Monday, February 5, 2018

WANITA SHOLEHAH ITU SIBUK MENCARI PAHALA, BUKAN SIBUK MENUNTUT HAKNYA.

WANITA SHOLEHAH ITU SIBUK MENCARI PAHALA, BUKAN SIBUK MENUNTUT HAKNYA.
Oleh Siswo Kusyudhanto

Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman berkisah tentang seorang wanita yang mengajukan cerai karena merasa tidak tercukupi hak-haknya, padahal secara nafkah suaminya sudah mencukupinya, namun karena si wanita ingin mencapai gaya hidup seperti selebritis, tentu si suami sulit memenuhi keinginan si istri.
Jadi ingat kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah, beliau mengatakan, "Wanita dijaman ini banyak yang mengeluhkan sempitnya kehidupan, belum tercapai gaya hidup yang diinginkannya, dan banyak diantara mereka selalu menuntut hak-haknya, hal tersebut disebabkan dia iri melihat orang lain dapat menikmati kenikmatan dunia melebihi dirinya. Dan sangat sedikit dijaman ini ada wanita yang selalu ingin mendapatkan lebih pahala dari amal ibadahnya. Sangat sedikit wanita merasa miskin dalam amal ibadah, padahal wanita yang utama didalam agama adalah mereka yang selalu sibuk mengumpulkan pahala dari amal ibadah yang dilakukannya, dia tidak mau kalah dengan orang lain dalam urusan meraih surga, ini dikarenakan dia iri melihat orang lain lebih baik dalam urusan amal ibadah darinya, waallahua'lam. "
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
“Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari).

Friday, February 2, 2018

JANGAN KEPEDEAN SELAMAT DARI SYUBHAT.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman saya ingatkan kalau bisa jangan dengar kajian ustadz"anu", takutnya kena syubhat(perkara yang semula jelas jadi remang2) nanti susah diluruskan, namun dia berdalih "insyaallah saya dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk", subhanaallah, dalam hati prihatin, maklum dia merasa kepedean selamat dari syubhat, padahal kalau kita mau belajar dari kisah ulama-ulama besar terdahulu mereka sangat berhati-hati terhadap syubhat, bahkan menjauhi orang-orang yang diduga berpaham bid'ah dan khawarij. Padahal dari tinjauan ilmu dan keimanan mereka jauh diatas kita, bagaimana dengan kita yang miskin ilmu dan ketaatan yang serba pas-pasan ini?, tentu potensi terkena syubhat jauh lebih besar, maka kalau merasa pede selamat dari syubhat sepertinya keliru besar.
Lalu saya sampaikan kisah seorang teman, dia sudah lama ngaji Sunnah, suatu hari dia dikirimi seseorang buku propaganda syi'ah berjudul "buku putih syi'ah", dia bertanya buku "ini bagusan di baca atau dibuang saja yaa?", saya jawab, "dibakar saja, insyaallah lebih baik", lalu dia berkata, "saya penasaran terhadap isi buku ini, insyaallah saya mampu melindungi diri dari fitnah syi'ah", dia bersikeras untuk membacanya. Dibulan pertama membaca dia mulai terlihat membela pemahaman syi'ah, lama kelamaan dia aktif membaca literatur ulama-ulama syi'ah, dan selang setahun kemudian dia aktif hadir di kajian orang syi'ah di Bandung, subhanaallah.
Semua diawali dari kepercayaan diri yang berlebihan akan selamat terhadap syubhat.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Zubair Hawaary mengatakan, "jika tidak memiliki keahlian berenang jangan pernah bermain-main ditepi laut, jika kemudian terjadi terpeleset kedalam laut maka pasti akan tenggelam. Demikian juga sikap kita terhadap syubhat, jika kita masih memiliki ilmu dan keimanan pas-pasan jangan sekali-kali mendekati perkara yang dekat dengan syubhat, karena itu sangat berbahaya bagi keselamatan aqidah kita, kemungkinan besar kita akan hanyut terbawa syubhat itu. Dan kemudian ketika terkena syubhat tampa disadari kita sudah masuk kedalam kekafiran namun merasa dalam kebenaran, waallahua'lam. "
Di antara fitnah syubhat terbesar adalah kekafiran. Karena sesungguhnya orang-orang kafir itu berada di dalam kesesatan tetapi mereka menyangka berada di atas kebenaran dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً {103} الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا {104} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالَهُمْ فَلاَنُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا {105}
Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. [Al Kahfi : 103 – 105]
Sumber referensi "Menjauhi fitnah syahwat dan syubhat", karya Ustadz Muslim Atsary di muslim. Or. Id

