Wednesday, July 31, 2019

SYUBHAT MENGATAKAN BID'AH YANG DIMAKSUD DALAM HADITS NABI ADALAH HP, MOTOR, PESAWAT DAN SETERUSNYA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kadang prihatin dan miris dengan pernyataan orang yang diustadzkan atau di kyaikan kemudian mengatakan kepada jamaahnya kalau bid'ah itu termasuk hp, motor, pesawat dan sarana dunia lainnya. bahkan juga martabak bisa jadi dalil atas hal ini, bahkan ada yang bilang Mushaf Al-Qur'an adalah bid'ah, padahal dalam perkataan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi Wa Sallam bahwa setiap bid'ah adalah sesat, dan tempat kesesatan adalah di neraka, syubhat yang nyata.
Padahal hampir semua ulama seperti Imam Syathibi dalam kitab beliau Al Ithisam ketika membahas bid'ah tentu yang dimaksud adalah syariat agama, bukan sarana yang termasuk urusan dunia seperti hp, motor, pesawat dan seterusnya.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz membahas soal ini, beliau menyebutkan bahwa bid'ah yang dimaksud dalam hadits-hadits pembahasan bid'ah adalah urusan peribadatan, urusan agama, sementara urusan dunia seperti sarana dan prasarana akan ditinjau larangannya atas hal itu, untuk urusan dunia diserahkan kepada kita, ada kaidah hukum agama yang dapat digunakan dalam memutuskan perkara dunia masuk bagian mana, waallahua'lam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih tahu tentang ilmu dunia dibandingkan para shahabatnya.
Di antara buktinya adalah hadits dari Anas tentang mengawinkan kurma. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ
“Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
مَا لِنَخْلِكُمْ
“Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim, no. 2363)
Sumber referensi " Untuk Urusan dunia kalian lebih mengetahui", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. di rumoysho.co

JAUHKAN KITA DARI "JIWA MISKIN"


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau sedang antri di pom bensin dan melihat ada mobil baru dan masuk ketegori mobil mewah yang antri di bagian premium jadi bikin heran, karena jenis bahan bakar premium adalah bahan bakar yang disediakan pemerintah untuk kalangan menengah kebawah, oleh karenanya jenis bahan bakar ini disubsidi oleh pemerintah, tentu kontradiktif dengan mobil yang diisi dengan jenis premium ini. Padahal harga mobil itu sudah seharga ratusan juta rupiah di pasaran, andai pemilik mobil itu mencicil dengan cara kredit mungkin diatas 5 juta rupiah perbulan, namun giliran isi bahan bakar minta yang subsidi?, Subhanallah.
Itu sama halnya ketika saya sedang di kantor pos untuk kirim paket buku pesanan teman, bersamaan dengan hari itu juga ada pengambilan dana bantuan tunai pemerintah bagi orang yang tidak mampu di gerai pos, kalau lihat yang antri bantuan tunai itu malah bikin tanda tanya heran, karena banyak diantara mereka memegang smartphone mahal terbaru, atau ada diantara mereka wanita yang menggunakan gelas emas berjejer, atau juga ada yang datang ke kantor pos dengan jasa taksi, pertanyaan di benak saya itu miskin beneran, pura-pura miskin, atau merasa dirinya miskin padahal kaya ?, Subhanallah.
Jadi teringat ketika seorang ustadz membahas hadits yang menjadi landasan ulama berfatwa tentang larangan hukum meminta-minta atau larangan mengemis dijadikan profesi, ini sungguh bikin makin kagum kepada syari'at Islam, bagaimana Islam memuliakan manusia dengan melarang umat manusia mengemis atau meminta-minta, dalam Islam sifat seperti ini adalah hina, sebuah tindakan yang menurunkan martabat manusia, waalahua'lam.
Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya:
مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
“Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).
Sumber Referensi"Hukum Larangan meminta-minta kepada orang lain", karya Yulian Purnama di web Muslim.or

