Friday, April 12, 2019

SULITNYA MENASEHATI ORANG JIKA BERKAITAN DENGAN BID'AH




Oleh Siswo Kusyudhanto
Kata seorang ustadz, mengingatkan seseorang tentang bahaya amalan bid'ah itu ibarat seperti seorang ayah yang sedang menasehati anaknya yang sedang bermain api.
Misal seorang ayah melihat anaknya bermain-main dengan api, kemudian karena kuatir terjadi sesuatu pada anaknya, juga karena sayang pada anaknya dan takut ada bagian tubuh anaknya terbakar api maka si ayah melarang anaknya bermain api, namun disatu sisi si anak yang dilarang menganggap si ayah merusak kesenangannya, si anak merasa ayahnya membencinya, padahal si ayah melarang dan menasehati disebabkan karena sayang kepadanya, dan ini tidak dimengerti oleh si anak karena ilmu tentang hal ini belum sampai kepadanya.
Demikian juga ketika kita menasehati seseorang yang berbuat bid'ah, kebanyakan mereka merasa orang yang menasehati membenci dirinya, padahal nasehat itu disampaikan karena sayang, sebagaimana Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam ketika mengingatkan bahaya bid'ah, alasan disampaikan oleh beliau juga karena didasarkan rasa sayang kepada umatnya, jangan sampai umatnya terlibat dalam kebid'ahan yang dapat menjerumuskan umatnya kedalam neraka, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam menyampaikan itu bukan didasarkan kepada rasa benci, waalahua'lam.
Sulitnya menasehati seseorang dalam hal yang berkaitan dengan bid'ah juga dirasakan para ulama, bahkan ulama salaf, generasi awal Islam.
seorang Ulama tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertaubat ketika dia tidak merasa salah bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan.
Allah Ta'ala berfirman ;
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (Qs. Fathir:8)
Sumber Referensi "Mengapa dosa bid'ah lebih besar dari dosa maksiat", dr web konsultasi Syariah.c

No comments:

Post a Comment