Saturday, April 20, 2019

PERNAH MASUK LIANG LAHAT?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman kajian pernah ikut pelatihan penyelenggaraan jenazah yang diisi seorang ustadz, pelatihan berlangsung intensif dan lengkap mulai tata cara mengkafani sampai menguburkannya, alat peraga juga sangat lengkap disediakan panitia mulai kain alat dan bahan untuk memandikan jenazah, sampai kain kafan juga liang lahat dibuat semirip mungkin dengan aslinya.
Dan sebagai alat peraga si teman ini mau menjadi model dalam proses pelatihan penyelenggaraan jenazah, saat sesi peragaan memandikan dan mengkafani dia masih tenang karena banyak diantara peserta melontarkan candaan, namun mulai seram ketika dia dimasukkan kedalam liang lahat dan ditutup dengan kayu pendek diatasnya, padahal dia yang berperan sebagai jenazah tidak lama dilubang itu, palingan kurang dari 5 menit, namun baginya sangat lama dan sangat menyeramkan keadaan di dalamnya, sampai saking takut suasana dilubang itu, begitu keluar dari liang lahat peragaan dia menangis kesengggukan.
Sejak kejadian itu iya berjanji untuk membawa bekal sebaik mungkin berupa amal ibadah dan berusaha seIstiqomah mungkin sebelum masuk ke liang lahat kelak.
Membayangkan masuk liang lahat sendiri cuma pakai baju kafan dalam lubang gelap sesempit itu sungguh bikin ngeri, pasti sangat seram, sendiri tampa teman dan kerabat, tampa harta secuil pun, tidak ada fasilitas dunia yang kita nikmati, tidak ada jabatan yang kita andalkan, sungguh menyeramkan.
Jadi teringat nasehat Ustadz Abu Zubair Hawaary, kata beliau salah satu usaha agar kita dapat Istiqomah diatas amal ibadah, dan Istiqomah dalam menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah dan RasulNya yakni dengan selalu mengingat kematian, hanya dengan mengingat kematian seseorang akan mempersiapkan bekal sebaik mungkin menjelang kematiannya.
Dalam sebuah kajian ada seorang ustadz juga menjelaskan hal yang hampir sama, kata beliau sumber kerusakan diatas muka bumi ini yang disebabkan manusia kebanyakan mereka lupa akan datangnya kematian, ada orang berusaha meraih kekayaan bahkan dengan cara zalim seperti menipu, berbohong, mengurangi timbangan, korupsi, merubah angka di kuitansi dan seterusnya, mereka mengira akan hidup selamanya dengan kekayaannya dan lupa akan kematian dan bekal apa yang dibawanya menjelang mati. Atau ada orang melakukan zina, narkoba dan kemaksiatan lainnya mereka lalai bahwa kelak ketika menjelang kematiannya bekalnya dosa dari perbuatannya.
Oleh karenanya penting untuk selalu mengingat datangnya kematian, hanya dengan cara demikian menjaga kita dari kelalaian, dan ada sikap untuk selalu Istiqomah diatas amal ibadah.
Waallahua'lam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. [HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].
Dalam riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu. [Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333].
Syumaith bin ‘Ajlan berkata:
مَنْ جَعَلَ الْمَوْتَ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, لَمْ يُبَالِ بِضَيْقِ الدُّنْيَا وَلاَ بِسَعَتِهَا
Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan dunia atau keluasannya. [Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi].
Sumber Referensi "Perbanyak mengingat Kematian", karya Ustadz Abu Muslim Al Atsyari di almnhaj.or

No comments:

Post a Comment