Sunday, October 29, 2017

JIKA YANG GAK TAHLILAN ADALAH WAHABI, BAGAIMANA DENGAN NABI, SAHABATNYA DAN PARA IMAM MADZHAB YANG JUGA TIDAK AMALKAN ITU ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Prihatin, mungkin karena kelewat jahil, taklid buta dan tidak mencoba mencari kebenaran atas berita yang diterimanya, seorang teman yang awam mengatakan bahwa ciri wahabi adalah yang tidak tahlil kematian, tidak melakukan shalawat nariyah, tidak merayakan maulid nabi dan amalan bid'ah lainnya. Kemudian saya tanyakan kepadanya, "kalau kriteria wahabi adalah yang tidak melakukan amalan2 itu, lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam, para sahabatnya, para tabi'in dan tabi'ut, juga para imam madzhab?, apakah mereka lantas disebut sebagai Wahabi juga? Karena tidak mengamalkannya?. ", teman saya nampak bingung menjawab pertanyaan saya, semoga dia mau mencari kebenaran atas berita yang diterimanya, aamiin.
Padahal sebaik-baik amalan dalam agama ini adalah apa yang diamalkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam dan para sahabatnya, juga para tabi'in dan tabi'ut.
Dalam sebuah kajian Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas mengatakan, "sudah kewajiban bagi Ahlu Sunnah untuk mengikuti pemahaman shalafus shaleh yang merupakan generasi terbaik umat ini, dan Allah menjamin surga jika kita mengikuti pemahaman mereka, waallahua'lam."
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. [An Nisa’:115].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Sesungguhnya, keduanya itu (yaitu menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Pen.) saling berkaitan. Semua orang yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, berarti dia mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min. Dan semua orang yang mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, berarti dia menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.” Lihat Majmu’ Fatawa (7/38)
Pada saat ayat ini turun, belum ada umat Islam selain mereka, kecuali para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Merekalah orang-orang mu’min yang pertama-tama dimaksudkan ayat ini. Sehingga wajib bagi generasi setelah sahabat mengikuti jalan para sahabat Nabi.
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah:100].
Sumber referensi, "Kewajiban mengikuti paham para shalafus shaleh", karya Ustadz Muslim Atsary di almanhaj.or. Id

TANDA AKHIR JAMAN SALAH SATUNYA SEORANG BUDAK MELAHIRKAN TUANNYA.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy membahas tentang sebuah hadist berkaitan dengan tanda-tanda akhir jaman, 
" Salah satu tanda kiamat pernah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Malaikat Jibril yang datang dalam wujud laki-laki tampan.
أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا
“Jika budak wanita telah melahirkan tuannya” (HR. Muslim)
Demikian sabda Rasulullah menjawab pertanyaan apa tanda-tanda kiamat. Ada tanda lain yang disebutkan setelah kalimat ini, namun fokus kita kali ini pada kalimat ini. Apa makna “budak wanita melahirkan tuannya”?
Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud budak wanita melahirkan tuannya adalah jika seorang laki-laki memiliki budak wanita, lalu berhubungan dengannya dan budak itu melahirkan anak. Anak tersebut kemudian berstatus sebagai tuannya. Pendapat Imam Nawawi ini mewakili pendapat mayoritas ulama.
Makna kedua, orang kaya menjual budak yang telah melahirkan anak darinya. Selang bertahun-tahun setelahnya, sang anak yang telah tumbuh dewasa membeli budak tersebut. Hingga jadilah wanita yang sebenarnya adalah ibunya itu menjadi budaknya.
Makna ketiga, sebagian ulama menjelaskan bahwa “budak wanita melahirkan tuannya” adalah kalimat kiasan. Maknanya, ketika orang-orang sudah tak lagi berbakti kepada ibunya. Tidak menghormati ibunya. Tidak memuliakan ibunya. Yang terjadi justru sebaliknya, anak menyuruh-nyuruh ibunya. Anak memperlakukan ibunya seperti pembantu, seperti budak. Diperintah dan disuruh-suruh. Diperintah melakukan pekerjaan domestik kerumahtanggaan, disuruh mengerjakan pekerjaan dapur dan sumur; disuruh mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, memasak, dan sejumlah aktifitas yang tak pantas diberikan kepada sang ibu.
Syaikh Musthafa Dieb Al Bugha dan Syaikh Muhyidin Mistu dalam Al Wafi menjelaskan makna ini, “Banyak anak yang durhaka pada orangtuanya, mereka memperlakukan orangtuanya seperti perlakuan tuan terhadap budaknya.”
Hadist tersebut terdiri dari tiga makna, makna satu dan dua sudah terjadi dijaman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam, namun makna ketiga mungkin yang paling banyak dipahami oleh ulama.
Seperti dijaman ini sering kita jumpai seorang anak memperlakukan buruk ibunya, seorang anak berkata kasar kepada ibunya, menuntut ini dan itu kepada ibunya, menyuruh ibunya mengerjakan sesuatu dan seterusnya, keadaan dimana seorang anak memperlakukan ibunya selayaknya budak, waallahua'lam. "
Referensi "Makna tanda kiamat seorang budak melahirkan tuannya", oleh Ustadz Muchilisin di web bersama dakwah. Co

