan ke kostan yang lain, dan hari-harinya selain disibukkan dengan bekerja diluar itu dia habiskan dengan bermaksiat, seperti minum-minuman beralkohol dan untuk menutup syahwatnya dia berzina dengan wanita nakal, subhanaAllah.
Sampai pada suatu hari dia merasakan kemaksiatan yang dia lakukan tidak pernah merasa nikmat sama sekali, karena segala jenis minuman beralkohol dari harga paling murah sampai yang paling mahal dia pernah rasakan, dan juga model wanita seperti apapun pernah dia kencani, namun tiba-tiba semua itu tidak terasa nikmat sama sekali, lalu berkata, "sepertinya saya harus menikah, saya ingin memperbaiki hidup saya'.
Tak lama berselang dia melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita baik-baik dan setahun kemudian dikaruniai seorang anak, dan ketika terakhir bertemu dia mengatakan," saya menyesal", saya bertanya heran."kenapa kok menyesal? sepertinya kalian berbahagia?". dia menjawab, " saya menyesal kenapa tidak menikah sejak dulu kalau tau nikmatnya menikah dan berumah tangga", masyaAllah.
Jadi teringat kajian seorang ustadz, beliau mengatakan syariat Allah dan RasulNya pasti sejalan dengan fitrah manusia. Lihat jika ada agama yang mengharuskan pendetanya membujang selamanya dengan asalan mengekang syahwat mereka, namun apa yang terjadi kemudian?, maka banyak terjadi perzinahan dikalangan pendeta itu, apa sebabnya?, karena fitrahnya manusia adalah menikah, bukan membujang selamanya, Allah Azza Wa Jalla paling mengetahui kelebihan dan kelemahan makhluknya maka Allah berikan syariat menikah dalam Islam, waalahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 32).

KEWAJIBAN SEORANG SUAMI ADALAH MEMBERI NAFKAH KEPADA ISTRI, BUKAN SEBALIKNYA

.
Oleh Siswo Kusyudhanto
Angka perceraian di Indonesia saat ini sungguh sangat mengkuatirkan, dari tahun ke tahun angkanya makin besar.
Berdasarkan data tahun 2016 lalu, setidaknya ada sekitar 350 ribu kasus perceraian di Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag, Prof Muhammadiyah Amin. Menurut dia, pada 2017 lalu angka perceraian juga masih terhitung tinggi, walaupun datanya belum ada. "Perceraian tahun 2017 belum ada datanya, tapi kalau data tahun 2016 sebesar 350 ribuan," ujar Muhammadiyah saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (21/1).
Menurut beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyebab perceraian disebabkan dominan faktor ekonomi, kebanyakan wanita mengajukan khullu'(cerai) karena dianggap pihak suami tidak menafkahi mereka dengan layak. Hal ini disebabkan oleh makin banyaknya wanita yang bekerja dan tidak begitu bergantung kepada kaum lelaki, sementara disisi lain banyak lelaki yang tidak mampu memberikan kecukupan materi kepada keluarganya, alias kurang bertanggung jawab.
Dan tidak jarang banyak para istri bekerja di luar negeri menjadi TKW, disebabkan suaminya tidak dapat memenuhi kewajibannya memberi nafkah kepada keluarganya.
Jadi teringat beberapa waktu lalu ada Ustadz membahas soal ini, beliau menyebutkan bahwa kita harus berhati-hati ketika memilih pasangan hidup, lihat bagaimana calon pasangan hidup kita itu, apakah akan membuat kita bahagia ketika hidup bersamanya atau malah justru membuat diri kita menderita dan menyesal kemudian hari. Lihat akhlaknya dan lihat agamanya, dua hal ini adalah pertimbangan pokok agar ketika hidup berumah tangga kita mendapatkan hidup bahagia.
Aspek akhlak dan agama ini termasuk soal kewajiban memberi nafkah, karena jika akhlak dan agama bagus kemungkinan besar seorang suami akan berusaha memenuhi kewajibannya menafkahi keluarga, ini karena dalam Islam sudah diatur bahwa kewajiban suami adalah memberikan nafkah yang layak kepada istrinya dan juga anak-anak nya.
Waalahua'lam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya. Allah tidaklah memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” [Ath Thalaq : 7].
Juga firmanNya.
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik”.[Al Baqarah : 233].
Jabir mengisahkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
اتَّقُوْا اللهَ فِيْ النِّسَاءِ، فَإِنَّهُنَّ عوان عِندَكُمْ، أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَ اسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ ، وَ لَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالمَعْرُوْفِ
“Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita. Sesungguhnya mereka ibarat tawanan di sisi kalian. Kalian ambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan rezki dan pakaian dari kalian”.(HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi.)
Mayoritas ulama, diantaranya Ibnu Qudamah, berpendapat bahwa kewajiban suami memberi nafkah juga berlaku bagi isterinya dari kalangan wanita Kitabiah (Ahlul Kitab) jika ia memiliki isteri dari golongan mereka, berdasarkan keumuman nash-nash yang mewajibkan suami memberi nafkah isteri.
(Ahkamuz Zawwaj, hlm. 280.)
Sumber Referensi, "Nafkah untuk Sang Istri", dr web almanhaj.or

