Tuesday, February 7, 2017

Risalah Bid'ah


Judul Buku : Risalah Bid'ah
Penulis : Abdul Hakim bin Amir Abdat
Penerbit : Maktabah Mu'awiyah bin Abi Sufyan
Harga Jual : 80.000,-
Memuat 500-an macam bid’ah yang umumnya diyakini dan diamalkan kaum muslimin setiap hari
Salah satu celaka dan bahayanya bid’ah, bahwa dia melawan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebelumnya telah melawan Allah. Karena Allah telah menurunkan Islam kepada Rasul-Nya yang mulia dengan lengkap dan sempurna (sebagaimana akan datang keterangannya di dalam kitab ini).
Bi’dah dinamakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai muhdats, yakni : “Sesuatu yang baru di dalam Agama yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Atau “Satucara yang diadakan/dibuat oleh orang di dalam Agam Islam yang menyerupai syari’at untuk tujuan beribadah kepada Allah”.
Ketauhilah ! Bahwa bid’ah tidak pernah tetapi jumlahnya di dalam suatu waktu atau zaman, tempat dan keadaan. Akan tetapi dia selalu berkembang dan bertambah jumlah nya pada setiap zaman dan tempat. Apa yang tidak ada pada zaman dahulu, sekarang telah ada. Imma, dia merupakan cabang dari bid’ah yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu atau bid’ah yang baru (sebagaimana pembaca akan melihatnya di dalam kitab ini).
Maka, tidak ada jalan lain untuk menjauhi bi’dah yang telah ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa “setiap bid’ah itu sesat” melainkan dengan mengenal bid’ah dan kaidah-kaidahnya.
Bagi teman yang berminat silahkan inbox atau hubungi WA 081378517454, semoga menjadi ilmu manfaat, aamiin.

Hidayah itu milik orang yang ikhlas kepada Allah dan RasulNya.


Kalau ada posting yang meskipun benar dan bahkan juga disertai dalil sahhih namun selalu dibalas dengan comment buruk jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, " jika seseorang ingin mencari kebenaran maka dia harus mau menerima nasehat dan kritik, bersikap ikhlas kepada Allah dan RasulNya juga dia harus meninggalkan sikap fanatisme kepada kelompoknya dan fanatisme kepada adat istiadat yang selama ini dia amalkan. Jika seseorang masih bersikap fanatis kepada kelompok atau golongannya juga masih fanatis kepada kebiasaannya karena adat istiadat yang diyakini lebih benar, maka akan sangat sulit dia mau memerima nasehat dan kritikan."
Allah ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya),
“Pada hari itu -hari kiamat- tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara’: 88-89)
Hati yang ikhlas itulah yang selamat
Ibnul Qayyim rahimahullah memaparkan,
“Ia adalah hati yang selamat dari segala syahwat/keinginan nafsu yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta terbebas dari segala syubhat yang menyelisihi berita yang dikabarkan-Nya.” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,
“Hati yang selamat itu adalah hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan/dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam kebid’ahan dan dosa-dosa. Karena hati itu bersih dari apa-apa yang disebutkan tadi, maka konsekunsinya adalah ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta dihiasinya -tampak indah- kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya akan senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya akan tunduk patuh mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [2/812])
Ibnul Qayyim rahimahullah juga mensifatkan pemilik hati yang selamat itu dengan ucapannya,
“…Ia akan senantiasa berusaha mendahulukan keridhaan-Nya dalam kondisi apapun serta berupaya untuk selalu menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala macam cara…”.
Kemudian, beliau juga mengatakan, “… amalnya ikhlas karena Allah. Apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya juga karena Allah. Apabila memberi maka pemberiannya itu karena Allah. Apabila tidak memberi juga karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15)

Referensi dr artikel "ikhlas dalam ibadah" oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, di blog abuayas.blogspot. co

Allah bersemayam diatas arsy, biarkan.


