Friday, November 10, 2017

Berbicara agama tampa ilmu dosanya lebih besar dari syirik, waspadai itu!


Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya baca sebuah buku yang ditulis seorang ustadz yang katanya ahli hadist,  namun isinya penuh syubhat didalamnya, misal menuduh sahabat Rasulullah yakni Bilal bin Rabbah Radhliyaa Anhuu melakukan bid'ah,  padahal tak satupun ulama besar Ahlu Sunnah  mengatakan sahabat Nabi itu melakukan bid'ah,  karena batasan Sunnah sudah jelas,  yakni amalan yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam dan para sahabatnya,  sementara bid'ah adalah amalan yang tidak pernah dilakukan mereka.  Juga menuduh Imam Ahmad berbuat bid'ah dengan melakukan shalat Sunnah 300 rakaat sehari,  padahal tak satupun ulama besar Ahlu Sunnah  mengatakan amalan Imam Ahmad itu perbuatan bid'ah,  karena beliau melakukan shalat Sunnah mutlak,  berapapun banyaknya dilakukan bukan masuk perbuatan bid'ah. Dan paling ngeri ketika saya buka di halaman 71, dalam point penetapan Bid'ah dholalllah,  disebutkan bahwa termasuk kafir menyakini Allah bersemayam diatas arsy,  subhanaallah,  padahal Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam menyakini Allah bersemayam diatas arsy, juga dalam banyak hadist terbukti dengan perjalanan Isra mi'raj beliau naik ke langit ke tujuh untuk menemui Allah Azza Wajalla untuk mengambil syariat shalat,  waallahua'lam.
Dan buku itu konon sudah terjual hingga ratusan ribu eksemplar,  dan artinya dibaca oleh rafusan ribu orang,  subhanaallah.
Jadi ingat kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy,  beliau mengatakan,  "sangat berbahaya  berbicara agama tampa ilmu,  karena dosanya sungguh besar,  bahkan Allah sebutkan dosanya jauh lebih besar dari perbuatan syirik,  padahal kita ketahui dosa syirik adalah dosa besar dan tidak terampuni,  dan terancam pelakunya  kekal didalam neraka.  Misal ada orang ceramah dimuka umum,  dia bilang Allah ada dimana-mana,  padahal dalam keyakinan kaum Salaf Allah Azza Wajalla bersemayam diatas arsy, disebutkan dalam 7 ayat berbeda dalam Alquran  demikian, dan cukup diimani saja,  tampa mempertanyakannya, atau tampa membantahnya,  samina watho'na atas penjelasan Allah Azza Wajalla atas diriNya. Dan ceramah orang tersebut direkam dan diedarkan secara luas, didengar ribuan orang atau bahkan jutaan orang di Indonesia,  bayangkan betapa besarnya dosa orang tersebut.
Semoga kita dijauhkan dari membicarakan agama tampa ilmu,  karena dosanya sungguh sangat besar,  waallahua'lam. "
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)
Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata: “Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Alloh mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Dan berbicara tentang Alloh tanpa ilmu meliputi: berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukumNya, syari’atNya, dan agamaNya. Termasuk berbicara tentang nama-namaNya dan sifat-sifatNya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syari’atNya, dan agamaNya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

No comments:

Post a Comment