Monday, October 14, 2019

JADILAH UMAT PERTENGAHAN


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau setiap ada aksi teroris selalu jadi ingat nasehat seorang ustadz dalam sebuah kajian beliau mengatakan, 
" Dalam masyarakat Islam dikenal ada tiga kelompok, dan kelompok pertama yakni ahlul bid'ah, ciri yang melekat kepada kelompok ini adalah suka mengampang-gampangkan urusan agama, mudah bagi mereka menyelisihi syariat Allah dan RasulNya demi mengikuti syahwatnya, dengan mudah mereka membuat amalan baru kemudian mereka mencari dalil untuk membenarkan amalan Bid'ah nya itu.
Kelompok kedua adalah kelompok khawarij, ciri yang melekat pada kelompok ini adalah suka memberat-beratkan urusan agama, mereka ghuluw, berlebih-lebihan dalam agama, mereka mudah memberikan anggapan kafir kepada orang yang menyelisihi syariat Allah dan RasulNya. Sebab pemahaman ini kaum khawarij mudah untuk menumpahkan darah manusia, karena dianggapnya telah kafir dan halal darahnya.
Dan kelompok ketiga adalah umat pertengahan, mereka berjalan diantara Ahlul Bid'ah dan Khawarij, merekalah Ahlu Sunnah wal jama'ah, ciri yang melekat dalam kelompok ini adalah iitiba', mereka belajar dalil dari Al Qur'an dan hadits menurut pemahaman Shalafush Sholeh dan berusaha mengamalkan dalam kehidupan mereka.
Semoga kita termasuk orang-orang yang masuk dalam Umat Pertengahan ini, Ahlu Sunnah wal jama'ah sejati, Aamiin.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya mengenai maksud dari sikap pertengahan dalam beragama. Beliau menjawab:
Sikap pertengahan dalam beragama adalah sikap tidak ghuluw (ekstrem) dalam beragama, yaitu melewati batasan yang ditetapkan Allah Azza Wa Jalla, namun juga tidak kurang dari batasan yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Bersikap pertengahan dalam beragama yaitu dengan meneladani jalan hidup Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Sedangkan sikap ghuluw, adalah melebihi dari apa yang beliau ajarkan. Dan taqshiir adalah yang melakukan kurang dari apa yang beliau ajarkan.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً (سورة البقرة: 143)
“Dan yang demikian itu Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian” (QS Al Baqarah: 143).
Sumber Referensi "Umat Islam adalah Umat Pertengahan", karya Yulian Purnama di web Muslim.or

BEGINI CARA MENASEHATI


Oleh Siswo Kusyudhanto
Disampaikan oleh Ustadz Ali Ahmad dalam sebuah kajian beliau, suatu saat beliau mengisi kajian di Kota Medan, seperti biasa beliau selalu meminta teh es manis diatas meja beliau, dan karena diminum oleh ustadz beberapa kali dan es dalam gelas beliau sudah mencair dan hampir habis, melihat ini salah satu ikhwan panitia berinisatif mengisi es batu kedalam gelas ustadz, dia segera membeli es batu dalam kantung palstik, sesampai di meja ustadz dia mengambil es batu di kantung plastik itu dengan jari-jarinya kemudian dimasukkan ke dalam gelas ustadz.
Melihat itu jamaah kajian yang hadir kelihatan tegang karena marah dengan yang dilakukan si ikhwan panitia, karena tentu tidak sopan menggunakan tangan mengambil es batu dan memasukkan es batu ke dalam gelas ustadz.
Mengetahui gelagat seperti itu segera Ustadz Ali Ahmad mengatakan, " Ya ikhwan antum jangan menganggap si ikhwan tidak sopan, saya lebih percaya dengan kebersihan tangan si ikhwan karena dia hanya menggunakan tangannya ketika makan, dia tidak makan dengan tangan orang lain, tidak ada kita meminjam tangan orang lain untuk makan.
Sementara jika kita menggunakan sendok itu nurut saya kurang bersih, karena sendok dapat dipakai siapa saja yang menggunakannya, bisa berganti-ganti orang."
Setelah ustadz mengatakan demikian situasi jamaah langsung turun tensinya. Setelah kajian selesai dibelakang Ustadz Ali Ahmad menasehati si ikhwan panitia yang menggunakan tangan memasukkan es ke gelas beliau, bahwa yang dilakukan seperti itu kurang sopan.
MasyaAllah semoga kisah ini menjadi teladan kita dalam menasehati orang lain, waallahua'lam.
Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)
Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan, “Jika kamu hendak memberi nasehat sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)
Allah Ta'ala berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3).
Sumber Referensi "Menasehati Tanpa Melukai
Lilis Mustikaningrum di web muslimah,or

