Thursday, January 19, 2017

Manusia wajib berusaha, soal hasil biar Allah.


Sering kita jumpai orang di dunia ini menetapkan target atas hasil usahanya, hal ini terjadi karena orang itu menganggap dunia adalah sumber utama kebahagiaan bagi kehidupannya, orang seperti ini diperbudak harta, dia membayangkan jika telah memiliki harta melimpah hidupnya akan mudah dan bahagia. Oleh karenanya dalam setiap usaha yang dilakukannya di menetapkan target, harus mencapai hasil sekian dalam waktu tertentu. Sementara orang mukmin tidak pernah menetapkan target dari usahanya, namun dia berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha, soal hasil dia serahkan kepada Allah saja. Seorang yang menjadikan harta sebagai sumber kebahagiaan ketika dalam usahanya diperkirakan setelah dihitung-hitung akan mendapat keuntungan 10 milyar, seakan dia yakin akan mendapat senilai itu, maka dia berusaha mati2an meraih 10 milyar itu, dan orang terlalu yakin hasil usaha hanya kerena dirinya, padahal pengatur alam semesta adalah Allah Azza wa Jalla termasuk dalam mengatur rizki. Maka ketika Allah menentukan lain, ternyata dalam usahanya mengalami musibah dimana ternyata hasilnya bukan 10 milyar namun hanya 1 milyar orang itu akan stress, akan marah, merasa dirinya gagal. Maka dia akan melampiaskan kekesalannya kepada para karyawannya, kepada anak dan istrinya, menyalahkan ini dan itu. Orang seperti ini adalah orang yamg jauh dari bahagia. Jika kegagalan membuatnya marah dan stress maka apa yang terjadi jika ternyata usahanya bangkrut atau rugi?, tentu hal tersebut dapat membinasakan dirinya, semua diawali dari cara memahami harta yang salah.
Sementara seorang mukmin ketika dalam usaha yang sama di perkirakan mendapat keuntungan 10 milyar ternyata didalam perjalanan usahanya ada musibah sehingga hasilnya cuma 1 milyar maka dia akan bersyukur, tidak terjadi penyesalan mendalam, karena dia telah berusaha semaksimal mungkin dan soal hasilnya dia serahkan kepada Allah, bahkan jika tidak untung atau impas sekalipun dia tidak akan stress, karena dia bersyukur usahanya tidak rugi, inilah orang yang bahagia sebenarnya. Rasa syukur dan ikhlas pemberian Allah membuat nikmatnya makin bertambah dan bertambah lagi.
Bersyukur dan berserah diri kepada Allah bukan artinya bekerja dan berusaha asal-asalan, karena berusaha asal-asalan tidak dikenal dalam Islam. Dalam agamq ini yang diajarkan yakni berusaha semaksimal mungkin, seoptimal mungkin, soal hasilnya biar Allah Azza wa Jalla yang menentukannya, karena alam semesta dan termasuk rizki Dia pengaturnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

1 comment:

  1. Sebenarnya target untuk memotivasi setiap orang untuk berusaha sekeras mungkin. Tanpa adanya target, hampir dipastikan orang akan berusaha biasa2 saja. Sudah banyak bukti, hanya mereka yang mau bekerja keraslah yang berhasil dalam hidupnya. Allah pun akan memberikan pahala kepada manusia sesuai dengan amal ibadahnya. Jangan lupa bahwa bekerja juga ibadah. Maknanya siapa yang berusaha dengan keras, insya Allah akan menghargai dengan pahala (dunia) yang setimpal. Sudah banyak buktinya. So, target hanyalah cara kita untuk memotivasi agar orang mau bekerja dan berupaya dengan keras.

    ReplyDelete