Sunday, December 4, 2016

Jangan bangga dengan jumlah orang yang besar.


Lihat banyak posting demo atau apalah judulnya dengan menyebut kebanggaan atas besar nya jumlah orang yang hadir, sesungguhnya itu tidak membuktikan sama sekali kekuatan umat Islam sesungguhnya. Jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, "kalau anda ingin lihat kekuatan umat muslim sesungguhnya, maka lihat berapa orang jamaah shalat fardhu disaat subuh, itulah kekuatan umat Islam sesungguhnya. Karena merekalah yang punya kecintaan dan keikhlasan kepada agama ini".
Telah diriwayatkan dalam hadits shohih bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sebentar lagi akan muncul umat-umat yang berkerumun (memperebutkan) kalian seperti berkerumunnya orang-orang yang makan pada piringnya. Maka seseorang bertanya : “Apakah karena kami sedikit pada waktu itu? Rasulullah menjawab : “Bahkan jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih ombak di lautan. Dan sungguh-sungguh Allah akan mencabut rasa gentar di hati musuh-musuh kalian, kemudian Allah benar-benar akan melemparkan wahn ke dalam hati-hati kalian,” Maka seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Rasulullah menjawab : “Cinta dunia dan benci pada kematian.” (Dishohihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Ash shahihah 958).
Riwayat ini menceritakan keadaan umat Islam yang memprihatinkan sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Bukti kebenaran hadits ini semakin jelas, sejak munculnya fitnah besar. Yaitu sejak terbunuhnya khalifah Utsman bin ‘Affan radliyallahu’anhu, yang menyebabkan terpecahnya kalimat persatuan pada kaum muslimin dan tercerai-berainya barisan mereka. Sehingga kaum muslimin digambarkan bagai buih di lautan, diombang-ambing kesana kemari dan tidak memiliki kewibawaan lagi dihadapan musuh-musuh Islam. Dewasa ini percikan fitnah yang dahsyat itupun telah menimpa hati-hati kaum muslimin.
Dalam hadits di atas, Rasulullah juga memberikan gambaran tentang keadaan umat ini setelah Beliau wafat. Yaitu kabar kelemahan dan keterpurukan umat ini dihadapan musuh-musuh dikarenakan penyakit wahn yang melanda mereka. Penyakit ini jelas tidak dapat diobati Kecuali dengan kembalinya umat ini kepada pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, melalui bimbingan para ulama yang mengikuti jejak salafush sholeh (para pendahulu yang sholih).
Maka upaya untuk mengembalikan ‘izzah (kemuliaan kaum muslimin) adalah dengan mempelajari ilmu agama ini dan mengamalkannya. Sehingga umat ini dapat kembali kepada Dien dan terlepas dari berbagai macam problematika yang melanda.
Al Allamah Al Muhaqqiq Asy Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi Al Yamani mengatakan : “Telah banyak orang yang berilmu tentang Islam menetapkan, bahwa setiap kelemahan dan kehinaan serta berbagai bentuk kemunduran lainnya yang menimpa kaum muslimin ini, hanya dikarenakan jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar. Saya berpendapat bahwa (seluruhnya itu) kembali kepada tiga perkara :
1. Tercampurnya perkara yang tidak termasuk Dien dengan perkara Dien.
2. Lemahnya keyakinan terhadap perkara Dien.
3. Tidak mau beramal dengan hukum-hukum Dien
Oleh sebab itu, berilmu tentang adab-adab Nabawiyah As-Shahihah di dalam perkara ibadah dan mu’amalah –seperti mukim (bertempat tinggal), safar, bergaul, bersatu, bergerak, diam, bangun, tidur, makan, minum, berbicara, dan perkara-perkara lain yang terdapat pada manusia ketika hidupnya, dan beramal sesuai dengan kemampuan- adalah satu-satunya obat bagi problem itu. Sesungguhnya perkara-perkara adab tersebut adalah perkara yang mudah bagi jiwa. Maka apabila manusia beramal dengan perkara-perkara mudah dari adab-adab tersebut dan meninggalkan perkara yang menyelisihinya, Insya Allah dia senantiasa mempunyai keinginan untuk menambah amalannya.
Akhirnya, tidak ada sedetik pun waktunya kecuali akan menjadi tauladan yang baik bagi orang lain dalam perkara itu. Dia mengambil petunjuk yang lurus dan berperilaku dengan akhlak yang agung. Hati akan bercahaya dan dada akan lapang, jiwa akan tenang, keyakinan akan kokoh, dan amal akan menjadi baik. Apabila telah banyak orang yang berjalan di atas jalan ini, maka segala problematika itu, insya Allah akan sirna. (Muqaddimah Fadlullahis Shamad 1/17)
Asy Syaikh Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa jalan satu-satunya untuk terlepas dari keadaan muslimin yang menyedihkan ini adalah dengan kembali kepada Dien yang metodenya adalah dengan At Tashfiyah wat Tarbiyah (pembersihan pemikiran dan pendidikan). Beliau mengatakan : “Agar kita dapat memberikan dalil yang menunjukkan benarnya pendapat yang kita pegangi dalam manhaj (jalan) ini (yaitu) kita kembali kepada kitab Allah Al karim. Didalamnya ada satu ayat yang menunjukkan kesalahan orang-orang yang menyelisihi kita pada perkara yang sudah kita yakini, yaitu bahwa Al Bidayah (langkah pertama untuk kembali kepada Dien) adalah dengan melakukan At Tashfiyah dan At Tarbiyah.” Allah Ta’ala berfirman :
“Jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolong kamu.” (Muhammad : 7).
Inilah ayat yang dimaksudkan. Di sini para mufassirin (Ahli Tafsir) menerangkan bahwa makna Nashrullah (menolong Allah) adalah beramal dengan hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala. Allah Ta’ala berfirman :
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat”. (Al Baqarah : 3) (lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/293)
Maka, apabila pertolongan Allah tidak akan turun kecuali dengan menegakkan hukum-hukum-Nya, bagaimana kita dapat masuk ke dalam jihad. Yakni perang di medan tempur yang kita berharap pertolongan Allah turun di sana. Sedangkan kita tidak menolong Allah sesuai dengan yang telah disepakati oleh mufassirin. Bagaimana kita akan berjihad sedang akidah kita bobrok? Bagaimana kita bisa mendapat pertolongan dalam berjihad sedang akhlak kita rusak?
Referensi darussallaf.co

No comments:

Post a Comment