UMAT ISLAM INDONESIA TIDAK TOLERAN KEPADA NON MUSLIM ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Ali Ahmad menyebutkan, " Kadang ada tuduhan sebagian orang diluar Islam di Indonesia, bahwa Umat Islam di Indonesia kurang toleran kepada Umat beragama diluar Islam, ini sungguh tidak benar, lihat di negri ini, Umat Islam tidak pernah menganggu orang diluar Islam untuk beribadah, Umat Islam yang mayoritas membiarkan orang diluar Islam untuk melakukan acara keagamaan tanpa diganggu, dan paling terlihat toleransi Umat Islam adalah mengikuti hari libur umat lain, padahal hari mulia dan hari dimana Umat Islam beribadah mingguan adalah di Hari Jum'at, harusnya kalau mengikuti umat mayoritas yakni umat Islam maka hari libur harusnya di hari Jum'at seperti halnya yang terjadi di negara-negara Arab dimana hari libur adalah di hari Jum'at bukan hari Minggu, namun di Indonesia untuk hari libur malah ikut umat yang minoritas, yakni hari Minggu, dimana mereka yang minoritas melakukan amal ibadah mingguannya."
Allah berfirman dalam surat al Kafirun,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS Al Kafirun: 6)

Thursday, October 3, 2019

Yang amalan jelas ada Sunnahnya kalah dengan amalan Bid'ah


Oleh Siswo Kusyudhanto
Cerita seorang teman, 
Di kampungku itu
Orang gak menutup Aurat biasa.
Orang gak sholat itu dianggap biasa.
Orang gak puasa itu dianggap wajar.
Orang gak jum'atan itu hal yg lumrah.
Tp kalo anda nggak ngadain acara tahlillan (Slametan kematian 3 hari 7 hari 40 hari 100 hari)
Dan yasinan dimalam jumah
Maka bersiaplah mayoritas orang sekampung akan mempertanyakan keislamanmu....
Ada yg seperti ini ?
Benar kata Imam Syathibi dalam Kitab Ithisham, kitab pokok penjelasan Sunnah dan Bid'ah dan masih dipelajari sampai sekarang di beberapa Universitas Islam terkenal seperti Universitas Islam Madinah.
Dalam kitab itu beliau menyebutkan salah satu dampak buruk dari amalan Bid'ah adalah menjadi saingan bagi amalan yang disyariatkan oleh Allah dan RasulNya, misal shalat fardhu berjamaah jelas adalah syariat Allah dan RasulNya, namun dianggap tidak penting, hal ini dapat dilihat dari jama'ah shalat fardhu berjamaah dibanyak masjid dan musholla jama'ah nya yang rata-rata sedikit, namun giliran acara tahlilan kematian atau maulid nabi pasti jama'ah nya penuh sesak jama'ah, ini sangat nyata efek buruk Bid'ah bagi Islam, yang tidak ada disyariatkan oleh Allah dan RasulNya malah dianggap lebih penting dari shalat fardhu berjamaah, waalahua'lam.