Kata Ustadz Maududi Abdullah. Yang paling mengerti bagaimana Allah adalah Allah sendiri. Maka kalau Dia sudah menyebut dalam 7 ayat diriNya beristiwa diatas arsy. Ya udah biarkan, jangan diutak atik, tapi bersikap samina wato'na, karena akal kita mustahil menjangkau makna sebenarnya dari perkataan Allah itu, Waallahua'lam. Maka kalau ada manusia merasa lebih tau dari Allah sendiri, itulah manusia jahil, Waallahua'lam
Dalil yang menyatakan bahwa Allah itu ada di atas Arasy setidaknya ada 7 ayat dalam Al Qur’an yang secara qath-i menjelaskan hal itu. Ia adalah: Surat Al A’raaf ayat 54, Yunus ayat 3, Ar Ra’du ayat 2, Thaha ayat 5, Al Furqan ayat 59, As Sajadah ayat 4, dan Al Hadid ayat 4. Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 29 disebutkan: “Tsumma istawa ilas sama’i fasauwahunna sab’a samawaat” (kemudian Dia istiwa menuju ke langit, lalu Dia ciptakan 7 tingkat langit). Sebagai orang Muslim, sebelum kita berpikir masuk akal atau tidak, semestinya harus mengimani ayat-ayat ini. Kalau tidak demikian, berarti kita membuat syarat-syarat dalam keimanan kita. Misalnya, kalau masuk akal diimani, kalau tak masuk akal ditolak. Janganlah demikian, sebab hal itu dianggap tidak tulus dalam beragama. Waallahua'lam.

Bahaya riba sangalah nyata!!!


Kemarin sore tetangga tiba2 pindah, ketika pamit kepada saya dia beralasan pindah karena ingin menemani orang tuanya yang sudah tua, namun setelah beberapa tetangga cerita baru paham, dia pindah karena rumahnya diambil oleh rentenir karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya, gimana mampu bayar karena hutang piutangnya menerapkan bunga 46, artinya pinjam 4 bagian dan wajib melunasinya dengan 6 bagian, misal pinjam 4 juta mengembalikan 6 juta, subhanaallah. Ini bukti betapa riba adalah cara mengais penghasilan paling zalim dari semua cara manusia dalam mencari penghasilan dimuka bumi.
Mungkin menurut sebagian orang bahaya riba iti seperti fiksi, namun bagi korban yang terjerat riba, bahayanya sungguh nyata.

Jadi ingat perkataan Ustadz Erwandi Tarmidzi, "riba itu mutlak haram hukumnya, mau seribu perak atau satu milyar tetap haram, maka jauhi perkara riba sekecil apapun juga agar kita selamat."
Allah ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130)

Tampa ilmu kemudian berbicara agama niscaya akan membuat kerusakan.


Semalam ada diajak teman ke sebuah kajian lingkungan, ternyata yang isi ustadz dr jamaah pengembara, banyak hadist yang disampaikan adalah dhaif, dan penjelasannya juga agak2 ngawur, setelah menyampaikan sebuah amalan doa dia menyampaikan kepada jamaah, "amalkan doa ini pastk akan dijaga Allah dari pagi sampai petang, jika sampai petang baca lagi doa ini maka Allah akan jaga dari petang sampai pagi begitu seterusnya. Jika membaca doa ini maka kebakaran, pencurian, dan mara bahaya lain tidak akan mau dekat dengan kita, bahkan nuklirpun kalau meledak diatas rumah kita tidak akan ada bahayanya buat kita, juga disebutkan ulama(kami) malaikat maut akan menjauhi orang2 yang membaca doa ini, jika lupa membaca doa ini maka dia akan mati pada hari itu juga", pertanyaannya kalau Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam wafat, apakah artinya beliau lupa baca doa itu??, subhanaallah, jahil.
Denger itu jadi prihatin, overlap banget, akhirnya selesai kajian itu para jamaah pada berbisik, " siapa sih orang yang nyari ustadznya??".
Jadi ingat kata Ustadz Abu Haidar As Sundawy, "berbicara agama tampa ilmu adalah perbuatan yang dapat mendatangkan dosa besar melebihi syirik kepada pelakunya, karena dia telah membuat kerusakan yang luas jika itu disampaikan kepada khalayak dan yang menerimanya kemudian menyampaikan lagi kepada orang lain, kemudian beliau membacakan Surat Al A'raf 33".

Firman Allah Swt.:
{وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنزلْ بِهِ سُلْطَانًا}
(mengharamkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu. (Al-A'raf: 33)
Yakni kalian menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu dalam menyembah kepada-Nya.
.
وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
dan (mengharamkan) kalian mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui. (Al-A'raf: 33)
Yaitu berupa perbuatan dusta dan hal-hal yang diada-adakan, seperti pengakuan bahwa Allah beranak dan lain sebagainya yang tiada pengetahuan bagi kalian mengenainya
Semoga berhati-hati menyampaikan perkara agama, karena ancamannya sangat berat, aamiin.