Tuesday, January 22, 2019

PERLOMBAAN YANG TIDAK ADA GARIS FINISHNYA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dengar kabar kalau ada salah satu konsumen saya yang seorang Bupati tertangkap tangan disebuah daerah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK), beliau terlibat penyalahgunaan lahan hutan menjadi kebun sawit, dan bekerja sama dengan sebuah perusahaan sawit nasional, nilainya puluhan miliar rupiah, subhanAllah.
Padahal saya masih ingat konsumen saya yang bupati itu sudah sangat kaya, rumah beliau ada dibeberapa kota, juga semua anaknya masing-masing dibuatkan rumah besar lengkap dengan mobil juga, perusahaan dan usaha beliau sudah memilikinya juga. Kalau difikir apa yang dicari dengan berbuat korupsi semacam itu?, padahal bahayanya bukan sedikit, selain resiko ditangkap KPK, nama baik hancur di masyarakat, belum lagi di akhirat ancaman azabnya atas tindakan dia yang tidak amanah terhadap masyarakat banyak?.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, "Satu-satunya perlombaan yang tidak ada garis finishnya adalah perlombaan mengejar dunia, garis startnya jelas, namun garis finishnya entah dimana, karena sifat dunia adalah selalu merasa kurang, tidak mengenal kata cukup, jika ditangan menggenggam 1 juta maka seorang manusia ingin mendapatkan 1 juta lagi dan begitu seterusnya, bahkan andai ditangan ada uang 1 milyar maka manusia cenderung mencari 1 milyar lainnya.
Perlombaan mengejar dunia ini mengakibatkan banyak manusia tidak peduli lagi tentang cara dalam mencapainya, entah halal atau haram.
Maka dengan sifat manusia demikian Allah Azza Wa Jalla menurunkan agama bagi manusia untuk mengekang syahwat manusia terhadap dunia. Waalahua'lam."
Dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)
Sumber Referensi " Manusia Tidak pernah Puas dengan Harta", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. di rumoysho.co

Monday, January 21, 2019

Sedekah para donatur



Jadi terharu melihat buku sumbangan dr para donatur sampai daerah pelosok di Desa Alai Selatan, Selatpanjang, Kepulauan Meranti, naik speed boat kira2 3 jam dari Pekanbaru, meskipun Musholla lantai dan dindingnya papan kayu namun semangat belajar agama mereka patut menjadi contoh anak perkotaan.
Saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman donatur yang sudah menyisihkan harta mereka guna pengadaan Mushaf dan buku bagi anak-anak ini semoga pahala akan mengalir terus menerus kepada donatur selama ilmu dan bacaan Mushaf Al-Qur'an diamalkan para anak-anak ini, aamiin.
Bagi teman-teman yang ingin ikut serta dalam donasi dakwah kami bisa menghubungi saya di WA 081378517454, syukron.

