Sunday, March 24, 2019

GIMANA ALLAH TA'ALA MAU RIDHO/MEMBERI RAHMAT ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dulu saya sempat ikut sebuah firqoh, ada salah satu teman dikumpulan itu tidak pernah shalat, tidak pernah puasa dan juga tidak beramal ibadah lainnya, dia berlaku demikian karena memahami bahwa seseorang masuk surga bukan karena banyaknya amal ibadah tetapi seseorang masuk surga karena ridho Allah Ta'ala, maka sejak itu dia hanya berdoa mengharap ridho Allah Ta'ala saja.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz pernah ditanya soal ini, "Ustadz apakah benar kita masuk surga bukan karena amal ibadah kita? Seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan lainnya, tapi hanya karena ridho/rahmat Allah Ta'ala saja kita masuk surga?".
Ustadz menjawab, " itu benar, kita masuk surga karena ridho/Rahmat Allah Ta'ala saja', nampak si jama'ah kaget mendengar jawaban ustadz, dalam hati mungkin dia berkata, lalu ngapain kita shalat, puasa, sedekah dan seterusnya kalau itu bukan menjadi sebab masuk surga?.
Lalu Ustadz melanjutkan, " masalahnya bagaimana Allah Ta'ala ridho kepada kita masuk surga jika kita tidak melakukan shalat, tidak puasa, tidak sedekah dan tidak melakukan amal ibadah lainnya?, Tentu Allah Ta'ala ridho terhadap kita karena sebab amal ibadah yang kita lakukan.
Dan mustahil Allah Ta'ala ridho kepada kita masuk surga jika dalam kehidupan kita dipenuhi perbuatan kemaksiatan, kebid'ahan dan kesyirikan?".
Jamaah itu mulai paham maksudnya Allah Ta'ala ridho kepada kita dan menjadikan seseorang masuk surga.
Waalahua'lam.
Baru paham teman saya dulu itu ternyata gagal paham.
Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).
Sumber Referensi muslim.or

KERJAKAN BID'AH HASANAH SAJA, WHAT !!??


