Wednesday, July 11, 2018

Superior yang keliru


Oleh Siswo Kusyudhanto
Rombongan pengusung tag Islam Nusantara berusaha mempertahankan ideologinya dengan cara sering memuji diri sendiri, dan merasa superior dalam urusan agama, padahal banyak para ulama menganggap pujian adalah racun, bahkan dalam sebuah hadist disebutkan kalau ada seseorang memuji berlebihan wajib dilempar pasir. Karena pujian ujungnya sikap ujub, dan sikap ujub jelas salah satu tiket masuk neraka, selain itu secara psikologis bagi orang yang ujub tentu sulit baginya mengoreksi diri sendiri.
Seperti ini misal mengatakan seluruh dunia belajar kepada Indonesia, sejak kapan itu?, fakta sejarah menyatakan jika tidak ada delegasi dakwah yang di kirim Kerajaan Utsmani Mesir yang dikenal dengan Wali songo itu mungkin sampai sekarang orang di Nusantara ini tidak mengenal agama Islam, dan mungkin juga masih hidup dalam jaman Jahiliyah, bisa jadi masih menyembah pohon atau batu.
Fakta sejarah juga membuktikan bahwa banyak tokoh Nasional yang dianggap pahlawan di Nusantara ini "melek" agama ketika menimba ilmu di tanah Arab. Seperti misal para pendiri ormas terbesar di Indonesia, yakni KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan, keduanya belajar ilmu di tanah Arab tepatnya Makkah, bahkan banyak para kyai dan habib alumnus Yaman, itu juga di Arab. Dan mereka semua kesana belajar agama, bukan belajar ilmu perang saudara.
Maka menganggap Islam Nusantara lebih superior dari Islam Arab itu sebuah cara menyakinkan diri paling jahil, karena fakta membuktikan justru sebaliknya, kenyataannya Arab menjadi sumber ilmu bagi Umat Muslim di Nusantara.
Masih bilang Islam Nusantara lebih superior?

No comments:

Post a Comment