Thursday, August 9, 2018

KETAUHILAH BERAMAL IBADAH TIDAK MENUNGGU JADI NABI DAN RASUL DULU.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Pernah saya mengajak seorang teman yang kelihatan untuk shalat dimasjid terdekat karena sudah terdengar adzan, "ayuk shalat ke masjid", jawabannya bikin saya tercengang, "Silahkan shalat, saya belum dulu mas, hati saya masih kotor, nanti saja kalau hati saya bersih saya pasti akan shalat". 
Melihat hal demikian jadi ingat dulu saya ngefans sama seorang budayawan terkenal, buku karyanya banyak memenuhi rak dirumah saya, saking ngefansnya sampai semua karya beliau saya miliki.
Si budayawan ini pernah ditanya salah satu pengikutnya, "Cak kenapa sampeyan kok belum berangkat haji juga, padahal sampeyan punya kemampuan untuk pergi haji secara finansial?", lalu di budayawan menjawab, "Memang saya mampu secara finansial, namun hati saya belum siap menunaikan ibadah haji tersebut", dan bla..bla, karena masih jahil kami terkagum-kagum dengan jawaban itu, menurut kami saat itu jawaban demikian sangat bijak dan menunjukkan makomnya tinggi sekali, mungkin saking tingginya sampai logika kami sulit mencerna.
Akhirnya perkataan si idola itu menyebar dan menjadi syubhat disebagian kalangan pengikutnya, beberapa orang tidak mau berhaji padahal mampu, bahkan ada diantaranya yang meninggalkan shalat dengan alasan, "hatinya masih kotor". Subhanaallah, syubhat yang nyata.
Sejak ngaji Sunnah jadi paham jawaban-jawaban demikian adalah jelas keliru.
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah mengatakan, "Menunda beramal ibadah dengan alasan membersihkan hati dulu ini jelas keliru, karena dalam hati manusia biasa sebersih apapun selamanya pasti ada satu sisi dimana ada kekotoran hati didalamnya. Yang memiliki hati yang benar-benar bersih yang dikenal dalam Islam hanya para Nabi dan Rasul, karena itu mereka disebut sebagai ma'shum, bersih dari kesalahan dan dosa karena segala perkataan dan perbuatan mereka selalu diawasi serta dibimbing langsung oleh Allah Ta’ala. "
Allâh Azza wa Jalla berfirman.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allâh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allâh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. [Al-Ahzab/33: 36)]
Sumber referensi almanhaj.or.id

Banyak orang salah memahami makna "tabayyun".


Oleh Siswo Kusyudhanto
Sering kali jika kita posting mengenai seseorang selalu muncul comment bernada nasehat"tabayyun dulu", padahal yang diposting jelas perbuatan yang disampaikan didepan ribuan orang, dishare ribuan kali, dan jelas maksud perbuatannya. Dengan mendengar dan melihat perbuatan orang itu kita sudah tau maksud dan tujuannya tampa bertanya lagi.
Banyak orang yang keliru memahami arti tabayyun yang sebenarnya. Karena selain tabayyun ada juga yang namanya Tatsabbut..
Dibawah ini pengertian dari tabayyun itu apa. Simak penjelasan berikut ini...
Apa itu tabayyun, Arti Tabayyun? Pengertian tabayyun dibedakan menjadi dua, yaitu pengertian secara bahasa dan istilah.
Secara bahasa tabayyun adalah mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaan sesungguhnya. Secara istilah tabayyun adalah meneliti dan menyeleksi suatu berita, tidak secara tergesa-gesa dalam memutuskan suatu permasalahan baik dalam perkara hukum, kebijakan dan sebaginya hingga sampai jelas benar permasalahnnya, sehingga tidak ada pihak yang merasa terdzolimi atau tersakit.
Tabayyun sangat dibutuhkan di zaman yang penuh fitnah ini. Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk tabayyun,
Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6).
Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan tabayyun adalah memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65).
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi [berperang] di jalan Allah, maka lakukanlah tabayyun (telitilah) dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mu’min” [lalu kamu membunuhnya], dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu lalu Allah menganugerahkan ni’mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur’an, Surah An-Nisa, Ayat 94).
Sumber referensi wajibbaca.co

