Thursday, September 6, 2018

CIRI ORANG MUNAFIK ADALAH MALAS MENUNAIKAN SHALAT


Oleh Siswo Kusyudhanto.
Kemarin sore terlibat diskusi dengan seorang teman soal masbuk, dia shalat tertinggal dari imam dan ketika imam dan jamaah shalat fardhu selesai shalat di meneruskan shalat nya, dan kemudian ada orang yang datang belakangan menepuk pundaknya, dia kaget, saking kagetnya sampai lupa dia dirakaat berapa, karena nurut pemahaman dia seorang yang masbuk tidak dapat menjadi imam. Padahal orang yang menepuknya mengangkat dia sebagai imam. Lalu kami membuka referensi dari para ulama soal ini, dan tidak ada satupun dalil sahhihah yang menyertainya, kebanyakan adalah ijtihad para ulama saja, lalu saya sampaikan jawaban seorang ustadz mengenai hal ini, kenapa tidak dalil sahhihah tentang perkara-perkara masbuk, beliau menjawab karena dijaman nabi ketika masuk shalat fardhu semua orang meninggalkan kesibukannya dan semua shalat berjamaah bersama nabi dan para sahabat, termasuk orang-orang munafik sekalipun.
Dalam sebuah kajian Ustadz Syafig Reza Basalamah menyebutkan, " Masih mendingan orang-orang munafik di jaman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, meskipun mereka berat hati dan ada kemalasan dalam mengerjakan shalat, namun mereka tetap melakukannya, mereka tetap ikut shalat berjamaah, sementara orang-orang munafik dijaman ini jauh lebih buruk, mereka berat hati dan malas melakukan shalat berjamaah, dan meninggalkan begitu saja tampa merasa bersalah sedikitpun. Semoga kita dijauhkan dari sifat seperti ini."
Jadi paham kenapa tidak ada dalil sahhihah yang menyertainya.
Perhatikan Firman Allah Ta'ala berikut ini
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’: 142)
Sifat malas orang munafik itulah sifat yang nampak sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain,
وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى
“Dan mereka tidaklah mengerjakan shalat melainkan dalam keadaan malas” (QS. At Taubah: 54).
Semoga dijauhkan dari sifat malas dalam mengerjakan shalat, Aamiin.
Sumber Referensi, "Munafik karena tidak shalat di Masjid", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di Rumoysho.co

SANGAT SULIT JIKA INGIN BAIK SENDIRIAN


Oleh Siswo Kusyudhanto
Akhir-akhir ini banyak muncul posting yang nampaknya baik, bijak namun sebenarnya menebarkan syubhat dikalangan umat Muslim untuk menghadang dakwah yang hak. Semisal ada kisah anak kecil yang menilai buruk orang lain kemudian anak itu diberi segelas air agar tidak memperhatikan orang disekelilingnya, dan lebih berkonsentrasi kepada air didalam gelas itu. Syubhat yang nyata, dan bertentangan dengan banyak dalil sahhihah baik dari Al-Qur'an dan hadist. Jika itu benar adanya tentu yang jadi pertanyaan kenapa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bekerja keras dalam berdakwah kepada umat manusia?, Menyampaikan bagaimana akhlak yang baik, bagaimana Aqidah Tauhid, menjelaskan bagaimana bahaya syirik, bagaimana wajib mengikuti Sunnah dan menjauhi Bid'ah, bagaimana bermuamalah yang halal dan menjauhi riba, dan seterusnya.
Kalau kebaikan untuk diri sendiri, pastilah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam baik sendirian dan gak perlu menyampaikan risalah agama ini kepada umat manusia?.
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah menyampaikan pentingnya dakwah, beliau mengatakan ;
"Kenapa kita perlu selalu berdakwah?, Karena jika kita ingin menegakkan kebaikan sendiri sementara sekitar kita berbuat keburukan tentulah sangat berat kita dalam menegakkan kebaikan itu, maka kita perlu banyak orang untuk menegakkan kebaikan agar terasa ringan ketika berbuat kebaikan. Misal saja ada seorang wanita ingin berhijab syar'i sementara wanita disekitarnya membuka aurat, tentu dalam berhijab syar'i sangat terasa berat, berbeda jika ketika ada wanita berhijab syar'i dan sekitarnya juga berhijab syar'i, maka sangat terasa ringan dalam mengamalkan ini. Atau ketika kita ingin menjauhi riba namun sekitar kita suka berbuat riba tentu sangat berat dalam menjalankan keinginan kita menjauhi riba, namun jadi ringan ketika orang sekitar juga menjauhi riba dan seterusnya. Oleh karenanya dakwah harus terus diupayakan, tidak boleh berhenti mengajak banyak orang kepada kebaikan."
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali Imrân/3:104]