SAYA ORANG ASING


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau lihat foto profil teman yang menunjukkan "saya pribumi", jadi ingin bikin sticker lawannya, yakni, "saya bukan pribumi" agar mengingatkan banyak orang bahwa tempat kita bukan disini .
Jadi ingat kajian Ustadz Maududi Abdullah di Jakarta beberapa waktu lalu, saat itu beliau bertanya kepada jamaah yang hadir, "kalau boleh tau kampung asli mana dari yang hadir dikajian ini, itu bapak yang baju hijau asalnya mana pak?", bapak itu menjawab, "Cilacap ustadz", ustadz melanjutkan bertanya, "ya yang bapak itu aslinya mana?", bapak itu menjawab, "Nganjuk ustadz", sampai orang ketiga, "kampung mana pak?", orang itu menjawab, "asli Pariaman tadz". Lalu Ustadz Maududi Abdullah, "sengaja saya pilih orangnya agar jawabannya demikian, sebenarnya jawaban dari antum semua kurang benar yaa, sejatinya kampung kita tidak disini, kampung kita bukan ada didunia, tapi kampung sebenarnya adalah akhirat, kelak kita semua akan kembali kepada kampung yang sebenarnya itu. Ketahuilah hidup didunia ini adalah kesempatan bercocok tanam, dengan amal ibadah, dan kita tuai hasilnya ketika kita kembali ke akhirat. "
Menurut kamus Bahasa Indonesia, Pribumi, orang asli, warga negara [...] asli atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya.
Maka sebenarnya kita adalah pendatang dimuka bumi ini, karena asal kita bukan berasal dari sini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Al Bukhari no. 6053)
Hadits ini merupakan bimbingan bagi orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara dan tidak terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, serta terus merindukan untuk kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang hatinya selalu terikat dan rindu untu kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam ‘alaihis salam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.
Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri kepada Imam Umar bin Abdul Azizi, beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam ‘alaihis salam diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfaan (hal. 84 – Mawaaridul Amaan))
Dalam mengungkapkan makna ini Ibnul Qayyim berkata dalam bait syairnya:
Marilah (kita menuju) surga ‘adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah
Tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah)
Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat
Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?
(Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 462))
Referensi "Perjalanan Menuju Akhirat", oleh Ustadz Abdullah Taslim, di muslim. Or. Id

KENAPA TIDAK BOLEH FANATIK PADA SATU MADZHAB?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Di Youtube ada video potongan kajian Ustadz Abu Yahya Badrusallam, soal najis atau tidaknya kotoran kucing, dan divideo itu juga pendapat seorang ustadz yang katanya ahli hadist yang lagi naik daun, dalam posting ini isinya full isinya kata-kata kasar dan ejekan kepada Ustadz Badru, prihatin, apalagi ada ucapan ustadz lain yang menyalahkan atas pendapat Ustadz Badru,"Riau ini mayoritas madhzabnya syafii, kenapa dibawaakan pendapat madzhab Hambali?", maka makin menjadi-jadi comment yang ada, subhanaallah.
Jadi ingat kajian Ustadz Firanda Adirja, beliau mengatakan, "dalam perbedaan masalah fiqih kita sebaiknya berlapang dada terhadap pendapat para ulama, karena jika terjadi perbedaan dan kita benci kepada suatu madzhab tertentu bisa jadi kita menggunakan madhzab itu pada suatu saat. Semisal seorang yang mengaku bermadzhab Syafiiyah tidak suka pada madzhab Hambali, kemudian suatu saat dia pergi berhaji dan melakukan thawaf, maka suka atau tidak suka saat itu dia harus hijrah ke madzhab Hambali , karena kalau dia menggunakan madzhab Syafi’i disaat thawaf mungkin dia akan pingsan kelelahan, karena ketika berwudhu kemudian thawaf bersama ribuan jamaah haji lainnya yang bercampur wanita dan lelaki akan batal wudhunya, karena dalam madzhab Syafi’i batal wudhu jika bersentuhan dengan wanita bukan mahramnya. Dalam keadaan demikian hanya madzhab Hanbali yang memungkinkan digunakan dalam beramal thawaf, yakni bersentuhan dengan selain mahram tidak membatalkan wudhu selama tidak ada kesengajaan, waallahua'lam. "
Ustadz Aris Munandar menuliskan sebuah artikel soal perpecahan dikalangan umat Muslim, diantaranya penyebab perpecahan adalah terlalu fanatik pada madzhab, dan ini pada akhirnya umat Muslim menjadi lemah meskipun jumlahnya sangat besar.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat.” [Ali ‘Imrân/3:105]
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٣١﴾ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allâh, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [Ar-Rûm/30:31-32]
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Dan taatilah Allâh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allâh beserta orang-orang sabar.” [Al-Anfâl/8:46]
Sumber referensi, "Persatuan ummat Islam", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or. Id

BERDAKWAH JANGAN MEMUSUHI, NAMUN KENAPA MALAH MEMUSUHI?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kadang saya sering tidak paham dengan rombongan sebelah, mereka sering menyerukan bahwa dalam dakwah harus dengan akhlak, dakwah itu dengan santun, dakwah harus dengan akhlak yang baik dan seterusnya. Namun ucapan mereka sering tidak sinkron dengan yang apa mereka lakukan.
Pada kenyataannya mereka suka membubarkan kajian, bahkan kalau dicatat sudah ada ratusan tempat dan kota kajian Sunnah dibubarkan, dan juga puluhan kasus dimana kajian Sunnah diusir dan tidak diberikan ijin untuk dilaksanakan, atau juga sudah ratusan tempat pembangunan masjid berbasis Sunnah dihalangi dan jadikan obyek anarkisme. Sebaliknya belum pernah amalan2 seperti maulid nabi atau tahlil kematian yang jelas amalan bid'ah dibubarin sekelompok orang.
Kalau alasannya berbuat anarkisme karena pihak korban sering menyampaikan hadist, "kullu bidatin dholalllah", ini jelas keliru, karena penyampaian pertama kali ucapan ini adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia, beliau menyampaikan karena kecintaan kepada umatnya agar tidak terjerumus kepada amalan2 bid'ah , kalimat itu bukan bikinan ustadz atau Syaikh fulan.
Kalau mau jujur sebenarnya kita dapat melihat mana yang berdakwah dengan akhlak beneran, dan mana yang akhlak-akhlakan. Sama seperti mana yang tahlil beneran dan mana tahlilan, mana yang baca yasin beneran dan mana yang yasinan dan seterusnya.
Kelak mungkin mereka akan ditanya dialam kubur oleh Malaikat seperti yang disampaikan ketua rombongannya, "Manrobuka?", lalu mereka menjawab, "saya pengikut KH. Hasyim Asyari", lalu mereka pikir sudah beres urusan, ternyata KH. Hasyim Asyari dengar lalu dibantah, "amit-amit, saya gak punya pengikut kayak itu, saya gak pernah nyuruh mereka bubarkan kajian Alquran dan hadist, saya gak pernah nyuruh menghalangi pembangunan masjid, dan saya gak pernah nyuruh pengikut saya berbuat anarkisme kepada sesama Muslim". Tentu yang ditanya malaikat akan berkata, "waduh celaka!". Waallahua'lam.