Wednesday, July 24, 2019

TERJEBAK ISTILAH PERSATUAN UMAT YANG SEMU




Oleh Siswo Kusyudhanto
Banyak ustadz atau pemuka agama di negri ini enggan menjelaskan kepada masyarakat luas tentang bahaya riba, bid'ah ataupun syirik secara mendetail dan gamblang, kalau ditanyakan kepada mereka mengapa tidak menyampaikan hal ini? Padahal ini adalah ajaran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, jawabannya adalah alasan klise, " menjaga persatuan umat".
Jadi teringat perkataan Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah dalam sebuah kajian, kata beliau istilah persatuan umat Islam dijaman ini adalah istilah untuk persatuan umat fatamorgana, persatuan semu, bukan persatuan umat Islam yang hakiki, karena yang dimaksud dengan persatuan umat Islam dijaman ini adalah menyatakan persatuan namun yang terjadi pembiaran saudara sesama Muslim melakukan maksiat kepada Allah, dan pembiaran saudara sesama Muslim melanggar syariat Allah dan RasulNya. Wajah kita tersenyum kepada sesama Muslim namun membiarkan saudara Muslimnya itu dalam kesalahan dan kesesatan.
Waalahua'lam.
Sungguh benar perkataan beliau, jarang ada pemuka agama atau pengkhutbah diatas mimbar-mimbar masjid dan kajian ilmu agama membahas kesesatan yang harusnya dihindari oleh Umat Islam dengan alasan menjaga persatuan umat, artinya tanpa mereka sadari yang terjadi adalah mereka membiarkan umat hidup dalam amalan yang menyimpang dari syariat Allah dan RasulNya.
Dalam arti kata lain dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar ditinggalkan oleh sebagian besar umat Islam dengan alasan persatuan.
Padahal persatuan yang hakiki adalah ketika semua Umat Islam kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits, kembali kepada Tauhid dan Sunnah, persatuan Umat Islam hanya terjadi ketika mereka meninggalkan amalan yang sarat dengan kemaksiatan, kebid'ahan dan kesyirikan.
Waalahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).
Allah Ta’ala berfirman:
(وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (QS. Al An’am: 153).
Sumber Referensi, "Kembali kepada Dalil ketika terjadi Perselisihan", karya Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, di web Muslim.or

PENGHUNI NERAKA TERBANYAK ADALAH WANITA SEBAB MEREKA KURANG BERSYUKUR KEPADA SUAMINYA


Oleh Siswo Kusyudhanto

Dalam sebuah kajian Ustadz Abdullah Zaen mengatakan," dalam sebuah hadist disebut kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, dikarenakn mereka sedikit ada rasa bersyukur terhadap suami mereka.

Ketidak syukuran seorang wanita diawali dari pelitnya perasaannya kepada suaminya, semisal pada suatu saat suami membawa sebuah baju yang dibelinya untuk istrinya tampa memberitahu sebelumnya, dia ingin pemberiaannya itu menjadi surprise, kejutan bagi sang istri, namun ketika sampai dirumah ketika hadiah itu dibuka oleh si istri harapan suami agar istrinya gembira seketika sirna karena si istri justru menghina hadiah baju itu, -bajunya jelek sekali, apa ini pak kain SERBET !!!-, subhanaAllah, seketika sisuami merasa dihina dan direndahkan sedemikian rupa, tentu sisuami mejadi sakit hati. Harusnya jika seorang wanita kaya perasaan ketika menerima hadiah dari suami demi menjaga perasaan suami dia akan memuji baju itu, bagus sekali bajunya, meskipun dalam hati mungkin dia mengingkarinya, kemudian esoknya baju itu dipakai setiap saat, dipakai untuk mencuci, memasak didapur sampai juga dipakai untuk tidur.
Padahal mungkin maksudnya dipakai terus oleh siistri itu agar baju itu cepat rusak dan berharap agar dibelikan baju baru lagi yang lain, namun suami ketika melihat si istri memakai baju pemberiannya terus menerus tentu sis suaami merasa senang, karena dia beranggapan ternyata istrinya sangat menyukai pemberiannya, waallahua'lam."

Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Yang dimaksud kufur dalam hadits bukanlah maksudnya keluar dari Islam. Namun yang dimaksud adalah kufronul huquq, yaitu istri tidak mau memenuhi kewajiban terhadap suami. Jadi maksudnya bukanlah kufur terhadap Allah. Ini menunjukkan celaan bagi wanita yang dimaksud dalam hadits. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 192.


Sumber referensi rumaysho.kenapa-wanita-banyak-masuk-neraka., karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Monday, July 22, 2019

