Monday, December 12, 2016

Berkat bisikan iblis mereka menuding kita mengharamkan shalawat dan membenci kelahiran Nabi.


Di kalangan umat muslim kita beredar berbagai jenis shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, namun banyak diantaranya adalah masuk amalan shalawat bid'ah, dengan alasan mencintai Nabi kemudian mereka mengarang lafadz2 shalawat yang tidak jarang justru menyelisihi apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, bahkan ada juga yang mengandung lafadz kesyirikan. Maka ketika jamaah Ahlus Sunnah menghindari jenis shalawat-shalawat bid'ah disana ada iblis yang membisiki para pengamal shalawat bid'ah, bahwa orang yang menghindari shalawat bid'ah adalah kelompok yang mengharamkan shalawat dan tidak cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, dan bisikan iblis itu tersebar luas, sehingga ketika mereka jumpai seseorang tidak mengamalkan shalawat bid'ah langsung dituding sebagai pengharam shalawat dan tidak cinta kepada Nabi. Sungguh ini fitnah yang sangat keji, karena sejatinya Ahlus Sunnah selalu menyerukan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi kapan saja, sebanyak mungkin, dan shalawat kepada Nabi adalah memiliki keutamaan yang tinggi dalam amal ibadah. Juga tindakan menghindari terlibat dalam amalan shalawat bid'ah dan mengamalkan shalawat sesuai tata cara sunnah yakni tidak bersuara keras dan tidak dilakukan secara berjamaah adalah wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, karena Ahlus Sunnah ingin memurnikan ajaran beliau agar tidak bercampur dengan kebid'ahan. Ahlus sunnah sejati hanya mengamalkan shalawat yang dibenarkan oleh dalil sahhih, yakni yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, bukan karangan seorang ulama fulan.
Shalawat Yang Disyari’atkan.
Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Bentuk shalawat ini ada beberapa macam. Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab Shifat Shalat Nabi menyebutkan ada tujuh bentuk shalawat dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat hafizhahullah di dalam kitab beliau, Sifat Shalawat & Salam, membawakan delapan riwayat tentang sifat shalawat Nabi.
Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaKa Hamiidum Majid).
Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif].
Dan termasuk shalawat yang disyari’atkan, yaitu shalawat yang biasa diucapkan dan ditulis oleh Salafush Shalih.
Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al ‘Abbad hafizhahullah berkata, ”Salafush Shalih, termasuk para ahli hadits, telah biasa menyebut shalawat dan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut (nama) beliau, dengan dua bentuk yang ringkas, yaitu:
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan
عَلَيْهِ الصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ (‘alaihish shalaatu was salaam).
Alhamdulillah, kedua bentuk ini memenuhi kitab-kitab hadits. Bahkan mereka menulis wasiat-wasiat di dalam karya-karya mereka untuk menjaga hal tersebut dengan bentuk yang sempurna. Yaitu menggabungkan antara shalawat dan permohonan salam atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Fadh-lush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al ‘Abbad]
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc., referensi dari almanhaj.or.id

No comments:

Post a Comment