QURBAN, BANYAK YANG MAMPU TAPI SEDIKIT YANG MAU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Jumlah Muslim di Indonesia sangat besar namun sangat sedikit diantara mereka melakukan kurban disaat Iedul Adha, padhaal banyak keutamaan dari amalan ini, terlihat dari keluhan banyak panitia kurban di berbagai daerah, banyak warga dilingkungan mereka yang sebenarnya mampu secara ekonomi, seperti punya rumah yang megah, punya mobil, dan gaya hidup yang kecukupan seperti ganti hp seharga jutaan setiap tahunnya, namun karena dianggap sesuatu yang sia-sia belaka, sehingga menganggap dirinya tidak punya kemampuan berkurban, padahal sebenarnya mereka tidak punya kemauan.
Semoga dijauhkan dari sifat demikian, aamiin.
Allah Ta’ala berfirman :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).
Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.
Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 9: 249.
Sumber referensi "Keutamaan dan Hikmah Ibadah Qurban", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di Rumoysho.co
Foto Baliho Dakwah di Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru.

Tuesday, August 7, 2018

Yang meresahkan yang mana sebenarnya?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Di Jember Sekolah dan Yayasan Imam Syafi'i didemo warga dengan alasan yang aneh, katanya meresahkan, padahal aktivitas di Imam Syafi'i setau saya disana tidak pernah membuat keributan sehingga menganggu warga, atau membuat masalah di tengah masyarakat. Justru warga sekitar banyak yang mengaku senang dengan adanya sekolah dan yayasan ini, karena sering membantu mereka. 
Justru banyak konser dangdut dan musik diselenggarakan di Jember yang sebenarnya meresahkan dari tinjauan timbangan syariat, banyak penyanyinya membuka aurat, lengkap dengan goyangam hotnya, juga setiap konser sering terjadi tawuran, dan banyak terjadi pelecehan perempuan ditengah kerumuman penonton, bahkan ada yang teler karena minuman oplosan dan seterusnya. Dan tak sekalipun konser-konser itu ada yang mendemo untuk dibubarkan.
Demikian juga tempat hiburan malam di Kota Jember sangat marak, seperti disebutkan seorang wartawan Radar Jember, di Kota Jember merupakan kiblat hiburan malam di wilayah tapal kuda, hampir semua jenis hiburan malam ada dikota ini mulai diskotik, karaoke sampai tempat untuk esek-esek ada juga, (Heru Putranto/Radar Jember).
Namun anehnya tak banyak anggota masyarakat mendemo tempat-tempat seperti ini.
Kenapa yang minta dibubarin adalah sekolah yang mempelajari agama Islam, belajar Al-Qur’an dan Hadist secara benar?.
Bingung khan? , apakah banyak orang ketipu sama setan?. Waalahua'lam.

SUTRAH SHALAT, AMALAN SUNNAH YANG BANYAK DITINGGALKAN.


