Tuesday, September 5, 2017

Imam Syafi'i : dzikir sebaiknya dilakukan dengan suara lirih dan tidak berjamaah.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah mengatakan," padahal dari semua madhzab yang ada, madhzab Syafi'iyah lah yang paling keras melarang dzikir dengan suara keras, juga melarang dilakukan dengan berjamaah, namun justru anehnya orang yang kebanyakan mengaku bermadhzab Syafi'iiyahlah adalah pelaku dzikir berjamaah dan dengan suara keras, ini sebuah hal yang berlawanan dengan pendapat sang imam."
Imam Syafi’i berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih (tidak dengan jaher), berdalil dengan ayat,
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’: 110). Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang ayat tersebut, “Janganlah menjaherkan, yaitu mengeraskan suara. Jangan pula terlalu merendehkan sehingga engkau tidak bisa mendengarnya sendiri.” (Al Umm, 1: 150)
Imam Asy Syatibi rahimahullah berkata, “Do’a jama’i atau berjama’ah (dengan dikomandai dan satu suara) yang dilakukan terus menerus tidak pernah dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana pula tidak ada perkataan atau persetujuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan amalan ini. Dalam riwayat Bukhari dari hadits Ummu Salamah disebutkan, “Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam sesaat setelah salam.” Ibnu Syihab berkata, “Beliau diam sampai para wanita keluar. Demikian anggapan kami.” Dalam riwayat Muslim disebutkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Beliau tidaklah duduk selain sekadar membaca, “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaroka ya dzal jalaali wal ikrom.” (Al I’tishom, 1: 351)
Sumber "dzikir dengan suara keras selesai shalat berjamaah",oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc. Di rumoysho.co

Wanita Sholehah adalah perhiasan terbaik kaum pria.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah menjelaskan makna wanita Sholehah sebagai perhiasan terbaik bagi kaum lelaki.
Jika suatu sore seorang lelaki pulang dari bekerja, membawa rasa penat dan letih setelah seharian bekerja menuju istana kecilnya, dijumpainya sang istri sudah menunggu depan pintu rumah, dijumpainya wanita cantik yang wangi dengan senyuman kecil, ya senyuman kecil, namun sangat luar biasa nilainya dimata sang suami. Kemudian ketika sisuami sudah didekat pintu tiba-tiba kecupan mendarat di kening sisuami. Ketika sisuami masuk rumah ditemuinya rumah dalam keadaan rapi dan bersih, dan anak-anak mereka sudah bersih serta harum. Diatas meja makan sudah tertata rapi makanan yang siap disantap, lengkap dengan minuman teh atau semacamnya. Dikamar tidur juga sprei terlihat rata dengan rapi serta bantal dan guling juga tersusun rapi.
Betapa bahagianya seorang lelaki mendapatkan hal demikian, seorang lelaki yang pulang dari bekerja dengan membawa segala lelah letih dan keringat yang mengalir ditubuhnya, ketika pulang kerumah akan hilang, lenyap semua beban itu dan diganti dengan kebahagiaan yang tidak terkira ketika mendapatkan istrinya adalah Muslimah yang Sholehah, lelaki seperti itu terasa mendapatkan semua perhiasan yang ada didunia ini.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (Hadits riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Umar)
Beliau juga bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
Sumber referensi: "Mendapatkan keturunan yang Sholeh dan Sholehah", karya Sheren Camila Fahmi di muslimah.or.id

