Monday, June 17, 2019

TERJEBAK ISTILAH "KAJIAN SEJUK".


Oleh Siswo Kusyudhanto
Bingung kalau ada istilah "Kajian Sejuk", jadi katanya didalamnya dalam kajian itu tidak pernah membahas syirik, tidak pernah bahas bid'ah dan juga tidak pernah bahas riba, bahaya ini kajian, ini sejuk yang menyesatkan padahal itu perbuatan yang dapat menjadi tiket yang mengantarkan seseorang ke neraka, jangan-jangan sejuk didunia tapi kepanasan di akhirat alias masuk neraka, subhanaAllah syubhat yang nyata.
Jadi teringat kajian seorang ustadz beliau memberi nasehat untuk selektif dalam mengambil ilmu, dan tidak mengambil ilmu agama kesembarangan orang, karena jika kita salah mengambil ilmu bisa jadi kita masuk dalam kesesatan tanpa kita sadari, maka lihat Manhaj orang yang menyampaikan ilmu agama, dan dia belajar kepada siapa, jangan sampai dikemudian hari kita sangat menyesal karena mengambil ilmu yang salah, yakni ilmu yang jika kita amalkan menyelisihi syariat Allah dan RasulNya.
Waalahua'lam.
Semoga Allah Ta'ala selalu memberikan hidayah kepada kita, agar dijauhkan dari jalan-jalan menuju ke neraka, aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا﴿٦٦﴾وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا﴿٦٧﴾رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allâh dan taat (pula) kepada Rasul.’
Dan mereka berkata, ‘Ya Rabb kami! Sesungguhnya kami dulu telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Wahai Rabb kami! Timpakanlah kepada mereka dua kali lipat dari adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.’ [Al-Ahzab/33:66-68]