Jangan mengatakan orang mati dengan "istirahat dengan tenang"


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, " Jangan kita membiasakan diri ketika ada seseorang meninggal dunia dengan mengatakan, dia beristirahat dengan tenang sekarang, karena jika kita seorang Muslim, dan mengimani apa yang disampaikan oleh Allah dan RasulNya, maka keadaan seseorang yang meninggal dunia bukan sedang melalui masa istirahat, justru ketika seseorang mati perjalanan panjang sedang dimulai dan urusan-urusan berat sudah menantinya. Didalam kubur dia ditanya beberapa pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan amalannya selama di dunia, jika amalannya benar dan lurus dia selamat, sebaliknya jika banyak perbuatan dosa selama didunia dia diazab kubur sampai dia dibangkitkan setelah kiamat, dan itu berlangsung bisa dalam waktu yang sangat lama.
Belum lagi dia menghadapi beratnya urusan hisab di Padang Mahsyar, juga masih melalui sirath dan ujungnya antara Surga dan Neraka.
Jangan sekali-kali menyebutkan seseorang yang sudah meninggal dunia dengan sedang istirahat.
Waallahua'lam."
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)
Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qotadah berkata: “Senantiasa tuhanmu (Allah) mendekatkan (waktu terjadinya) hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok.” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfan (hal. 152 – Mawaaridul Amaan). Beliau (Abu Qatadah) adalah Qotadah bin Di’aamah As Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 409)
Semoga Allah ta’ala meridhai sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: “Hisab-lah (introspeksilah) dirimu (saat ini) sebelum kamu di-hisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shaleh) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah ta’ala):
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).” (Qs. Al Haaqqah: 18). (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau Az Zuhd (hal. 120), dengan sanad yang hasan)
Sumber Referensi "Perjalanan menuju Akhirat", karya Ustadz Abdullah Taslim di Muslim.or

Hidup jangan cuma bikin sesak bumi saja


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dulu sebelum kenal Dakwah Sunnah kehidupan saya mungkin sangat sederhana, yang penting menjalani kehidupan sehari-hari, itu sudah cukup, namun sejak kenal Kajian Sunnah jadi termotivasi ingin jadi manusia yang lebih berguna bagi orang lain.
Salah satu nasehat ustadz kajian yang selalu saya ingat adalah dari Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah, kata beliau, "jangan kita selama hidup hanya bikin sesak bumi ini saja, jadikan kehidupan yang sangat sebentar ini berarti, jadikan diri kita juga berguna untuk orang lain, karena sebaik-baik seorang Muslim adalah yang berguna bagi orang lain."
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)
Sumber Referensi muslim.or

Tensi naik karena dengar hadits larangan berbuat bid'ah, itu umat siapa ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kadang bingung lihat orang yang tensinya naik, marah-marah, bahkan berkata kotor setelah mendengar hadits larangan berbuat bid'ah, padahal hadits-hadits tentang larangan berbuat bid'ah datang dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan juga orang dekatnya, bahkan saya dengar dari seorang teman di sebuah daerah, ada Ustadz digebukin setelah shalat Jum'at gara-gara diawal khutbah menyebutkan hadits larangan bid'ah seperti yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam diawal khutbah Jum'at beliau,
Lah yang anti hadits larangan berbuat bid'ah, itu umat siapa sebenarnya?
Benar kata seorang ustadz dalam sebuah kajian, adab paling tinggi adalah adab dan akhlak kepada Allah dan RasulNya, dan salah satu ciri orang beriman yang membedakan dengan bukan orang beriman, yakni ketika mereka mendengar sesuatu yang datangnya dari Allah dan RasulNya mereka mengatakan "Samina watho'na", saya dengar ya Allah dan saya dengar ya Rasul dan saya akan taati.
Itu sebab Allah Azza wa Jalla dalam Annur 51 memanggil orang-orang yang memiliki sikap demikan dengan orang yang beriman,
waalahua'lam.
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An Nuur [24]: 51)
Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa sesungguhnya sifat orang yang benar-benar beriman (yaitu yang imannya dibuktikan dengan amalan) apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Rasul memberikan keputusan di antara mereka niscaya mereka akan mengatakan, “Kami dengar dan kami taati”, sama saja apakah keputusan tersebut dirasa cocok ataupun tidak oleh hawa nafsu mereka. Artinya mereka mendengarkan keputusan hukum Allah dan Rasul-Nya serta memenuhi panggilan orang yang mengajak mereka untuk itu. Mereka taat dengan sepenuhnya tanpa menyisakan sedikitpun rasa keberatan.
Sumber Referensi "Kaidah penting bagi Muslim dan Muslimah", karya Ari Wahyudi di web Muslim.or