Khasiat Daun Bidara Untuk Mengobati Gangguan Jin Dan Sihir


Wahb bin Munabih,salah seorang pemuka tabi'in yg ahli dalam sejarah dan ilmu kedokteran menyarankan untuk menggunakan tujuh lembar daun bidara yg dihaluskan.Kemudian dilarutkan dalam air dan dibacakan ayat Kursi,surat al Kafirun,al Ikhlash,al Falaq dan an Naas. (lihat Mushannaf Ma’mar bin Rasyid 11/13).
Caranya:
tumbuklah tujuh helai daun bidara yg masih hijau di antara dua batu,cobek atau sejenisnya,lalu siramkan air diatasnya sebanyak jumlah air yg cukup untuk mandi dan bacakan di dalamnya ayat-ayat al Qur-an.
Setelah membacakan ayat-ayat tersebut pada air yg sudah disiapkan tersebut,hendaklah dia meminumnya sebanyak tiga kali,dan kemudian mandi dengan menggunakan sisa air tersebut .Dengan demikian,insya Allah penyakit (sihir) akan hilang.
Jika orang yg terkena gangguan jin atau sihir meraung-raung kesakitan,jangan terperdaya, tetap lanjutkan menyiramnya dengan air campuran daun bidara karena itu adalah raungan dari setan dan jin kafir yg kesakitan akibat kepanasan.
Dan jika perlu,hal tersebut boleh diulang dua kali atau lebih,sehingga penyakit (sihir) itu benar-benar sirna.Hal tersebut sudah banyak dipraktekkan,dan dengan izinNya,Allah memberikan manfaat padanya.Pengobatan tersebut juga sangat baik bagi suami yg tidak bisa berhubungan badan karena terkena sihir.
Bagi teman-teman yang berminat bibit pohon bidara silahkan hubungi WA ABU FAHMI, ahli botani dan mikrobiologi pertanian. Silahkan Hubungi WA atau telpon beliau di+6281266524556.
Referensi dr kabarmakkah. Co
Semoga menjadi info yang bermanfaat syukron.

Saya terinpirasi Syaikh Bin Baz menjual buku saku.



Oleh Siswo Kusyudhanto

Beberapa waktu yang lalu saya dicemooh seseorang, karena saya rajin mengupload jualan saya yakni paket buku saku, dia berkata." kenapa gak menjual kitab-kitab besar?, kenapa malah jualan paket buku saku, apa kerennya?, anak kecil juga bisa"
Lalu saya jelaskan bahwa dengan keterbatasan ilmu saya maka saya menyamoaikan ilmu dengan menjual buku saku karya para syaikh, dan hal ini terinspirasi oleh apa yang dilakukan Syaikh Bin Baz.
Cerita dari dari Ustadz Zainal Abidin Syamsudin yang pernag belajar langsung kepada Syaikh Bin Baz, selain menceritakan kemuliaan ulama besar itu yang jarang diketahui khalayak Indonesia seperti Syaikh Bin Baz memiliki kebiasaan menjamu makan siapa saja setiap hari, hartanya banyak untuk diberikan pada para penuntut ilmu sehingga beliau memiliki hutang dimana-mana dan banyak kemuliaan lainnya, namun anehnya di negri kita beliau sering dihina dijuluki sebutan yang buruk dan seterusnya, semoga menjadi pahala bagi beliau, aamiin.
Salah satu cerita Ustadz Zainal Abidin Syamsudin yang inspiratif yakni pada suatu ketika ada seseorang yang berkata buruk tentang Syaikh Bin Baz, dia sering sampaikan kepada khalayak bahwa Syaikh Bin Baz tidak becus menulis kitab, karena dengan sebutan dan gelar mulia sebagai ulama besar justru karyanya adalah kitab-kitab kecil dan tipis. Dan cerita tentang hal ini sampai kepada Syaikh Bin Baz namun beliau tidak serta merta membalasnya. Qodarullah pada suatu saat terdengar kabar bahwa si fulan yang berkata buruk itu dikabarkan sedang jatuh sakit, kemudian sampailah kabar ini kepada Syaikh Bin Baz, maka beliau berniat menjenguk si fulan. Sesampainya di rumah si fulan itu Syaikh Bin Baz setelah mengobrol beberapa saat beliau menanyakan kebenaran tentang perkataan buruk si fulan tentang dirinya, dan sifulan membenarkan, "benar syaikh saya berkata buruk tentang anda, karena anda sebagai ulama besar, mufti kerajaan Arab Saudi kenapa justru karyanya adalah kitab-kitab kecil dan tipis?", lalu Syaikh Bin Baz menjelaskan perihal ini, " Wahai Fulan, taukah antum bahwa banyak ulama menulis kitab-kitab besar dan tebal, mungkin ada ribuan kitab seperti itu, namun sangat sedikit ulama menulis kitab yang tipis dan tidak terlalu berat dipahami oleh orang awam, padahal mereka juga membutuhkan ilmu agama ini, maka biarlah saya yang menjadi bagian dari ulama yang menulis kitab untuk orang awam." Mendengar penjelasan Syaikh si fulan baru paham latar belakang kenapa karya syaikh adalah kitab-kitab kecil dan tipis, lalu kemudian dia meminta maaf atas perkataan buruknya.