Betapa buruknya akhlak pelaku RIBA!


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA. mengatakan, "Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam menyebutkan dalam sebuah hadist bahwa seseorang yang berbuat riba paling ringan setara dengan perbuatan zina kepada ibu kandungnya sendiri, maka dapat kita bayangkan betapa buruk dan bejatnya akhlak seorang lelaki yang mampu berbuat zina dengan ibu kandungnya sendiri. Padahal sejahat-jahatnya seorang lelaki dipermukaan bumi ini tidak ada satupun diantara mereka mau melakukan perbuatan zina dengan ibunya sendiri. Maka jauhi perbuatan riba sekecil apapun juga. "
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
“Riba Itu Ada 73 Pintu (Dosa). Yang Paling Ringan Adalah Semisal Dosa Seseorang Yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri. Sedangkan Riba Yang Paling Besar Adalah Apabila Seseorang Melanggar Kehormatan Saudaranya.”
(HR. Al Hakim Dan Al Baihaqi Dalam Syu’abul Iman Syaikh Al Albani Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shahih Dilihat Dari Jalur Lainnya)

Imam Ahmad berbuat bid'ah dengan shalat 300 rakaat sehari ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada seorang teman yang suka berbuat amalan bid'ah dan ketika saya tegur dia berdalih untuk membenarkan amalannya dengan mengatakan, "Imam Ahmad saja berbuat bid'ah dengan shalat 300 rakaat sehari, kenapa gak antum kritik juga?", subhanaallah, ini teman mungkin kena syubhat yang ditebarkan seorang ustadz yang mengatakan bahwa Imam Ahmad berbuat bid'ah dengan shalat 300 rakaat sehari, lalu saya katakan, "itu bukan bid'ah, semisal antum shalat 400 rakaat sehari melebihi amalan Imam Ahmad itu ya bukan bid'ah, karena sifat shalat yang Imam Ahmad lakukan adalah shalat Sunnah mutlak, siapa saja bebas melakukan sebanyak yang dia mampu." Lalu dia terdiam memikirkan perkataan saya, semoga dia mau mencari kebenaran soal ini.
Berkaitan dengan ini saya mencari literatur tentang amalan shalat Imam Ahmad yang jumlahnya 300 rakaat sehari, maka tak satupun ulama menyebutkan bahwa itu amalan bid'ah, justru banyak ulama memuji amalan beliau dalam banyaknya menegakkan amalan Shalat Sunnah mutlak itu, kenapa dijaman ini ada ustadz menuduh Imam Ahmad berbuat bid'ah?, subhanaallah, semoga Allah limpahkan hidayah pada kita semua, aamiin.
Lalu untuk meyakinkan saya bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah perihal perkara tersebut, jawaban beliau sangat singkat, namun menyakinkan bahwa tuduhan sebagai ahlul bid'ah kepada Imam Ahmad dengan amalan 300 rakaat itu sangat tidak benar, sebaliknya Imam Ahmad adalah pejuang Sunnah sejati, dalam sejarahnya beliau disiksa, dan dipenjara dalam rumahnya oleh penguasa saat itu karena menolak mengikuti pemahaman menyimpang, paham penguasa yang menyelisihi Sunnah saat itu.
Benar perkataan Imam Syathibi dalam kitab Al Ithisam, beliau mengatakan, "perbedaan Ahlu Sunnah dan Ahlul bid'ah, jika Ahlu Sunnah berjalan dibelakang dalil sahhih dari Alquran dan As Sunnah, Ahlu Sunnah berjalan kemana arah dalil sahhih itu mengarah. Sementara Ahlul bid'ah mereka berjalan didepan dalil sahhih, mereka beramal dengan amalan bid'ah nya kemudian mereka mencari dalil sahhih dari Alquran dan As Sunnah untuk membenarkan amalannya itu. "
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat:1)