FAKTOR EKONOMI DIBALIK FITNAH WAHABI


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz pernah ditanya seorang jamaah, "Ustadz apa latar belakang muncul fitnah wahabi?", kemudian ustadz menjawab, "munculnya fitnah wahabi dilatar belakangi faktor ekonomi dan mungkin juga politik", namun ustadz tidak menjelaskan secara detail, belakangan ketika ada seorang teman agen asuransi mengeluh sulitnya menjual premi asuransi di Pekanbaru belakangan ini, sangat berbeda dengan keadaan beberapa tahun yang lalu, saya baru paham jawaban ini.
Yang dikeluhkan teman itu mungkin benar, dulu, beberapa tahun yang lalu, di Kota Pekanbaru jamaah kajian Sunnah belum begitu banyak, meskipun kajian Sunnah sudah ada namun saat itu sangat sedikit jamaahnya, dengan demikian tentu saat itu sangat sedikit penduduk Pekanbaru yang mengetahui keharaman asuransi konvensional.
Dengan merebaknya kajian Sunnah di Pekanbaru, dan tersampainya ilmu syar'i ke banyak orang membuka wawasan khalayak dalam ilmu agama, termasuk dalam ilmu Muamalah, transaksi antara halal dan riba makin jelas terlihat. Dengan demikian berangsur-asung orang yang punya ilmu Muamalah syariah mulai meninggalkan perkara2 riba. Akibatnya produk2 riba makin sulit dipasarkan ditengah masyarakat, waallahua'lam.
Dalam lingkup Nasional mungkin dampak Dakwah Sunnah sangat terlihat sebagai ancaman bagi beberapa pihak yang terusik kepentingannya.
Misal soal rokok saja, seperti dilansir oleh Tempo pada Agustus 2016, penghasilan dalam satu tahun dari tiga perusahaan rokok terbesar nasional mencapai 273 trilyun rupiah, bayangkan kalau dari penduduk Muslim di Indonesia yang jumlahnya sekitar 206 juta, setengahnya berpaham Ahlu Sunnah Manhaj Salaf, dan sekitar setengahnya tidak merokok, maka perusahaan besar itu akan tutup, para petani tembakau akan gulung tikar, cukai rokok/pajak akan turun drastis, dan seterusnya.
Atau juga misal dakwah ini berkembang dan semua Umat Muslim adalah jamaah kajian Sunnah maka industri riba akan gulung tikar, karena akad rkredit yang mayoritas adalah riba di Indonesia sangat besar, menurut laporan Bank Indoneisa volume kredit di negri ini sekitar 451 trilyun rupiah setiapa enam bulan, artinya sekitar hampir 1000 trilyun pertahun, jika banyak umat Muslim meninggalkan hal yang berkaitan dengan riba yakinlah bank-bank akan tutup, leasing akan gulung tikar dan seterusnya.
Juga soal musik, jika Muslim di Indonesia aktif duduk di kajian Sunnah lalu tiba-tiba mereka sepakat mengharamkan musik dalam kehidupan sehari-hari, dan mereka berusaha menjauhi apapun yang berkaitan dengan musik maka industri yang berkaitan dengan musik, mulai orgen tunggal di kampung2 akan sepi orderan karena tidak ada acara dalam masyarakat menggunakan musik, tiket-tiket konser musik gak laku, tempat karaoke dan diskotik akan gulung tikar, dan seterusnya. Padahal industri musik di Indoneisa menyangkut uang yang sangat besar. Bayangkan saja kalau sekali sewa organ tunggal sekitar 4 juta dan ada acara seperti agustusan jika satu kelurahan seIndonesia sejumlah 7000 kelurahan tiba-tiba tidak mengadakan konser orgen tunggal, maka ada sekitar 2,8 trilyun rupiah lenyap.
Juga misal mayoritas Muslim di negri ini tiba-tiba sepakat menjauhi perkara2 bid'ah, jika diketahui pengamal amalan tahlilan saja misal ada 30 juta orang, 1 persennya saja atau 30,000 orang dan sekali bikin biaya tahlil kematian 500 ribu saja, artinya sekitar 15 milyar lenyap karena tiba-tiba mereka berhenti melaksanakan tahlil kematian, atau juga semisal ada 1 juta masjid di Indonesia tiba-tiba berhenti melakukan maulid nabi dengan biaya semisal 500 ribu jika 10 persennya berhenti melakukan itu maka artinya ada 50 milyar lenyap begitu saja. Dan banyak amalan-amalan yang masuk bid'ah sisi ekonominya lenyap.
Maka tentu tidak ada lagi undangan kepada kyai dan habib untuk memimpin peringatan Maulid Nabi, tidak lagi kyai diundang untuk memimpin tahlil kematian, dan seterusnya, akibatnya tentu tidak ada amplop bagi mereka yang diundang.
Juga jika sebagian Muslim di Indonesia tiba-tiba menjauhi ngalap berkah dan semacamnya, karena sejak mereka ngaji Sunnah tau perkara seperti itu dekat dengan perkara syirik yang dilarang Allah dan RasulNya, tentu industri yang berkaitan wisata ngalap berkah akan terganggu, seperti penyedia jasa Bus Wisata, tukang jualan kembang dan alat ziarah, dan seterusnya.
Dan masih banyak lagi aspek lain soal ekonomi dan politik yang akan terusik dengan makin berkembangnya Dakwah Sunnah di negri ini.
Makanya aneh kalau sebagian orang selalu menyuarakan kesesatan Wahabi dengan alasan aqidah, karena kalau tinjauannya Aqidah tentu orang Syi'ah atau Nasrani jauh lebih sesat lagi, orang Syi'ah mencaci maki orang yang disucikan oleh mayoritas Ahlu Sunnah seperti mereka mencaci serta melaknat Aisyah Radhliyaa Anhaa yang merupakan ibu dari kaum Mukminin, bahkan oleh orang Syi'ah dianggap sebagai pelacur, subhanaallah. Demikian juga Nasrani mengatakan Allah punya anak padahal Islam jelas menyatakan Allah Ta’ala adalah Esa/Tunggal, bahkan Nasrani berani menargetkan dalam usaha memurtadkan umat Muslim dinegri ini, yakni pada th. 2035 penduduk Indonesia 50% adalah Nasrani. Anehnya sangat sedikit orang dari kalangan Umat Muslim yang menyuarakan kesesatan Syi'ah dan Nasrani, kenapa selalu wahabi yang selalu jadi sasaran?, tentu ada motif lain selain dari sudut Aqidah, coba kita berfikir sejenak tentang hal tersebut, keep smart.
Waallahua'lam.

