Thursday, November 3, 2016

Aqidah Ahlus sunnah sejati adalah yang paling mendekati fitrah manusia.



Sore tadi dengar istriku menjelaskan makna dari Al A'raaf 54 kepada anakku yang masih kecil, "Allah bersemayam diatas arsy nak", dan anakku manggut2 tanda mengerti, Alhamdulillah. Anakku langsung paham, karena dia melihat ayah dan ibunya jika berdoa menengadah keatas, juga ketika dia dimasjid dan mushola dia melihat banyak orang ketika berdoa menengadah keatas, juga melihat tetangga dan temannya melakukan hal demikian jika berdoa, bahkan teman sekelas nya yang nasrani juga jika berdoa menengadah keatas, dan demikian juga dirinya sendiri juga ketika berdoa menghadap keatas, seakan yang diminta ada diatas.
Saya tidak terbayang kalau ibunya punya paham aqidah tauhid kayak warung sebelah, kemudian mengatakan, " Allah itu ada dimana-mana, ada juga dihati kita nak", niscaya anakku akan bingung dan akan banyak bertanya, "jika Allah ada dimana-mana, apakah Allah ada di got yang kotor?, apakah Allah ada di wc yang bau?, apakah Allah ada diantara sekumpulan sampah? Dst.". Lalu semua petanyaan itu niscaya tidak akan terjawab, apalagi kalau dia tanya, " katanya Allah Maha Besar dan Maha Tinggi bagaimana ada didalam hati kita ibu?", niscaya akan skak mat, ibunya gak akan dapat menjawabnya.
Jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, "yang mengerti dan tau bagaimana Allah adalah Allah sendiri, jika Dia sudah mengatakan bahwa diriNya bersemayam diatas arsy maka kita wajib dengar dan taati, tidak mentakwil sesuai kemauan kita, karena mustahil kita lebih tau dari Allah?. Seorang anak kecil ketika ditanya dimana keberadaan Allah niscaya dia akan menunjukkan keatas, karena fitrah manusia memang demikian, sementara ada seorang profesor ketika ditanya dimana keberadaan Allah, berdasarkan sedikit informasi yang dia terima dari beberapa orang mengatakan Allah ada dimana-mana, maka dengan percaya diri dia menjawab, Allah ada dimana-mana. Jika dibandingkan dari jawaban keduanya, maka jawaban anak kecil itu lebih jujur. Dan menjadi naluri bagi kita, setiap manusia ketika ditimpa sebuah perkara yang berat yang sekiranya sulit diselesaikan sendiri sehingga membutuhkan bantuan dari Allah, dia mengatakan, KITA SERAHKAN KEPADA YANG DIATAS".
Mahatinggi di atas segala makhluk-Nya, Allah tetap bersama mereka dimana saja mereka berada, yaitu Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
“Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “…Pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pandangan Salafush Shalih seperti Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam-Imam lainnya sejak dahulu hingga sekarang, yaitu mem-biarkannya seperti apa adanya, tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya/hakikatnya), tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ta’thil (penolakan). Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut faham musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka makna tersebut sangat jauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang menyerupai-Nya. Seperti yang difirmankan-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ [Asy-Syuuraa: 11]

No comments:

Post a Comment