Wednesday, October 25, 2017

BERJUANG CARA CERDAS ADALAH CARA SESUAI SUNNAH


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kemarin sore sempat diskusi dengan seorang teman yang baru mengenal Dakwah Sunnah, kata dia, "saya baca beberapa surat dalam Alquran, menyebutkan kalau kita tidak berhukum Islam maka kita juga kafir, gawat nih", lalu saya jawab, "gak juga, kalau pahamnya demikian maka Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam yang hidup berada di bawah pemerintahan jahiliyah selama 13 tahun bagaimana?, karena faktanya beliau tetap mengikuti hukum jahiliyah selama khilafah belum berdiri." teman saya diam mendengarkan pernyataan saya.
Ustadz Abdullah Zein MA dalam sebuah kajian mengatakan :
" jika kita melihat sekelompok orang meneriakkan khilafah dan daulah dibanyak media seseungguhnya apa yang mereka lakukan kurang benar, karena pada hakekatnya menegakkan khilafah tidak akan berhasil selama dalam masyarakatnya masih suka dengan kemaksiatan, bid'ah dan kesyirikan. Khilafah dengan menegakkan hukum-hukum Islam hanya dapat terjadi ketika masyarakatnya sudah istiqomah diatas Sunnah dan mentauhidkan Allah.
Jika memaksakan menegakkan khilafah sementara masyarakatnya belum dapat menerimanya niscaya masyarakat itu sendiri yang melakukan perlawanan terhadap khilafah dan berusaha merobohkannya, waallahua'lam."
Dikajian lain Ustadz Maududi Abdullah mengatakan, " jika kami ditanya apakah antum ingin menegakkan khilafah, maka kita akan jawab, sumpah demi Allah kami sangat ingin khilafah dapat ditegakkan dinegri ini, namun tentu dalam menegakkannya juga mengikuti cara-cara Sunnah bukan dengan cara-cara yang menyelisihi Sunnahnya, karena itulah cara yang terbaik, itulah cara yang paling benar dalam menggakkan khilafah, waallahua'lam".
Maka kalau melihat apa yang terjadi saat ini contohnya sebuah organisasi yang sudah dibubarkan pemerintah, yang selalu membawa panji hitam menurut saya adalah bentuk perlawanan dari pemerintah dan masyarakat yang tidak siap dalam menerima ide-ide dari dari kelompok ini, terutama dari golongan Islam tradisonal sangat tidak siap menerima itu, terlihat dari tindakan anarkis kepada kegiatan dibanyak daerah, seperti Jember, Tulungagung, dan di banyak daerah.
Jadi ide khilafah itu sudah roboh sebelum ditegakkan, karena masyarakatnya masih hobby kemaksiatan, bid'ah dan kesyirikan. Padahal secara dalil atau argumen apa yang diperjuangkan oleh mereka adalah BENAR.
Cara yang benar dalam menegakkan khilafah adalah mengajak masyarakat meninggalkan kemaksiatan, bid'ah dan kesyirikan, pada saat itulah kejayaan dalam bentuk Pemerintah Islam dan hukum-hukum Islam dapat ditegakkan, itu janji Allah Azza Wa Jalla, dan janji Allah adalah PASTI, waallahua'lam.
Allah berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. An Nur: 55)
Dan pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
“Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tegakkanya para saksi (hari Qiyamat)” (QS. Ghofir: 50)
Inilah janji Allah, inilah jaminan dari Allah, dan inilah sebagian dari imbalan bagi orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.
Bila kita renungkan ketiga ayat di atas, niscaya kita dapatkan dengan jelas bahwa janji Allah ini tidaklah diberikan dengan tanpa syarat. Akan tetapi janji Allah ini hanya dapat digapai dengan dua syarat:
1. Syarat Pertama: Iman.
2. Syarat Kedua: Amal sholeh.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Karena para sahabat -semoga Allah meridhoi mereka- sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang paling banyak menegakkan perintah-perintah Allah, dan paling ta’at kepada Allah Azza wa Jalla, maka pertolongan yang mereka dapatkan sesuai dengan amalan mereka. Mereka menegakkan kalimat Allah di belahan bumi bagian timur dan barat, maka Allah benar-benar meneguhkan mereka. Sehingga mereka berhasil menguasai umat manusia dan berbagai negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka melakukan kekurangan dalam sebagian syari’at, maka kejayaan mereka berkurang selaras dengan amalan mereka.”
(Tafsir Ibnu Katsir 3/302)
Sumber referensi
"Bangkitlah Umatku", karya Ustadz Muhammad Arifin Baderi MA. di web muslim.or.id

SAYA TIDAK PACARAN DAN SAYA BAHAGIA



Oleh Siswo Kusyudhanto.

Dahulu kala saya ketika belum mengenal Dakwah Sunnah masih remaja saya selalu berfikir bahwa pacaran itu perlu untuk mengenal satu sama lain sebelum menjelang pernikahan, dengan pacaran kita lebih mengenal pasangan hidup kita dan itu usaha agar tidak menyesal salah pilih dikemudian hari. Ternyata cara berfikir seperti itu adalah hasil doktrinasi flim dan sinetron yang mungkin dulu sering saya tonton, justru saya temui banyak pasangan yang pacaran sebelum pernikahan pada akhirnya perkawinan mereka bermasalah, dan akhirnya bercerai. Dan Alhamdulillah sejak mengenal dakwah Sunnah jadi paham bagaimana seharusnya dua orang manusia mencapai pernikahan dengan cara syar'i, yakni tampa pacaran justru jauh lebih baik. Dan sayapun menikah tampa proses pacaran, dan saya bahagia sejauh ini, sungguh benar Allah dan RasulNya.

Dalam salah satu kajian remaja Ustadz Abu Zubair Haawary menceritakan pada jamaah masa-masa beliau kost ketika masih kuliah di Jakarta, bersama teman lainnya beliau mengontrak sebuah rumah dengan dua kamar, pada suatu hari rumah sebelah mereka dikontrak oleh sepasang pengantin baru, dikisahkan proses pernikahan mereka berlangsung cepat, pasangan muda itu adalah aktivis dakwah, keduanya adalah sama2 berilmu dalam agama sehingga mulai ta'aruf sampai menikah hanya memakan waktu beberapa bulan, artinya sepasang pengantin ini tidak pernah pacaran sama sekali.

Maka anak2 kost di tempat Ustadz Abu Zubair Haawary berada sering sulit tidur nyenyak disaat malam karena rumah sebelah yang tinggali pasagan pengantin baru itu sering ribut, sering ada suara bercanda, cekikikan, suara orang saling berkejaran, intinya rumah itu menggambarkan kegembiraan siang dan malam. Tidak berselang lama si istri dari pasagan pengantin baru itu hamil anak pertama dan merekapun pindah rumah kekontrakan lain yang lebih besar.

