Wednesday, May 9, 2018

BETAPA BURUKNYA FITNAH


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Syafiq Reza Basalamah membahas bagaimana bahayanya sebuah fitnah, beliau mencontohkan tentang fitnah kepada Syaikh Muhammad Abdul Wahab yang tersebar di masyarakat, mungkin dimotori orang-orang yang ingin menjaga kepentingan pribadi dan golongannya kemudian menyebarkan fitnah kesesatan Syaikh Muhammad Abdul Wahab kepada orang-orang awam akibatnya banyak orang menghindari apa saja yang berkaitan dengan Syaikh Muhammad Abdul Wahab, termasuk juga kitab-kitab karya beliau. Oleh karenanya di era 80-an atau 90-an banyak kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun tidak dicantumkan nama asli beliau namun diganti dengan Syaikh Muhammad At-Tamimi, hal ini dilakukan agar yang awam mau membaca karya-karya beliau, coba saja kalau dijaman dulu dicantumkan nama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab pasti orang akan takut dan menghindarinya, mungkin ada orang ketika tau buku dengan nama beliau akan bereaksi "ih najis", atau "aduh buku wahabi", dan selama-lamanya banyak orang tidak mengetahui kebenaran, bahwa fitnah kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanyalah sebuah fitnah belaka.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا (٨٣ )
Yang artinya, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)” (QS an Nisa’:83).
Berdasarkan ayat ini maka jika kita mendapatkan berita yang bisa menimbulkan keresehan atau rasa aman di tengah masyarakat maka kita berkewajiban untuk tidak tergesa-gesa menyebarluaskannya di tengah masyarakat. Kita memiliki kewajiban untuk mengembalikannya kepada rasul yaitu kepada sunah rasul dan mengembalikannya kepada ulil amri yaitu para ulama yang memiliki ilmu, pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Jika memang menyebarkan berita tersebut bermanfaat untuk umat tentu para ulama akan menyarankannya. Jika tidak maka para ulama akan melarang kita untuk memupublikasikannya supaya kita tidak menanggung beban tanggung jawabnya yang berupa menyakiti banyak pihak karena tersebarnya berita tersebut.
Oleh karena itu terdapat riwayat shahih dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan, “Janganlah kalian menjadi orang-orang yang ‘ujulan, madzaayi’ dan budzron. Sesungguhnya di belakang kalian terdapat bencana yang menyakitkan”.
Yang dimaksud dengan ‘ujulan adalah orang yang suka tergesa-gesa dalam berbagai perkara dan tidak mau bersikap tenang.
Sedangkan madzayi’ adalah orang yang suka dan bersemangat besar untuk menyebarkan berita apapun kondisinya.
Adapun budzron adalah orang yang menebar perpecahan dan berbagai sebab perpecahan dan konflik di tengah-tengah masyarakat.
Referensi artikel "Fitnah dan penanggulangannya", karya Ustadz Aris Munandar di Muslim.or.id

No comments:

Post a Comment