Sunday, January 8, 2017

Terlanjur Bid'ah akhirnya sulit hijrah.


Dulu mungkin karena belum punya ilmu, sering dibikin heran dengan tingkah laku para pelaku Bid'ah, yang sangat keras dalam melakukan pembelaan atas amalan2 bid'ah mereka, mereka memgeluarkan segala dalil yang dipaksakan sebagai pembela atas amalan bid'ah mereka, baru setelah mengikuti pemaparan Ustadz Maududi Abdullah soal ini jadi paham cara berfikir para ahlul bid'ah, kata beliau, "mereka tau dan paham benar bahwa apa yang mereka lakukan, yang mereka amalkan tidak pernah ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam juga Khulafaur Rashidin (para sahabat), namun mereka sudah terlanjur dalam kubangan amalan2 bid'ah dan sulit bagi mereka untuk hijrah dari situ kepada amalan yang sesuai As sunnah, maka untuk menutupi rasa bersalah, dan keinginan bahwa amalan mereka diakui benar, mereka memaksakan dalil syar'i dari Alquran dan hadist sahhih sebagai pembenar", lalu beliau mengutip perkataan Imam Syathibi dalam kitab Al Ithisam," perbedaan Ahlu Sunnah dengan Ahlul Bid'ah yaitu, Ahlu Sunnah berjalan mengikuti arah kemana Ayat Alquran dan hadist mengarah, jika Ayat Alquran dan hadist mengarah kekanan maka Ahlu Sunnah berjalan kekanan dan jika Ayat Alquran dan hadist mengarah kekiri maka mereka akan mengikuti kekiri, oleh karenanya amalan Ahlu Sunnah selalu diatas dalil sahhih. Sebaliknya Ahlul Bid'ah berjalan didepan Ayat Alquran dan Hadist, mereka beramal dahulu kemudian mencari dalil syar'i dari Alquran dan hadist sebagai pembenar, agar terasa diatas kebenaran."
Sungguh benar perkataan beliau, jelas mereka tau maulid Nabi tidak ada sunnahnya sama sekali, namun mereka memaksakan dalil puasa tiap senin Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam sebagai pembenar atas amalan bid'ah itu, padahal amalan puasa dan perayaan sangat jauh berbeda.
Juga misal ada jamaah pengembara, mereka juga tau amalan dakwah mereka sama sekali tidak ada sunnahnya, karena dalam Dakwah Sunnah, sesuai pola dakwah Nabi mulai dimulai dari rumah, kemudian lingkungan sekitar rumah, namun mereka memulai dakwah dari tempat yang jauh dari rumah, akhirnya amalan mereka menabrak banyak ayat dan hadist tentang perkara amanah. Kemudian mereka melakukan pembenaran dengan ayat Ibrahim, padahal manusia yang terbaik mengamalkan ayat2 dalam Alquran adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi, dan beliau tidak berdakwah dengan cara demikian.
Demikian juga pada tahlil kematian, para pelakunya menggunakan dalil sedekah untuk pembenar, padahal bentuk2 amalan sedekah dalam Sunnah tidak mengenal model sedekah seperti itu, amalan itu tidak pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam ataupun para sahabatnya, bahkan juga para imam madzhab sekalipun tidak pernah bersedekah dalam bentuk tahlil kematian.
Dan banyak lagi bukti nyata pemaksaan dalil syar'i atas amalan2 bid'ah mereka.
Sungguh benar Allah Azza Wajalla dalam firmanNya :
"Dan barangsiapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. [An-Nisa’ : 115]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul Mantiq” telah menafsirkan ayat “jalannya orang-orang mu’min” (bahwa) mereka adalah para sahabat. Maksudnya bahwa Allah telah menegaskan barangsiapa yang memusuhi atau menentang rasul dan mengikuti selain jalannya para sahabat sesudah nyata baginya kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan didakwahkan dan diamalkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, maka Allah akan menyesatkannya kemana dia tersesat (yakni dia terombang-ambing dalam kesesatan).
Waallahua'lam bi showab.

No comments:

Post a Comment