Wahabi lebih berbahaya dari orang Kafir ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dulu ada seorang teman aktivis dakwah di sebuah daerah di Jawa Timur, ketika itu ada sebuah bencana gunung meletus, dan sebagian penduduk disekitar gunung itu diungsikan disebuah lokasi yang sudah disediakan pemerintah.
Kondisi ini ternyata menjadi kesempatan bagi para misionaris untuk memurtadkan Umat Muslim di lokasi pengungsian dengan dalih kegiatan bantuan dan semacamnya.
Mendengar ini teman saya segera bergegas mengumpulkan relawan Muslim didaerah itu, dan mulai mengumpulkan bantuan berupa sembako dan semacamnya.
Ketika sudah siap mereka berangkat ke lokasi, sebelum sampai di lokasi rombongan relawan itu mampir ke rumah seorang kyai dan menyampaikan perihal adanya pemurtadan dilokasi pengungsian, namun jawaban si kyai bikin kecewa para relawan, kata kyai itu, "soal agama urusan seseorang kepada Allah Ta'ala, gak usah diributkan, mau Islam yang silahkan, mau Kristen ya silahkan, soal kepercayaan seseorang dengan Tuhannya, bukan urusan kita".
Dengan rasa kecewa akhirnya rombongan relawan pergi kelokasi pengungsi, selain memberikan bantuan juga menghalau kaum murtadin.
Mendengarkan cerita teman itu sedih campur prihatin, lalu saya katakan, "antum salah bilang sama kyai, coba katakan kepada si kyai kalau di lokasi pengungsian ada kajian Wahabi, pasti dia langsung semangat untuk bergegas menuju lokasi." Teman saya yang mendengar hal itu tertawa, dan membenarkan perkataan saya, karena orang di daerah itu rata-rata sangat anti Wahabi, bahkan cepat bertindak jika mendengar kata "Wahabi".
Jadi kesimpulannya Wahabi paling berbahaya dari orang kafir???, Subhanallah.
Padahal sejelek-jeleknya Wahabi, orang yang disebut demikian masih bersyahadat, juga masih shalat lima waktu menyembah Allah Ta'ala, masih shalawat, masih puasa di Bulan Ramadhan, masih membayar zakat, masih membaca Al-Qur'an, masih umroh dan haji dan amal ibadah lainnya dalam Islam, karena memang masih orang Islam.
Sementara kalau sudah murtad jelas tidak pernah syahadat, tidak pernah shalat lima waktu, tidak pernah shalawat, tidak pernah baca Al-Qur'an, tidak membayar zakat, tidak puasa Ramadhan, dan amal ibadah lainnya dalam Islam karena sudah murtad.
Jadi teringat kajian seorang ustadz ketika membahas kemampuan setan membolak-balik cara pandang manusia, yang seharusnya sesuatu yang hak menjadi bathil, dan sebaliknya yang bathil jadi sesuatu yang hak, misal ada seorang wanita keluar rumah pakai rok mini dan nampak banyak lelaki yang bukan mahram baginya, namun tidak ada satupun orang protes atas tindakan wanita itu dalam mengumbar aurat, padahal menjadi dosa bagi si wanita juga pria lain yang melihatnya, sebaliknya ada wanita keluar rumah menggunakan hijab lebar dan bercadar, dan ini jelas cara yang sangat baik dari tinjauan syar'i, namun yang terjadi sepanjang jalan orang berbisik dan menunjuk " itu wanita aliran radikal", "aliran sesat", dan seterusnya.
Maka pentingnya menakar segala perkara dengan merujuk kepada Al-Qur'an dan Hadits untuk menimbang apakah ini perkara yang hak atau yang bathil, dengan hanya demikian kita dijauhkan dari jalan-jalan kesesatan. Jika kita jauh dari Al-Qur'an dan hadits yakinlah kita akan mudah tersesat dan bisa jadi itu tidak pernah kita sadari,
Waalahua'lam.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).
Sumber Referensi "Kaidah Penting dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits", karya Ustadz Muslim Al Asy'ari di Muslim.or