YANG BIKIN KHUSYUK SHALAT SALAH SATUNYA ZUHUD.


Oleh Siswo Kusyudhanto.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Zubair Hawaary menyebutkan salah satu cara agar khusyuk dalam shalat yakni punya sikap Zuhud, yakni menempatkan akhirat diatas urusan dunia, kata beliau, " yang paling banyak merusak kekhusyukan dalam shalat adalah perkara-perkara dunia yang masuk dalam benak kita, hal ini terjadi karena kita masih menempatkan urusan dunia diatas urusan akhirat, termasuk shalat, maka untuk menghindari hal tersebut sepatutnya kita memiliki sikap Zuhud, dengan demikian insyaallah dapat memperbaiki kualitas kekhusyukan shalat kita."
Kadang orang keliru memaknai arti Zuhud, ada orang berpakaian lusuh dan kotor dengan mengatakan dirinya Zuhud, atau ada angkot namun dia jalan kaki dengan alasan Zuhud, dan seterusnya, Zuhud identik dengan kemiskinan adalah sebuah hal yang keliru, lalu apa makna sebenarnya dari zuhud?.
Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.
Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.
Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.
Allah berfirman,
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Referensi dr "Zuhud", karya Ustadz Muhammad Nur Huda di Muslim.or.id

KETAHUILAH RIBA LEBIH BURUK DARI ZINA !


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah mengatakan, " Jika kita menemukan sepasang manusia berbuat zina kadang kita bersikap keras kepada mereka, dengan menghinakan mereka seperti diarak keliling kampung sehingga membuat mereka malu dan harga diri pelakunya jatuh. Namun anehnya kita bersikap lunak kepada perbuatan riba yang terjadi disekitar kita, bahkan menganggap perbuatan riba adalah hal yang biasa terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Ketahuilah riba jauh lebih buruk dari perbuatan zina, bahkan disebutkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam memakan hasil riba sama buruknya dengan 36 kali berzina."
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Sumber Referensi, "Lebih besar dari dosa riba", oleh Ustadz Badrussalam di Muslim.or.id
Foto: Baliho dakwah di Kota Pekanbaru

