Wednesday, June 12, 2019

SEHARUSNYA SEORANG SUAMI SEJAK "NGAJI" LEBIH ROMANTIS KEPADA ISTRINYA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, seharusnya seorang lelaki yang berperan sebagai seorang suami ketika dia sudah "ngaji" kemudian memiliki ilmu agama yang didapatkan dari kajian yang diikutinya menjadikan dia seorang lelaki yang makin bersikap lembut dan penuh kasih sayang kepada anak dan istrinya.
Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, beliau sebaik-baik sikap suami kepada istrinya, lihat kisah-kisah beliau betapa romantisnya kepada para istrinya.
Seharusnya kita juga mengikuti demikian.
Kalau ada seorang lelaki yang sudah "ngaji" kemudian justru makin suka bersikap kasar, suka main tangan dan zalim kepada keluarganya, kemungkinan dia salah dalam menuntut ilmu agamanya, entah tidak paham yang dipelajarinya atau dia lebih mementingkan ego daripada ilmunya, waalahua'lam.
Disebutkan dalam sebuah hadits :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي وغيره
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”
HR. At-Tirmidzi, 3/466; Ahmad, 2/250 dan Ibnu Hibban, 9/483. Hadits dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.
Allâh Azza wa Jalla menegaskan tentang kewajiban bersikap baik kepada istri dalam ayat berikut ini :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak [An-Nisâ’/4:19]
Sumber Referensi "Keutamaan bersikap baik kepada orang lain, terutama kepada istri", Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,

Sunday, June 9, 2019

KISAH BERTAUBATNYA ULAMA SYI'AH DI MAJELIS SYAIKH BIN BAZ


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam kajian kemarin oleh Ustadz Erwandi Tarmizi di Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru ada salah satu kisah menarik yang disampaikan beliau, yakni tentang taubatnya seorang ulama Syi'ah yang kebetulan hadir di Kajian Syaikh Bin Baz Rahimahullah. Kisah ini juga menunjukkan pentingnya bersikap adil kepada sekelompok orang yang mungkin kita benci, sekaligus pelajaran tentang mendahulukan pendapat Allah dan RasulNya dari pendapat pribadi.
Suatu hari dalam Kajian Syaikh Bin Baz ada seorang yang bertanya tentang permasalahan yang dihadapinya, orang ini bekerja sebagai manager HRD(personalia) di sebuah perusahaan dan sedang mencari karyawan untuk mengisi sebuah posisi pekerjaan di perusahaan itu, ada dua orang yang melamar, satu orang adalah diketahui berpaham Sunni(Ahlu Sunnah wal jama'ah) dan satu orang lagi diketahui berpaham Syi'ah, dari hasil testing ternyata orang Syi'ah lebih baik hasilnya dari orang Sunni, orang ini bertanya kepada Syaikh Bin Baz, " Ya Syaikh apakah saya harus menerima yang orang Sunni meskipun hasilnya buruk dan menolak orang Syi'ah meskipun hasil testnya bagus?" (Seperti kita ketahui rata-rata orang Sunni di Jazirah Arab sangat membenci orang Syi'ah).
Mendengar pertanyaan ini Syaikh Bin Baz menyampaikan ayat Al-Qur'an berikut ini.
Allah Ta'ala menyatakan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)
Lalu Syaikh Bin Baz yang merupakan seorang ulama besar dan dalam berpendapat selalu didasarkan kepada ilmu menyarankan berlaku adil dalam perkara ini dengan menerima orang Syi'ah di perusahaan itu mengingat hasil testnya lebih bagus dari orang Sunni.
Jawaban ini didengar oleh seluruh jamaah kajian yang hadir termasuk seorang ulama Syi'ah, dan jawaban ini sangat membuat heran dirinya, dia berkata, "Ini sangat berbeda sekali dengan apa yang terjadi dikalangan orang Syi'ah, dalam kebiasaan orang Syi'ah tidak berlaku adil kepada orang Sunni karena didasarkan kebencian kepada kaum Sunni.
Jika ini terjadi dalam keadaan sebaliknya semisal Manager HRD itu adalah seorang Syi'ah kemudian ternyata hasil testnya yang lebih baik adalah dari orang Sunni daripada orang Syi'ah maka si manager akan berusaha menzalimi orang Sunni agar orang Syi'ah mengisi posisi di perusahaan itu."
Ulama Syi'ah itu terkagum-kagum dengan jawaban Syaikh Bin Baz, dan pada akhirnya dia mendapatkan hidayah kemudian rujuk kepada paham Ahlu Sunnah dan meninggalkan paham Syi'ah Rafidhohnya.
MasyaAllah kisah yang memuat pelajaran penting bagaimana akhlak dan ilmu membuat orang lain terinspirasi dan mendatangkan hidayah bagi orang lain, juga pelajaran penting bagaimana mendahulukan dalil Sahhih dari Al-Qur'an dan Hadits daripada syahwat pribadi waalahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat:1)
Sumber Referensi muslim.or