Jangan pernah sekali-kali merasa lepas dari jeratan riba.


Ada cerita seorang teman yang bersyukur berhasil lepas dari hutang piutangnya dengan sebuah bank, dan dia berjanji kepada diri sendiri dimasa mendatang agar tidak terlibat dalam perkara yang mengandung riba, "alhamdulillah sudah bebas dari riba". Mendengar perkataannya teman itu jadi ingat Ustadz Erwandi Tarmidzi dalam sebuah kajian beliau mengisahkan pengalaman mendampingi sebuah kloter haji dan suatu musim haji sekitar tahun 2005, saat itu terjadi ancaman penyebaran virus flu babi yang membuat semua orang didunia takut, sehingga hal ini membuat hampir semua negara mengantisipasi penyebarannya, termasuk juga Arab Saudi. Ancaman flu babi demikian menakutkan, sementara penyelenggaraan haji saat itu harus digelar, karena mustahil musim haji ditiadakan karena sebab sebuah penyakit. Di negara itu saat itu diterapkan beberapa prosedur pencegahan penyebaran virus flu babi dikalangan jamaah haji dari penjuru dunia yang berjumlah kurang lebih 2 juta orang. Kata Ustadz Erwandi Tarmidzi, padahal saat itu korban virus flu babi diseluruh penjuru dunia hanya berjumlah 10 orang meninggal dunia, dan ratusan jiwa saja yang dalam perawatan intensif, namun hal demikian membuat umat manusia sangat takut dan kuatir akan penyakit ini, bahkan membuat semua negara bekerja keras berusaha mengantisipasinya agar tidak berkembang dinegara mereka. Sementara riba adalah perkara yang dilaknat oleh Allah dan RasulNya, menduduki peringkat dosa diatas zina, harusnya kita melihatnya lebih berbahaya dari flu babi, karena korbannya jauh lebih besar, karena merupakan penyakit yang menjangkiti hampir semua penduduk bumi, milyaran manusia dimuka bumi dalam kehidupannya pasti ada sisi riba. Misal jika anda buka rekening air (PDAM), pasti anda diminta menandatangani persetujuan terlebih dahulu, dalam klausul itu disebutkan bahwa jika adan telah memakai air dalam debit tertentu kemudian anda terlambat maka ada denda yang akan dibebankan kepada anda, ini masuk dalam perkara riba karena anda berhutang dulu dengan memakai air dan jika terlambat membayar hutang pemakaian itu anda akan dikenakan denda. Demikian juga yang punya sifat transaksi yang sama seperti listrik, kartu kredit, pulsa pasca bayar dst.
Maka jangan sekali-kali merasa murni terbebas riba, karena sesungguhnya riba ada dalam kehidupan kita sehari-hari, yang mampu kita lakukan mungkin mempelajari ilmu muamalah syariiyah, mengamalkan dalam kehidupan guna meminimalisir terlibat dalam perkara riba, dan banyak bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla.
Waallahua'lam.

Rasulullah tidak bikin tahlil kematian ketika pamannya wafat.


Dari warung sebelah ada tuduhan, "kalian tidak bikin tahlil kematian sungguh kalian tidak berbakti kepada orang tua". Dengerin ini jadi ingat para ustadz menyampaikan kisah heroik para sahabat sehingga mati syahid di medan perang, salah satunya adalah paman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, yakni Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiyallahu Anhu.
Dari Atha` bin Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghulu para syuhada` pada hari kiamat adalah Hamzah bin `Abdul Muththalib”. [al-Hâkim dalam Al-Mustadrak 2/130, 3/219]
Sa`d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu mengatakan: “Dahulu Hamzah bin `Abdul Muththalib Radhiyallahu anhu ikut serta dalam perang Uhud; dan di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan: “Aku adalah singa Allah Azza wa Jalla ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Demi dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Hamzah bin `Abdul Muththalib telah ditulis di langit ke tujuh bahwa dia adalah singa Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Sedemikian dekat nya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam kepada pamannya itu namun tidak ada kisah beliau mengadakan tahlil kematian, apakah artinya beliau tidak berbakti kepada pamannya itu?, bagi pembela tahlil kematian mohon berfikir sejenak akan hal ini, syukron.