Thursday, April 20, 2017

Apa sih untungnya tau aib pemimpin kita?


Lihat postingan teman yang berisi kritikan terhadap pemerintah, dan rajin menyebarkan aib para pemimpin negri ini, jadi ingat masa dulu, di era orba saya rajin membuat tulisan kritikan keras terhadap pemerintah, bahkan ikut terlibat dalam banyak demo, dan karenanya saya menyesal sekali, ternyata apa yang dulu saya lakukan adalah jelas salah, era orba lebih baik keadaannya, sebaliknya reformasi ternyata keadaannya tidak sebaik bayangan, karena keadaan sekarang jauh lebih buruk dari jaman dulu.
Setelah mengenal kajian Sunnah jadi paham bahwa Allah dan RasulNya melarang kita melawan penguasa, meskipun penguasa itu zalim sekalipun, wajib kita taat kepadanya sejauh tidak menyuruh kepada kemaksiatan.
Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah berkata, " dakwah kita sering mendapat kritik dan mendapat cap sebagai penjilat pemerintah, maka saya katakan, Sumpah demi Allah Azza Wajalla kami tidak seperti yang dituduhkan sebagai penjilat pemerintah, kami tidak ikut cara mereka yakni dengan mengkritik pemerintah dan beramai-ramai demo menyuarakan aspirasi didepan para penguasa, kami tidak melakukan hal itu karena kami ingin menjalankan perintah Allah dan RasulNya untuk taat dan patuh kepada penguasa. Inilah agama, mengharuskan kita taat kepada pemerintah selama tidak menyuruh kepada kemaksiatan.
Coba antum lihat isi dari koran dan media lainnya yang setiap hari memuat berita tentang aib-aib penguasa, seperti si fulan melakukan korupsi sekian milyar, si fulan terlibat skandal sex, si fulan memalsukan dokumen dan seterusnya, memang menarik masyarakat untuk membacanya, kemudian setelah kita membaca berita-berita itu apakah setelahnya anda mampu menutup mulut, mengunci mulut anda untuk tidak membicarakannya?, tetu tidak, anda pasti akan membicarakan hal itu kepada orang lain, ketika anda membicarakan dengan orang lain jatuh anda pada perkara ghibah, dan ketika anda menshare berita itu ke sosial media pada akhirnya banyak dosa ghibah dari hal ini. Sekarang saya tanya, anda yang bekerja sebagai pegawai swasta, anda yang bekerja berdagang, anda yang bekerja menjual makanan, anda yang bekerja sebagai sopir dan seterusnya, apa gunanya bagi anda mengetahui berita-berita aib para pemimpin?, apa gunanya?, tentu tidak ada sama sekali gunanya bagi anda. Ketahuilah ketika anda banyak banyak membaca berita-berita seperti itu kemudian sibuk membicarakan hal itu dengan orang lain waktu anda banyak tersita, maka membaca Alquran dan mempelajarinya menjadi terlalaikan, banyak waktu terbuang percuma dan tidak mendatangkan manfaat sama sekali bagi anda. Maka tinggalkan berita-berita tentang aib para pemimpin, dan sibukkan diri untuk mempelajari ilmu agama itu lebih baik bagi anda."
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Hudzaifah bin Al Yaman.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».
“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

Anda menuduh pemimpin kita tidak adil, emang situ udah adil?


Dengan mudah kita menuduh pemimpin negri ini berlaku tidak adil, berbuat zalim, menuding hal-hal buruk kepada pemimpin memang sedap dan nikmat, kemudian kita merasa bersih dari perbuatan-perbuatan itu. Maka pertanyaannya apakah anda sudah bertingkah laku adil, dan tidak berbuat zalim?, taukah anda makna zalim?, yakni meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, maka masuk perbuatan zalim yakni mengambil sesuatu yang bukan haknya, menipu, berbohong, berbuat curang dan seterusnya adalah perbuatan zalim, apakah anda sudah bersih dari perbuatan itu sehingga dengan mudah menuduh pemimpin negri ini berbuat zalim?, karena seperti disampaikan Allah Azza Wajalla bahwa pemimpin zalim berasal dari rakyat yang zalim juga.
Maka jika tidak ingin punya pemimpin yang zalim mulailah dengan memperbaiki diri kita agar tidak berbuat zalim, InsyaAllah dengan masyarakat yang jauh dari perbuatan zalim dan berbuat adil kita akan punya pemimpin yang adil dan tidak berbuat zalim kepada rakyat yang dipimpinnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Kenapa banyak orang takut dengan dakwah salafi?, karena dianggap keras?