Friday, June 7, 2019

KENAPA USTADZ KITA TIDAK MENGISI ACARA DI TV NASIONAL ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada pertanyaan menarik dari seorang teman, dia bertanya," Kenapa para ustadz pemateri Kajian Sunnah sangat sedikit yang mengisi acara di TV Nasional padahal dari sisi kelimuan mereka cukup untuk menjelaskan sesuatu mengingat latar belakang pendidikan yang mereka dapatkan rata-rata dari Universitas Islam terkenal seperti Universitas Islam Madinah, Darul Hadits Yaman, Universitas Riyadh Arab Saudi Arabia, Al Azhar Mesir dan sebagainya ?'.
Saya jawaban semampu dan sejauh pengetahuan saya, "Ya mungkin penyebabnya adalah apa yang disampaikan oleh para ustadz kita banyak tidak disukai oleh masyarakat kita, meskipun yang disampaikan disertai Hujjah yang benar dan sahhih dari Al-Qur'an dan Hadits. Misal saja para ustadz kajian Sunnah sama ketika membahas haramnya musik, sementara masyarakat kita menjadikan musik sebagai bagian hidup mereka, atau ketika para ustadz menyampaikan larangan berbuat riba sementara di sebagian besar masyarakat kita riba sebagai gaya hidupnya mulai televisi, perabot, motor, mobil dan rumah didapat dengan cara riba, atau mungkin juga ketika para ustadz menyampaikan larangan berbuat syirik dan bid'ah pasti tidak disukai sebagian besar masyarakat kita yang menganggap amalan syirik dan bid'ah mereka adalah bagian budaya mereka. Dan banyak lagi hal yang meskipun benar namun tidak disukai dari kalangan masayrakat kita.
Sementara tau sendiri televisi nasional kita menayangkan sesuatu didasarkan pada ratting, makin tinggi rattingnya makin disukai mereka karena uang masuk dari iklan makin besar, apa yang mereka sajikan bukan atas kebenaran tapi mengikuti syahwat dalam masyarakat kita.
Maka yang ditampilkan di televisi nasional kita kebanyakan adalah ustadz yang membolehnya banyak hal yang disukai masyarakat kita, seperti membolehkan musik, membolehkan riba asal darurat, membolehkan berbuat syirik dan bid'ah karena dianggap bagian dari budaya nusantara.
Semoga hal ini memicu semangat para ustadz kita untuk terus berdakwah menyampaikan kebenaran didasarkan hujjah yang sahhih dari Al-Qur'an dan Hadits, agar makin banyak kalangan masyarakat kita mengenal cara beragama yang benar sesuai syariat Allah dan RasulNya, dan suatu saat mereka tampil di televisi-televisi nasional kita, aamiin."
Allah Ta'ala mengingatkan bahaya jika dalam beragama hanya modal ikut-ikutan orang banyak dan meninggalkan ketentuan Allah dan RasulNya,
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴿١١٦﴾إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. [Al-An’am/6:116-117]
Allah juga berfirman,
فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan,
معناه لا تعتاضوا عن البيان والإيضاح ونشر العلم النافع في الناس بالكتمان واللبس لتستمروا على رياستكم في الدنيا القليلة الحقيرة الزائلة عن قريب
Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).
Sumber Referensi "Makna menjual ayat demikian murah",karya Ustadz Ammi Nur Baits di konsultasisyariah.co

DUNIA SEMENTARA KENAPA ENGKAU SERAKAH KEPADANYA ?





Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kesempatan ada dapat nasehat seorang ustadz beliau menyampaikan, " Taukah antum betapa sebentar kenikmatan dunia, misal seperti makanan itu terasa nikmat ketika kita kunyah didalam mulut, namun ketika melewati kerongkongan kita maka hilang sudah kenikmatan makanan yang kita makan itu. Sama dengan kenikmatan berjima'(hubungan intim) dengan istri kita mungkin terasa nikmatnya hanya beberapa menit saja dan sekejap kemudian hilang berganti kelelahan, dan banyak contoh serupa betapa sangat sebentar sifat kenikmatan dunia.
Namun kenikmatan yang sangat sebentar itu membuat banyak orang serakah untuk mendapatkannya, mereka mampu berbuat curang, menipu, berbohong seperti mengurangi timbangan, merubah kuitansi, memark up nilai proyek, saling suap-menyuap untuk mendapatkan sesuatu dan seterusnya.
Dapat disebutkan mereka serakah kepada dunia hingga mampu berbuat segala hal yang zalim, mereka mengutamakan kenikmatan sesaat sementara kenikmatan abadi yakni nikmatnya akhirat berupa Surga dimana mereka menikmati sesuatu dalam jangka waktu sangat lama bahkan abadi dalam kenikmatan mereka tinggalkan. Mereka orang-orang yang tertipu oleh dunia
Maka lihat hakekat dunia sebagaimana mestinya, yakni ketika kita mendapatkan dunia gunakan untuk meraih kenikmatan abadi di akhirat, ketika kita mendapatkan dunia gunakan dijalan yang diridhoi oleh Allah Ta'ala, gunakan untuk beramal ibadah seperti haji, zakat, sedekah, dan seterusnya.
Dengan demikian kita akan selalu berhati-hati dalam meraihnya, kita akan menjauhi cara-cara zalim dalam mendapatkannya.
Semoga kita termasuk orang yang tidak tertipu nikmatnya dunia, dan lebih mengutamakan kenikmatan abadi di akhirat yakni surga, aamiin
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al-Hadîd/57:20]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. [Ghâfir/40:39]
Sumber Referensi "Jadikan Akhirat sebagai Niatmu", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

NILAI SEDEKAH DISISI ALLAH TA'ALA TERGANTUNG DARI SEBERAPA BESAR PENGORBANAN KITA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu ada teman yang menyumbang uang sebesar 50 ribu untuk pengadaan Mushaf Al-Qur'an di sebuah kelas bacaan Al-Qur'an yang kami adakan, saya sangat terharu menerima sumbangan itu mengingat dia mau menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu kami sementara pekerjaan yang ditekuninya bukan pekerjaan tetap alias serabutan, dia bekerja sesuai tawaran pekerjaan yang ada.
Jujur sebenarnya saya ingin menolak sedekahnya mengingat keadaan dirinya, namun disisi lain juga takut membuatnya kecewa dan jika saya tolak malah dianggap merendahkan sedekahnya, padahal dia sudah punya semangat sedekah, akhirnya saya terima juga demi menjaga semangat sedekahnya itu.
Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan salah satu teman lainnya yang pernah saya minta sedekah Mushaf Al-Qur'an beberapa waktu sebelumnya, ada teman lain yang punya beberapa perusahaan yang tersebar dibeberapa daerah di Indonesia, omzetnya milyaran rupiah sebulan namun ketika saya minta bantuan untuk membantu kami berupa Mushaf Al-Qur'an dia selalu berkata "insyaAllah", dan sampai detik ini tidak satupun Mushaf Al-Qur'an dia sumbangkan kepada kami.
Meskipun dia sangat mampu dari sisi ekonomi namun untuk urusan sedekah sangat berat baginya.
Jadi teringat kajian Ustadz Abdullah Zein MA soal ini, kata beliau misal ada seseorang bergaji 10 juta kemudian bersedekah 1 juta, kemudian ada juga orang lain yang bergaji 3 juta dan bersedekah 1 juta, meskipun dari sisi jumlah uang yang disedekahkan sama yakni 1 juta namun yang gaji 3 juta dan bersedekah 1 juta lebih besar nilainya disisi Allah Ta'ala, karena orang yang bergaji 10 juta ringan baginya mengeluarkan uang 1 juta dari gajinya karena itu hanya sepersepuluh dari gaji yang dimiliki sementara orang yang bergaji 3 juta perlu pengorbanan lebih besar dalam hatinya untuk merelakan sepertiga dari gajinya untuk disedekahkan, waalahua'lam.
Keikhlasan seseorang dalam melakukan sesuatu yang dilihat dan dinilai oleh Allah Ta'ala, disebutkan dalam sebuah hadits
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Muslim dalam kitab Al Birr Wash Shilah Wal Adab, bab Tahrim Dzulmin Muslim Wa Khadzlihi Wa Ihtiqarihi Wa Damihi Wa ‘Irdhihi Wa Malihi, VIII/11, atau no. 2564 (33).
2. Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhud, bab Al Qana’ah, no. 4143.
3. Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539.
4. Baihaqi dalam kitab Al Asma’ Wa Shifat, II/ 233-234, bab Ma Ja’a Fin Nadhar.
5. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, IV/103 no. 4906.
Sumber Referensi "Ikhlas" karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