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dikirimi link kajian seorang ustadz yang suka mengamalkan bid'ah hasanah, dalam video itu menjelaskan sebuah hadits, yakni tentang orang-orang yang terusir dari telaga Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam karena berbuat bid'ah setelah Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam wafat. Kata ustadz itu yang dimaksud golongan yang diusir adalah orang-orang yang mengamalkan bid'ah dholallah, sementara yang mengamalkan bid'ah hasanah menikmati air dari telaga itu. Penjelasan yang membingungkan dan sarat syubhat bagi yang awam.
Jelas jauh berbeda dengan penjelasan para ustadz di Kajian Sunnah yang saya pernah ikuti, para ustadz seperti Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah, Ustadz Firanda Adirja, Ustadz Maududi Abdullah dan seterusnya ketika menjelaskan hadits ini menyebutkan yang dimaksud dengan orang-orang yang terusir dari telaga Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam adalah mereka yang berbuat bid'ah secara keseluruhan, bukan sebagian saja, mengikuti hadits lainnya tentang terlarangnya bid'ah, karena bunyinya, "Kullu bidatin dholallah", setiap bid'ah adalah sesat(sahhih Abu Dawud dan Tirmizi), jadi tidak ada sebagian bid'ah yang tidak sesat.
Lagian kalau kita pahami dengan sebagian Muslim yang menyebutkan ada bid'ah hasanah dan dholallah kemudian cari dalam kehidupan nyata maka kita tidak ada satupun temukan namanya bid'ah dholallah, semua pelaku kebid'ahan di dunia ini selalu menyebutkan amalannya adalah bid'ah hasanah, bahkan kelompok paling sesat menurut ulama Ahlu Sunnah seperti syi'ah juga menyebutkan amalan mereka adalah bid'ah hasanah.
Kalau mengikuti pemahaman mereka maka tidak ada satupun manusia yang diusir dari telaga Nabi Muhammad Shalallalahu alaihi wa Sallam karena mereka semua berbuat bid'ah hasanah, namun Nabi menyampaikan hal sebaliknya, ada sebagian orang akan diusir dari telaga itu.Waallahua'lam.
semoga dijauhkan dari pemahaman-pemahaman yang penuh syubhat seperti ini, aamiin.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ لِي رِجَالٌ مِنْكُمْ، ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أَصْحَابِي، فَيُقَالُ لِي: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
Aku menunggu kalian di telaga. Sungguh ditampakkan kepadaku beberapa orang diantara kalian, kemudian dia disimpangkan dariku. Lalu aku mengatakan, “Ya Rabbi, itu umatku.” Kemudian disampaikan kepadaku, “Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat setelah kamu meninggal.” (HR. Ahmad 4180 dan Bukhari 6576)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bercerita,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi kuburan, lalu beliau memberi salam, “Salamu alaikum, wahai penduduk negeri kaum mukminin, kami insyaaAllah akan bertemu kalian.” Lalu beliau mengatakan,
“Saya ingin ketemu dengan teman-temanku.”
“Bukankah kami ini teman-teman anda ya Rasulullah?” tanya para sahabat.
“Bukan, kalian sahabatku. Teman-temanku adalah umat islam yang akan datang setelah masa ini. Aku menunggu mereka di telagaku.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ya Rasulullah, bagaimana anda bisa mengenali umatmu yang belum pernah ketemu dengan anda?” tanya sahabat.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat permisalan,
“أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا كَانَ لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ خَيْلٍ بُهْمٍ دُهْمٍ، أَلَمْ يَكُنْ يَعْرِفُهَا؟ ” قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ” فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ”
“Bagaimana menurut kalian, jika ada orang yang memiliki kuda hitam yang ada belang putih di wajah dan kaki-kakinya, dan dia berada di kerumunan kuda yang serba hitam. Bukankah dia bisa mengenalinya?”
“Tentu dia bisa mengenali kudanya.” Jawab sahabat.
“Umatku akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan belang di wajah dan tangannya karena bekas wudhu. Saya menunggu mereka di telaga.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu beliau mengingatkan,
أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ، أُنَادِيهِمْ: أَلَا هَلُمَّ، فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا، سُحْقًا
Ketahuilah, sungguh ada beberapa orang yang disesatkan, tidak bisa mendekat ke telagaku, seperti onta hilang yang tersesat. Aku panggil-panggil mereka, “Kemarilah…kemarilah.” Lalu disampaikan kepadaku, “Mereka telah mengubah agamanya setelah kamu meninggal.”
Akupun (Nabi) mengatakan, “Celaka-celaka..”. (HR. Ahmad 8214 & Muslim 607)
Sumber Referensi " Mereka yang diusir dari Telaga Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam", karya Ustadz Ammi Nur Baitys di konsultasisyariah.c

