Saturday, July 7, 2018

Hadiahkan buku ini bagi orang yang sulit DINASEHATI.



Oleh Siswo Kusyudhanto
Diceritakan oleh seseorang bapak kepada saya, dia punya famili yang suka berjudi, akibat kegiatan judinya itu banyak hartanya tergadaikan,, dan kewajiban anak dan istri tidak ditunaikan, kalah oleh syahwat judinya, sudah banyak orang menasehati dia agar menghentikan kemaksiatannya itu.
Suatu hari bapak ini membawakan buku"Malam Pertama di Alam Kubur", karya beberapa syaikh, memuat peristiwa-peristiwa alam kubur yang dialami seseorang yang telah mati, menakjubkan sekaligus menakutkan bagi siapa saja yang membacanya, dia berikan buku itu kepada famili yang suka berjudi itu, kemudian dia mengatakan, "silahkan baca buku ini dan renungkan, kalau setelah membacanya masih juga engkau suka berjudi mungkin engkau memang orang yang tidak dapat dinasehati."
Si penjudi ketika menerima buku itu hanya tersenyum, menyepelekan buku itu, namun karena diberikan oleh saudaranya ada rasa segan jika dibuang, maka dia bawa buku itu kerumah, dia berencana measukkan ke dalam lemari saja, dan menyimpannya.
Namun karena penasaran akan isinya, akhirnya dia mulai membaca, dan hari ke hari makin serius membaca dan memahami isi buku itu.
Selang satu bulan dia mulai berubah, dia meninggalkan perbuatan judinya, bulan kedua dia mulai rajin datang ke masjid didekat rumahnya untuk ikut orang sekitarnya shalat berjamaah. Dan bulan ketiga dia mulai suka datang ke kajian-kajian ilmu agama. Melihat perubahan ini tentu membuat bahagia keluarga dan orang-orang sekitarnya.
Bapak yang menceritakan ini menyampaikan kepada saya bahwa sudah ada tiga orang yang taubat dari maksiat setelah membaca buku ini, dan dia punya kebiasaan menghadiahkan buku ini kepada orang-orang yang sulit dinasehati, dan tak lupa dia selalu mendoakan agar Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada penerima buku tersebut.
Jadi ingat kajian Ustadz Abu Zubair Hawaary, beliau mengatakan, "salah satu usaha seseorang agar istiqomah diatas amal ibadah adalah dengan selalu mengingat akan kematian, karena dengan selalu ingat datangnya kematian membuatnya mempersiapkan diri sebaik mungkin ketika kematian itu datang, yakni berusaha beramal ibadah sebaik mungkin, dan berusaha menjauhi segala perbuatan dosa sekecil apapun, dengan selalu mengingat kematian seseorang menyadari bekal pahala amal ibadahnya masih sedikit dan dosa akibat perbuatan maksiatnya masih banyak. "
Orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan iman yang shahih (benar), tauhid yang khalish (murni), amal yang shalih (sesuai dengan tuntunan), dengan landasan niat yang ikhlas, itulah orang-orang yang paling berakal.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” [HR Ibnu Majah, no. 4.259. Hadits hasan. Lihat Ash Shahihah, no. 1.384].
Sumber referensi "Mengingat Maut", karya Ustadz Abu Muslim Al Atsari di almanhaj.or.id

Hati-hati melabeli Sesat!