MERASA NAIK LEVEL, PADAHAL KENA SYUBHAT


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada dapat cerita dari salah satu teman bahwa salah satu teman kami sekarang tidak mau datang ke kajian para ustadz yang biasa dia datangi dengan alasan mengikuti sebuah firqoh yang lebih "salaf", padahal setau saya itu firqoh sering menyebarkan fitnah dan perkataan buruk kepada para ustadz pemateri kajian Sunnah dengan sebutan "murjiah" dan kata buruk lainnya. Bahkan mereka sering berkata kasar kepada orang yang diduga berbuat Maksiat, Syirik dan Bid'ah, bukannya menasehati dan mendakwahkan yang hak kepada mereka dan mengajak kepada ketaatan pada Allah dan RasulNya.
Dari perilaku mereka saja sebenarnya sudah menunjukkan bahwa mereka bukan salaf sebenarnya karena salaf yang benar tentu akhlaknya mulia dan lidah mereka tidak sibuk mencela orang lain yang keliru atau salah.
Mungkin orang-orang seperti ini sudah terkena syubhat bahwa merekalah yang paling salaf diatas muka bumi ini, padahal kita termasuk salaf atau bukan kelak saat hisab baru ketahuan, ketika Aqidah dan syariat kita paling mendekati kaum Salaf, bukan modal ngaku-ngaku paling salaf, waalahua'lam.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, dakwah yang hak adalah dakwah yang mengajak manusia kepada ketaatan pada Allah dan RasulNya, sementara dakwah yang bathil yakni mengajak manusia masuk kepada firqohnya(kelompoknya).
Semoga dijauhkan dari Syubhat semacam ini, aamiin.
Allah Ta'ala berfirman:
]اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ[
Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS An-Nahl [16]: 125).

Sunday, June 2, 2019

JADI ORANG ISLAM YANG BIASA-BIASA SAJA ???



Oleh Siswo Kusyudhanto

Ada teman yang menjadi pengurus sebuah mushola di perumahannya mengeluh sedikitnya orang datang ke Mushola yang dikelolanya untuk melaksanakan shalat fardhu berjamaah, dari sekitar 200 kepala keluarga yang notabene keluarga Muslim atau dari sekitar 400 orang Muslim di perumahan itu cuma ada sekitar 10 orang saja yang rajin datang ke Mushola untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Mungkin mereka korban dari banyak slogan yang sering kita dengar ditengah masyarakat, seperti disampaikan Ustadz Ali Ahmad dalam salah satu kajiannya, beliau menyebutkan ada kadang orang menakut-nakuti umat Muslim dengan mengatakan,
" jangan dalam-dalam belajar agama nanti tersesat, atau jangan terlalu alim dalam beragama nanti jadi teroris, jadi orang Islam itu yang biasa-biasa sajalah, padahal yang dimaksud biasa-biasa itu adalah orang yang biasa gak datang kajian, biasa gak shalat atau biasa gak baca Al-Qur'an.
Ini jelas perkataan yang keliru karena setiap Muslim harus menjadi orang Islam yang luar biasa dalam ilmu agama dan amal ibadah, bukan biasa-biasa saja alias bodoh dalam ilmu agama dan malas beribadah, padahal tampa ilmu yang cukup seseorang akan kemungkinan salah beramal ibadah, hanya dengan berilmu kita akan beramal ibadah dengan benar, dan dengan amalan yang benar serta istiqomah adalah sebaik-baik kenikmatan,"

Allâh Ta’ala berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Hûd/11:112].

Allâh Ta’ala juga berfirman:

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqomahlah (tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allâh dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allâh-lah tuhan kami dan tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allâh akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali (kita)”. [Syûrâ/42:15].

Sumber Referensi :"Istiqomah", oleh Ustadz Abu Muslim Al tsyari di muslim.or.id