Wednesday, October 11, 2017

Melogikakan agama adalah salah satu sifat iblis.


Oleh Siswo kusyudhanto
Dalam kajian Ustadz Ali Ahmad beberapa hari yang lalu di Masjid Abu Darda Pekanbaru beliau mengatakan, " salah satu sifat iblis yakni suka menggunakan logika terhadap syariat, dan sifat ini banyak menjangkiti manusia dijaman ini, mereka menggunakan logikanya guna merubah-rubah syariat mulai menta'wil, mengqiyaskan dalil, memotong dalil dari ayat Al Quran atau hadist dan semacamnya agar sesuai dengan syahwatnya. Maka saat ini banyak orang kita ketahui ketika disampaikan syariat agama ini mereka berfikir dahulu jika sesuai dengan logikanya dia ambil jika tidak sesuai logikanya dia tinggalkan, jelas ini bukan sikap mukmin sejati, karena ciri mukmin sejati adalah memiliki sikap samina watho'na, dengar dan taati ketika menerima syariat Allah dan RasulNya. Semoga kita terhindar dari sikap menggunakan logika dalam menerima syariat Allah dan RasulNya, aamiin."
Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata:
أَوَّلُ مَنْ قَاسَ إبْلِيسُ وَمَا عُبِدَتْ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ إلَّا بِالْمَقَايِيسِ يَعْنِي : قِيَاسَ مَنْ يُعَارِضُ النَّصَّ وَمَنْ قَاسَ قِيَاسًا فَاسِدًا وَكُلُّ قِيَاسٍ عَارَضَ النَّصَّ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ إلَّا فَاسِدًا وَأَمَّا الْقِيَاسُ الصَّحِيحُ فَهُوَ مِنْ الْمِيزَانِ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ وَلَا يَكُونُ مُخَالِفًا لِلنَّصِّ قَطُّ بَلْ مُوَافِقًا لَهُ .
“Pertama kali orang yang berqiyas adalah iblis, dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah kecuali karena qiyas.” (Ad-Darimi 1/65). (Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan) yaitu qiyas orang yang menentang nash (teks ayat atau hadits) dan orang yang membuat qiyas dengan qiyas yang rusak. Dan setiap qiyas yang menentang nash maka sesungguhnya tidak ada kecuali kerusakan. Adapun qiyas yang benar maka dia dari timbangan yang diturunkan Allah dan tidak menyelisihi nash sama sekali, bahkan menyesuaikan kepadanya.
عَنِ الْحَسَنِ : أَنَّهُ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ ( خَلَقْتَنِى مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ) قَالَ : قَاسَ إِبْلِيسُ ، وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ قَاسَ. سنن الدارمى – (ج 1 / ص 219)
Dari Hasan al-Basri bahwa ia membaca ayat ini:
خَلَقْتَنِى مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya (Adam) dari tanah. (Shaad: 76), Hasan Al-Basri berkata;
قَاسَ إِبْلِيسُ ، وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ قَاسَ
“Iblis berqiyas, dan dialah orang yang pertama kali berqiyas.” (Ad-Darimi 1/65).
وَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَد : أَكْثَرُ مَا يُخْطِئُ النَّاسُ مِنْ جِهَةِ التَّأْوِيلِ وَالْقِيَاسِ . وَقَالَ : يَجْتَنِبُ الْمُتَكَلِّمُ فِي الْفِقْهِ هَذَيْنِ الْأَصْلَيْنِ الْمُجْمَلِ وَالْقِيَاسِ وَهَذِهِ الطَّرِيقُ يَشْتَرِكُ فِيهَا جَمِيعُ أَهْلُ الْبِدَعِ الْكِبَارِ وَالصِّغَارِ فَهِيَ طَرِيقُ الجهمية وَالْمُعْتَزِلَةِ وَمَنْ دَخَلَ فِي التَّأْوِيلِ مِنْ الْفَلَاسِفَةِ وَالْبَاطِنِيَّةِ الْمَلَاحِدَةِ .
Oleh karena itu Imam Ahmad berkata: “Paling banyak kesalahan manusia itu dari arah ta’wil dan qiyas.” Dan ia berkata: “Dua hal pokok yang menjauhkan pembicara dari kefahaman adalah almujmal (garis besar/ global, pukul rata) dan qiyas (perbandingan/ analogi). Di dalam cara (mujmal dan qiyas) inilah bergabung seluruh ahli bid’ah yang kecil maupun yang besar. Dia itu adalah jalan golongan Jahmiyah, Mu’tazilah dan orang-orang yang memasuki wilayah ta’wil yaitu filosof, kebatinan, dan atheis/ anti Tuhan.” (Al-Fatawa Ibnu Taimyyah 17/ 355, 356).
Referensi nahimunkar. Co

No comments:

Post a Comment