Tuesday, October 23, 2018

HAMPIR SEMUA KERUSAKAN AGAMA DISEBABKAN MENINGGALKAN SIKAP ZUHUD


Oleh Siswo Khusyudhanto
Dari semua pembahas kerusakan dalam agama hampir semua disebabkan oleh meninggalkan sikap Zuhud. Mulai korupsi, riba, menipu, berbohong, merubah angka kuitansi, merubah timbangan dan seterusnya disebabkan hilangnya sikap Zuhud pada pelakunya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, zuhud yang disyari’atkan ialah meninggalkan rasa gemar terhadap apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Yaitu terhadap perkara mubah yang berlebih dan tidak dapat digunakan untuk membantu berbuat ketaatan kepada Allah, disertai sikap percaya sepenuhnya terhadap apa yang ada di sisi Allah.
Misal dalam soal shalat saja kita wajib memiliki sikap Zuhud, dalam sebuah kajian Ustadz Abu Zubair Hawaary menyebutkan, jika seseorang ingin khusyuk dalam shalatnya dia wajib memiliki sikap Zuhud, karena perusak utama kekhusyukan shalat adalah benak yang dipenuhi oleh urusan-urusan dunia, maka selama belum ada sikap Zuhud padanya selamanya sulit dia mencapai kekhusyukan dalam shalat.
Dalam bagian lain ada Seorang Ustadz menjelaskan bahwa sikap Zuhud itu perlu dilatih, tidak datang dengan sendirinya. Semisal ada seseorang sangat suka nonton pertandingan bola, dan jamnya sering bersamaan dengan waktu masuk shalat Isya', maka dia harus berlatih meninggalkan menonton pertandingan bola, dan berusaha mengerjakan shalat fardhu berjamaah di masjid terdekat. Atau juga semisal ada wanita yang suka nonton sinetron dan saat bersamaan sudah masuk waktu shalat fardhu, maka dia harus berlatih meninggalkan nonton sinetron dan mengerjakan shalat fardhu.
Demikian juga dengan urusan dunia yang lainnya, ditempatkan setelah urusan Akhirat, waalahua'lam.
Dalam sebuah hadist disebutkan pentingnya sikap Zuhud.
عَنْ أَبِـي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : أَتَىَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ
Dari Abul ‘Abbâs Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya dengan beberapa sanad yang hasan]
TAKRIJ HADITS :
Hadits ini hasan diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Mâjah no. 4102, dan ini lafazhnya.
2. Ibnu Hibbân dalam Raudhatul ‘Uqalâ` hlm. 128
3. Ath-Thabarâni dalam al-Mu’jamul Kabîr no. 5972
4. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ VII/155, no. 9991
5. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimân no. 10043
6. Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil III/458
7. Al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ` II/357
8. Al-Hâkim IV/313
Sumber Referensi, "Zuhudlah, niscaya engkau dicintai oleh Allah Ta'ala dan Manusia", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or.id

No comments:

Post a Comment