Tidak berselang lama rumah itu dikontrak oleh pasangan pengantin baru lainnya, namun kali ini suasana sehari-hari dirumah mereka jauh berbeda dengan pasangan pengantin sebelumnya yang penuh keceriaan, pasangan yang baru masuk ini hari-harinya diwarnai kesunyian, dingin, tidak nampak kemesraan diantara keduanya, usut punya usut ternyata pasangan ini sebelumnya sudah melalui proses pacaran selama 3 tahun sebelum menikah. Bahkan dari mulut wanita pengantin baru itu keluar keluh kesah, bahwa suaminya tidak semesra saat pacaran dulu, kata-kata indah dan penuh janji manis ternyata adalah kebohongan saja, menurutnya jauh sekali perbedaan saat pacaran dulu dengan sekarang saat menikah.
Kesimpulannya jauhi pacaran, karena sejujurnya pacaran penuh kebohongan, kata2 manis tampa makna, pacaran adalah cinta palsu, jika seseorang inginkan cinta yang asli maka menikahlah, jauhi pacaran.

Perhatikanlah sabda Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam:

“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243).

Al Imam an Nawawi rahimahullah berkata: “Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157)

referensi shalafusshaleh.blogspot.co

Tuesday, October 24, 2017

Membenci keberadaan anak perempuan adalah salah satu sifat kaum jahiliyah.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Disebagian kelompok masyarakat di Indonesia ada adat dimana nama marga dan semacamnya dibawa oleh anak lelaki, oleh karenanya banyak orang beranggapan bahwa punya anak lelaki jauh lebih baik daripada memilik anak perempuan. Ketahuilah bahwa sifat seperti ini adalah salah satu sifat yang diperangi oleh Islam, dahulu dijaman jahiliyah memiliki anak perempuan dianggap aib, bahkan sampai ada kebiasaan dikalangan kaum jahiliyah untuk membunuh bayi perempuan dengan cara dikubur atau dimasukkan kedalam sumur mati, subhanaallah. Kemudian Islam datang meluruskan pemahaman tentang hal ini, anak perempuan dimuliakan dalam syariat Islam, dan haknya setara dengan anak lelaki dalam hak hidup, dirawat dan dididik, waallahua'lam.
--------------
Sikap seperti ini adalah bentuk meniru-niru adat jahiliyah
Allah berfirman :
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (٥٨)يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu" (QS An-Nahl : 58-59)
Merupakan perkara yang sangat menyedihkan dan memilukan adalah adanya sebagian suami yang sampai mengancam istrinya dengan berkata, "Jika kamu tidak bisa melahirkan anak lelaki maka kamu akan saya ceraikan !!!"
Jadilah sang perempuan tatkala hamil penuh dengan kecemasan….bahkan penuh dengan ketakutan…jika ternyata ia melahirkan anak perempuan lagi maka akan sirnalah kebahagiaan yang selama ini ia dambakan bersama suaminya.
Di zaman sekarang ini sering pula perubahan sikap suami telah dirasakan oleh sang istri jauh sebelum kelahiran, yaitu tatkala jenis kelamin janin telah diketahui jauh sebelum waktu kelahiran dengan menggunakan USG. Jika setelah melewati proses USG nampak janin berkelamin laki-laki maka sungguh bergembira sang suami. Akan tetapi yang jadi masalah jika USG menunjukkan bahwa jenis kelamin sang janin adalah perempuan…maka akan berubahlah reaksi dan sikap sang suami. Perhatiannya terhadap sang istri menjadi kurang…kebutuhan sang istri kurang terpenuhi…kebutuhan persiapan kelahiran pun kurang diperhatikan. Inilah sisa-sisa dari adat jahiliyah yang masih ada di umat ini…
Referensi "Keutamaan anak Perempuan" oleh Ustadz Firanda Adirja, di Firanda. Co

Monday, October 23, 2017

Sudah membakar masjidpun merasa dirinya tetap benar, buruknya bid'ah.


Oleh Siswo Kusyuydhanto
Sore tadi ada teman bertanya, "itu orang yang suka berbuat anarkis dan membakar masjid apa tidak pernah berfikir tindakannya adalah salah?", saya jawab, "justru menurut pelakunya apa yang dilakukannya adalah benar, meskipun misal seluruh penduduk Indonesia mencaci maki dia menyalahkan tindakannya," pasti pelakunya tetap merasa perbuatannya benar, inilah hebatnya iblis menjerumuskan seseorang dalam kebid’ahan . Orang-orang seperti itu sangat sulit taubat, mungkin hanya Allah saja yang mampu merubahnya, waallahua'lam. Lebih baik kita doakan saja, semoga Allah Azza Wajalla memberikan hidayah kepada mereka. "
Jadi ingat kajian Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, beliau mengatakan," kalau misal kita ingatkan pelaku kemaksiatan biasanya mereka akan menerima karena dengan sadar apa yang dilakukannya salah, seperti ada orang judi kita ingatkan, - pak mbok ya jangan main judi terus, apa gak kasihan sama anak istri dirumah-, maka pelakunya akan membenarkan, - iya saya sebenarnya ingin meninggalkan permainan judi, tapi gimana ya kalau gak main judi pikiran saya suntuk-. Lain halnya dengan pelaku amalan bid'ah, misal ada orang yang sedang melakukan tahlil kematian kemudian kita datang dan nasehati agar meninggalkan perbuatan itu, - pak mbok ya jangan bikin tahlil kematian, ini amalan tidak ada contohnya dari Nabi juga sahabat-, pasti selanjutnya antum dilempar sandal, penyebabnya karena mereka merasa apa yang diamalkan adalah benar. "
perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertaubat ketika dia tidak merasa salah bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan.
Mungkin berdasarkan perkataan Sufyan ats Tsauri ini ada orang yang berkesimpulan bahwa orang yang melakukan bid’ah semisal tahlilan itu lebih rendah derajatnya dibandingkan yang melakukan maksiat semisal melacurkan diri.
Muhammad bin Husain al Jizani ketika menjelaskan poin-poin perbedaan antara maksiat dan bid’ah mengatakan, “Oleh karena itu maksiat memiliki kekhasan berupa ada perasaan menginginkan bertaubat dalam diri pelaku maksiat. Ini berbeda dengan pelaku bid’ah. Pelaku bid’ah hanya semakin mantap dengan terus menerus melakukan kebid’ahan karena dia beranggapan bahwa amalnya itu mendekatkan dirinya kepada Allah, terlebih para pemimpin kebid’ahan besar. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah,
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (Qs. Fathir:8)
Sufyan ats Tsauri mengatakan, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat”.
Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata, “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah. Setelah kuketahui hal tersebut maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa namun tidak mau bertaubat karena mereka merasa sedang berbuat baik” [lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62].
Referensi artikel :"Mengapa dosa bid'ah lebih besar dari maksiat ", di konsultasisyariah. Co

