Friday, December 6, 2019

PENTINGNYA ILMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu di masjid kampung sebelah ada perayaan Maulid Nabi, dan dalam acara tersebut mengundang seorang ustadz, dan karena disalurkan speaker luar maka suaranya terdengar sampai rumah saya, dalam salah satu bagian ceramah itu si ustadz menyebutkan, " Ada sebagian orang mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah bid'ah, ini tidak benar, ini adalah bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, kenapa para sahabat nabi tidak pernah melakukan perayaan Maulid Nabi dijamannya? Hal ini karena para sahabat nabi bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam sementara kita tidak pernah menjumpai beliau.", Mungkin jama'ah yang awam mendengar itu mengiyakan karena mereka tidak mengetahui kebenaran hal tersebut.
Prihatin mendengar apa yang disampaikan si ustadz, padahal kalau mau belajar sejarah kita akan tau bagaimana amalan maulid nabi ini muncul, amalan ini tidak pernah diamalkan oleh para sahabat nabi, juga generasi yang hidup setelah itu yakni generasi Tabi'in dan Tabi'ut, dimana generasi kedua dan ketiga ini banyak diantara mereka tidak pernah berjumpa langsung dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan mereka tidak pernah mengamalkan amalan Maulid Nabi.
Bukan itu saja, para ulama kibar setelah generasi Tabi'in dan Tabi'ut juga tidak pernah amalkan amalan ini.
Sebut saja Imam Syafi'i, beliau lahir tahun 150 Hijriyah, sementara Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam wafat pada tahun 11 Hijriyah, artinya Imam Syafi'i selama hidupnya tidak pernah menjumpai Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam karena dia lahir 139 tahun setelah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam wafat. Dan Imam Syafi'i tidak pernah sekalipun diketahui pernah mengamalkan amalan Perayaan Maulid Nabi.
Waallahua'lam.
Makin mengetahui pentingnya menuntut ilmu, termasuk tentang sejarah Islam.
Dalam sebuah kitab Syaikh Ibnu Qayyim Rahimahullah menyebutkan, " Ketika engkau tidak memiliki ilmu pengetahuan bisa saja seseorang membawakan kepadamu kotoran dan kamu percaya bahwa itu bisa menjadi emas.".
Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata ketika menjelaskan tentang pentingnya ilmu syar’i dan kebutuhan manusia terhadapnya,
ان الانسان إِنَّمَا يُمَيّز على غَيره من الْحَيَوَانَات بفضيلة الْعلم وَالْبَيَان وَإِلَّا فَغَيره من الدَّوَابّ وَالسِّبَاع أَكثر أكلا مِنْهُ واقوى بطشا وَأكْثر جماعا واولادا واطول اعمارا وَإِنَّمَا ميز على الدَّوَابّ والحيوانات بِعِلْمِهِ وَبَيَانه فَإِذا عدم الْعلم بقى مَعَه الْقدر الْمُشْتَرك بَينه وَبَين سَائِر الدَّوَابّ وَهِي الحيوانية الْمَحْضَة فَلَا يبْقى فِيهِ فضل عَلَيْهِم بل قد يبْقى شرا مِنْهُم
“Manusia itu dibedakan dari jenis binatang dengan adanya keutamaan ilmu dan bayan (penjelasan). Jika manusia tidak memilki ilmu, maka binatang melata dan binatang buas itu lebih banyak makan, lebih kuat, lebih banyak jima’ (berhubungan seksual), lebih banyak memiliki anak, dan lebih panjang umurnya daripada manusia. Manusia itu dibedakan dari binatang karena ilmu dan bayan yang dimilkinya. Jika keduanya tidak ada, maka yang tersisa adalah adanya sisi persamaan antara manusia dan binatang, yaitu ‘sifat kehewanan’ saja. Dan tidak ada keutamaan manusia atas binatang, bahkan bisa jadi manusia lebih jelek darinya.” [Miftaah Daaris Sa’aadah, 1/78]
Sumber Referensi "Urgensi pentingnya Ilmu Syar'i", karya Ustadz DR. Saifudin Hakim di web Muslim.or

No comments:

Post a Comment