KENAPA HARUS SERING ISTIGHFAR?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah mengatakan, "Dosa dari perbuatan kita yang kita ketahui selama ini sangat banyak, namun lebih banyak lagi dosa yang tidak kita ketahui, dosa dari perbuatan yang tidak pernah kita sadari, maka oleh karenanya wajib bagi kita untuk selalu beristighfar, mohon ampunan Allah Ta’ala atas dosa yang pernah kita perbuat, baik yang kita ketahui terutama untuk dosa-dosa yang tidak kita pernah kita sadari ".
حفظه الله
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ .
Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya Istighfâr yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan :
ALLAHUMMA ANTA RABBII LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’ÛDZU BIKA MIN SYARRI MÂ SHANA’TU ABÛ`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABÛ`U BIDZANBII FAGHFIRLÎ FA INNAHU LÂ YAGHFIRU ADZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA
(Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).
(Beliau bersabda) “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
1. Imam al-Bukhari dalam shahîhnya (no. 6306, 6323) dan al-Adabul Mufrad (no. 617, 620)
2. Imam an-Nasâ-i (VIII/279), as-Sunanul Kubra (no. 9763, 10225), dan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 19, 468, dan 587)
3. Imam Ibnu Hibbân (no. 928-929-at-Ta’lîqâtul Hisân ‘ala Shahih Ibni Hibbân)
4. Imam ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 7172), al-Mu’jamul Ausath (no. 1018), dan dalam kitab ad-Du’aa (no. 312-313)
5. al-Hâkim (II/458)
6. Imam Ahmad dalam musnadnya (IV/122, 124-125)
7. Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 1308), dan lainnya dari Shahabat Syaddad bin Aus Radhiyallahu anhu
Sumber referensi "Keutamaan Sayyidul Istighfar", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or id

JIKA SUDAH MERASA BENAR SULIT DINASEHATI


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu saya ditelpon oleh salah seorang ustadz pengajar kelas bacaan Alquran yang kami adakan disebuah Lembaga Pemasyarakatan beliau menyampaikan perkembangan kelas bacaan kami yang diikuti warga binaan(napi), alhamdulillah mereka mulai mendapat masukan sedkit-sedikit tentang Aqidah Tauhid disela-sela kegiatan belajar membaca Alquran, ustadz menyampaikan tentang cara beragama yang benar sesuai Sunnahnya, dan mereka mulai memahami apa itu Tauhid, apa itu Syirik, apa itu Sunnah dan apa itu bid'ah. apa itu riba dan mana harta halal dan seterusnya. Baru sadar bahwa inilah bukti nyata bahwa menasehati seseorang yang merasa bersalah jauh lebih mudah daripada menasehati orang yang merasa dalam kebenaran.
Sering terjadi ketika menasehati orang-orang diluar Lembaga Pemasyaratan mengenai riba maka mereka akan berdalih, " mencari yang haram saja sudah susah apalagi yang halal mas,", apalagi kalau mengingatkan seseorang yang ngalap berkah ke kuburan-kuburan orng yang dianggap suci mereka berdalih. "ini bukan amalan syirik, ini wasilah(perantara) agar dapat berkah melalui orang ini.", atau yang sering ketika mengingatkan seseorang yang berbuat bid'ah, mereka akan berdalih,"ini khan baik?, ada kegiatan amal ibadah', atau, "ada doa dan dzikir kok disalah-salahkan?".
dalam kajian beberapa waktu yang lalu Ustadz Abdullah Zein MA. ditanya seseorang jamaah, " Ustadz bahaya mana amalan maksiat atau amalan bid'ah?", ustadz menjawab, " keduanya sama-sama bahaya namun yang lebih berbahaya adalah amalan bid'ah, seperti disampaikan salah satu ulama salaf, Iblis lebih mencintai pelaku kebid'han daripada pelaku maksiat , karena jika amalan kemaksiatan pelakunya secara fitrahnya sadar yang dilakukan adalah sebuah kesalahan, sementara jika seseorang melakukan amalan bid’ah dia yakin dalam dirinya melakukan hal yang benar. Dengan demikain potensi untuk taubat lebih besar terjadi kepada pelaku kemaksiatan, sementara pelaku kebid'ahan sulit untuk taubat, apa yang ditaubatkan jika merasa dalam kebenaran?'.
Sufyan ats Tsauri seorang ulama besar salaf dijaman tabi'in menyampaikan hal tersebut dalam sebuah riwayat :
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22)
Allah Ta'ala berfirman :
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (Qs. Fathir:8)
Referensi aslibumiayu,blogspot