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada kisah disampaikan kepada saya dari seorang teman, dia menyampaikan kisah nyata perjuangan seorang ustadz dalam mendakwahkan Sunnah dimana dalam masyarakat sekitarnya masih kental amalan2 yang berkaitan dengan syirik dan bid’ah disebuah daerah terpencil di wilayah Riau.
Si Ustadz berdakwah dari mushola ke mushola, dari masjid ke masjid menyampaikan risalah dari Al-Qur’an dan Hadist sahhih, dan banyak orang kemudian terbuka wawasan mereka tentang cara beragama yang benar sesuai dalil-dalil sahhih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahhihah. Melihat hal tersebut membuat beberapa orang tidak menyukainya, sampai saking bencinya kepada si ustadz muncul panggilan dan istilah negatif yang disematkan kepada beliau, sampai beliau diberi gelar "sesat" dibelakang namanya, jadi dipanggil "fulan sesat".
Pada suatu ketika ketika ustadz itu berkunjung kesebuah desa, dan selesai memberi materi kajian di masjid desa itu beliau berjalan kaki untuk mengunjungi seorang jamaah, dan ketika dijalan bertemu dua orang yang berbicara, dalam pembicaraan itu disebut nama si ustadz "fulan sesat", rupanya dua orang itu tidak tau bahwa orang yang dibicarakan ada didekat mereka, mendengar namanya disebut tentu si ustadz jadi tertarik, mengetahui hal tersebut ustadz mendekati dua orang itu lalu berkata, "maaf bapak-bapak, saya dengar anda berdua membicarakan ustadz fulan, dan mengatakan si ustadz fulan sesat, kenapa kok dipanggil demikian?", lalu salah satu orang yang ditanya menjawab, "iya ustadz fulan itu jelas sesat pak, karena dia tidak mengamalkan tahlilan kematian, tidak merayakan maulid nabi, tidak melakukan shalawat nariyah, dan banyak lagi. Apa gak sesat namanya itu?", lalu si ustadz berkata, "andai bapak-bapak mau belajar tentang kisah amal ibadah orang Islam terdahulu, maka anda akan ketahui bahwa amalan itu datangnya bukan dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, juga tidak diamalkan para sahabatnya, bahkan para imam mahzab. Jika tidak mengamalkan amalan2 itu dianggap sesat lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam? , Abu Bakar As Sidiq Radhliyaa Anhuu? , Umar bin Khatab Radhiyallahu anhuu? , Utsman bin Affan Radhliyaa Anhuu, Ali bin Abi thalib Radhliyaa Anhuu? , juga tidak diamalkan para imam mahzab seperti Imam Maliki Rahimahullah, Imam Hanafi Rahimahullah, Imam Syafi'i Rahimahullah dan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, juga para ulama besar Ahlu Sunnah lainnya yang tidak pernah mengamalkan amalan2 itu, apakah bapak-bapak berani mengatakan mereka semua sesat?. Mendengar pertanyaan dari si ustadz, kedua orang itu langsung terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Kemudian si ustadz melanjutkan lagi, "ketahuilah bapak-bapak bahwa yang anda panggil sebagai utadz fulan sesat ada dihadapan bapak-bapak ini.", mendengar itu makin terdiam dan makin kaget bercampur malu kedua lelaki tersebut. Lalu ustdz memberikan nasehat agar tidak mudah memanggil seseorang dengan sesat sebelum paham benar ilmunya, dan sebaiknya dihindari hal demikian daripada mendapatkan dosa dari mencap seseorang dengan panggilan buruk. Mendapat nasehat ustadz kedua orang itu kemudian meminta maaf atas perkataan mereka dan menyesali perbuatannya, semua disebabkan karena mereka hanya ikut-ikutan saja.
Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].
Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Sumber referensi "Berita dan Bahayanya", DR Abdul Azhim Al Badawi, di almanhaj.or.id

Jadikan kematian sebagai pelajaran.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Mengantarkan jenazah istri Ustadz Maududi Abdullah ke pemakaman umum Air Hitam di Payung Sekaki, Pekanbaru bersama ribuan jamaah kajian Sunnah lainnya seperti sedang diingatkan oleh Allah Ta’ala bahwa kematian dapat datang kapan saja, dan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. 
Semoga setiap ada berita kematian seseorang mengingatkan kita kembali bahwa suatu saat kita akan kembali kepada Allah Ta’ala, jika Dia berkehendak demikian. Yang perlu kita siapkan adalah bekal menuju kematian yakni amal ibadah kita, insyaallah.
Manusia tidak akan lepas dari ajal, bahkan ajal itu meliputinya. Imam Bukhari telah meriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا
Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis segi empat, dan Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya. Beliau membuat garis-garis kecil kepada garis yang ada di tengah ini dari sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini manusia, dan ini ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. [HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].
Sumber referensi "Mengingat Maut", karya Ustadz Abu Isma’il Atsary di almanhaj.or.id

Tuesday, July 3, 2018

Hati-hati dengan ustadz-ustadz penebar Syubhat!


Sering bertemu dengan teman yang suka ceramah seorang ustadz, namun kalau didengar materi kajian si ustadz itu sebenarnya banyak memuat Syubhat, remang2, perkara agama yang seharusnya jelas dibuatnya menjadi kabur, tidak jelas batasnya dimana, yang jelas haram dibuat menjadi remang2, ujungnya kemudian dihalalkan, atau dalam artian jadi serba boleh, sedihnya ustadz-ustadz seperti ini yang justru sangat diminati oleh masyarakat, mungkin karena cocok dengan syahwat mereka. Ketika kita ingin nasehati teman agar meninggalkan ustadz-ustadz seperti ini malah kita dituduh sebagai tukang fitnah dan tukang pemecah belah umat, atau minimal disuruh tabayyun dulu, subhanaallah.
Dalam sebuah sebuah kajian Ustadz Zainal Abidin Syamsudin menyebutkan, "dikalangan orang-orang awam mereka beranggapan bahwa Islam Rahmatan Lil Alamin adalah pemahaman Islam dimana tidak jelas batasan sebuah perkara yang saling bertentangan, seperti tidak jelas mana Tauhid dan mana Syirik, mana Sunnah dan mana Bid'ah, mana Haram dan mana Halal, mana Riba dan mana Jual Beli dan seterusnya, dan paham ini yang justru diminati oleh masyarakat karena keawaman mereka. "
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)
Sumber referensi "Meninggalkan perkara Syubhat", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di Rumoysho.co