SIAPA TAU SUATU HARI DIANTARA MEREKA LEBIH DIDEPAN DALAM MEMBELA DAKWAH INI DARI DIRIMU




Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada kisah menarik yang disampaikan seorang ustadz dalam kajian beliau tentang orang-orang yang dulu sangat keras menentang Dakwah yang di syiarkan oleh para ustadz pemateri Kajian Sunnah, dan kemudian hari justru orang-orang itu saat ini adalah paling depan soal pengorbanan dan membantu para ustadz dalam membantu dakwah ini.
Disebutkan ada seorang yang sangat tidak suka dan benci dengan dakwah orang yang dilabeli wahabi, sehingga dia sering menebarkan fitnah keburukan wahabi dikalangan teman-temannya dan keluarganya tentang bahaya wahabi bagi Umat Islam khususnya di Indonesia.
Saking bencinya dengan orang wahabi sampai-sampai jika ada poster tentang kajian yang diisi oleh para ustadz wahabi dia akan merobeknya dan membuangnya.
Dikisahkan pada suatu hari dia menemui poster info kajian seorang ustadz disebuah tempat di Bogor, ketika melihat poster itu spontan dia datangi dan merobeknya, dan akhirnya poter itu menjadi serpihan kecil-kecil, ada sebagian sobekan kecil ditangannya tertera frekuensi radio Rodja, dan karena setelah membacanya dia menjadi penasaran, dia ingin mengetahui kesesatan materi dakwah radio wahabi ini. Maka dia pulang kerumah dan membawa sobekan poster yang ada frekuensi radio wahabi itu, dan setelah mencari dia akhirnya menemukannya, pertama mendengar dengan seksama kajian didalam siaran itu, dia ingin mengetahui letak kesesatannya, namun hari itu dia tidak temukan.
Esoknya dia ulangi lagi mendengar kajian Radio Rodja, dan begitu seterusnya sampai berminggu-minggu, namun selama mendengarkan siaran radio dakwah itu tak sekalipun dia menemukan kesesatan didalamnya, justru dia mulai membenarkan dakwah yang disiarkan radio ini, dia merasa kajian yang disampaikan secara ilmiah karena didukung dalil sahhih baik dari Al-Quran dan Hadits sahhih, dan dengan mendengar kajian dalam radio tersebut dia jadi tau perkara-perkara aqidah seperti betapa mulianya Tauhid, betapa buruknya Syirik, betapa mulianya Sunnah dan betapa buruknya bid'ah, dan tau mana keutamaan harta halal dan buruknya harta riba dan seterusnya.
Akhirnya tampa disadari dia jadi pendengar setia Radio Rodja selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian, dan justru saat ini dia adalah salah satu donatur di Radio Rodja, justru dia berdiri paling depan dalam kegiatan Dakwah Sunnah ini, .MasyaAllah.
Maka ketika ada orang kita temui sering mengatakan "wahabi sesat", atau "wahabi mengajarkan tri tauhid", atau "wahabi dakwah yang suka mengkafirkan dan membid'ahkan" dan seterusnya, ketahuilah bahwa kita sedang berhadapan dengan orang yang jahil dan termakan berita bohong dan juga fitnah, maka mengajaknya diskusi, menasehati, mengajak ke kajian terdekat dan mendoakan dia adalah yang terbaik.
Karena siapa tau pada suatu hari dia mendapatkan hidayah mengikuti pemahaman Ahlu Sunnah Manhaj Salaf dan kemudian justru berdiri paling depan membela dakwah ini?, waalahua'lam.
Allah Ta'ala berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].
Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Sumber Referensi almanhaj.or

NYARIS KETIPU 10 JUTA !!!