Saturday, September 1, 2018

JADI TAU KENAPA MUSIK HARAM


Oleh Siswo Kusyudhanto
Disimpang jalan berpapasan dengan oplet yang didalamnya memutar musik remix, pada ditengah lagu sempat kaget ternyata itu lagu shalawat dari group gambus yang terkenal, ternyata isinya shalawat, subhanaAllah, shalawat yang demikian agung dimana diadalamnya ada nama Nabi Muhammad Shalalahu alaihi wa sallam dan sarat dengan pahala berubah penampilannya menjadi sangat hina dan murahan, Allahu Akbar!.
Jadi paham kenapa musik diharamkan empat mahzab, dan orang yang menghalalkan musik tidak merasa bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di masyarakat seperti shalawat yang diremixkan itu atau mungkin lebih hina lagi dari itu.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz mengatakan, orang yang menghalakan musik dengan alasan musik Islami atau sarana dakwah sebenarnya mereka berupaya agar musik yang jelas haram menjadi halal, karena pada dasarnya fakta yang terjadi kita sangat sedikit mendengarkan musik Islami, mungkin hanya saat Bulan Ramadhan atau acara ceremonial keagamaan saja musik Islami didengarkan, dan sisanya yang mayoritas, sepanjang tahun adalah mendengarkan musik dengan materi percintaan dan menyerukan kepada kemaksiatan.
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm al-Asy’ari, dia berkata, “Abu ‘Amir atau Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu telah menceritakan kepadaku, demi Allâh, dia tidak berdusta kepadaku, dia telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَـيَـكُوْنَـنَّ مِنْ أُمَّـتِـيْ أَقْوَامٌ يَـسْتَحِلُّوْنَ الْـحِرَ ، وَالْـحَرِيْرَ ، وَالْـخَمْرَ ، وَالْـمَعَازِفَ. وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَـى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَـهُمْ ، يَأْتِيْهِمْ –يَعْنِيْ الْفَقِيْرَ- لِـحَاجَةٍ فَيَـقُوْلُوْنَ : ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا ، فَـيُـبَـيِـّـتُـهُـمُ اللهُ وَيَـضَعُ الْعَلَمَ وَيَـمْسَـخُ آخَرِيْنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ إِلَـى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
‘Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr (minuman keras), dan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok orang sungguh akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, lalu seseorang mendatangi mereka -yaitu orang fakir- untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok hari.’ Kemudian Allâh mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allâh mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.’
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. al-Bukhâri secara mu’allaq[1] dengan lafazh jazm (pasti) dalam Shahîh-nya (no. 5590). Lihat Fat-hul Bâri (X/51),
2. Ibnu Hibbân (no. 6719-at-Ta’lîqâtul Hisân),
3. al-Baihaqi dalam Sunan-nya (X/221),
4. Abu Dawud dalam Sunan-nya.
Sumber Referensi " Haramnya Musik", oleh Ustadz Yazid Bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or.id

SIAPA BILANG SURGA ITU MUDAH ?


Ada seseorang bilang, " kajianmu itu apa, dikit-dikit haram, itu dilarang ini dilarang, kapan majunya." lalu saya jawab, " ya mendingan seperti nya, daripada kajian kok isinya serba boleh, riba dikit boleh, maksiat dikit boleh, syirik dikit boleh, Bid'ah dikit boleh, semuanya kok serba boleh, emang surga itu gampang?. "
-------
Surga Diliputi Perkara Yang Dibenci Jiwa, Neraka Diliputi Perkara Yang Disukai Nafsu.
Oleh Ummi Farikah di muslimah.or.id
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)
Mengenal kosa kata
Huffat: Berasal dari kata al-hafaf (الحَفَاف) yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab terebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat (حُجِبَت ) yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.
Al-Jannah: Kampung kenikmatan.
Al-Makarih: Perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala.
An-Nar: Kampung siksaan dan adzab.
Asy-Syahawat: Nafsu yang condong kepada kejelekan-kejelekan.

CARA MENENANGKAN HATI YANG BENAR ADALAH DZIKIR, BUKAN YANG LAIN.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman bilang yang menenangkan hatinya ketika mendengar musik klasik seperti Bethoven dan semacamnya.
Ada teman yang bilang kalau melakukan meditasi dan yoga hatinya jadi tenang.
Ada teman lain yang bilang tenang hatinya ketika usai bernyanyi di tempat karaoke.
Dan banyak lagi pernyataan sejenis ini.
Ketahuilah mungkin itu adalah ketenangan palsu hasil jebakan dan kreasi setan, karena faktanya Allah Ta'ala sendiri yang menyampaikan bahwa ketenangan yang benar adalah ketika hambaNya berdzikir kepada Nya, bukan yang lain. Waalahua'lam.
Allah ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya),
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28).
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)
Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.” Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, “Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 562).
Sumber Referensi, "Obat Penenang Jiwa", karya Ari Wahyudi di Muslim.or.id