Ketahuilah jalan kesesatan itu bercabang-cabang.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Salah satu ciri kesesatan adalah bercabang-cabang, dijelaskan oleh Ustadz Maududi Abdullah dalam salah satu kajian beliau, "awalnya kesesatan itu terlihat sederhana dan tidak berbahaya , namun tampa disadari pelakunya kesesatan itu menciptakan kesesatan baru berikutnya dan berikutnya. Semisal ada orang yang meyakini dzat Allah ada dimana-mana, dzat Allah ada dilangit, ada dibumi, bahkan ada dalam hati seseorang. Karena menyakini dzat Allah ada dalam tubuh manusia, kemudian dia mengatakan Allah adalah aku, dan aku adalah Allah, maka karena dia meyakini Allah ada dalam dirinya akhirnya dia tidak menunaikan syariat yang diwajibkan kepadanya, semisal shalat, dia enggan menunaikan Shalat karena menegakkan Shalat adalah sifat hamba, sementara Rabb/Tuhan tidak punya kewajiban untuk menegakkan syariat shalat. Paham seperti ini kadang kita temui dalam masyarakat, namun orang yang tidak shalat kemudian kita tegur justru dia berdalih, shalatnya di hati dan semacamnya, subhanaallah. Padahal Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam, manusia paling mulia di permukaan bumi, manusia yang paling mengetahui agama dari siapapun selalu menegakkan shalat, bahkan mungkin paling banyak menunaikan nya diantara kita. Maka jauhi kesesatan sejak awal, agar tidak terjerumus kepada kesesatan berikutnya, waallahua'lam. "
Mungkin sama soal shalat ini dengan tahlil kematian, awalnya tahlil kematian dianggap baik, karena mengumpulkan orang untuk membaca Alquran dan berdzikir, namun amalan inj selanjutnya menjerumuskan kepada kesesatan berikutnya, yang terjadi berikutnya tahlil kematian dianggap lebih penting ditunaikan dari shalat berjamaah, akibatnya tahlil kematian jauh lebih ramai jamaahnya dari shalat berjamaah yang lebih jelas ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam. Seperti kita ketahui salah satu sifat amalan bid'ah adalah menjadi saingan bagi syariat utamanya, waallahua'lam. "
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)
Sumber referensi, "Jalan kebenaran hanya satu", karya Ustadz Abu Ukkasyah di muslim. Or. Id

Tidak ada ilmu kebal dalam Islam




Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada posting tentang kegiatan pondok pesantren di Jawa Timur yang sering disebut sebagai Madinahnya diJawa, namun salah satu kegiatan yang dishare yakni kegiatan demo bela diri yang menggunakan ilmu kebal senjata, pertanyaan di Kota Madinah mana mengajarkan ilmu kebal seperti itu?, jelas tidak pernah ada kajian ilmu kebal senjata di Kota Madinah, bahkan sejak jaman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam sekalipun.
Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah membahas soal ini, "ilmu kebal senjata, tenaga dalam dan semisalnya jelas tidak ada dalam ajaran Islam, karena jika seseorang belajar ilmu kebal senjata kemudian mengamalkannya, tampa dia sadari telah menghilangkan syariat mati syahid pada dirinya . Kalau misal dia berperang, kemudian senjata apapun tidak dapat melukainya bahkan tidak dapat membuatnya mati, kapan dia mendapat dirinya mati syahid?.
Kalau kita pelajari juga dalam kisah-kisah perang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam dan para sahabatnya, akan kita dapatkan kisah dimana banyak para sahabat mati syahid, bahkan dalam sebuah perang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam terluka matanya dan giginya tanggal, hal ini membuktikan bahwa manusia yang paling mengetahui agama ini saja tidak menggunakan bacaan dalam Alquran untuk membuatnya kebal dari senjata, demikian juga para sahabatnya, tidak pernah menggunakan bacaan Alquran untuk membuat diri mereka kebal akan senjata. Dengan jelas artinya ilmu kebal senjata bukan datang dari Allah, kalau datang bukan dari yang hak, lalu dari mana datangnya ilmu kebal ini?, jawabannya dari selain Allah yakni setan, semoga dijauhkan dari hal demikian, aamiin. "
Allah Ta’ala berfirman,
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (40) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (41)
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung Kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.” (QS. Saba’: 40-41)
Sumber Rumoysho.co

Friday, October 20, 2017

Menjawab Syubhat sahabat Nabi melakukan bid'ah.



