Sunday, January 29, 2017

Jauhkan kesyirikan dari mereka sejak dini.


Melihat anak muda berkalungkan jimat, dan berjalan beriringan dengan orang tuanya, jadi ingat perkataan Ustadz Kholid Syamhudi, "dijaman ini karena banyak diantara umat muslim awam akan agamanya, akhirnya kebanyakan orang tua panik ketika anaknya punya nilai buruk dalam pelajaran matematikanya, mereka akan bertindak cepat dengan mengkursuskan anaknnya agar dikemudian hari nilainya bagus, bahkan dengan membayar mahal sekalipun para orang tua mau melakukannya. Sementara kebanyakan orang tua tidak sedikitpun ada sikap takut anaknya berbuat kesyirikan yang sangat dilarang dalam agama ini. Padahal ketika nilai matematika seorang anak buruk hal itu tidak akan membuatnya masuk neraka, sementara seseorang anak yang kemudian hari sampai dewasa berbuat kesyirikan akan terancam masuk neraka dan ditimpa azab karena perbuatan syiriknya. Harusnya setiap orang tua muslim kuatir anaknnya berbuat kesyirikan, dan berusaha dengan menjaga agar anaknya jauh dari perbuatan kesyirikan, yakni dengan cara mengenalkan aqidah tauhid sejak dini kepada merka."
Sesungguhnya wajib atas setiap muslim dalam kehidupannya untuk khawatir terjerumus dalam setiap dosa yang menyebabkan kemurkaan dan kemarahan Allah Jalla wa ‘ala. Dan perkara yang paling besar bagi seorang hamba yang seseorang tersebut wajib khawatir darinya dan bersemangat untuk menjauhinya, serta bersungguh-sungguh untuk menjauhinya adalah syirik (menyekutukan) Allah Jalla wa ‘ala.
Benar, syirik kepada Allah Jalla wa ‘ala adalah dosa yang paling besar dan yang paling membahayakan. Syirik kepada Allah adalah kezaliman yang paling besar, dosa yang paling besar, dan merupakan dosa yang tidak diampuni (jika tidak bertaubat sebelum mati). Syirik kepada Allah merusak rububiyah, mencacati uluhiyah, merupakan buruk sangka kepada Rabb-nya seluruh makhluk Jalla wa ‘ala. Syirik kepada Allah Jalla wa ‘ala menyamakan selain Allah dengan Allah, menyamakan sesuatu yang kurang dan miskin dengan Dzat yang Maha Kaya dan Maha Agung Jalla wa ‘ala. Sesungguhnya kekhawatiran kita terhadap dosa syirik kepada Allah Jalla wa ‘ala harus lebih besar dari kekhawatiran kita dari seluruh perkara yang lain. Terdapat nash dan dalil-dalil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya -semoga sholawat dan salam atasnya. Jika seorang hamba memikirkan dalil-dalil tersebut serta merenungkannya, niscaya akan mendatangkan ke dalam hatinya perasaan khawatir dari syirik dan menjadi peringatan darinya serta menjaga dari terjerumus ke dalamnya.
Dan diantara dalil tersebut adalah firman Allah Jalla wa ‘ala di 2 tempat dalam surat An Nisa ( ayat 48 dan 116)
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An Nisa : 48 dan 116).
Dalam ayat tersebut terdapat penjelasan bahwa barangsiapa yang berjumpa dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam keadaan berbuat syirik, maka sesunggunya ia tidak akan mendapatkan ampunan Allah. Bahkan tempat kembalinya ke neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak pula diringankan azabnya.
Referensi dr artikel , "Kewajiban menjauhi kesyirikan dan kuatir terjerumus kepadanya", Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Abbad, di web almanhaj.or.id. co

No comments:

Post a Comment