Sering kali kita jumpai dibanyak masjid, disaat shalat sunnah qobliyah atau ba'diyah orang shalat mengambil tempat sembarangan, yakni tampa pembatas apapun didepannya, bahkan sering bikin repot orang lain karena sulit akan lewat, padahal memberi pembatas shalat adalah amalan Sunnah yang mulia, karena menghindari terjadi orang lewat didepan yang sedang shalat, waalahua'lam.
------
SUTRAH SHALAT
Oleh Yulian Purnama di muslim. Or. Id
Sutrah secara bahasa arab artinya apapun yang dapat menghalangi (lihat Qamus Al Muhith). Jadi sutrah adalah penghalang. Dalam terminologi ilmu fiqih, sutrah artinya segala sesuatu yang berdiri di depan orang yang sedang shalat, dapat berupa tongkat, atau tanah yang disusun, atau semacamnya untuk mencegah orang lewat di depannya (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 3/176-177).
Menghadap sutrah ketika shalat adalah hal yang disyariatkan. Banyak hadits yang mendasari hal ini diantaranya hadits Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا صلَّى أحدُكم فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ ولْيدنُ منها
“Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud 698, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).
juga hadits dari Sabrah bin Ma’bad Al Juhani radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
سُتْرَةُ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ السَّهْمُ ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ ، فَلْيَسْتَتِرْ بِسَهْمٍ
“Sutrah seseorang ketika shalat adalah anak panah. Jika seseorang diantara kalian shalat, hendaknya menjadikan anak panah sebagai sutrah” (HR. Ahmad 15042, dalam Majma Az Zawaid Al Haitsami berkata: “semua perawi Ahmad dalam hadits ini adalah perawi Shahihain”).
juga sabda beliau:
لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ
“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka perangilah ia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan)” (HR. Ibnu Khuzaimah 800, 820, 841. Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi (115) mengatakan bahwa sanadnya jayyid, ashl hadist ini terdapat dalam Shahih Muslim).
Hukum Menghadap Sutrah Ketika Shalat
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menghadap sutrah ketika shalat dalam 4 pendapat:
Wajib. Ini merupakan pendapat Ibnu Hazm, Asy Syaukani dan pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
Sunnah secara mutlak. Ini merupakan pendapat Syafi’iyyah dan salah satu pendapat Imam Malik
Sunnah jika dikhawatirkan ada yang lewat. Ini merupakan pendapat Malikiyyah dan Hanafiyyah.
Sunnah bagi imam dan munfarid. Ini pendapat Hanabilah (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 24/178, Tamaamul Minnah, 300).
Jika melihat beberapa hadits yang telah lalu tentang sutrah, di sana digunakan lafadz perintah فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ (shalatlah menghadap sutrah) dan juga lafadz فَلْيَسْتَتِرْ (bersutrahlah), yang pada asalnya menghasilkan hukum wajib kecuali terdapat qarinah (tanda-tanda) yang memalingkannya dari hukum wajib. Alasan inilah yang dipegang oleh para ulama yang mewajibkan sutrah. Namun tidak wajibnya sutrah adalah pendapat jumhur ulama, bahkan sebagian ulama menukil ijma’ akan hal ini. Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan:
وَلَا نَعْلَمُ فِي اسْتِحْبَابِ ذَلِكَ خِلَافًا
“kami tidak mengetahui adanya khilaf tentang hukum mustahab (sunnah) mengenai penggunaan sutrah dalam shalat” (Al Mughni, 2/174). Mengenai validitas ijma Ibnu Qudamah dan ulama lain yang mengklaim ijma sunnahnya sutrah perlu dikaji lebih jauh, namun bukan dalam tulisan ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam Syahrul Mumthi’ (3/277) menyebutkan beberapa qarinah yang menunjukkan tidak wajibnya shalat menghadap sutrah:
Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ
“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509)
perkataan Nabi ‘jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah‘ menunjukkan orang yang shalat ketika itu terkadang shalat menghadap sesuatu dan terkadang tidak menghadap pada apa pun. Karena konteks kalimat seperti ini tidak menunjukkan bahwa semua orang di masa itu selalu shalat menghadap sutrah. Bahkan menunjukkan bahwa sebagian orang menghadap ke sutrah dan sebagian lagi tidak menghadap ke sutrah.
Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma:
رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari 76, 493, 861)
Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma:
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273)
Hukum asal tata cara ibadah adalah bara’atu adz dzimmah (tidak adanya kewajiban).
Mengenai hadits Ibnu ‘Abbas :
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa”
ini diperselisihkan keshahihannya, karena di dalamnya terdapat perawi Al Hajjaj bin Arthah yang statusnya “shaduq katsiirul khata’ wat tadlis” (shaduq, banyak salah dan banyak melakukan tadlis), dan di dalam sanadnya Al Hajjaj pun melakukan ‘an’anah. Namun hadits ini memiliki jalan lain dalam Musnad Ahmad (5/11, 104) dari Hammad bin Khalid ia berkata, Ibnu Abi Dzi’bin menuturkan kepadaku, dari Syu’bah dari Ibnu ‘Abbas ia berkata:
مَرَرْتُ أَنَا وَالْفَضْلُ عَلَى أَتَانٍ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي فَضَاءٍ مِنَ الْأَرْضِ ، فَنَزَلْنَا وَدَخَلْنَا مَعَهُ ، فَمَا قَالَ لَنَا فِي ذَلِكَ شَيْئًا
“Aku pernah di menunggangi keledai bersama Al Fadhl (bin Abbas) dan melewati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang sedang shalat mengimami orang-orang di lapangan terbuka. Lalu kami turun dan masuk ke dalam shaf, dan beliau tidak berkata apa-apa kepada kami tentang itu”
Semua perawi hadits ini tsiqah kecuali Syu’bah, Ibnu Hajar berkata: “ia shaduq, buruk hafalannya”. Juga hadits ini juga memiliki jalan lain yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (718), dari Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits, ia berkata: ayahku menuturkan kepadaku, dari kakeknya, dari Yahya bin Ayyub, dari Muhammad bin Umar bin Ali, dari Abbas bin Ubaidillah, dari Al Fadhl bin Abbas beliau berkata
أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي بَادِيَةٍ لَنَا وَمَعَهُ عَبَّاسٌ، «فَصَلَّى فِي صَحْرَاءَ لَيْسَ بَيْنَ يَدَيْهِ سُتْرَةٌ وَحِمَارَةٌ لَنَا، وَكَلْبَةٌ تَعْبَثَانِ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَا بَالَى ذَلِكَ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah pernah datang kepada kami sedangkan kami sedang berada di gurun. Bersama beliau ada ‘Abbas. Lalu beliau shalat di padang pasir tanpa menghadap sutrah. Di hadapan beliau ada keledai betina dan anjing betina sedang bermain-main, namun beliau tidak menghiraukannya”
Yahya bin Ayyub dikatakan oleh Ibnu Ma’in: “tsiqah”, sedangkan Abu Hatim Ar Razi menyatakan: ‘Ia menyandang sifat jujur, ditulis haditsnya namun tidak dapat berhujjah denganya’. Ibnu Hajar mengatakan: ‘ia shaduq, terkadang salah’. Insya Allah, statusnya shaduq. Adapun perawi yang lain tsiqah. Namun riwayat ini memiliki illah (cacat), yaitu adanya inqitha pada Abbas bin Ubaidillah dari Al Fadhl. Ibnu Hazm dan Asy Syaukani menyatakan bahwa Abbas tidak pernah bertemu dengan pamannya yaitu Al Fadhl (Tamamul Minnah, 1/305). Sehingga riwayat ini tidak bisa menjadi penguat.