Oleh Siswo Kusyudhanto

Kalau mendengar orang yang katanya berilmu kemudian asal-asalan berfatwa di depan orang awam jadi ikut ngeri dan takut, dengan mudah dia mengatakan bahwa para sahabat nabi juga melakukan bid'ah, subhanaAllah, tuduhan serius pada para sahabat nabi melakukan bid'ah, syubhat yang nyata, pada akhirnya membuat yang awam bingung membedakan mana Sunnah dan mana bid'ah, dan pada ujungnya amalan-amalan bid'ah makin dicintai karena mereka merasa benar, "sahabat aja melakukan bid'ah", dalihnya.
Dalam kajian beberapa hari yang lalu di Masjid Abu Darda ada seorang jamaah bertanya kepada Ustadz Abu Yahya Badrussallam, " ustadz ada seorang ustadz mengatakan bahwa para sahabat nabi seperti Bilal bin Rabbah juga melakukan bid'ah?, apakah pernyataan ini benar?", lalu Ustadz Badru menjawab, " ya akhi ketahuilah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam adalah seorang Rasul, beliau ma'shum, bebas dari kesalahan karena Allah selalu membimbing beliau, dalam hadist itu disebutkan Bilal bin Rabbah melakukan hal yang tidak pernah dicontohkan dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam melihatnya kemudian beliau mendiamkannya, tidak menyalahkan akan hal tersebut artinya beliau mengijinkan apa yang dilakukan sahabatnya itu, kalau misal amalan itu salah pasti akan diluruskan oleh Nabi. Sekarang misal dihari ini kita beramal yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam , sebuah amalan baru yang tidak ada tuntunannya bahkan dari para sahabat juga tabi'in dan tabi'ut, siapa yang akan membenarkan amalan kita? dan siapa juga yang menyalahkan amalan kita jika amalan kita salah?, tidak ada ya akhi. Maka membenarkan amalan bid'ah atas apa yang diamalkan Bilal bin Rabbah Radhliyaa Anhuu sungguh tidak benar."

Dalam kajian lain dijelaskan oleh Ustadz Maududi Abdullah tentang kategori Sunnah dan bid'ah sehingga mudah dipahami, yakni ketika ada seorang jamaah bertanya soal ini, beliau menjawab, " Sunnah sudah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam sendiri, yakni amal ibadah dalam agama yang sudah dicontohkan baik oleh Nabi Muhammad Shallallahu alahi wassalam dan para sahabatnya, sebaliknya bid'ah adalah amal ibadah dalam agama yang tidak pernah ada contohnya baik dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam dan para sahabat beliau, waallahua'lam"

عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون فقلنا يا رسول الله كأنها موعظة مودع فأوصنا قال أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة
Dari Abi Nujaih ‘Irbadl bin Sariyyah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberi pelajaran kepada kami sehingga hati kami takut kepadanya dan mata mencucurkan air mata. Kami berkata : “Wahai Rasulullah, sepertinya pelajaran ini adalah pelajaran orang yang akan berpisah ? Oleh karena itu, berilah kami nasihat”. Beliau bersabda : “Aku wasiatkan hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kendati kalian diperintah oleh seorang budak, karena orang-orang yang hidup (sepeninggalku) dari kalian akan melihat pertentangan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang teguh pada SUNNAHKU dan SUNNAH para khulafaur-rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Gigit (pegang erat) sunnah tersebut dengan gigi geraham. Tinggalkanlah hal-hal yang baru, karena setiap bid’ah adalah sesat”.
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4607; At-Tirmidzi no. 2676; Ahmad 4/126-127; Ad-Darimi 1/44; Ibnu Majah no. 43,44; Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 27; Ath-Thahawi dalam Syarh Musykilil-Atsar 2/69; Al-Baghawi no. 102; Al-Aajurriy dalam Asy-Syari’ah hal. 46; Al-Baihaqi 6/541; Al-Lalika’i dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 81; Al-Marwadzi dalam As-Sunnah no. 69-72; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 5/220, 10/115; dan Al-Hakim 1/95-97. Hadits tersebut berkualitas shahih].

referensi abuljauza.blogspot.co

Kesesatan melahirkan kesesatan.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Subhanaallah!!! 
Cara beragama primitif, perilaku yang terpola bid'ah hasanah.
Ikut prihatin dengan adanya aksi pembakaran Masjid Muhammdiyah di Bireun, sebenarnya bukan kali ini terjadi hal serupa, dulu ada teman di Pule Lamongan juga menceritakan hal yang sama, Masjid Muhammadiyah Pule juga dirobohkan oleh sekelompok orang yang mengaku aswaja, dan mungkin dibanyak tempat ini juga terjadi. Kenapa dengan jalan anarkis dalam menyelesaikan perbedaan?.
Jadi ingat kajian Ustadz Subhan Bawazier, beliau mengatakan, "perbedaan itu hal biasa, namun kalau sampai berbuat anarkis apalagi sampai merobohkan atau menghalangi pembangunan masjid yang jelas tempat ibadah bagi umat Muslim, sama halnya ada pohon jambu yang berbuah bukan buahnya yang dimakan, namun batangnya yang dimakan, eok! Namanya."