Semoga cerita ini menginpirasi, aamiin.

Saturday, September 2, 2017

Mau hoax atau yang asli?

MAU PERCAYA BERITA HOAX ATAU BERITA YANG PASTI BENAR ?

Oleh Siswo kusyudhanto.

Penyimpangan agama dijaman ini diawali dari sikap lebih percaya hoax ketimbang  berita yang sudah pasti benar.  Berita yang hoax adalah datangnya dari selain Allah dan RasulNya,  sebaliknya berita yang pasti benar datangnya  dari Allah dan RasulNya.
Lihat saja ketika disampaikan dalil larangan riba dalam Alquran dan Hadist kepada seorang bankir, reaksinya mungkin seperti ini, "masa sih?, jangan sok suci kamu juga pelaku riba,  atau dia bilang yang haram aja susah dicari apalagi yang halal?"

Atau juga ketika disampaikan kepada seorang pelaku bid'ah  disampaikan  hadist bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam  mengatakan"kullu bidatin dholalllah ",  setiap  bid'ah adalah sesat,  mungkin reaksinya akan mati-matian melawan hadist itu,  mungkin dia akan mengatakan" kata kyaiku ada bid'ah hasanah,  gak semua bid'ah  adalah sesat ada juga bid'ah  yang baik,  atau yang paling parah yang menyampaikan perkataan Nabi itu dianggap menghina perbuatan nya.
Atau juga ketika ada seseorang yang ngalap berkah disebuah kuburan disampaikan  tentang larangan berbuat syirik dari Allah dan RasulNya,  kemudian dia berdalih ini khan bertawassul,  kuburan hanya perantara dan semacamnya,  atau dia bilang kyai saya membolehkan  perbuatan ini,  malah mendukungnya,  sampeyan mau apa?.

Atau banyak yang orang yang tertipu berita hoax wahabi,  yang katanya begini dan begitu,  dibilang sesat,  ulamanya Syaikh Muhammad Abdul Wahab itu orang sesat,  ketika ditanyakan kepada mereka,  "apakah pernah membaca kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab?,  mereka bilang tidak pernah membacanya sama sekali,  lalu tau dari mana kalau beliau sesat?, jawabnya adalah" katanya si fulan". Sudah merobohkan masjid juga bubarkan kajian Alquran dan As Sunnah termyata gak tau apa-apa.

Jadi ingat kajian Ustadz Abdullah Zein,  beliau mengatakan,  "berita dijaman ini dapat merupakan berita yang benar,  namun tidak sedikit  juga adalah berita yang salah atau hoax.  Maka bagi setiap  Muslim yang terbaik adalah mempercayai berita yang sudah pasti benar yakni berita dari Allah dan RasulNya yang tertuang dalam Alquran dan Hadist. Karena sifat berita Allah dan RasulNya pasti benar maka sikap kita wajib mendengarkan dan menaatinya,  samina watho'na terhadap berita yang dikabarkan oleh Allah dan RasulNya,  dan tidak boleh mendebatnya serta mempertanyakan kebenarannya. Maka ketika ketika kita menerima berita yang datangnya selain dari Allah dan RasulNya,  wajib bagi kita untuk mengecek kebenarannya, harus kita yakin berita ini benar baru kita percayai. Apalagi jika berita datang dari orang fasik sekalipun dia seorang yang dikenal muslim,  wajib kita  cek dan cek lagi kebenarannya,  ditambah lagi jika berita itu datang dari orang kafir wajib kita cek secara terperinci,  atau malah lebih baik kita hindari,  semisal tv orang kafir atau media yang indikasinya dikelola orang kafir selayaknya kita hindari."

Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

AWAS ! CARA BERFIKIR KITA DIRUBAH OLEH MEDIA


"Taukah anda pola berfikir kita dibolak balikkan media,  coba saja kita lihat ketika pelaku teroris punya istri yang berhijab syar'i dan bercadar maka akan sering disebutkan dalam berita, atau pelakunya berjenggot dan celana cingkrang juga sering disebutkan  dalam berita.  Namun ketika pelaku tindakan teroris menggunakan celana jeans,  pakai topi dan kaos oblong itu tidak pernah disebutkan sekalipun dalam berita,  kenapa?,  karena media yang dikelola orang berpaham liberal dan juga kaum kafirin ingin kita membenci cara berpakaian selayaknya seorang Muslim. Agar kita anti terhadap hijab syar'i  dan cadar,  agar kita membenci jenggot dan celana cingkrang,  padahal ini yang dibenarkan syariat.
Pada akhirnya  dalam masyarakat  kita  terpola berfikir gaya kafirin,  coba saja ketika ada wanita yang jelas beragama Islam keluar rumah dengan pakaian serba terbuka auratnya,  tak seorangpun protes akan hal ini,  namun ketika seorang wanita berhijab syar'i  dan bercadar keluar rumahnya maka banyak protes padanya,  wanita itu panen tudingan miring padanya, dituduh ikut aliran sesat,  atau mungkin dibilang antek ISIS dan semacamnya.
Maka berhati-hati  akan berita yang kita terima,  agar cara berfikir kita memandang sebuah perkara tidak terpolusi cara berfikir kaum kafirin. "

Dikutip dr Ustadz DR. Ali Semjam Putra

By Siswo Kusyudhanto

Saya tidak tau

Belajarlah untuk menjawab "saya tidak tau".

Sering kita jumpai seseorang yang bersikap seakan sok tau,  bahkan dia merasa malu jika sesuatu  ditanyakan kepadanya namun dia tidak mampu menjawabnya,  padahal dengan memaksakan diri menjawab sebuah perkara agama yang dia tidak ketahui dapat menjerumuskan dirinya pada dosa yang sangat besar(Al A’raf 33).  Coba lihat para ulama besar generasi salaf jika mereka tidak tau jawaban dari sebuah pertanyaan maka dijawabnya"saya tidak tau", pernah jawaban "saya tidak tau" disampaikan ulama besar sekelas Imam Maliki ketika ditanya seseorang.
Maka belajarlah untuk menjawab "saya tidak tau", belajarlah tidak merasa malu menjawab demikian. Juga jika kita mampu menjawab semua pertanyaan maka orang lain akan mencari pertanyaan  yang sekiranya kita  tidak tau jawabannya,  semisal ada ustadz yang mampu menjawab pertanyaan,  pada suatu waktu pasti dia ditanya oleh seseorang  yang dimana si ustadz tidak mampu menjawabnya.  "Saya pernah ditanya seorang jamaah,  ustadz bagaimana shalat dibulan,  kiblatnya kemana? ",  maka saya jawab antum kebulan dulu baru antum tanyakan hukumnya,  karena antum belum ke bulan saya tidak akan menjawab pertanyaan antum,  karena mustahil disaat ini,  dijaman ini dia shalat dibulan.
Belajarlah menjawab "waallahua'lam, hanya Allah yang mengetahuiNya", karena dengan menjawab demikian  sudah merupakan bagian dari ilmu,  namun jangan semua pertanyaan dijawab "waallahua'lam", semisal ditanya bagaimana  membuat nasi goreng kemudian diajwab waallahua'lam,  ini jawaban yang tidak pada tempatnya,  meskipun Allah Maha Mengetahui,  termasuk juga mengetahui  bagaimana membuat nasi goreng yang enak,  namun tidak pas jika dijawab demikian,  karena jawaban waallahua'lam  hanya digunakan untuk urusan dalam agama,  waallahua'lam. "

Dikutip dr Ustadz Ali Ahmad

By Siswo Kusyudhanto