Monday, January 16, 2017

Mengkritik pemerintah, Siapa anda?


Seorang tukang ojek berbicara panjang lebar tentang politik nasional, mengkritik berbagai kebijakan pemerintah, dan dia menyebutkan harusnya yang benar begini dan begitu, dibagian lain ada ada tukang becak menjelek-jelekkan pemimpin, dengan mengatakan pemimpin ini tidak becus dan seterusnya, ada tukang batu diwarung kopi juga berbicara hal sama yakni mengkritik kebijakan pemerintah yang menurutnya salah, dan seterusnya.
Ketahuilah bahwa ketika anda mulai mengkritik pemimpin kemudian menyampaikannya kepada orang disekitar anda, sejatinya dari situlah awal mula anda sulit mengamalkan perintah Allah dalam An nisa'59, yakni perintah Allah Azza wa Jalla untuk taat kepada ulil amri (penguasa), karena sikap berpendapat tidak pada seharusnya dan mengkritik pemimpin hal demikian dapat membuat turunnya kepercayaan seseorang kepada pemimpin, kemudian akibatnya juga terjadi perbedaan pendapat diantara umat muslim, dari sanalah perpecahan umat muslim terjadi. Jika umat muslim telah berpecah belah maka kekacauan terjadi didalam umat muslim, ketika terjadi hal demikian disanalah kaum kuffar mengambil keuntungan untuk kepentingan mereka, oleh karenanya mereka senang menyebarkan pandangan kuffar dalam cara memandang kedudukan pemimpin ditengah umat muslim. Sebaliknya jika umat muslim setia dan percaya kepada para pemimpin mereka, maka kaum kuffar akan sulit mengambil keuntungan karena tidak ada kekacauan dan perpecahan diantara umat muslim.
Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

No comments:

Post a Comment