KEBODOHAN + TAKLID BUTA =ANARKISME


Oleh Siswo Kusyuydhanto
Masih prihatin terhadap pembakaran bangunan Masjid At Taqwa di Bireun yang merupakan Masjid yang dikelola oleh pengurus Muhammadiyah setempat, ini mungkin kejadian yang kesekian kali bagi gerakan dakwah Muhammadiyah dizalimi , dan alhamdulillah Muhammadiyah termasuk kelompok yang dewasa dalam menyikapi hal tersebut, karena mereka sudah dizalimi dibanyak tempat oleh kelompok "mayoritas", namun tidak sekalipun mereka membalas dengan perbuatan anarkis yang sama. Ini membuktikan bahwa warga Muhammadiyah dewasa dalam beragama, tidak kekanak-kanakan seperti rombongan sebelah.
Melihat perilaku para pelaku anarkisme dengan atas menamakan agama ini sungguh kenyataan yang memilukan, padahal tidak satupun ulama madhzab atau ulama besar Ahlu Sunnah membuat fatwa yang menjurus kepada anarkisme, semisal, "selain mazhabku wajib masjidnya dibakar, diratakan dengan tanah, dihalangi pembangunannya. Dan pengikutnya kalian usir, bubari kajiannya dan siksa", mungkin hanya madhzab setan yang membuat fatwa demikian, karena hanya setan yang paling setuju kepada perselisihan dan perbuatan anarkisme, setan paling setuju apalagi jika dilakukan kepada sesama Muslim.
Menurut beberapa literatur psikologi menyebutkan bahwa tindakan anarkisme adalah berangkat dari rasa takut, dalam kasus ini mungkin berangkat dari rasa takut pahamnya terancam, tersaingi dan musnah karena lawan dari Sunnah adalah Bid’ah, maka ketika ada kelompok mendakwahkan Sunnah maka para pengamal amalan bid'ah melihat ini adalah suatu ancaman serius, maka ketakutan itu yang mendorong mereka berbuat segala cara agar ancaman itu dapat dilenyapkan meskipun dengan cara paling kasar sekalipun.
Namun yang mendasari hal tersebut adalah sikap taklib buta kepada para pemimpin agamanya disertai kebodohan adalah sumber utama tindakan anarkisme atas nama agama, mereka merasa diatas kebenaran berbuat anarkisme, padahal dibagian agama mana ada hal demikian dibenarkan? , sedangkan memerangi kaum musyirikin harus mengikuti adab perang yang sudah ditetapkan agama, apalagi ini perbedaan diantara umat Muslim sendiri.
Apapun yang terjadi ini PR besar bagi kita umat muslim untuk mendakwahkan paham yang benar kepada umat ini, agar makin dewasa dalam beragama dan mampu bersikap bijak dalam perbedaan pendapat, waallahua'lam.
Soal perbedaan dan perselisihan sebenarnya untuk solusinya sudah diberitakan Allah dan RasulNya, yakni kembali kepada Alquran dan Hadist Sahhih untuk mengukur dipihak mana yang salah dan benar, dan yang berada dalam pihak yang terbukti salah adabnya wajib mengikuti kebenaran, karena pemilik kebenaran sejati hanya Allah dan RasulNya, waallahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).

MASIH BELUM YAKIN MUSIK HARAM ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu ada teman mendengar kajian Ustadz Syafiq Reza Basalamah, judulnya "bagiku Musik Halal", isinya tentang keharaman musik, namun teman ini setelah mendengarnya sampai tuntas masih juga tidak percaya bahwa musik haram, lalu saya sampaikan apa yang di ceritakan seorang ustadz, tentang keberadaan para penghafal Alquran di dunia ini, kenapa mereka mampu menghafal sampai 15 juz atau sampai 30 juz salah satu usahanya yakni dengan meninggalkan menikmati musik, dan tidak ada dipermukaan bumi ini ada penghafal Alquran sekaligus adalah pemusik !!!, ini adalah bukti nyata bahwa musik dengan nyata adalah haram.
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm al-Asy’ari, dia berkata, “Abu ‘Amir atau Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu telah menceritakan kepadaku, demi Allâh, dia tidak berdusta kepadaku, dia telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَـيَـكُوْنَـنَّ مِنْ أُمَّـتِـيْ أَقْوَامٌ يَـسْتَحِلُّوْنَ الْـحِرَ ، وَالْـحَرِيْرَ ، وَالْـخَمْرَ ، وَالْـمَعَازِفَ. وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَـى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَـهُمْ ، يَأْتِيْهِمْ –يَعْنِيْ الْفَقِيْرَ- لِـحَاجَةٍ فَيَـقُوْلُوْنَ : ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا ، فَـيُـبَـيِـّـتُـهُـمُ اللهُ وَيَـضَعُ الْعَلَمَ وَيَـمْسَـخُ آخَرِيْنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ إِلَـى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
‘Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr (minuman keras), dan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok orang sungguh akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, lalu seseorang mendatangi mereka -yaitu orang fakir- untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok hari.’ Kemudian Allâh mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allâh mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.’
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. al-Bukhâri secara mu’allaq[1] dengan lafazh jazm (pasti) dalam Shahîh-nya (no. 5590). Lihat Fat-hul Bâri (X/51),
2. Ibnu Hibbân (no. 6719-at-Ta’lîqâtul Hisân),
3. al-Baihaqi dalam Sunan-nya (X/221),
4. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4039).
------------------------------------------------------------------
Kesaksian Dari Seorang Musisi Asal London
Dulunya dia adalah lelaki kristen, dan seorang pemusik, dia hampir tiap waktu dihabiskan berlatih bersama teman bandnya, juga sempat pentas dibeberapa tempat disekitar lingkungannya. Semula dia mencari ketenangan melalui musik bersama kawan-kawannya satu band. Ternyata hanyalah kegelisahan serta rasa putus asa yang ia dapat.
Ternyata dia mendapatkan ketenangan hanya di dalam Al-Quran. Dan akhirnyapun dia masuk islam dan mengucapkan 2 kalimat syahadat. Kemudian dia meninggalkan musik secara total karena Al-Quran dan musik tidak pernah bersatu pada dirinya.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:
حب الكتاب وحب ألحان الغنا ... في قلب عبد ليس يجتمعان
"Cinta Al-Quran dan cinta musik lagu tidak akan berkumpul di hati seorang hamba" (Nuniyyah Ibn Al-Qayyim hal.368)
Dan harapannya saat ini adalah semoga Allah mempermudah dia untuk belajar di Universitas Islam Madinah (UIM)
Semoga Allah memberikan rezeki kepada kita untuk selalu cinta Al-Quran. #Aamiin Yaa Rabb.
referensi kajian Alamyri.co dan "Haramnya Musik". oleh Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or id.co