Oleh Siswo Kusyudhanto
Siang kemarin sedang sibuk mengirim pesanan buku teman-teman tiba-tiba telpon berdering, ada seseorang menelpon saya dan memperkenalkan diri sebagai Slamet teman saya dari Lampung, dia sangat sok akrab padahal saya masih bingung Slamet yang mana, kemudian dia mengatakan sedang ada usaha bisnis elektronik dengan seorang bos toko elektronik yang cukup besar dan meminta bantuan saya. Pertama saya menolak permintaan dia karena saya sudah lama tidak berbisnis elektronik, namun dia terus mendesak saya untuk membantu dia dengan iming-iming keuntungan puluhan juta rupiah, disini saya mulai tertarik dan mulai mendengar penuturannya dengan serius.
Dia mengatakan saya cukup bergaya seakan memiliki barang dari Badan Lelang Negara sebanyak 30 Handphone I Phone dan 30 Camera Cannon, kemudian menawarkan kepada seorang pengusaha bernama Asiong, hal ini biasanya dia lakukan sendiri namun karena harga sekarang naik dan dia tidak dapat melakukan tawar menawar secara langsung maka butuh bantuan saya untuk nego harga kepada pengusaha tersebut.
Kemudian ada seorang bernama Asiong menelpon saya menanyakan tentang barang yang saya miliki berdasarkan info dari Slamet, logatnya sangat kental Tionghoa, sangat menyakinkan sekali, kemudian saya jawab iya benar saya mengaku memiliki barang itu, kemudian terjadi tawar menawar, saya harus bolak balik menelpon Slamet dan Asiong secara bergantian, dan ujungnya antara saya dan Asiong deal harga sebesar 3,450,000 per unit untuk 30 Handphone I Phone dan 30 Camera Cannon. Namun dari total jumlah uang yang disampaikan Asiong yang menyebutkan bahwa total uangnya 107 juta membuat saya curiga, harusnya jumlahnya adalah 207 juta, masa pengusaha besar sampai salah hitung?, sangat serampangan untuk kelas pengusaha besar dengan nilai transaksi sampai ratusan juta rupiah, karena saya lama malang melintang di dunia bisnis elektronik, sudah 10 tahun lebih saya berada di bisnis ini dan hampir tidak saya jumpai pengusaha dalam bidang elektronik salah hitung dengan selisih sampai ratusan juta rupiah seperti itu, sungguh aneh.
Namun proses transaksi ini saya teruskan karena ingin tau ujungnya seperti apa, saya iyakan saja ketika dia mengatakan total uang 107 dan sudah ditransfer 50 juta ke rekening bendahara rumah lelang sisanya yang 50,7 juta akan di transfer ke rekening pribadi saya, akhirnya seperti disepakati anak buah Asiong meluncur ke rumah lelang Negara untuk mengambil barang yang dimaksud untuk bertemu dengan si Slamet,. Sampai sini harusnya sudah selesai akadnya, namun tak berapa lama si Slamet menelpon saya mengatakan bahwa uang muka yang di bayar Asiong ternyata kurang, harusnya 75 juta, sudah dikirim 50 juta dan sudah ditalangi 15 juta oleh si Slamet, jadi kurang 10 juta untuk menutup agar barang pesanan itu bisa keluar dari rumah lelang, saya katakan tidak memiliki uang sejumlah itu, namun dia selalu mendesak saya, bergantian dengan Asiong menelpon kok belum selesai transaksinya, mereka membuat agar saya panik dan mencari uang untuk menutup kekurangan itu, sampai disitu saja selanjutnya kedua nomer hp orang ini saya blokir.
Selamat tinggal para penipu.
Demikian rumitnya para penipu berusaha memperdaya saya, namun Alhamdulillah mungkin berkat Rahmat Allah Ta'ala, oleh Nya diperlihatkan celah sehingga saya tau niat jahat mereka dari kesalahan yang mereka buat sendiri, SubhanaAllah.
Pesan untuk teman-teman jangan lupa berdoa dan memohon kepada Allah Ta'ala agar dilindungi dari perbuatan jahat orang yang akan memperdaya kita, sebaik-baik pelindung kita adalah Allah Ta'ala.
Hikmahnya juga jangan mudah heran, jangan mudah panik dan jangan keburu nafsu, lihat baik-baik perkara yang kita hadapi dengan tenang kalau perlu minta pendapat orang lain, maklum para penipu selalu memanipulasi kepanikan dan keheranan kita agar usaha jahatnya berhasil.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya qadha serta kesenangan musuh atas musibah yang menimpa kalian.” (HR. Bukhari: 6616)
Sumber Referensi "Doa Mohon Perlindungan dan Musibah", karya Agus Pramono di muslim.or

Wednesday, March 20, 2019

INI BUKAN PACARAN USTADZ, TAPI PAWAI TA'ARUF


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman bertanya tentang proses ta'aruf melalui sosial media yang banyak dilakukan oleh muda-mudi yang beragama Islam yang makin marak akhir-akhir ini, saya katakan itu bukan ta'aruf sosmed sebenar nya, tapi yang benar adalah pacaran sosmed, mungkin dinamakan ta'aruf biar tidak kelihatan dosanya.
Jadi teringat ketika Ustadz Ali Ahmad membahas soal ini, ketika beliau bertanya kepada pasangan muda-mudi yang pacaran dilakukan disebuah pantai, dan mereka melakukan berpasang-pasangan, ada seorang pemuda menjawab, "ini bukan pacaran ustadz, tapi pawai ta'aruf", subhanaAllah.
Padahal ta'aruf yang benar bukan demikian, bukan berduaan dengan bukan mahramnya yang membuat pelakunya mendekati perbuatan zina, ta'aruf yang benar calon suami datang kerumah calon istri dan disaksikan keluarga dalam prosesnya, bukan berduaan ditempat-tempat umum seperti itu. Ini sejatinya pacaran dinamai ta'aruf.
Inilah salah satu jebakan setan agar seorang manusia terperosok kepada perbuatan maksiat yang diinginkan setan, mereka menamakan nama indah untuk sesuatu yang buruk seperti nama bunga untuk riba, pekerja sex komersial untuk pelacur, dan semacamnya.
Semoga selamat dari jebakan setan semacam ini, aamiin.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (QS. An-Nuur [24]: 21).

RIBA SETARA 36 KALI ZINA !