BANYAK TERTAWA BUKAN ARTINYA PASTI BAHAGIA YAA


Oleh Siswo Kusyudhanto.
Beberapa waktu yang lalu ada berita bahwa salah satu pelawak terkenal di negri ini ditangkap polisi karena terlibat dalam penyalah gunaan narkotika jenis sabu-sabu. Ini tentu menambah jumlah pelawak di negri kita yang terlibat dalam penyalah gunaan narkotika sekaligus menunjukkan bahwa orang-orang yang dalam bisnis tertawa sekaligus banyak tertawa dalam pekerjaannya ini banyak diantara mereka yang "kurang bahagia", karena jika bahagia kenapa dia menggunakan narkoba?.
Hal tersebut juga menegaskan bahwa banyak tertawa bukan jalan menuju kebahagiaan yang sebenarnya.
Jadi ingat kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah tentang orang yang berbahagia, kata beliau banyak orang keliru dalam mengartikan bahagia, dikiranya bahagia ketika mendapatkan kekayaan, dikiranya kebahagiaan didapat dengan kekuasaan, dikiranya datang ke diskotik membuat dirinya bahagia, dikiranya banyak tertawa adalah menunjukkan seseorang bahagia, semuanya keliru, karena sejatinya kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih ketika seseorang mengingat Allah Ta'ala, hanya dengan dzikir(mengingat Allah Ta'ala) seseorang meraih kebahagiaan yang sebenarnya yang didambakan banyak orang, waalahua'lam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Minta Nasehat kepada Ust. Abdul Hakim Abdat Hafidzahullahu


Ada sekertas yang di tulis salah satu ikhwah, minta nasehat kepada beliau tentang fenomena yang mungkin sering kita rasakan juga.
Bahwa ikhwah yang baru ngaji mengeluhkan akhlak sebagian ikhwah yang sudah mengikuti manhaj salaf sejak lama, tapi kurang berakhlak yang baik.
Maka nasehat beliau membuat ana takjub dengan penjelasan sangat detail dari beliau. Dalil Al-Quran dan sunnah seakan sudah melekat di ingatan beliau.
(intinya) bahwa akhlak yang mulia itu sendiri merupakan manhaj para sahabat, jadi wajib bagi yang mengikuti manhaj para sahabat harus memiliki akhlak yang mulia.
Karena dengan akhlak yang mulia itu manusia akan berbondong-bondong masuk ke dalam agama islam.
Bahkan Nabi yang mulia di Firman kan oleh Allah, bahwa beliau mempunyai akhlak yang sangat agung. Beliau membaca firman Allah di dalam surat Al-Qolam
Janganlah kita merasa sombong, meremehkan orang lain yang belum ngaji, ajaklah mereka dengan cara yang baik, Doakan mereka agar mengenal hidayah Sebagaiaman kita juga selalu berdoa di setiap sholat untuk minta hidayah.
Janganlah yang sudah lama ngaji punya sifat sombong, misal : Kita tahu bahwa mengangkat celana diatas mata kaki agar kita terhindar dari sifat sombong, lantas jangan membuat hal tersebut menjadikan kita orang yang sombong mentang-mentang sudah melaksanakan sunnah, lalu setiap kita ketemu saudara kita, kita liatin aja celananya. Jangan begitu...!!
Ummahat juga begitu, jangan hanya berkumpul dengan yang bercadar saja, lalu yang ndak bercadar di hindari. Ajak mereka, rangkul mereka, biarkan dulu mereka duduk di majelis ilmu walaupun jilbabnya belum syar'i, masih memakai jilbab apa adanya, sambut mereka lalu dakwahi pelan-pelan, jangan langsung di paksa memakai cadar, karena cadar tidak wajib. Biarlah dengan pilihannya, yang penting sudah menutup aurat dengan baik.
Ikhwan salafiyyin harus murah senyum dengan sesama muslim, Nabi saja murah senyum.
Seorang di katakan Sholeh/sholehah jika terpenuhi 2 hal
1. Hubungan dengan Allah Baik
2. Hubungan dengan manusia juga baik
Ustadz Abdul Hakim juga membawakan kisah Sahabat Muadz bin Jabal yang membaca surat al baqoroh ketika shalat isya, lalu ada Jamaah yang membatalkan shalatnya, berita tersebut sampai kepada Nabi dan nabi pun menegur muadz agar jangan membuat orang lari dari jalan Allah. Yang di lakukan muadz tidak sepenuhnya salah, tapi kurang hikmah saja.
(begitulah kira-kira makna nasehat beliau)
Nasehat yang sangat menusuk hati kami, membuat kita terus introspeksi diri agar memperhatikan akhlak di setiap gerak gerik langkah kita. Karena akhlak yang baik adalah point penting dari manhaj salaf.
Lalu bagaimana jika ada yang mengaku berada di manhaj salaf, tapi punya akhlak sayyiah/buruk? Berarti belum tahu manhaj salaf.
__________________________
Pekanbaru
Rangkaian Majelis Terakhir Ust. Abdul Hakim Abdat di Pekanbaru dan sekitarnya , semoga tahun depan beliau bisa datang kembali.
Semoga Allah Jaga beliau dan selalu memberkahi umurnya.