SESAT KOK BAIK YAA ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, "Antum tau kenapa pemurtadan di Indonesia ini berhasil?, Sebab utamanya karena para misionaris yang memurtadkan banyak umat Islam di negri ini mendasarkan dakwahnya kepada akhlak yang baik, mereka suka membantu masyarakat luas terutama Umat Islam, mereka tidak pelit membantu dalam hal materi seperti sembako, bea siswa, dan seterusnya, dan yang paling menarik bagi masyarakat mereka selalu ramah, mereka baik dan menarik secara penampilan, namun mereka menyesatkan orang. Tentu orang awam kebanyakan yang di temui oleh mereka akan bertanya-tanya - mereka katanya sesat tapi kok baik yaa?-, dari sanalah awal dimulai pemurtadan kaum misionaris.
Maka bagi kita yang Umat Muslim, golongan pembawa agama yang hak dan yang benar harusnya dalam hal kebaikan akhlak dan keramahan diatas para misionaris itu, hanya dengan demikian dakwah agama Islam akan berhasil disebarkan dikalangan umat manusia.
Jangan sampai kita kalah dalam hal kebaikan akhlak dari orang yang jelas kafir.
InsyaAllah dengan demikian Islam akan berjaya di negri ini, waalahua'lam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad 2/381, shahih)
Dalam suatu hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan do’a,
اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ
“Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut kecuali Engkau)” (HR. Muslim no. 771).
Sumber Referensi, "13 Akhlak Utama Shalafus Sholih", karya Ari Wahyudi di Muslim.or

ALLAH ADA DIMANA-MANA ???


Waktu Isra Mi'raj Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam pergi kemana?, jawabannya naik kelangit ketujuh untuk menemui Allah Azza Wa Jalla, kalau naik artinya dimana?, masih gagal paham juga?
Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam melanjutkan):
“Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit yang keenam, maka Jibril Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Jibril.’ Dia ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Dia menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus kepada-Nya?’ Dia menjawab: ‘Dia telah diutus kepada-Nya.’” Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan Musa Alaihissallam, lalu ia menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.”
.....(Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan):
“Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit yang ketujuh, maka Jibril Alaihissallam minta dibukakan pintu, lalu ia ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Jibril.’ Dia ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Dia menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus kepada-Nya?’ Dia menjawab: ‘Dia telah diutus kepada-Nya.’” Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan Ibrahim Alaihissallam, yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur, di mana tempat itu setiap harinya dimasuki oleh 70.000 Malaikat dan mereka tidak kembali lagi sesudahnya.”.....
(HR. Muslim no. 162 (259), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, hadits ini shahih.)
Sumber Referensi " Isra Mi'raj ", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

Sunday, January 20, 2019

ILMU SEBELUM BERAMAL !


Oleh Siswo Kusyudhanto
Disampaikan seorang ustadz yang menceritakan pengalaman beliau, suatu hari beliau memimpin sebuah rombongan jama'ah Umroh, ketika beliau sedang mengunjungi gua Hira, dimana beliau ingin menunjukkan kepada para jama'ah tempat dimana Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam pertama kali menerima Wahyu dari Allah Azza wa Jalla yang disampaikan oleh Malaikat Jibril, beliau melihat beberapa orang sedang melakukan shalat dan anehnya mereka ketika shalat menghadap ke dalam gua, ini sungguh jahil, karena shalat bagi setiap Muslim adalah wajib menghadap kiblat, dan posisi kiblat yakni Ka'bah di Kota Mekkah berada menghadap keluar gua tersebut, bukan malah ke dalam gua, arah kiblat justru berbalik 180 derajat dengan arah dimana mereka shalat, SubhanaAllah.
Kata beliau inilah akibat jika beramal tanpa ilmu dan hanya menuruti syahwat, karena semangat beramal tanpa dilandasi ilmu akhirnya yang terjadi mereka justru melanggar syariat Allah dan RasulNya.
Semoga kita dijauhkan dari beramal tanpa ilmu, , aamiin.
Seorang ulama Salaf dari kalangan tabi'in yang bernama Sufyan at-Tsauri mengatakan:
إِنْ اسْتَطَعتَ ، أَلَّا تَحُكَّ رَأسَكَ إِلَّا بِأَثَرٍ فَافعَلْ
Jika kamu mampu tidak akan menggaruk kepala kecuali jika ada dalilnya maka lakukanlah
(Al Jami’ li Akhlaq ar Rawi wa Adab as-Sami’, Khatib al-Baghdadi, Mauqi Jami’ al-Hadis: 1/197)
Imam Bukhari mengatakan:
بَابٌ العِلمُ قَبلَ القَولِ وَالعَمَلِ
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”
(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)
Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغفِرْ لِذَنبِكَ
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah
dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)
Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.
Sumber Referensi, " Ilmu dulu baru Beramal", karya Ustadz Ammi Nur Baits di web muslim.or