Thursday, February 1, 2018

CERDAS MENGHADAPI PERKATAAN BURUK ORANG LAIN.


Oleh Siswo Kusyudhanto

Dalam sebuah kajian Ustadz Abdullah Zein MA., mengatakan, "Setiap manusia pasti pernah merasakan dikatai buruk oleh orang lain, bahkan seperti Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, manusia paling mulia diatas permukaan bumi ini pernah merasakan mendapat perkataan buruk oleh orang lain dimasa beliau, bahkan sampai hari ini, juga sampai datangnya kiamat, orang-orang kafir yang membenci beliau selalu mengatakan hal buruk tentang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, padahal apa kurangnya beliau?, dari sisi akhlak pasti paling mulia, dari sisi keimanan sudah paling puncaknya, namun tidak semua orang suka kepada beliau, selalu ada saja orang yang membenci beliau.
Apalagi kita ini yang banyak kekurangan, pasti ada orang yang tidak suka kepada kita disebabkan kekurangan kita.
Namun sikap yang benar sangat diperlukan ketika menghadapi perkataan buruk yang datang kepada kita, seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, ketika beliau mendapat perkataan hinaan beliau justru memaafkan dan mendoakannya.
Seharusnya demikian dengan kita, ketika datang perkataan buruk itu wajib bagi kita bersabar, mendengarkan perkataan itu dan iyakan insyaallah akan berhenti sampai disitu saja, kalau kita lawan dengan perkataan buruk juga akan makin panjang perseteruan diantara kita dengannya, akan banyak kemudharatan terjadi setelahnya. Maka yang benar adalah bersikap baik kepadanya dan maafkan serta selalu doakan orang yang mengatakan hal buruk tentang kita. Allah menjamin seseorang yang mendapat perlakuan buruk kemudian membalas dengan kebaikan, dengan pahala disisiNya, ingat pahala disisiNya, Waallahua'lam. "

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114)