Wednesday, July 17, 2019

UJIAN MENGIKUTI IMAN



Oleh Siswo Kusyudhanto

Tak terasa sudah lebih dari empat puluh akun Facebook saya hangus, mulai direport, dibajak sampai di hack agar lenyap dari media sosial Facebook, hal ini disebabkan banyak orang dan pihak yang tidak suka postingan-postingan saya mungkin karena berbagai alasan, tapi yang utama saya yakni agar penyimpangan yang kelompok mereka lakukan tidak boleh dikritik, subhanaAllah, mereka ketakutan menjadi benar.

Dulu pertama ketika baru dua atau tiga akun lenyap dan hangus begitu saja saya sangat bersedih atas hal itu, namun setelah puluhan akun hangus dan lenyap hal itu menjadikan hal seperti ini kejadian biasa, dan alhamdulillah sebab kejadian seperti ini membuat saya pribadi yang sangat penyabar dan makin yakin atas apa yang saya lakukan selama ini adalah benar, yakni mengungkap penyimpangan demi penyimpangan yang terjadi di dalam Umat Islam dan juga masyarakat luas, mulai perbuatan riba, maksiat, kebid'ahan dan kesyirikan. InsyaAllah akan berjuang terus dijalan ini, aamiin.

Jadi ingat nasehat Ustadz Syafiq Reza Basalamah tentang menghadapi ujian dan musibah, kata beliau ketika kita mendapat ujian dan musibah maka lihat apa yang terjadi kepada para Nabi dan Rasul, apakah yang menimpa kita lebih berat dari apa yang terjadi kepada para Nabi dan Rasul?, jawabannya tentu yang terjadi kepada kita berupa ujian dan musibah jauh sangat ringan dibandingkan mereka, ini disebabkan keimanan kita jauh dibawah Nabi dan Rasul, sementara mereka Nabi dan Rasul adalah puncak keimanan manusia maka ujian yang mereka hadapi sangat berat jauh melampaui level ketahanan kita yang manusia biasa dalam menghadapinya. Waallahua'lam.

Seperti kita ketahui para Nabi dan Rasul menghadapi banyak ujian dan musibah selama hidup mereka ketika memperjuangkan agama Allah Ta'ala yakni agama yang berlandaskan Tauhid, mulai ancaman fisik, fitnah, kata-kata buruk, sampai ancaman kehilangan harta dan bahkan juga nyawa, jadi ujian dan musibah yang kita hadapai belum seberapa dibandingkan mereka, apalagi cuma kehilangan akun sosial media?.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]

Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allâh akan semakin besar. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu :
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ
“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya”(HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143))
Sumber Referensi "Setiap Muslim akan mengahdapi Ujian", karya Ustadz Sa'id Yai Lc. di muslim.or

-------------------------------------------------------------------------------

Kami menyediakan buku-buku berbasis Kajian Sunnah, jika minat silahkan hubungi saya di WA 081378517454

ANCAMAN AZAB BAGI PELAKU RIBA




Oleh Siswo Kusyudhanto

Ancaman Allah dan RasulNya banyak termuat didalam ayat Al-Qur'an juga di banyak hadits, selain azab kelak di neraka, berikut adalah salah satu kisah azab yang menimpa pelaku riba didunia, semoga kita mendapat banyak pelajaran akan hal ini betapa bahayanya riba bagi kita jika melakukannya, waallahua'lam.

Kisah ini saya dapat dari saksi mata yang menyaksikan kejadian-kejadian yang menimpa keluarga pelaku riba.
Di Kisahkan di Kota Malang Jawa Timur ada sebuah keluarga yang mendapatkan penghasilan dari riba, mereka biasa meminjam uang ke orang kaya dan dikembalikan lagi dengan tambahan yang lumayan banyak, sistem yang berlaku adalah bagi hasil, uang hasil pinjaman di pinjamkan kepada pihak lain dengan bunga yang sangat tinggi atau bahasa kasarnya adalah mereka menjadi rentenir, dan ini jelas mutlak adalah riba yang terlarang secara syariat agama Islam.
Sebenarnya suami dan istri itu sering dinasehati orang yang mengerti bahaya riba namun mereka selalu berdalih bahwa apa yang mereka lakukan demi masa depan anak-anak mereka yang berjumlah tiga orang, mereka berharap dengan usaha ribanya dikemudian hari anak-anak mereka hidup sejahtera.
Namun Allah Ta'ala berkehendak lain atas harapan mereka, pertama anak yang paling tua pada suatu hari meninggal dalam kecalakan yang tragis, tak berselang lama beberapa tahun kemudian anak kedua meninggal dunia karena overdosis obat telarang dan minuman keras, dan yang paling tragis adalah anak ketiga mereka, anak ketiga ini meninggal karena terjatuh di kamar mandi, keadaannya mayatnya sungguh bikin miris yang melihatnya, kepalanya pecah seperti dibenturkan beberapa kali kelantai, padahal tidak ada orang lain selain dia di kamar mandi ketika mayatnya ditemukan, subhanaAllah.
Pada akhirnya semuanya anak-anak di keluarga itu meninggal semua padahal harta yang dikumpulkan orang tua mereka dengan cara riba sebenarnya diperuntukkan bagi masa depan mereka kelak, namun Allah Ta'ala berkehendak lain, waallahua'lam.

Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/708)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,”Para ulama berbeda pendapat tentang ayat ini. Apakah maksud ayat ini adalah mereka tidaklah bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali dalam kondisi semacam ini, yakni bangkit dari kubur seperti orang gila atau kerasukan setan. Atau maksudnya adalah mereka tidaklah berdiri untuk bertransaksi riba (di dunia), (yaitu) mereka memakan harta riba seperti orang gila karena sangat rakus, tamak, dan tidak peduli. Maka ini adalah kondisi (sifat) mereka (pelaku riba) di dunia. Yang benar, jika sebuah ayat mengandung dua kemungkinan makna, maka ditafsirkan kepada dua makna tersebut semuanya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/1907)

Sumber Referensi "Balasan Bagi Para Pelaku Riba", karya Ustadz Muhammad Saifudin Hakim di muslim.or


--------------------------------------------------------------

Kami menyediakan buku-buku berbasis Kajian Sunnah, jika minat silahkan hubungi saya di WA 081378517454

Monday, July 8, 2019

ISLAM KEMBALI ASING


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, kita telah sampai kepada jaman dimana Islam sangat asing ditengah umat manusia, bahkan asing dalam pandangan orang yang mengaku Islam, hal ini terjadi karena pengikut yang hak sangat sedikit sementara pengikut kebathilan sangat banyak.
Antum tidak percaya?, Lihat, misal ada sekumpulan wanita yang kebanyakan bercelana pendek dan menggunakan kaos you can see, dengan demikian ketek mereka terlihat, dan mereka sedang ngobrol dengan asyiknya, tiba-tiba lewat didepan mereka wanita yang berhijab lebar dan bercadar, maka spontan kelompok wanita yang membuka aurat itu akan berbisik diantara mereka, dan sepakat sekumpulan wanita itu menunjukkan si wanita berhijab dan bercadar adalah pengikut kesesatan.
Padahal sebenarnya yang berada dalam kesesatan adalah kelompok wanita yang membuka aurat itu, sementara yang diatas pemahaman yang hak adalah wanita yang berhijab lebar dan bercadar.
Demikian juga dalam hal yang lainnya, seorang pedagang jujur akan dianggap keliru karena dia hidup ditengah para pedagang yang suka berbuat curang.
Seorang karyawan yang jujur akan dianggap aneh oleh sekeliling nya karena dia hidup ditengah para karyawan yang suka berbuat kejahatan seperti korupsi, manipulasi dan sogok menyogok.
Dan banyak lagi hal serupa yang menunjukkan bahwa pengikut yang hak sangat sedikit sementara pengikut kebathilan sangatlah banyak.
Dan karena pengikut kebathilan sangat besar jumlahnya maka yang dianggap sesat dan keliru justru yang pengikut yang hak karena jumlah mereka sangat sedikit.
Inilah bukti nyata bahwa Islam sudah asing dikalangan umat manusia seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam jauh-jauh hari, waalahua'lam.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).
Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi,
أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ
“Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)
Sumber Referensi "Berbahagialah Orang yang dianggap Asing", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di rumoysho.co