Friday, January 18, 2019

HIDAYAH ITU DIMINTA BUKAN DITUNGGU




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Firanda Adirja mengisahkan perjalanannya mengenal Sunnah, dulu di Papua beliau hanya mengenal beberapa paham kelompok Islam, namun ketika kuliah di Yogyakarta beliau temui banyak kelompok Islam jauh lebih banyak dari yang diketahui, dalam proses pencarian paham Islam yang benar beliau selalu berdoa mohon Hidayah kepada Allah Azza wa Jalla ditunjukkan pemahaman Islam yang benar, pada akhirnya beliau hatinya yakin bahwa Manhaj Salaf sebaik-baik pemahaman dalam Islam, dan di akhir sesi itu beliau berpesan untuk tidak berhenti berdoa memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk diberikan hidayah.
Dalam video kesaksian DR. Laurence Brown, seorang bule Amerika menyampaikan kesaksian yang hampir sama, saat itu beliau berpaham atheisme dan pada suatu hari anak kedua lahir dalam keadaan tidak normal, seluruh tubuhnya biru, dan para dokter menyatakan sangat kecil kemungkinan untuk hidup, indikator jantung sudah menunjukkan sedikit garis naik, dan banyak lurusnya menandakan jantung si bayi tinggal menunggu berhenti saja.
Dalam keadaan demikian dia masuk sebuah rumah sembahyang yang ternyata adalah musholla kecil untuk para pemeluk Islam shalat, dan diruangan itu dia berdoa, " Ya Tuhan jika engkau benar-benar ada, tolong anakku, jika Engkau kabulkan permintaan aku ini maka aku akan mengikuti agama yang paling Engkau sukai", setelah itu beliau keluar ruangan melihat bayinya, dan seketika grafik indikator jantung si bayi tiba-tiba naik dan kemudian normal, para dokter sampai heran melihat fenomena ini.
Setelah beberapa waktu berjalan Dr. Laurence Brown mempelajari semua agama yang ada dikenal di Amerika, mulai Yahudi, Kristen ortodoks, Hindu, Budha, dst. Setelah dua tahun mencari pemahaman agama yang benar dan selalu menemukan keganjilan pada agama-agama yang dipelajari sampailah dia kepada agama yang jadi pilihan terakhir yakni Agama Islam, dengan belajar Al Islam dia menemukan kebenaran, tidak ada pertentangan antar ayat atau hadist Sahhih. Setelah belajar Islam dengan tekun pada akhirnya beliau memutuskan bersyahadat.
Pesan beliau teruslah meminta kepada Tuhan untuk ditunjukkan jalan yang lurus, karena kita sebagai manusia sebenarnya hidup dalam ketidaktahuan, dan tidak tau arah.
MasyaAllah inspiratif.
Allâh Subahnahu wa Ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allâh beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-‘Ankabût/29:69]