Jaga kemesraan Suami Istri selama lamanya.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kata seorang teman bercerita ada seorang teman lainnya yang menghadapi perceraian, padahal dulu diawal penikahan mereka sangat mesra, bahkan banyak orang menganggap sebagai pasangan ideal, namun ujungnya sungguh memprihatinkan. 
Jadi ingat kajian Ustadz Ali Ahmad, beliau mengatakan, "ketika awal-awal pernikahan jika suami pulang dari kerja maka istri akan menyiapkan minuman hangat seperti teh atau kopi, makanan tersaji di meja makan, air panas untuk mandi sudah disediakan. Namun ketika pernikahan menginjak tahun kelima minuman hangat hilang, yang tersedia mungkin hanya makanan di meja makan dan air panas untuk mandi. Dan di tahun 10 pernikahan ketika suami pulang ke rumah, tidak tersedia minuman hangat, tidak tersedia makanan di meja dan juga tidak tersedia air panas untuk mandi si suami.
Ketika ini terjadi, mulai timbul perkataan yang menunjukkan sikap tidak hormat kepada masing-masing pasangannya, dan ujungnya mudah terjadi pertengkaran diantara mereka.
Padahal andai hal-hal seperti ini terjaga selama berlangsung pernikahan insyaallah tidak ada perseteruan diantara suami istri yang berujung kepada perceraian karena sikap romantis diantara mereka selalu terjaga, sikap romantis diantara suami dan istri menimbulkan rasa saling menyayangi diantara mereka, ini adalah yang menjaga keharmonisan diantara suami dan istri. InsyaAllah.

Batasan belajar adalah liang lahat.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Disampaikan kepada saya oleh seorang teman, dia alumni sebuah pondok pesantren berbasis Sunnah Manhaj Salaf di sebuah daerah di Riau, dia sudah lulus dari pondok itu beberapa tahun yang lalu, suatu hari dia mendaftar kelas bacaan Al-Qur’an di Masjid Ma'had Abu Darda di Pekanbaru untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an agar tepat makrajnya. Seperti biasa setiap seminggu sekali semua kelas bacaan Al-Qur’an di masjid ini dikumpulkan dalam satu hari untuk pembekalan berupa kajian ilmu oleh para ustadz senior, ketika teman ini ikut kegiatan tersebut bersama ribuan orang lainnya, tampa disangka dia jumpa ustadz pengajar di pondok pesantrennya dulu, padahal setau dia si ustadz sudah sangat mahir baca Al-Qur’an, hafal ratusan hadist beserta sanadnya, mahir bahasa Arab, paham ilmu nahwu dan shorof, sudah biasa baca kitab Arab gundul, paham tafsir dan seterusnya. Saking kaget bercampur penasaran dia bertanya kepada si ustadz, "Maaf ustadz, saya penasaran aja, kenapa ustadz masih mengikuti kelas bacaan ini?, bukankah ustadz sudah memiliki banyak ilmu agama?". Ustadz yang ditanya menjawab, "ketahuilah belajar itu tidak mengenal kata cukup, karena ketika kita merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki maka pada saat itu kita berhenti untuk menuntut ilmu. Maka jangan pernah merasa cukup dalam ilmu, dengan kita selalu merasa kurang menjadikan kita terus bersemangat untuk selalu mencari ilmu, demikian juga seperti saya, duduk di kelas bacaan ini karena saya merasa masih kurang dalam bacaan Al-Qur’an, saya merasa banyak makraj yang belum tepat bacaannya, insyaallah saya akan terus belajar dan memperbaiki bacaan saya. "
MasyaAllah, kisah yang inspiratif yang dapat kita ambil pelajaran darinya, bahwa ilmu agama tidak pernah kata cukup untuk dipelajari, insyaallah.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 224), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits yang lainnya dari beberapa Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum
Sumber referensi
"Menuntut ilmu jalan ke Surga ", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or.id
Foto suasan kajian di Masjid Ma'had Abu Darda Panam Pekanbaru.