JANGAN IKUT MEROBOHKAN AGAMA DENGAN MENINGGALKAN SHALAT


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau kita melihat survey-survey tentang shalat yang ada didalam masyarakat di negri kita ini sungguh bikin kita miris, angka hasil survey berkisar hanya 17-20 persen Umat Islam terutama Lelaki di negri kita yang tertib hadir di Masjid atau mushalla untuk ikut shalat berjamaah.
Padahal dalam Islam perkara shalat sangatlah penting, dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, Shalat adalah tiang agama, Shalat juga adalah perkara yang penting sehingga shalat adalah perkara yang pertama kali dihisab kelak, baik tidaknya seseorang dapat dilihat dari bagaimana shalat nya.
Bahkan shalat adalah pembeda antara apakah dia Muslim atau dia Kafir.
Maka jangan tinggalkan shalat, karena jika antum meninggalkan shalat yang terjadi adalah antum sedang merobohkan agamanya sendiri.
Waalahua'lam.
---------
Shalat adalah Tiang Agama
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di rumoysho.co
Kedudukan shalat lima waktu dalam agama ini adalah ibarat tiang penopang dari suatu kubah atau kemah. Tiang penopang yang dimaksud di sini adalah tiang utama. Artinya jika tiang utama ini roboh, maka tentu suatu kubah atau kemah akan roboh.
Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dalam hadits ini disebut bahwa shalat dalam agama Islam adalah sebagai tiang penopang yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat. Demikianlah cara berdalil Imam Ahmad dengan hadits ini.
Dari ‘Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah -bagi yang mampu-, (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)
Faedah yang bisa kita tarik dari hadits di atas:
1- Dikatakan dalam hadits ini bahwa islam adalah seperti kubah yang dibangun di atas lima tiang penopang (rukun). Apabila tiang penopang kubah yang terbesar tersebut roboh, maka robohlah kubah Islam.
2- Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa rukun-rukun Islam adalah tiang-tiang penopang suatu kubah (bukan tiang biasa). Di situ ada dua kalimat syahadat. Kedua kalimat tersebut adalah rukun. Di situ juga ada shalat dan zakat yang masing-masing sebagai rukun. Lalu bagaimana mungkin kubah Islam tetap berdiri jika salah satu dari tiang penopang kubah sudah tidak ada, walaupun rukun yang lain masih ada?!
3- Rukun atau tiang Islam tadi dimasukkan dalam nama Islam. Artinya, jika hilang sebagian rukun, maka hilanglah nama Islam. Lebih-lebih ini disebut rukun atau tiang penopang, bukan seperti bagian lainnya. Ada tiang yang jadi bukan jadi jadi tiang penopang, ada kayu dan baut bata, yang kesemuanya tidaklah seperti rukun yang dimaksud di sini.
Referensi ; Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1426 H, hal. 39.

Wednesday, July 3, 2019

BUAT BERBEDA DENGAN MEREKA SOAL AKHLAK


Oleh Siswo Kusyudhanto
Untuk kesekian kalinya akun saya hangus, sedih sebenarnya, namun sisi lainnya ada rasa bersyukur, mungkin Allah Ta'ala jadikan ini saatnya untuk bersabar dan bijak menanggapi keadaan seburuk apapun. Mungkin ini pengorbanan kecil dalam dakwah, dan juga perjalanan hidup.
Jadi ingat beberapa tahun yang lalu ketika beberapa akun dan fans page para ustadz pemateri kajian Sunnah di hack dan hangus selama-lamanya sampai hari ini oleh orang-orang yang tidak suka Dakwah Salafiyah berkembang di Indonesia.
Pada saat itu beberapa teman yang giat dalam berdakwah di sosial media sempat marah dan membuka chat room membahas usulan seorang teman untuk membentuk team IT berbasis Dakwah Salafiyah guna mengcounter kelompok orang yang diduga sering menghancurkan akun-akun Dakwah Salafiyah di sosial media. Saat itu sudah ada beberapa teman dari berbagai kota yang sudah ngaji Sunnah dan ahli dalam bidang IT bersedia ikut membantu.
Namun ketika saya tanyakan kepada seorang ustadz tentang hal ini jawabannya justru diluar dugaan saya, beliau mengatakan " kalau akun kalian dirusak orang kemudian kalian balas dengan perbuatan yang sama, lalu apa bedanya kalian dengan mereka soal akhlak?. Kalau perbuatan jahat mereka kalian balas dengan perbuatan jahat yang sama artinya kalian dan mereka sama-sama jahatnya, benar?
Saran saya kalau akun kalian dirusak orang ya sabar, jangan membalasnya, bikin lagi akun yang baru, dan jangan lelah menasehati mereka dan terus doakan, insyaallah yang demikian lebih baik untuk kita dan mereka.
Bikin akhlak kita lebih baik dari mereka."
Nasehat itu kemudian saya sampaikan kepada teman-teman di chat room kami dan semua memahami, dan akhirnya team IT Dakwah Salafiyah tidak pernah terbentuk hingga saat ini.
Semoga Allah Azza wa Jalla selalu memberikan kesabaran kepada kami, aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman ;
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

BOLEH USTADZ AQIQAH DENGAN AYAM ???