Thursday, January 17, 2019

SUDAH RIBET, MAHAL DAN MASIH DIANCAM AZAB NERAKA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menjelaskan bagaimana sebenarnya amalan bid'ah, kata beliau, misal saja ada sebuah perusahaan yang membuat peraturan bagi para karyawannya bahwa seragam untuk hari Jum'at adalah atasan kemeja batik dan bawahan celana kain warna hitam, dan sudah di share dikalangan karyawan dan juga dipasang di papan pengumuman, sehingga semua karyawan mengetahui peraturan ini.
Namun pada suatu hari ada seorang karyawan memiliki ide kreatif, dia datang pada hari Jum'at untuk bekerja memakai pakaian adat Jawa, lengkap dengan blangkon, pakaian lurik khas Jawa, dan kain sarung batik, dan itu membuat jalan saja dia susah, itupun dia harus sewa di sebuah Salon dengan harga cukup mahal.
Tentu ketika atasannya melihat si karyawan berpakaian seperti itu ditegur, " kenapa pakai pakaian seperti ini? Bukannya cukup pakaian kemeja batik dan celana kain?", Si karyawan membantah, " Ini hasil inovasi saya pak, saya yakin ini lebih baik dari peraturan perusahaan yang cuma pakaian batik dan celana kain saja". Atasannya mendengar itu tentu marah, dan menilai si karyawan melawan peraturan perusahaan meskipun dengan alasan " lebih baik", pertama karyawan di beri Surat peringatan pertama atas tindakannya itu, namun si karyawan tetap membandel, dan tiap hari Jum'at selalu berpakaian adat Jawa dengan alasan yang sama pakaiannya lebih baik.
Minggu kedua berikutnya atasannya memberi Surat peringatan kedua, namun si karyawan tidak juga taubat, sampai pada Minggu ketiga akhirnya si atasan menyampaikan Surat Peringatan ketiga kepada si karyawan alias dipecat dari perusahaan itu.
Jika dalam perkara bekerja saja kita harus mengikuti Standar Operasional Perusahaan (SOP) dimana setiap peraturan perusahaan harus dipatuhi oleh setiap karyawan, dan jika melanggar peraturan ancamannya adalah diberi surat peringatan sampai dipecat dari perusahaan, apalagi untuk urusan Akhirat?, Tentu ada peraturan yang jauh lebih dipatuhi dan diikuti daripada cuma urusan pekerjaan yang jauh lebih kecil urusannya.
Dan sifat bid'ah adalah hasil inovasi manusia yang sebenarnya ribet, mahal masih juga diancam azab neraka namun masih juga dikerjakan oleh manusia.
Sementara amalan Sunnah itu sederhana, murah dan dijanjikan Surga bagi para pengamalnya.
Waalahua'lam.
"SEDIKIT DAN SESUAI SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK TETAPI BID’AH"
Kata mutiara tersebut tidak hanya terucap dari seorang shahabat, dan diantara yang mengucapkannya ialah Abu Darda’ dan Abdullah bin Mas’ud –Radhiallahu anhuma- seperti yang disebutkan dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah (nomor114 dan 115), Assunnah karya Ibnu Nashr (hal 27-28), Al Ibanah (I/320) karya Ibnu Baththah,dan lain-lain.
Dari Sufayan bin Uyainah, ia berkata : aku mendengar Malik bin Anas ketika seseorang mendatanginya, lalu orang itu berkata : “Wahai Aba Abdillah, darimana aku ber-ihrom?” Malik menjawab : “Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah ber-ihrom.” Maka orang itu berkata : “aku ingin ihrom dari masjid di sebelah kuburan (yakni masjid Nabawi, pent).” Malik mengatakan : “Jangan engkau lakukan itu, aku khawatir engkau akan tertimpa fitnah.” Orang itu berkata : “fitnah apa? Aku
kan hanya menambah beberapa mil saja.” Malik berkata : “fitnah apa yang lebih besar daripada engkau merasa melakukan yang lebih utama daripada apa yang telah diringkas oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar Allah berfirman :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur : 63)” [HR. al-Khotib dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (1/146), dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (6326), dan lain-lain]
Sumber Referensi almanhaj.or dan Tholib.wordpress