MEREKA DILAKNAT BUKAN KARENA BODOH, MEREKA DILAKNAT KARENA SOMBONG


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menasehati tentang pentingnya memahami dan menyakini bahwa apa yang kita punya seperti harta dan jabatan bukan semata-mata karena usaha kita, namun semuanya adalah karena Allah Ta'ala telah memberikan kemudahan untuk mendapatkan yang kita miliki itu, pahami dan selalu ingat hal ini agar kita dijauhkkan dari sifat sombong.
Ketahulah sifat sombong ini yang membuat seseorang sulit memahami Al-Qur'an dan Hadits yang telah disampaikan oleh Allah dan RasulNya, hal ini yang membuat apa-apa yang telah disampaikan oleh Allah dan RasulNya diingkari, lihat dalam kisah yang disebutkan dalam Al-Qur'an bagaimana Firaun, Qorun atau Abu Lahab mereka dilaknat oleh Allah Ta'ala bukan disebabkan karena mereka bodoh, justru sebaliknya orang-orang itu sangatlah cerdas jika dibandingkan kebanyakan orang, namun karena sifat yang sangat sombong pada diri mereka yakni ingkar kepada apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya membuat mereka dilaknat oleh Allah Ta'ala, waallahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
Sumber Referensi "Jauhi sifat Sombong", karya Ustadz Muhammad Abduh Tausikal dalam web muslim.or

Friday, June 14, 2019

SHALAT SUBUH ITU PENTING YAA


Oleh Siswo Kusyudhanto.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz mengkaji sebuah hadits tentang shalat dua raka'at antara adzan subuh sampai shalat fardhu Berjama'ah nilainya lebih besar dari dunia seisinya, kata beliau, kita lihat banyak sekali orang mampu bangun tengah malam untuk mengkhususkan diri melihat live pertandingan bola di televisi, karena dia menganggap itu penting dan tidak mau melewatkan kesempatan melihat pertandingan bola secara live, namun untuk shalat subuh berjamaah sangat sedikit yang mampu melakukannya karena mereka menganggap itu tidak penting baginya.
Coba lihat pada hadits ini, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam menyebutkan shalat Sunnah dua rakaat diantara adzan dan shalat Subuh berjamaah nilainya melebihi dunia dan seisinya, bayangan jika shalat Sunnahnya saja nilainya sebesar itu tentu shalat fardhu berjamaah subuh nilainya jauh lebih besar lagi dari itu, jika saja banyak orang menimbang dari sisi ini dan mengetahui nilainya maka mereka tidak akan pernah meninggalkan shalat Subuh secara berjamaah saking mahal nilainya.
Waalahua'lam.
Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. أخرجه مسلم.
Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda,”Dua raka’at fajar (Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.”
(HR Muslim, kitab Shalatil Musâfirin wa Qashriha, Bab: Istihbâb Rak’atai Sunnatil-Fajr wal-Hatstsu ‘alaihima wa Takhfîfuhuma ‘alaihima wa Bayân mâ Yustahab ‘an Yaqra`a fîhima, no. 725.)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”
(HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)
Sumber Referensi:
- "Keutamaan Shalat Rawatib Subuh", karya Ustadz Kholid Syamhudi di muslim.or
- "Keutamaan Shalat Subuh", karya Ustadz Wiwit Hadi Prayitno di Muslim.or