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang teman bertanya kepada ustadz mengenai hukum aqiqah dengan ayam senilai kambing, karena yang bersangkutan adalah pedagang ayam sehingga punya stock ayam banyak sekali dan akan makan waktu jika harus menjualnya dipasar dan hasil penjualan digunakan untuk membeli kambing, dengan harga ayam semisal 25 ribu per ekor sementara kambing harga 2,5 juta maka dengan 100 ekor ayam sama nilainya cukup dengan satu ekor kambing.
Ustadz tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, dan beliau menjawab, syariatnya yang digunakan untuk aqiqah adalah kambing, maka mengikuti syariat insyaAllah lebih benar yaa, dan tidak merubah-rubah syariat Allah dan RasulNya adalah tanda orang yang beriman, karena orang beriman merasa cukup dengan syariat Allah dan RasulNya.
Dari kejadian ini membuktikan betapa liarnya pemikiran manusia untuk merubah-rubah syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan mungkin disana ada peran setan untuk membisikkan kepada hati dan telinga manusia untuk membuat inovasi-inovasi dalam agama, waallahua'lam. 
Itu mungkin sebab kenapa kita diperintahkan Allah dan RasulNya berpegang teguh kepada risalah yang sudah disampaikan oleh keduanya, insyaAllah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).
Sumber Referensi "Islam adalah Agama Sempurna", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

SIAPAKAH WALI ALLAH ???




Oleh Siswo Kusyudhanto.
Kemarin selepas shalat Maghrib kami biasa duduk membicarakan tentang kegiatan dakwah, pada saat itu datang seorang bersorban dan memotong pembicaraan kami, lalu dia berkata, "dalam pertemuan kami di Jakarta, seorang Wali Allah mengatakan perlunya kerja dakwah untuk menyatukan umat ...", Setelah selesai dia menyampaikan orasinya saya bertanya kepadanya, " sebentar mas sebelum berbicara lebih jauh, mohon dijelaskan siapa yang dimaksud dengan Wali Allah?, Apa ciri yang menunjukkan dia seorang Wali Allah?", Lalu dia menjawab, "Wali Allah adalah orang yang rela berkorban berjuang dijalan Allah dengan harta dan jiwanya", lalu saya bertanya lagi, "Apakah jika saya dan teman saya ini berjuang dijalan Allah dengan harta dan jiwa dapat masuk yang disebut dengan Wali Allah?", Mendengar pertanyaan saya dia jawab spontan, "Iya masuk Wali Allah juga", lalu saya bertanya, "Artinya boleh menyebut saya Wali Allah juga?", Mendengar pertanyaan terakhir dia terdiam dan tidak meneruskan bicaranya tentang Wali Allah dan dakwah, dan terlihat dia bingung sendiri dengan jawabannya, SubhanaAllah.
Jadi teringat kajian tentang hal ini oleh Syaikh Abdurrazaq, juga para ustadz kajian Sunnah tentang istilah Wali Allah.
Secara garis besar dari kajian-kajian itu istilah Wali Allah memiliki ciri-ciri yang disebut oleh Allah Ta'ala, dan yang mengetahui siapa Wali Allah atau tidak Wali Allah hanya Allah Ta'ala sendiri yang mengetahui Nya. 
Jadi bukan sesama manusia menyematkan istilah Wali Allah, karena istilah ini berkaitan dengan hal ghaib, yakni tentang amalan, ketakwaan dan keimanan seseorang, dan yang hal ghaib hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla. Waalahua'lam.
Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). 
Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)
Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan: Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.
Sumber Referensi, "Wali Allah, Siapakah Dia?", Karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di Muslim.or

MANA MANUALNYA ?



Ini Perpustakaan Masjid Nabai di Madinah, mungkin ada jutaan judul kitab karya ribuan ulama dari jaman awal generasi Islam sampai jaman now, tak satu kalimatpun atau bab dimana ada ulama menulis tata cara tahlil kematian, maulid nabi, haulan dst., lah terus itu amalan nemu dimana ? dan siapa yang pertama kali yang mengamalkan?, jangan-jangan gak tau dan modal ikut-ikutan.
Berilmu sebelum beramal adalah langkah cerdas, waallahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)

WASPADA MARAKNYA RIBA ONLINE DI INDONESIA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Menurut sumber CNN Indonesia terjadi peningkatan pinjaman online dikarenakan jumlah perusahaan fintech P2P lending terus bertambah. Berdasarkan catatannya, perusahaan yang sudah terdaftar sebanyak 113 perusahaan pinjaman online di negri ini.
Sementara, total peminjam hingga Mei 2019 tercatat sebanyak 8,7 juta orang. Jumlahnya naik sampai 100,72 persen secara year to date jika dibandingkan dengan peminjam 2018 lalu yang hanya 4,35 juta.
SubhanAllah, aneh sekaligus miris kalau lihat data seperti ini, perbuatan riba terus tumbuh di Indonesia yang notebene adalah penduduk nya mayoritas Muslim, dan industri riba tampil dengan bentuk lebih canggih yakni via online.
Ini juga bukti betapa banyaknya umat Islam di Indonesia tidak takut bahayanya riba bagi mereka di dunia apalagi yang buruk adalah akibat kelak di akhirat
Menurut Ustadz Erwandi Tarmizi, jika orang menjambret atau merampok maka yang menjadi korban adalah yang dijambret dan rampok saja, orang yang tidak dijambret atau dirampok pelakunya tidak menjadi korban.
Namun sebaliknya jika ada seseorang melakukan akad kredit riba seperti melakukan pinjaman riba atau mengambil kredit barang dengan cara riba yang menjadi korban adalah seluruh manusia dari sistem keuangan dimana dia tinggal, salah satu akibat masal dari riba adalah inflasi, turunnya nilai uang, jadi mau hidup diperkotaan atau sampai desa terpencil sekalipun selama mereka menggunakan uang yang sama maka akan merasakan akibat dari riba.
Ini sebab kenapa riba diperangi oleh Allah dan RasulNya, karena riba adalah kejahatan diatas semua kejahatan yang dilakukan manusia. Waalahua'lam.
Allah Ta'ala berfirman ;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al Baqarah: 278-279)
Foto baliho dakwah di Pekanbaru.

