Friday, October 20, 2017

KEBODOHAN + TAKLID BUTA =ANARKISME


Oleh Siswo Kusyuydhanto
Masih prihatin terhadap pembakaran bangunan Masjid At Taqwa di Bireun yang merupakan Masjid yang dikelola oleh pengurus Muhammadiyah setempat, ini mungkin kejadian yang kesekian kali bagi gerakan dakwah Muhammadiyah dizalimi , dan alhamdulillah Muhammadiyah termasuk kelompok yang dewasa dalam menyikapi hal tersebut, karena mereka sudah dizalimi dibanyak tempat oleh kelompok "mayoritas", namun tidak sekalipun mereka membalas dengan perbuatan anarkis yang sama. Ini membuktikan bahwa warga Muhammadiyah dewasa dalam beragama, tidak kekanak-kanakan seperti rombongan sebelah.
Melihat perilaku para pelaku anarkisme dengan atas menamakan agama ini sungguh kenyataan yang memilukan, padahal tidak satupun ulama madhzab atau ulama besar Ahlu Sunnah membuat fatwa yang menjurus kepada anarkisme, semisal, "selain mazhabku wajib masjidnya dibakar, diratakan dengan tanah, dihalangi pembangunannya. Dan pengikutnya kalian usir, bubari kajiannya dan siksa", mungkin hanya madhzab setan yang membuat fatwa demikian, karena hanya setan yang paling setuju kepada perselisihan dan perbuatan anarkisme, setan paling setuju apalagi jika dilakukan kepada sesama Muslim.
Menurut beberapa literatur psikologi menyebutkan bahwa tindakan anarkisme adalah berangkat dari rasa takut, dalam kasus ini mungkin berangkat dari rasa takut pahamnya terancam, tersaingi dan musnah karena lawan dari Sunnah adalah Bid’ah, maka ketika ada kelompok mendakwahkan Sunnah maka para pengamal amalan bid'ah melihat ini adalah suatu ancaman serius, maka ketakutan itu yang mendorong mereka berbuat segala cara agar ancaman itu dapat dilenyapkan meskipun dengan cara paling kasar sekalipun.
Namun yang mendasari hal tersebut adalah sikap taklib buta kepada para pemimpin agamanya disertai kebodohan adalah sumber utama tindakan anarkisme atas nama agama, mereka merasa diatas kebenaran berbuat anarkisme, padahal dibagian agama mana ada hal demikian dibenarkan? , sedangkan memerangi kaum musyirikin harus mengikuti adab perang yang sudah ditetapkan agama, apalagi ini perbedaan diantara umat Muslim sendiri.
Apapun yang terjadi ini PR besar bagi kita umat muslim untuk mendakwahkan paham yang benar kepada umat ini, agar makin dewasa dalam beragama dan mampu bersikap bijak dalam perbedaan pendapat, waallahua'lam.
Soal perbedaan dan perselisihan sebenarnya untuk solusinya sudah diberitakan Allah dan RasulNya, yakni kembali kepada Alquran dan Hadist Sahhih untuk mengukur dipihak mana yang salah dan benar, dan yang berada dalam pihak yang terbukti salah adabnya wajib mengikuti kebenaran, karena pemilik kebenaran sejati hanya Allah dan RasulNya, waallahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).

No comments:

Post a Comment