KAJIAN DIBUBARKAN? YA MALAH BIKIN KAMI SEMANGAT BERDAKWAH



Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau mendengar cerita beberapa teman dan Ustadz tentang sejarah berdirinya masjid-masjid berbasis Kajian Sunnah di Pekanbaru jadi makin bikin semangat membantu membuka halaqah-halaqah bacaan Al-Qur'an dan kajian diberbagai daerah di Indonesia.
Dijaman dulu mungkin Kajian Sunnah Pekanbaru mungkin diperlakukan sama dengan daerah lainnya, difitnah orangnya dengan berbagai macam sebutan seperti Wahabi atau tukang memecah belah umat dan sebutan buruk lainnya, atau juga kajiannya sering dibubarkan dan diusir jamaahnya, bahkan ada kisah ditahun 90an ada masjid kecil yang sering digunakan untuk kajian rutin dibakar massa yang tidak suka kepada Dakwah Sunnah.
Namun segala rintangan, perkataan buruk, fitnah dan perlakuan anarkis tidak kemudian menjadikan para aktivis dan Ustadz pemateri dakwah Sunnah patah semangat atau putus asa, justru membuat mereka makin semangat dalam berdakwah, karena jika terjadi demikian artinya pekerjaan rumah untuk berdakwah masih perlu dimaksimalkan lagi, merekapun melakukan berbagai cara dalam berdakwah mulai mendirikan masjid-masjid, membuat halaqah-halaqah bacaan Al-Qur'an, menyebarkan buku berbasis kajian Sunnah, mendirikan media radio dan TV dakwah dan seterusnya.
Pada akhirnya berkat kemudahan dari Allah Azza wa Jalla dan usaha dakwah yang tidak pernah kenal lelah jamaah kajian Sunnah di Pekanbaru berkembang pesat, mungkin saat ini sampai puluhan ribu jamaah di Kota Pekanbaru saja, belum termasuk yang didaerah pelosok Riau.
Jadi pelajaran kisah berkembangnya Dakwah Sunnah Pekanbaru yang dapat diambil adalah kalau ada orang memfitnah kajian kita, membubarkan kajian kita atau berbuat anarkis kepada kita alangkah lebih baik kita sikapi dengan bijak, jangan berputus asa, jadikan itu menjadi motivasi untuk terus berdakwah dengan kemampuan kita, waalahua'lam.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” [Ali Imrân/3:110]

Tidak bakalan menang berdebat dengan pelaku kebid'ahan


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan sangat sulit memenangkan diskusi atau debat dengan pelaku kebid'ahan, oleh karena kita sebaiknya menghindari berdebat dengan pelaku kebid'ahan, kemudian beliau mengutip perkataan Imam Syathibi dalam Kitab Al Ithisham, dalam kitab ini sang ulama menyebutkan perbedaan Ahlu Sunnah dengan Ahlul Bid'ah.
"jika Ahlu Sunnah mereka mengikuti dari belakang kemana arah Dalil Sahhih dari Al-Qur'an dan Sunnah (Hadits), kemana dalil Sahhih mengarah ke sana Ahlu Sunnah berjalan, sementara Pelaku bid'ah mereka berjalan didepan Dalil Sahhih, mereka beramal amalan yang masuk dalam amalan bid'ah kemudian mereka mengambil dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah (Hadits) untuk membenarkan amalan mereka."
Dengan metode beragama yang berbeda seperti ini tentu mustahil dapat memenangkan diskusi atau debat dengan mereka, karena pelaku bid'ah cenderung mencari pembenaran daripada kebenaran.
Dan ini membuktikan bagaimana sombongnya pelaku kebid'ahan, dengan mengambil dalil ayat Al-Qur'an dan hadits untuk membenarkan amalan bid'ah nya sama saja dengan mereka memaksa Allah dan RasulNya untuk mengikuti kemauan mereka, yakni membenarkan amalan bid'ahnya, padahal kaidahnya seorang Hamba mengikuti Tuannya, sementara yang mereka lakukan adalah seorang Hamba memaksa Tuannya mengikuti dirinya, waalahua'lam.
Semoga dijauhkan dari sifat mendahului Allah dan RasulNya dalam perkara agama, aamiin.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat:1)