Wednesday, January 30, 2019

HANYA ORANG BERIMAN YANG BERSIKAP "SAMINA WATHO'NA".




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menjelaskan kaidah dan adab beragama yang membedakan mana orang beriman dan mana orang munafik bahkan kafir.
Beliau mengatakan, " Dalam banyak ayat di Al-Qur'an sering kita temukan panggilan Allah Azza wa Jalla kepada orang beriman, seperti wahai orang beriman, atau semacamnya, hal ini menunjukkan bahwa syariat Allah dan RasulNya hanya ditunaikan oleh orang-orang yang beriman dan berlaku kepada mereka saja, sementara orang yang kufur kepada syari'at Allah dan RasulNya ketika disampaikan perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla mereka menimbang dahulu dengan akal dan untung ruginya, jika syariat itu menguntungkan baginya maka dia kerjakan jika tidak menguntungkan baginya maka dia tinggalkan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman yakni ketika disampaikan syariat Allah dan RasulNya berkata "Samina watho'na, saya dengar dan saya taati", karena orang beriman yakin perintah dan larangan Allah dan RasulNya menyelamatkan mereka meskipun mungkin itu sangat sulit diamalkan, aamiin."
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An Nuur [24]: 51)
Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa sesungguhnya sifat orang yang benar-benar beriman (yaitu yang imannya dibuktikan dengan amalan) apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Rasul memberikan keputusan di antara mereka niscaya mereka akan mengatakan, “Kami dengar dan kami taati”, sama saja apakah keputusan tersebut dirasa cocok ataupun tidak oleh hawa nafsu mereka. Artinya mereka mendengarkan keputusan hukum Allah dan Rasul-Nya serta memenuhi panggilan orang yang mengajak mereka untuk itu. Mereka taat dengan sepenuhnya tanpa menyisakan sedikitpun rasa keberatan.
Hakikat kebahagiaan adalah bisa meraih perkara yang diinginkan dan selamat dari bahaya yang ditakutkan. Dan Allah pun membatasi kebahagiaan hanya ada pada orang-orang seperti mereka. Sebab orang tidak akan pernah berbahagia tanpa berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya (lihat Taisir Karim Ar Rahman, hal. 572)
Sumber Referensi, "Delapan Kaidah Muslim dan Muslimah", karya Ari Wahyudi di Muslim.or

No comments:

Post a Comment