Dalam sebuah kajian seseorang bertanya kepada Ustadz Khalid Basalamah, " ya ustadz ada sebagian orang takut dakwah salafi karena dianggap keras dalam berdakwah,benarkah demikian ?', beliau menjawab, " ini mungkin terjadi akibat sebuah fatwa yang sampai kepada mereka sepotong-potong, maaf ya tidak ada kelompok umat muslim bernama salafi, mungkin itu nama yang dinisbatkan kepada para teman yang sering mendakwahkan kepada umat muslim di kajian2 agar mengikuti kaum salaf, orang terdahulu dijaman Nabi dan para sahabat, dalam beramal ibadah sehingga divonis salafi kepada mereka. Jangan menyebut kelompok salafi karena tidak ada kelompok salafi yaa. Mungkin penyebabnya dianggap dakwah sunnah keras karena teman-teman(para ustadz kajian sunnah) menyampaikan haram ya haram, halal ya halal, tidak ada negosiasi untuk perkara agama, ya memang harus demikian agar umat muslim jelas dan tau mana perkara terlarang dan dibolehkan, jelas mana hitam dan putih. Maka misal jika ada seseorang pendakwah dimintai pendapat tentang kerja di bank apa hukumnya terus si pendakwah mengatakan gak apa sementara sebelum dapat pekerjaan lainnya disitu dulu aja bekerja, padahal hukumnya gak boleh, ini berbahaya, karena dosa selama si penanya bekerja di bank itu ditanggung orang yang berfatwa.
Penyebabnya lainnya mungkin banyak orang yang suka dakwah yang banyak bercanda dan bertoleransi dalam hukum agama, misal ada kajian selama 2 jam, ilmunya cuma setengah jam, sementara canda dan ceritanya 1,5 jam, pulang-pulang orang yang ada dikajian itu tidak mendapatkan ilmu, pada akhirnya ikut kajian bertahun-tahun tidak ada perubahan apa2 pada dirinya. Sementara orang-orang yang aktif duduk dikajian Sunnah mereka cepat berubah, karena banyak ilmu yang dia dapatkan, dan kadang perubahan-perubahan pada diri seseorang ini dimaknai orang awam sebagai akibat dakwah yang keras.
kemudian jangan memvonis ini kelompok itu dan itu, jangan yaa, karena hal ini dapat membuat Islam berpecah belah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak ada termasuk orang-orang yang musyrik.” [Yusuf:108]

Kembalikan semua perkara kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam.


Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah menjelaskan bagaimana kesempurnaan Islam, " Di dunia ini banyak firqoh-firqoh agama Islam, dan semuanya mengaku benar, maka untuk melihatnya lihat apakah amalan mereka mirip dengan apa yang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam amalkan, jika amalan2 mereka paling mendekati amalan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam merekalah yang berada diatas kebenaran. Sebaliknya jika dalam amalan2 mereka sangat jauh dari apa yang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam amalkan maka segera tinggalkan dan jauhi. Karena tidak ada orang yang mengetahui agama melebihi apa yang diketahui oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Intinya untuk mengetahui apakah ini adalah perkara yang dibenarkan oleh agama atau sebaliknya kembalikan semua perkara itu kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, lihat dan pelajari bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam menyikapinya, dengan demikian kita akan tau ini perbuatan yang benar atau salah."
Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan di dalam Al-Qur-an bahwasanya kita diwajibkan mengambil dan mengikuti segala apa yang telah disabdakan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla:
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang mentaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” [An-Nisaa’: 80]
Juga firman-Nya:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
“… Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah …” [Al-Hasyr: 7]
Referensi dr "Ilmu dasar mengikuti As sunnah" karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di web almanhaj.or.id

Dengan mengingat kematian kita akan jadi orang cerdas.


Dalam sebuah kajian tentang fiqih jenazah, Ustadz Khalid Basalamah meminta panitia membuat lubang di tanah dihalaman masjid, lobang itu seukuran mayat guna praktek penyelenggaraan jenazah, setelah menyampaikan materinya beliau menanyakan kepada jamaah siapa yang mau menjadi sukarelawan untuk dijadikan obyek praktek penanganan mayat, dan tidak berselang lama ada seorang pemuda mengajukan diri sebagai relawan. Setelah itu si pemuda dikafani dan dimasukkan kedalam lubang tanah, dia hanya lima menit didalam tanah, setelah itu keluar. Setelahnya si pemuda dibuka kafannya kemudian Ustadz Khalid Basalamah bertanya kepada si pemuda tentang pengalaman menjadi mayat dan dimasukkan kedalam liang lahat, ketika si pemuda meraih mic dan menjawab pertanyaan ustadz didepan jamaah kajian tiba-tiba dia memangis kesenggukan dan menyampaikan pengakuan sangat menakutkan menjadi orang mati, dia juga menyampaikan penyesalannya atas dosa selama ini, spontan dia mengakui dosa yang selama ini pernah dilakukannya seperti durhaka kepada orang tua dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Hal serupa juga terjadi kepada lima relawan lainnya yang dijadikan obyek latihan penyelenggaraan jenazah, kebanyakan merasa sangat takut akan kematian, dan berjanji akan istiqomah dalam amal ibadah, MasyaAllah, kematian memang jadi pengingat sebenarnya kepada manusia, agar tetap istiqomah dalam amal ibadah dan menjauhi kemaksiatan.
Dalam kajian yang lain Ustadz Abu Zubair Haawary menyebut, "jika anda ingin istiqomah dalam amal ibadah maka ingat selalu kematian, dengan selalu mengingatnya anda akan tau bahwa pahala dari amal ibadah yang kumpulkan masih sangat sedikit sementara dosa yang anda perbuat sangatlah banyak, dengan demikian mendorong anda untuk selalu beramal ibadah sebaik mungkin dan berusaha sekuat tenaga menjauhi segala bentuk kemaksiatan."
Orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan iman yang shahih (benar), tauhid yang khalish (murni), amal yang shalih (sesuai dengan tuntunan), dengan landasan niat yang ikhlas, itulah orang-orang yang paling berakal.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” [HR Ibnu Majah, no. 4.259. Hadits hasan. Lihat Ash Shahihah, no. 1.384].