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

JANGAN SAMPAI MENJADIKAN DUNIA SEBAGAI TUJUAN.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah mengatakan :
"Kenikmatan dunia ini hanya sekejap kita nikmati, seenak apapun makanan yang kita makan hanya seluas mulut dan lidah kita, setelah makanan itu lewati kerongkongan maka kelezatan makanan itu akan ikut lenyap juga, demikian ketika kita berjima' dengan istri kita mungkin hanya beberapa menit nikmatnya kemudian akan lenyap dan digantikan rasa kelelahan, dan memang demikian sifat nikmat dunia, sangat sebentar. Lalu kenapa orang bersusah payah meraih dunia, bahkan dalam meraihnya juga sampai melakukan cara-cara zalim seperti menyuap, korupsi, dengan cara riba, mengambil hak orang lain dan seterusnya?, karena mereka melihat kenikmatan dunia adalah tujuan hidupnya.
Berbeda dengan seorang Mukmin, mereka melihat dunia adalah sarana untuk meraih surga, seorang Mukmin menjadikan dunia adalah saatnya bercocok tanam dan hasilnya kelak di akhirat, mereka selama hidupnya akan bersusah payah dalam beramal ibadah, semua itu dilakukannya untuk meraih surga yang kenikmatannya kekal abadi, mereka menjadikan surga sebagai tujuan.
Maka orang yang selama hidupnya banyak beristirahat dan bersenang-senang (memperturutkan syahwatnya didunia) kelak menjadi orang yang akan bersusah payah di akhirat, sebaliknya orang yang bersusah payah didunia dengan amal ibadah kelak adalah orang yang paling banyak istirahatnya. Waallahua'lam. "
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)
Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.
Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”
Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.”
Jadi bersabarlah dari maksiat dengan menahan diri. Karena dunia ini adalah penjara bagi kita di dunia. Di akhirat kita akan peroleh balasannya.
Referensi "Dunia bagai penjara bagi orang mukmin", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di Rumoysho.co

DOA ORANG YANG DATANG DI ACARA TAHLIL KEMATIAN KECIL KEMUNGKINAN DIKABULKAN.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kesempatan seorang jamaah bertanya kepada Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah, "ustadz apakah doa orang yang datang memenuhi undangan tahlil kematian akan dikabulkan oleh Allah Ta'ala?". 
Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah menjawab, "kecil kemungkinan doa mereka dikabulkan Allah Ta’ala, penyebabnya karena mereka mau berdoa mendoakan si mayit dan keluarga yang ditinggalkan disebabkan makanan yang mengisi mulut dan perut mereka, seseorang yang berdoa dengan alasan makanan tentu sangat sedikit keikhlasan dalam diri mereka. Dalam keadaan demikian doa yang mustajab, yang kemungkinan dikabulkan oleh Allah Ta'ala adalah doa dari keluarga dekat si mayit, andai salah satu anggota keluarganya berdoa di dini hari, dimalam yang sunyi tidak dihadapan orang lain kemudian dia mendoakan si mayit dan keluarganya kemungkinan besar doanya terkabul, karena banyaknya keikhlasan dalam hati orang itu. Seperti kita ketahui salah satu sebab amalan diterima oleh Allah Ta'ala adalah adanya keikhlasan ketika mengamalkannya. Waallahua'lam. "
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya terkabulkan dan disaksikan oleh malaikat yang ditugaskan kepadanya, tatkala dia berdoa untuk saudaranya, maka malaikat yang di tugaskan kepadanya mengucapkan : Amiin dan bagimu seperti yang kau doakan”. Shafwan berkata : “Lalu saya keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda’, beliau juga mengutarakan seperti itu dan dia meriwayatkannya dari Nabi. [Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Doa bab Fadlud Doa Lil Muslimin fi Dahril Ghaib 8/86-87]
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa jika seorang muslim mendoakan saudaranya kebaikan dari tempat yang jauh dan tanpa diketahui oleh saudara tersebut, maka doa tersebut akan dikabulkan, sebab doa seperti itu lebih berbobot dan ikhlas karena jauh dari riya dan sum’ah serta berharap imbalan sehingga lebih diterima oleh Allah. [Mir’atul Mafatih 7/349-350]
Allah Ta’ala berfirman,
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Maka berdoalah (sembahlah) Allah Ta’ala dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghaafir [40]: 14).
Oleh karena itu, tauhid (ikhlas) merupakan syarat terkabulnya doa tersebut. Karena tauhid akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala dan sebagai sarana (wasilah) dikabulkannya doa seorang hamba.
Referensi dr almanhaj.or.id