Friday, July 20, 2018

Bid'ah juga menghancurkan Umat Muslim dari sisi ekonomi.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu bertemu dengan seorang teman yang menyampaikan keluh kesahnya, dia terlibat hutang dengan rentenir hingga sekitar 6 juta rupiah, sementara penghasilannya sebagai sopir serabutan sangat kecil, dia mendapat uang jika ada orang membutuhkan tenaganya saja, dan itu tidak dapat menutupi hutang kepada rentenir yang selalu beranak pinak seiring waktu berjalan. Dia berhutang untuk membiayai acara tahlil kematian orang tuanya yang baru saja meninggal dunia, maklum dikampungnya jika bikin acara tahlil kematian ibarat seperti walimahan, selain makanan dan minuman bagi mereka yang datang, sampai harus memotong kambing juga harus menyediakan rokok beberapa slop, kue, dan sekotak nasi untuk dibawa jamaah tahlil kematian pulang. Tentu dengan demikian biaya tahlil kematian sangatlah besar.
Padahal sebelumnya saya nasehati si teman agar tidak bikin acara tahlil kematian secara meriah mengingat keadaan ekonominya, namun dia memaksakan diri untuk menyelenggarakan tahlil kematian seperti itu dengan alasan sedekah orang tuanya, ujungnya malah terlibat perbuatan riba dengan berhutang kepada rentenir, subhanaallah.
Memang paling sulit menyakinkan orang yang melakukan amalan seperti ini, karena yakin apa yang dilakukannya adalah benar, dan maklum karena tidak ada Sunnahnya tentu tidak ada dalil yang menyertainya, akhirnya tidak ada tata cata baku penyelenggaraannya, jika di tempat lain mungkin hanya menyediakan minuman sudah cukup namun dikampung dia tahlil kematian harus dilakukan secara besar-besaran, jika kita merujuk syariat maka tidak ada syariatnya karena tidak ada Sunnahnya demikian. Maka diatas permukaan bumi ini tidak ada ulama menulis kitab tentang tata cara tahlil kematian sesuai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam atau para sahabatnya lakukan. Syubhat yang nyata.
Dalam skala besar amalan tahlil kematian merupakan cara penghancuran ekonomi umat paling efektif, misal seperti diketahui ormas yang mengusung Islam Nusantara dan berusaha melestarikan amalan tahlil kematian diketahui berjumlah sekitar 30 juta orang, andai 1% dari 30 juta orang itu yakni sekitar 30,000 orang bikin tahlil kematian dengan biaya 500 ribu saja, maka akan dibutuhkan dana sebesar 150 miliar rupiah, bagaimana jika yang melakukan itu 10% dari 30 juta orang?, maka akan dibutuhkan dana sekitar 15 trilyun rupiah!!!. Bagaimana jika biaya tahlil kematian lebih dari 500 ribu?, pasti puluhan bahkan ratusan trilyun rupiah dihamburkan.
Dan fatalnya amalan ini bukan dari Islam, tidak pernah diamalkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam atau para sahabatnya padahal dijaman mereka ada ribuan orang mati karena perang dan sakit, amalan ini bahkan tidak pernah diajarkan para imam mahzab, justru Imam Syafi'i yang merupakan pendiri Mahzab Syafiiyah (kebanyakan umat Muslim di Indonesia mengaku bermahzab ini) , beliau mengingkari berkumpulnya orang di rumah ahli mayat, karena menurut beliau lebih mirip ratapan, disampaikan di Kitab Al Umm.
Membahas hal ini mengingatkan saya ketika masih aktif di sebuah ormas dalam bentuk pengabdian masyarakat, melawan pemurtadan dibeberapa daerah di Pulau Jawa, menurut pengalaman saya kebanyakan pemurtadan terjadi di daerah yang masyarakatnya suka melakukan amalan2 yang tidak ada tuntunannya alias bid'ah, dan sebaliknya sebuah hal yang mustahil pemurtadan terjadi dikalangan masyarakat yang mengenal Sunnah dan jauh dari amalan2 bid'ah. Penyebab utamanya mungkin karena amalan2 bid'ah butuh biaya besar, dan pada akhirnya secara efektif memiskinkan umat, dengan demikian mudah bagi murtadin menarik umat Muslim ke agama mereka dengan cara bantuan ekonomi, seperti memberi makanan pokok atau bea siswa bagi anak-anak keluarga Muslim yang miskin, waalahua'lam.
Andai saja banyak umat Muslim dinegri ini meninggalkan amalan2 bid'ah dan biayanya kemudian digunakan untuk kemashlahatan umat insyaallah jauh lebih baik, mungkin tidak ada lagi panitia masjid minta-minta sumbangam di jalanan, mungkin banyak orang Muslim diselamatkan dari pemurtadan dengan membantu mereka dengan memberikan modal usaha dan memberikan bea siswa bagi anak keluarga miskin, mungkin juga tidak ada lagi yayasan yatim piatu yang kesulitan mencari dana dan seterusnya.
Jangan anggap tulisan ini sebagai celaan, tapi anggap sebagai usaha untuk menyelamatkan umat Muslim dari perpecahan dan kehancuran..
Semoga menjadi tulisan ini bermanfaat dan bahan renungan bagi kita semua, Aamiin.

No comments:

Post a Comment