Saturday, February 4, 2017

Jangan beragama dengan gaya prasmanan.


Prasmanan adalah salah satu tata cara penyajian makanan, dimana bermacam jenis makanan di sediakan disebuah meja, dan bagi siapa saja orang yang ingin makan dapat memilih jenis makanan yang diinginkan, sedang makanan yang tidak disukainya dapat dia tinggalkan atau tidak diambil. Semisal dalam sebuah perjamuan makan dalam beberapa jenis makanan diatas meja, disitu ada soto, ada sate, ada rujak, ada gado2 dst., dan orang yang tidak suka dengan soto mungkin diberi pilihan makanan yang lain seperti sate, sebaliknya yang tidak suka sate dapat memilih soto atau yang lainnya. Hal demikian dibolehkan secara syariat agama, tidak ada larangan, namun hal seperti ini tidak berlaku dalam perkara agama.
Agama Islam ini diturunkan secara lengkap syariatnya, agama ini sangat sempurna diberikan Allah dan RasulNya, didalamnya mengatur semua sisi kehidupan manusia, mulai tata cara shalat, sedekah, puasa, haji dan seterusnya sampai kepada urusan manusia secara universal seperti tata berumah tangga, cara jual beli, adab bertetangga, sampai adab dalam politik. Maka tidak benar jika ada anggapan bahwa agama ini tempatnya hanya di masjid dan mushola, karena syariat dari Allah dan RasulNya sangat lengkap bagi manusia, dengan demikian manusia yang menganut agama diharapkan dapat masuk kedalam Islam secara kaffah, atau menyeluruh tidak terbatas pada tempat dan waktu tertentu, namun syariat Allah dan RasulNya mengatur semua lini kehidupan manusia secara menyeluruh.
Oleh karenanya tidak boleh seseorang bersikap dalam agama seperti saat makan prasaman, ketika sebuah syariat dalam agama ini dia sukai maka baru kemudian dia kerjakan, namun ketika sebuah syariat menurutnya tidak disukai maka dia hindari dan tinggalkan, karena perbuatan tersebut masuk perbuatan yang yang dilaknat oleh Allah dan RasulNya, ancaman atas perbuatan dan sikap seperti itu sangat keras, yakni azab neraka. Oleh karenanya setiap muslim wajib bersikap samina wato'na pada peringatan dan petunjuk dari Allah dan RasulNya, karena sikap ini yang akan menyelamatkan dirinya baik didunia ataupun akherat, Waallahua'lam.
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari `Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu]
Seorang Muslim jangan menyerupai orang-orang Yahudi. Mereka mengetahui kebenaran, namun tidak mengikutinya. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang Yahudi Madinah yang enggan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
Dan setelah datang kepada mereka (orang-orang Yahudi) al-Qur`ân dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [al-Baqarah/2:89]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Allah Azza wa Jalla menyifati orang-orang Yahudi bahwa mereka dahulu mengetahui kebenaran sebelum munculnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara dengan kebenaran dan mendakwahkannya. Namun, setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka, beliau berbicara dengan kebenaran. Karena beliau bukan dari kelompok yang mereka sukai, maka mereka pun tidak tunduk kepada beliau, dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka. Padahal, mereka tidak mengikuti perkara yang diwajibkan oleh keyakinan mereka”
Dikutip dr Ustadz Abdullah Zein MA.
Sumber referensi, artikel "Jangan menolak kebenaran", karya Ustadz Abu Muslim Al Anshari di web almanhaj.or.id

No comments:

Post a Comment