Sunday, August 21, 2016

Sanggup memilih Akherat?


Sanggupkah memilih akherat?

Dikisahkan seorang teman kepada saya.

Ada seseorang baru mengenal dakwah sunnah, setiap dia mengikuti dauroh dan tabligh akbar bersama para ustadz dan syaikh dia makin tau pentingnya amal ibadah, dan semakin kecilnya perkara dunia dimatanya. Dulu dia anggap shalat itu amalan sekedarnya, atau sekedar ingat, hanya shalat jumat tiap minggunya, dan setiap tahun untuk shalat ied. Namun sejak tau dakwah sunnah, dia makin tau pentingnya shalat, sebuah perkara amalan dalam agama ini yang dihisab kepada seseorang pertama kali kelak, amalan shalat adalah satu-satunya syariat agama ini yang disampaikan diatas langit oleh Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ketika melakukan perjalanan isra mi'raj. Maka sejak itu ia memprioritaskan shalat berjamaah dalam kehidupan sehari-hari. Apapun keadaannya dia memprioritaskan shalat diatas semua urusan.
Teman jamaah dakwah sunnah ini bekerja di sebuah perusahaan dimana hampir semua bosnya non muslim(kafir).
Seperti biasanya masuk waktu istirahat, teman itu bersiap akan mendirikan shalat berjamaah dhuhur bersama teman2 nya, namun setelah berwudhu tiba2 salah satu bosnya mendatangi mereka dan meminta untuk mengambilkan barang yang dibutuhkan, dengan alasan darurat maka si bos ini memberi perintah agar segera dikerjakan para pekerjanya. Tentu hal ini membuat gusar beberapa pekerja disitu, termasuk teman itu, dalam hatinya dia marah, karena waktu jelas menunjukkan waktu istirahat, dan paling membuat marah yakni mereka sedang bersiap shalat berjamaah. Namun perasaan marah itu dia pendam, dia merasa sangat lemah, dia hanya bawahan yang harus siap menerima perintah bos yang menggajinya, namun disisi lainnya dia harus menurutkan perintah bos Maha Besar yakni Allah. Hatinya bergolak, timbul debat hebat dalam ruang hatinya, karena kejadian serupa sering menimpanya. Maka dia berusaha menawar perintah bosnya, "maaf bos kami mau shalat dhuhur dulu, nanti selesai shalat kami akan kerjakan perintah bos", mendengar ucapan bawahannya dianggap sebagai bantahan dan perlawanan tentu bos agak marah, "ini penting, shalatnya nanti aja, khan masih lama batas waktunya". Mendengar itu teman yang mencoba menawar perintah bos langsung tertunduk lesu juga perasaan marah yang terpendam.
Akhirnya siang itu shalat berjamaah para pekerja mundur agak lama karena harus mengerjakan perintah sang bos.
Esoknya teman itu mengundurkan diri dari pekerjaannya, dia merasa amal ibadah yang dianggap penting terganggu pekerjaannya, dan dia bertawakal kepada Allah atas rezki diesok hari.
Menurut dia akherat lebih penting dari perkara dunia, maka dia memilih akherat.

 Allâh berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mau memahaminya? [Al-An’âm/6:32]

Juga firman-Nya

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allâh itu lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak mau memahaminya? [Al-Qhashas/28:60]

Juga firman-Nya:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Allâh meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). [Ar-Ra’du/13:26]

Juga firman-Nya:

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?

No comments:

Post a Comment