Shalat Sunnah sebelum Shalat Maghrib, amalan Sunnah yang hampir punah.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu saya masuk sebuah masjid menjelang maghrib, setelah adzan maghrib saya melakukan shalat sunnah dua rakaat, namun ketika melakukannya rupanya ada orang yang tidak suka melihatnya, sangat terdengar jelas ditelinga saya dia mengatakan, "gara-gara dia melakukan shalat sunnah yang lainnya jadi ikut-ikutan, jadi lama deh, padahal maghrin khan singkat", subhanaallah, jadi paham perkataan seorang ustadz mengenai shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat maghrib, kata beliau, "Shalat Sunnah dua rakaat sebelum Shalat Maghrib adalah salah satu amalan Sunnah yang hampir punah, karena sangat sedikit diantara umat Muslim mengamalkan amalan ini, seperti di negri kita kebanyakan masjid dan mushola selepas adzan maghrib langsung iqomah tampa memberikan kesempatan jamaah melakukan shalat sunnah dua rakaat. Akhirnya banyak umat Muslim tidak mengetahui keberadaan amalan ini. "
------
SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SEBELUM SHALAT MAGHRIB.
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di Rumoysho.co
Disunnahkan melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib bagi siapa yang mau. Yang dikerjakan sebelum Maghrib tersebut adalah dua raka’at.
Beberapa dalil yang jadi dukungan untuk masalah ini adalah sebagai berikut.
Hadits ‘Abdullah bin Mughoffal Al Muzani, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ ». ثُمَّ قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ لِمَنْ شَاءَ ». خَشْيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً.
“Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at bagi siapa yang mau.” Karena hal ini dikhawatirkan dijadikan sebagai sunnah. (HR. Abu Daud no. 1281. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Dalam Shahih Bukhari disebutkan,
صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ – قَالَ فِى الثَّالِثَةِ – لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً
“Shalat sunnahlah sebelum Maghrib, beliau mengulangnya sampai tiga kali dan mengucapkan pada ucapan ketiga, “Bagi siapa yang mau, karena dikhawatirkan hal ini dijadikan sunnah.” (HR. Bukhari no. 1183).
Juga ada cerita dari Mukhtar bersama Anas bin Malik sebagai berikut,
عَنْ مُخْتَارِ بْنِ فُلْفُلٍ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنِ التَّطَوُّعِ بَعْدَ الْعَصْرِ فَقَالَ كَانَ عُمَرُ يَضْرِبُ الأَيْدِى عَلَى صَلاَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ وَكُنَّا نُصَلِّى عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ. فَقُلْتُ لَهُ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلاَّهُمَا قَالَ كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا. فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا.
Dari Mukhtar bin Fulful, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Anas bin Malik mengenai shalat sunnah setelah ‘Ashar, ia berkata bahwa ‘Umar dahulu pernah memukul tangannya gara-gara mengerjakan shalat sunnah setelah ‘Ashar. Lalu Anas berkata, “Dahulu kami melaksanakan shalat sunnah dua raka’at setelah tenggelamnya matahari sebelum shalat Maghrib di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam.” Aku (Mukhtar) bertanya pada Anas, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan dua raka’at tersebut?” Ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kami melakukan dua raka’at tersebut, lalu beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarangnya.” (HR. Muslim no. 836).
Juga ada hadits dari Anas bin Malik, ia berkata,
كُنَّا بِالْمَدِينَةِ فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ لِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ابْتَدَرُوا السَّوَارِىَ فَيَرْكَعُونَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ الْغَرِيبَ لَيَدْخُلُ الْمَسْجِدَ فَيَحْسِبُ أَنَّ الصَّلاَةَ قَدْ صُلِّيَتْ مِنْ كَثْرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِمَا
“Dahulu ketika kami berada di Madinah, ketika muadzin mengumandangkan adzan Maghrib, mereka langsung saling berlomba untuk melakukan shalat dua raka’at dan dua raka’at. Sampai-sampai jika ada orang asing yang masuk dalam masjid, ia akan menyangka bahwa shalat Maghrib sudah dilaksanakkan karena saking banyaknya orang yang melakukan shalat dua raka’at tersebut.” (HR. Muslim no. 837).
Imam Nawawi menjelaskan, “Riwayat-riwayat di atas menunjukkan akan dianjurkannya shalat sunnah dua raka’at antara tenggelamnya matahari dan shalat maghrib dilaksanakan. Namun mengenai anjuran shalat sunnah sebelum Maghrib ada dua pendapat dalam madzhab Syafi’i, yang paling kuat dalam madzhab adalah tidak disunnahkan. Namun berdasarkan pendapat para peneliti hadits, yang lebih kuat adalah shalat sunnah sebelum Maghrib tetap disunnahkan, alasannya karena dukungan hadits-hadits di atas.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 111).
Namun shalat sunnah sebelum maghrib (qobliyah Maghrib) tidak masuk dalam shalat sunnah yang ditekankan. Karena yang sangat dianjurkan adalah 12 raka’at yang dijaga setiap hari sebagaimana disebutkan dalam hadits,
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Tirmidz no. 414, Ibnu Majah no. 1140, An Nasai no. 1795, dari ‘Aisyah. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).