MEREKA TIDAK MAU TAU ALASAN KENAPA NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENYAMPAIKAN LARANGAN BID'AH


Ini yang gagal paham untuk dipahami banyak orang, ketika Nabi Muhammad Shalallalahu alaihi wa sallam sering memperingatkan umatnya akan bahaya amalan bid'ah, hal tersebut didasari rasa cinta agar umatnya kelak selamat dari azab neraka karena perbuatan bid'ah, jadi bukan karena benci, demikian yang mendasari para ustadz atau pendakwah yang sering mengkaji bahaya bid'ah dan menyampaikan kepada masyarakat juga didasarkan kepada cinta sesama muslim, waallahua'lam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)
sumber referensi muslim,or
By Siswo Kusyudhanto

PERBEDAAN ORANG YANG BERILMU DENGAN YANG TIDAK BERILMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya punya dua langganan penjual mie ayam, keadaan keduanya berbeda kalau dilihat dari pelanggannya, satu orang penjual mie ayam tempat jualannya selalu ramai padahal nurut saya rasa mie ayamnya biasa-biasa saja, namun menurut pribadi saya yang bikin nyaman beli disana adalah kemampuan si penjual yang dapat berbahasa daerah seperti bahasa Jawa itu yang bikin saya nyaman, seakan sedang membeli mie ayam kepada teman.
Selain pandai berbicara dalam bahasa Jawa dia juga mampu berbicara dalam bahasa Minang, Sunda dan Batak, MasyaAllah. Mungkin karena hal ini mie ayamnya selalu ramai oleh orang Jawa, Sunda, Minang dan Batak.
Satu lagi penjual mie ayam langganan saya agak sepi, padahal rasa mie ayamnya tidak juga jauh beda dengan penjual mie ayam pertama, namun karena dia tidak ada keistimewaan lain diluar jualannya mungkin ini yang menyebabkan tidak menarik bagi orang untuk datang kesana.
Perbedaan sedikit dalam ilmu membuat hasil yang berbeda, bahkan dalam urusan dunia, waalahua'lam.
Jadi teringat kajian seorang ustadz mengenai fikih memelihara anjing, kata beliau, lihat dari dalil-dalil yang maka dapat kita simpulkan anjing yang berilmu dimuliakan oleh Allah dan RasulNya, hanya anjing yang berilmu yang diperbolehkan dipelihara, sementara anjing yang bodoh dihinakan oleh agama. Jika untuk anjing saja sudah berbeda kedudukannya antara yang berilmu dengan yang bodoh, bagaimana dengan perbedaan antara manusia yang berilmu dengan manusia yang bodoh?, Tentu jauh perbedaan derajat antara manusia yang berilmu dan manusia yang bodoh dalam pandangan Allah Azza wa Jalla, waalahua'lam.
Jadi makin paham pentingnya ilmu dalam kehidupan kita, apalagi jika ilmu itu berkaitan dengan agama yang merupakan investasi bukan saja di dalam kehidupan dunia juga kehidupan akhirat, karena dengan ilmu agama seseorang dapat memilah mana yang hak dan mana yang bathil, dapat mengetahui mana yang Tauhid dan mana yang Syirik, mana yang Sunnah dan mana yang Bid'ah, mana Halal dan mana Haram dan seterusnya.
Maka berinvestasi berupa ilmu yang berkaitan dengan agama insyaallah tidak ada ruginya, waalahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)
Ilmu akan menjadi sebab diangkatnya derajat seseorang yang dikehendaki oleh Allah, yaitu orang-orang yang mengilmui agama yang benar ini dengan baik.
Allah Ta’ala berfirman
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Sumber Referensi "Mencerdaskan diri dengan ilmu syar'i", karya Ummu Zaid di muslimah.or