Hijab itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, bukan dari hati mbak.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Banyak mungkin dalam masyarakat ada wanita yang notabene adalah seorang Muslimah, namun enggan berhijab dengan benar dalam penampilannya, dengan alasan ingin "menghijabi hati dulu", alias betulin akhlaknya dulu, subhanaallah. 
Dalam sebuah kajian seorang ustadz mengatakan, "agama ini mengatur perkara lahir dan perkara bathin, maka ketika ada wanita enggan berhijab dengan alasan memperbaiki perilakunya atau batinnya dulu, ini jelas keliru, karena Allah Ta’ala sudah perintahkan untuk berhijab bagi kaum Muslimah, tidak disebutkan harus memperbaiki akhlaknya dulu baru berhijab, karena seorang Muslimah harus memperbaiki penampilan luarnya dan bersamaan dengan itu juga memperbaiki akhlaknya, waalahua'lam. "
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka”. [An Nuur:31].
Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {59}* لَّئِن لَّمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَيُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلاَّ قَلِيلاً
“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin,“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. [Al Ahzab : 59].
Referensi dr almanhaj.or.id
Foto Baliho Dakwah di Jalan Pemasyarakatan, Gobah Pekanbaru.

Monday, August 6, 2018

Bapakmu saja tidak percaya kepadamu, bagaimana dengan orang lain?




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian tentang bagaimana menjadi pengusaha Muslim yang baik, Ustadz Muhammad Arifin Badri mendapatkan pertanyaan agak sinis dari peserta, "ustadz, ketimbang ustadz menjelaskan panjang lebar tentang akad syariyah dan riba lebih bagus ustadz kasih saya modal saja 100 juta, insyaallah saya akan jadi pengusaha.", mendapat pertanyaan seperti itu beliau menjawabnya tentang pentingnya kepercayaan, "Jujur dan terpercaya seharusnya sifat yang dimiliki setiap Muslim, karena sifat ini akan mendatangkan mashlahat pada seseorang, jika seseorang dikenal jujur dan amanah pasti soal modal kerja akan banyak yang menawarkan untuk dikelola kepadanya, sebaliknya orang yang ingkar dan tidak dipercaya tentu mendatangkan mudharat baginya, dan banyak orang menghindarinya, jika bapak antum atau orang-orang terdekat antum saja tidak percaya akan kemampuan antum untuk mengelola modal mereka bagaimana dengan orang lain?, pasti orang lain lebih tidak percaya lagi kepada antum untuk memberikan modal. Maka mulailah bersikap jujur dan dapat dipercaya atau amanah, insyaallah bantuan akan datang kepada antum. "
Allah ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur (benar)!” (QS At-Taubah: 119)
Begitu pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Kalian wajib berlaku jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan (ketakwaan) dan sesungguhnya ketakwaan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan selalu berusaha untuk jujur maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang shiddiiq (yang sangat jujur). Kalian harus menjauhi kedustaan. Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada perbuatan dosa dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berusaha untuk berdusta, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang kadzdzaab (suka berdusta).”
(HR Al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607/6637.)
Sumber referensi, "Sudah Jujurkah Kita?", karya Ustadz Sa'id Ya'i Ardiansyah Lc. MA, di muslim. Or. Id