Monday, October 29, 2018

BERAGAMA YANG BENAR ADALAH MENGIKUTI SUNNAHNYA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ketika ada seorang ustadz menjelaskan pentingnya beragama dengan cara yang benar yakni iitiba', Mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam dan meninggalkan cara selain itu, karena cara lain jelas jalan kesesatan jadi teringat dulu saat masa-masa masih jahil.
Dulu sekali saya pernah mengikuti sebuah firqoh(kelompok) yang memiliki amalan-amalan dzikir yang nyleneh, melakukan dzikir dengan jumlah bilangan tertentu dan keadaan tertentu, semisal dzikir dalam gelap, dzikir digabung dengan pernafasan, dzikir ditempat sepi, dan semacamnya. Semua dilakukan secara berjamaah dan terjadwal dalam pertemuan yang disepakati.
Ketika kami melakukan bersama-sama mulanya efeknya kita banyak menangis, yakni menangisi dosa, dan saat itu setelah mengikuti beberapa pertemuan saya merasa senang akhirnya berpendapat inilah cara dzikir yang benar.
Namun seiring waktu mulai terlihat keanehan, ada beberapa teman dipertemuan itu jika melakukan dzikir sampai teriak-teriak bahkan ada yang kesurupan.
Ketika saya tanyakan hal ini kepada Syaikh pimpinan firqoh itu dia cuma bilang, "itu cuma kesurupan dzat Allah, gak apa, gak usah kuatir". Penjelasan itu saya terima begitu saja, maklum masih jahil saat itu.
Selang beberapa waktu ada salah seorang teman saya pada suatu pertemuan ketika melakukan dzikir secara berjamaah mendadak dia kesurupan, dan esoknya berlanjut, dia dalam beraktivitas seperti orang linglung, dan karena terjadi terus dalam beberapa Minggu keluarganya pun kuatir dan akhirnya membawa teman itu ke dokter jiwa(psikolog), dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dokter menyatakan si teman mengalami sakit jiwa akut dan harus dirujuk ke rumah sakit jiwa terdekat, Subhanallah.
Setelah merenung dan mempertimbangkan secara matang saya akhirnya meninggalkan firqoh itu, karena logika waktu itu sederhananya jika ajaran yang benar dan Sahhih harusnya mendatangkan kebaikan, mashlahat bagi pengamalnya, bukan malah mendatangkan mudharat bagi pengamalnya.
Belakangan ketika belajar fikih doa dan dzikir yang sudah disampaikan para ulama kibar seperti Imam Nawawi atau lainnya baru tau amalan doa dan Dzikir dengan cara yang diajarkan di firqoh itu sangat jauh dari yang telah disunnahkan.
Pengalaman ini mengajarkan kepada saya bahwa sesuatu yang baik dan benar hanya ketika sebuah amalan dibangun diatas dalil Sahhih dari Al-Qur'an dan Hadist Sahhih, dan ketika diamalkan pasti mendatangkan mashlahat bagi pengamalnya, karena amalan itu datang dari yang hak, yakni dari Allah Ta'ala dan RasulNya.
Sebaliknya amalan yang dibangun diatas syahwat, cuma hasil karangan seseorang dan menyelisihi dalil Sahhih dari Al-Qur'an dan Hadist Sahhih pasti sesat, buruk dan mendatangkan mudharat bagi pengamalnya.
Dan makin paham bahaya tipu muslihat iblis, mereka menipu manusia dengan amalan yang seakan benar, tapi sebenarnya keliru, iblis membungkus amalan keliru dengan amalan yang sudah dikenal manusia sebelumnya.
Waalahua'lam
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali-Imran/3: 85]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59: 7]
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya]
Sumber Referensi, "Syarat Diterimanya Amal Ibadah", karya Ustadz Abu Muslim Al-Atsari di almanhaj.or.id

No comments:

Post a Comment