Friday, May 31, 2019

JENIS PERTANYAAN YANG BERBAHAYA DITANYAKAN


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa hari yang lalu ada jumpai saya dengar seorang teman bertanya kepada temannya, "Ramadhan ini khatam(Al-Qur'an) berapa kali?', seakan ini pertanyaan biasa atau usaha untuk mengingatkan, namun dapat masuk masuk dalam pertanyaan yang berbahaya bagi yang ditanya, karena jika yang ditanya menjawabnya disertai perasaan riya' maka tentu pahalanya bisa ludes, hangus tidak tersisa sama sekali. 
Maka saya ingatkan teman itu agar tidak menanyakan secara pribadi hal-hal yang berkaitan dengan ibadah seseorang, biarkan soal berapa kali khatam atau mungkin tidak sama sekali khatam urusan dia dengan Allah Ta'ala, dan alhamdulillah teman yang saya ingatkan paham akan bahayanya.
Beberapa tahun yang lalu saya juga sempat ikut mudhzakaroh sebuah firqoh, dan dalam kumpulan itu imam atau pemimpin mudhzakaroh menanyai satu persatu yang hadir disitu tentang amalan-amalan yang dilakukan jama'ah dalam sehari semalam, waktu itu ditanyakan satu persatu amalan sedekah, doa dan shalat sunnah seperti dhuha dan tahajjud, mungkin maksudnya baik yakni mengingatkan jama'ah yang hadir tentang amalan sunnah harian, tentu saya saya ingatkan kepada imamnya, " Anda tidak perlu menanyakan secara personal amalan seseorang, tentang sedekahnya atau shalat tahajudnya, ingatkan saja secara umum, tidak perlu ditanyai satu persatu, karena jika ditanya satu persatu takutnya malah jadi riya' kepada yang ditanya dan dapat menghapus pahala dari amalan yang sudah dilakukan".
Dalam sebuah kajian seorang ustadz juga mengingatkan soal ini, beliau menyampaikan tentang bahaya riya' terhadap pahala amalan seseorang, riya', keinginan dipuji orang lain atas amalan yang sudah dilakukan dapat menghapus pahala dari amalannya itu, sebuah hal yang sia-sia setelah bersusah payah beramal namun tidak mendapatkan sedikitpun bayaran pahala. Waallahua'lam.
Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَشِّرْ هَذِهِ الأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ ، وَالدِّيْنِ ، وَ النَّصْرِ ، وَ التَّمْكِيْنِ فِي الأَرْضِ ، فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الأَخِرَةِ لِلدُّنْيَا ، لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الأَخِرَةِ نَصِيْبٌ
“Sampaikan kabar gembira kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang tinggi (keunggulan), agama, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat”. [HR Ahmad, V/134; dan Hakim, IV/318. Shahih, lihat Shahih Jami’ush Shaghiir, no. 2825]
Sumber Referensi "RIYA DAN BAHAYANYA Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas di almanhaj.or

No comments:

Post a Comment