SEBERAPA SEMANGAT KITA UNTUK SHALAT BERJAMAAH ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dapat cerita dari teman di Jerman, ada seorang yang sudah mengenal kajian Manhaj Salaf, sejak belajar Tauhid yang benar dan mengetahui pentingnya beramal ibadah bagi dirinya, dia sangat bersemangat untuk melakukan shalat secara berjamaah, padahal Masjid dimana dia lakukan shalat itu sangat jauh dari tempat tinggalnya, beberapa kilo meter dari tempat dia tinggal, bukan seperti di Indonesia dimana tiap RW hampir selalu ada masjid atau musholla sehingga jarak tempuhnya hanya beberapa meter dari rumah.
Saking semangatnya bahkan dia tetap melakukan shalat berjamaah ketika masuk musim dingin dimana badai salju sering datang ke wilayah itu, sehingga suhu sampai minus 30 derajat Celcius, itu super dingin, dan salju sampai tinggi selutut sehingga untuk berjalan saja sangat susah dan cukup menguras tenaga.
Bayangin dia berwudhu dengan air es saja bikin kita ngilu, namun terus dia lakukan shalat berjamaah di masjid meskipun sangat bersusah payah, jauh dari tempat tinggalnya dan harus menembus salju yang tebal, MasyaAllah.
Jika semangat dia dalam melakukan shalat fardhu berjamaah dibandingkan dengan semangat kita dalam melakukan hal yang sama malah bikin prihatin, banyak diantara kita secara jarak sangat dekat dengan masjid dan mudah dalam menjangkaunya, juga tidak perlu bersusah payah namun sangat sulit untuk hadir di masjid dan musholla guna melakukan shalat fardhu berjamaah.
Benar kata Ustadz Badrusallam, membangun umat dimulai dengan membenahi Aqidah Tauhid, karena dengan Aqidah Tauhid yang benar itu menjadi motor penggerak seseorang melakukan amal ibadah, semua amal ibadah menjadi ringan ketika Aqidah seseorang sudah lurus, waalahua'lam.
Allah berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaknya ia mengerjakan amalan yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya”.[Al Kahfi/18 : 110]
Ibnu Katsir berkata: ‘(Yaitu orang yang ) mengharapkan pahala, dan ganjaran dariNya, فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا hendaknya ia mengerjakan amalan yang sholeh yaitu amalan yang bertepatan dengan petunjuk syariat, وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya yaitu amalan yang ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dua hal ini adalah dua syarat diterimanya amalan. Mesti murni karena Allah, lagi cocok dengan aturan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[Tafsir Ibnu Katsir : 5/205]
Sumber Referensi, "Meningkatkan Amal Ibadah seorang Muslim", Oleh
Syaikh DR. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili
Di web almanhaj.or

