Tuesday, August 2, 2016

tawakal


Ntar kami makan apa?


Ada teman yang bekerja di bank konvensional ketika mendengar kajian seorang ustadz yang mengatakan bekerja di tempat yang usahanya haram seperti riba, termasuk didalamnya bank, maka hasil dari pekerjaan itu yakni gaji yang diterima adalah haram, maka dia mulai bertanya-tanya, "terus kalau saya gak kerja di bank saya dan anak istri makan apa?".
Langsung saya teringat materi kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy Lc. ketika beliau berkunjung ke Pekanbaru. Suatu hari hp ustadz Abu Haidar As Sundawy bergetar, tanda telepon masuk, ketika diangkat, terdengar diseberang sana suara seorang laki-laki, dia menceritakan pekerjaannya sebagai waitters(pelayan) di night club sebuah kapal pesiar mewah dari luar negri, dalam kesehariannya dia menyajikan minuman beralkhohol dan juga kadang diminta menari tari tradisional Indonesia. berkat pekerjaannya itu dia mendapatkan penghasilan belasan juta rupiah setiap bulan jika dikurskan ke rupiah. Lelaki itu bertanya kepada ustadz, " ya ustadz apakah hasil kerja saya itu haram?", dengan singkat Ustadz Abu Haidar As Sundawy menjawab, " haram", lalu si lelaki itu bertanya lagi, "haram ya?", ustadz manjawab lagi, "iya haram', lalu si lelaki itu mencoba bernegosiasi, " apakah gak ada peluang hasil kerja saya itu menjadi halal ya ustadz?", ustadz menjawab, "gak ada, karena haram menurut syariat maka selamanya haram'. Lalu Ustadz Abu Haidar As Sundawy menyarankan lelaki itu mencari pekerjaan lain yang halal, dan lelaki itu cuma mengiyakan lalau berkata, ' saya akan berusaha mencari pekerjaan yang halal ya ustadz, insyaAllah, doakan saya".
Selang satu tahun tidak terdengar kabar dari lelaki itu, kemudian suatu saat Ustadz Abu Haidar As Sundawy mendapat telepon dari lelaki itu, dia mengisahkan sejak keluar dari pekerjaannya sebagai pelayan kapal pesiar, hartanya ludes karena menganggur berbulan-bulan, suatu saat memulai usaha dari hanya jual baju kecil2an, kemudian meningkat menjadi usaha jualan baju distro partai besar, dan selang dalam beberapa bulan omzetnya mencapai ratusan juta rupiah dan juga memiliki toko di sebuah Mal di Bandung.

Semoga cerita ini menginspirasi kita semua, dan dapat mengambil pelajaran perlunya sikap tawakal kepada Allah.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allâh, dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung [al-Jumu’ah/62:10]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakAllâh kepada Allâh, sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya) [Ali ‘Imrân/3:159]

Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Orang mukmin yang kuat (dalam iman dan tekadnya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allâh daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing (dari keduanya) memiliki kebaikan, bersemangatlah (melakukan) hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah (selalu) pertolongan kepada Allâh, serta janganlah (bersikap) lemah…-HR Muslim (no. 2664)

Sumber: https://almanhaj.or.id/3882-tawakal-dan-usaha-bertentangan.html

dikutip dr dauroh Ustadz Abu Haidar As Sundawy Lc. dan referensi dr Almanhaj.or.id

No comments:

Post a Comment