Friday, December 30, 2016

Kami menghalangi anda berbuat Bid'ah, karena kami sayang anda.


Sebagaimana telah diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu,
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »
Dari Jabir bin Abdillah berkata : Jika Rasulullah berkhutbah maka merahlah kedua mata beliau dan suara beliau tinggi serta keras kemarahan (emosi) beliau, seakan-akan beliau sedang memperingatkan pasukan perang seraya berkata "Waspadalah terhadap musuh yang akan menyerang kalian di pagi hari, waspadalah kalian terhadap musuh yang akan menyerang kalian di sore hari !!". Beliau berkata, "Aku telah diutus dan antara aku dan hari kiamat seperti dua jari jemari ini –Nabi menggandengkan antara dua jari beliau yaitu jari telunjuk dan jari tengah-, dan beliau berkata : "Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur'an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid'ah adalah kesesatan" (HR Muslim no 2042)
Setiap kali hadist ini dibawakan oleh para ustadz Dakwah Sunnah, atau siapapun yang menyampaikan hadist sahhih ini selalu dibalas dengan perkataan buruk oleh orang yang merasa mengamalkan amalan bidatin, "anda suka memvonis", " anda suka membid'ahkan", "suka mengkafirkan", bahkan hingga caci maki.
Padahal hadist ini sahhih secara mutlak, diakui oleh para ulama hadist, dan yang pasti hadist ini adalah perkataan mulia dari manusia paling mulia di muka bumi ini yakni Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, dan saya yakin ketika beliau menyampaikan perkataan ini didasari karena beliau sayang terhadap umatnya, beliau tidak ingin umatnya terlibat dalam perkara-perkara Bid'ah yang terlarang, dan bukan berniat menyakiti atau memvonis seseorang. Demikian juga ketika hadist ini telah sampai kepada para ustadz Dakwah Sunnah, saya yakin motivasi mereka untuk menyampaikan hadist ini karena didasari rasa sayang, mereka tidak ingin umat muslim terlibat dalam amalan bid'ah yang terlarang, bukan berniat memvonis, membid'ahkan dan bukan juga mengkafirkan.
Kata Ustadz Maududi Abdullah, " kami sering menyampaikan dalil sahhih larangan berbuat bid'ah karena kami sayang anda, kami tidak ingin saudara seiman, saudara seagama kami terlibat sebuah amalan yang sia-sia belaka, kami tidak ingin saudara kami terlibat dalam amalan yang disebut sesat oleh Rasulullah. Sama halnya ketika seorang ayah marah dan melarang anaknya bermain pisau, ayahnya marah bukan karena benci anaknya tapi karena sayang anaknya, kalau ayahnya benci anaknya niscaya dia akan membiarkan si anak bermain pisau, atau ketika seorang ibu marah kepada anaknya yang bermain api, apakah itu karena benci?, tentu tidak, ibunya marah kepada anaknya didasari rasa sayang, si ibu tidak ingin anaknya terbakar oleh api".
Waallahua'lam

No comments:

Post a Comment