Wednesday, January 16, 2019

SABAR MENGHADAPI PERKATAAN BURUK MANUSIA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dahulu saya pernah bekerja pada divisi penjualandi sebuah perusahaan elektronik merk dari Jepang, pada suatu hari saya menjual Air Conditioner (AC) kepada seorang ibu, seperti biasa saya tanyakan luas ruangan yang akan dipasang AC tersebut, namun ibu ini kurang jelas informasinya, dia mengatakan "cukup setengah PK saja mas", lalu saya ingatkan bahaya jika salah dalam pemasangan unit resiko tidak dingin dan unit AC tidak dapat dikembalikan, ibu itu mengangguk tanda paham, setelah itu teknisi meluncur ke rumah ibu itu untuk memasang AC yang dipesan, setelah di pasang selisih beberapa jam kemudian ibu itu menelpon saya mengeluhkan ACnya tidak dingin seperti yang diinginkan, lalu saya hubungi teknisi pemasang kata mereka memang kurang pas unit AC setengah PK di pasang di ruangan itu, harusnya yang pas adalah satu PK, SubhanaAllah. Apa yang saya kuatirkan benar-benar terjadi.
Esoknya si ibu kembali menemui saya dan langsung marah-marah, mengatakan saya adalah pembohong, alasannya bahwa unit AC tidak seperti yang saya janjikan, dan akhirnya yang menemui si ibu adalah atasan saya, karena dia tidak ingin berurusan dengan saya lagi, dan perkara tersebut diselesaikan oleh atasan saya dengan menganti unit baru dan unit AC yang lama saya diperintahkan untuk menjual murah.
Alhamdulillah urusan selsai pada akhirnya, saya merasa lega pada saat itu.
Namun selisih beberapa hari kemudian saya mendengar dari konsumen lain bahwa ibu yang bermasalah dengan saya menyebar kabar dikalangan teman-temannya bahwa saya adalah tukang bohong, penjual yang buruk dan seterusnya, sungguh bikin sakit hati dikatakan demikian.
SubhanaAllah.
Kadang kita sudah berlaku baik, berusaha berbuat baik kepada orang lain masih juga kata buruk dari orang lain menimpa kita, semoga Allah Azza wa Jalla selalu memberikan hidayah kepada kita, aamiin.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abdullah Zein MA. Menyebutkan, " Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam adalah manusia dengan akhlak paling baik dikalangan manusia, punya keimanan dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla paling baik diantara manusia, dan beliau ma'shum, bersih dari kesalahan karena dibimbing langsung oleh Allah Azza wa Jalla baik dalam perkataan ataupun perbuatan, namun kata-kata buruk dan caci maki terhadap beliau berlangsung sejak dahulu sampai kiamat kelak yang datang dari orang-orang munafik dan orang-orang kafir yang membenci beliau.
Maka bagi kita yang manusia awam dimana keimanan dan ketaatan masih pas-pasan, juga manusia yang sering berbuat kesalahan wajar jika mendapatkan perkataan buruk dari orang lain, yang penting kita terus menerus memperbaiki diri dalam hal akhlak, keimanan dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, juga selalu bertaubat atas kesalahan yang sering kita lakukan baik sengaja atau tidak sengaja.
Dan jika kita diperlakukan buruk oleh orang lain sikap terbaik adalah bersabar dan jika mampu membalasnya dengan kebaikan maka Allah Azza wa Jalla janjikan pahala yang tidak terbatas,
Waalahua'lam."
Allah Azza wa Jalla menjanjikan pahala bagi orang yang membalas keburukan dengan kebaikan dalam firman-Nya,
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy Syuura: 40).

JENGGOT SAJA TIDAK TUMBUH DALAM SEMALAM


Oleh Siswo Kusyudhanto
Tadi siang bertemu dua orang pemuda yang sedang membutuhkan buku berkaitan dengan Aqidah dan sifat Shalat Nabi. dua penampilan pemuda itu menunjukkan bahwa mereka mungkin baru "ngaji', kenapa demikian , meskipun mereka bercelana cingkrang, namun bahannya adalah jeans yang ketat dimana sebagian ulama melarang menggunakan bahan ini untuk celana karena membentuk jelas bagian tubuh pemakainya, maka kaidahnya mirip dengan yang disebutkan dalam sebuah hadits. " berpakaian namun telanjang", kemudian juga jenggotnya masih tipis, namun melihat itu kami yang ditanyai jadi paham mereka sedang dalam proses hijrah dan wajib bagi kita memakluminya, karena mungkin sama dengan kita dulu, juga perlu proses menuju yang baik sesuai syariat. Maka wajib kita membuat mereka nyaman dengan tidak menyebutkan kesalahan mereka, dan kalau bisa untuk menyemangati mereka dalam proses hijrahnya, insyaAllah.
Namun ada kalanya kita prihatin ada sebagian teman jamaah yang mungkin baru ngaji yang keras dalam soal ini, mereka ketika melihat orang awam keliru mudah mengatakan ini dan itu menyalahi syariat dan tidak sadar dirinya dulu juga pernah seperti itu juga, bahawa dulu juga dia perlu proses menuju sesuatu yang benar sejalan dengan syariat Allah dan RasulNya.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abdullah Zein MA. mengatakan, " Maklumi jika saudara kita celana belum cingkrang, atau belum jenggotan atau belum berhijab syar'i dan semacamnya, mereka juga perlu proses menemukan sunnah sebagai mana kita dulu juga melalui proses panjang dalam menemukan Sunnah, pemahaman yang benar perlu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Jenggot saja tidak tumbuh dalam semalam, namun perlu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk tumbuh, apalagi soal cara beragama yang benar, perlu proses dan perlu waktu."
Walahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 125).
Sumber referensi muslim.or