Merasa sudah ikhlas?


Kalau ngajak teman ke kajian sunnah atau ke ngajak ke halaqah mereka menolak dengan alasan "yang penting saya ikhlas beribadah", padahal ikhlas juga perlu ilmu, kalau gak punya ilmu ikhlas bagaimana mampu beramal ibadah dengan ikhlas?.
Dalam sebuah kajian Ustadz Muhammad Nuzul Zikri menyebutkan, " para ulama Ahlu Sunnah mengakui bahwa ikhlas adalah perkara dalam agama yang paling berat, bahkan seperti Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam madhzab, memiliki ilmu yang tinggi beliau mengatakan ikhlas adalah perkara paling berat, sehingga tidak berani mengatakan amal ibadahnya sudah dilakukan dalam keadaan ikhlas. Maka jika ada seseorang yang awam, jauh dari ilmu kemudian dirinya merasa sudah dalam keadaan keikhlas maka sebenarnya dia masih jauh dari keikhlasan yang dimaksud dalam syariat, waallahua'lam."
Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللهِ مَالَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَاكَسَبُوا وَحَاقَ بِهِم مَّاكَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ
Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat … [Az Zumar : 47-48]
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al Kahfi : 103-104].

Islam akan kembali dalam keadaan asing.


Heran setiap posting ada mencantumkan hadist nabi semisal ada lafadz "Kullu bidatin dholallah", comment atas posting itu pasti sangat kasar atau ada juga yang comment dengan santun namun isinya menyampaikan agar hadist ini tidak usah disampaikan, pakailah nkata2 santun jangan gunakan kata2 kasar, sejak kapan hadist termasuk kata kasar?, subhanaAllah, dan herannya orang2 yang menolak perkataan2 Nabi itu adalah orang yang beragama Islam, bahkan juga penampilannya syar'i. Ini sungguh membingungkan justru orang yang mengaku pengikut Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalalam menganggap perkataan beliau masuk dalam kelompok perkataan2 kasar, dan tampa mereka sadari perbuatan ini sama halnya memerangi beliau, padahal Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassallam menyampaikan itu agar umatnya selamat, bukan untuk celaka, waallahua'lam.
Jadi ingat pembahasan soal hadist Islam kembali menjadi asing, kata Ustadz Maududi Abdullah, " ketika Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalllam itu dianggap asing oleh masyarakat pada waktu itu, akhirnya muncul berbagai tuduhan bahwa beliau seoang tukang sihir dan penipu dan dihinakan. Demikian juga ketika pada akhir jaman, Islam hilang ditengah masyarakat karena dianggap asing, ajarannya dicap berbagai macam tuduhan, orang-orang kebanyakan yang mengaku beragama Islam menganggap ajaran agamanya sendiri aneh. Maka beruntunglah sebagian orang yang berusaha istiqomah diatas jalan As Sunnah sekalipun mereka dianggap asing."
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz ketika ditanya tentang hadist ini beliau menjawab,
Apa arti dari hadits:
بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”
Jawab:
Artinya bahwa islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.
Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka asing. Dan hadits lengkapnya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
فطوبى للغرباء
“Maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim).
dan dalam riwayat yang lain :
قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس
Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya “wahai rasulullah siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.
Dan dalam lafadz yang lain:
هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي
”mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia”
Kita memohon kepada Allah – Subhanahu wata’ala agar menjadikan kita dan juga saudara kita kaum muslimin seluruhnya bagian dari mereka dan Dialah sebaik-baik tempat meminta
Referensi artikel tanya jawab Syaikh Bin Baz , diterjemahkan oleh Andi Ihsan di muslim.or.id