Oleh Siswo Kusyudhanto
Jika seseorang ketahuan berbuat zina, maka namanya sangat buruk di masyarakat, menjadi contoh buruk bagi orang lain, namun banyak orang terang-terangan berbuat riba tetapi mereka tidak merasa hina sedikitpun, padahal dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam menyebutkan makan sedikit saja hasil riba ibarat setara dengan 36 kali berzina!, SubhanaAllah, artinya harusnya seseorang yang sudah berbuat riba jauh lebih hina dari seseorang yang berbuat zina, waalahua'lam.
Hal ini mungkin terjadi karena sangat sedikit sekali pendakwah menyampaikan kepada umat Islam betapa buruk dan hinanya riba dalam timbangan syariat Islam, dan juga minim sekali ilmu tentang muamalah/transaksi dikalangan Umat Islam.
Maka menjadi pekerjaan rumah bagi Umat Islam untuk terus menyebarkan ilmu Muamalah kepada masyarakat dan penguasa, juga menyampaikan tentang bahaya riba baik di kehidupan dunia apalagi akhirat kelak,
InsyaAllah.
Foto Baliho Dakwah di simpang jalan layang SKA Pekanbaru.

UJIAN PASTI DATANG, BERSIAPLAH


Oleh Siswo Kusyudhanto
Sejak kenal Dakwah Sunnah dan menjual buku via online jadi kenal banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia dan sebagian berada di luar negri, dan dari mereka banyak kisah yang dapat dijadikan pelajaran, hikmah untuk kita.
Pernah kenal seorang akhwat yang sudah berhijab dan bercadar, dia sedang berusaha menghilangkan tato di bagian tubuhnya dan meminta pertolongan saya untuk mencari obat penghilang tato, namun sampai saat ini belum menemukan obat yang tepat. Dia merasa sangat bersalah atas tato dibagian tubuhnya itu sejak kenal Dakwah Sunnah jadi tau terlarangnya tato pada tubuh manusia.
Pernah juga ada dimintai pendapat seseorang langkah apa yang dilakukan untuk membayar dosanya selama ini, yakni seorang ikhwan yang sudah taubat dari zina selama bertahun-tahun dan pernah membunuh bayi hasil zinanya dengan seorang wanita untuk menutupi perbuatannya itu.
Pernah juga berjumpa seorang bapak mantan manager sebuah bank nasional yang tengah berjuang keras dalam menjalankan usaha kecil-kecilan demi menutup kebutuhan keluarga selepas mengundurkan diri dari jabatan manager bank dengan gaji 35 juta sebulan.
Sejak kenal Dakwah Sunnah dia jadi tau haramnya pekerjaan yang ditekuninya selama ini sebagai manager bank dan saat ini dia berusaha mencari harta untuk keluarga dengan cara halal.
Pernah juga diminta pendapat seorang akhwat yang berhijab dan bercadar tentang langkah terbaik menjaga hubungan dengan keluarga setelah diusir dari rumahnya dan kampungnya karena dianggap mengikuti pemahaman sesat disebabkan sejak kenal Dakwah Sunnah dia tidak mau mengikuti lagi amalan-amalan bid'ah dan syirik yang marak di desanya.
Dan banyak kisah heroik dan haru biru dari teman-teman yang setelah hijrah kepada cara beragama yang benar seusai syariat Allah dan RasulNya, mereka mendapatkan cobaan berat dan harus mereka atasi untuk menyempurnakan agamanya.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menjelaskan bagaimana seorang yang beriman kepada Allah dan RasulNya mendapatkan ujian demi mempertahankan keimanannya. Beliau menyebutkan, orang beriman pasti diuji atas keimanannya, seperti kita ketahui para Nabi dan Rasul adalah puncak-puncak keimanan diantara keimanan yang ada dikalangan manusia, dan mereka mendapatkan ujian sangat berat dalam menjalani keimanannya itu, maka ketika kita diuji oleh Allah Ta'ala atas keimanan kita lihatlah kisah para Nabi dan Rasulm, apakah ujian kita lebih berat dari mereka?, pastilah ujian kita jauh lebih ringan dari mereka, karena level keimanan kita jauh dibawah mereka, tinggal sikap kita dalam menghadapinya, dan disanalah Allah Ta'ala akan mengetahui kadar keimanan kita, maka bersabar dalam menghadapi segala ujian adalah sikap terbaik, waalahua'lam.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31]
Dengan adanya ujian itu, akan tampak orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ini adalah rahmat dari Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]