Monday, March 2, 2020

Dokter paling hebat saja tidak tau apa-apa tentang nyawa


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dapat cerita seorang teman dokter, dia bercerita bahwa ilmu kedokteran saat ini mampu menjelaskan banyak hal tentang fisiologi tubuh manusia, mulai bagaimana kerja organ pencernaan, organ pernafasan, sampai yang paling rumit seperti syaraf dalam tubuh manusia, namun dari semua ilmu kedokteran yang ada tidak satupun yang dapat menjelaskan bagaimana nyawa masuk ke tubuh manusia, kemudian dalam waktu tertentu tetap ditubuh seseorang, juga bagaimana ketika nyawa lepas atau keluar dari tubuh manusia. Atau yang simpel misal pertanyaan "dimana letak nyawa seseorang sehingga sebuah tubuh tetap hidup?".
Hal ini menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat-sangat terbatas, sementara ilmu Allah Azza wa Jalla jauh diatas semua makhlukNya.
Ketika kita mengetahui hal ini yang dapat kita lakukan adalah mengimani apa-apa yang dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla, termasuk juga soal kematian dan selalu mengingatnya agar menjaga kita tetap istiqomah diatas amal ibadah dan ketaatan kepadaNya, waallahua'lam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78].
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al Jumu’ah:8].
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. [Qaaf:19].
Kematian sebagai bukti nyata kekuasaan Allah, dan siapapun tidak ada yang dapat mengalahkanNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ
Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan [Al Waqi’ah:60].
Allah menantang kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka tidak dikuasai oleh Allah, dengan mengembalikan nyawa orang yang sekarat, jika memang mereka benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَوْ لآ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ فَلَوْ لآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar. [Al Waqi’ah:83-87].
Manusia tidak akan lepas dari ajal, bahkan ajal itu meliputinya. Imam Bukhari telah meriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا
Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis segi empat, dan Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya. Beliau membuat garis-garis kecil kepada garis yang ada di tengah ini dari sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini manusia, dan ini ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].
Sumber Referensi " Mengingat Kematian", Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim Al Atsari di web almanhaj.or

JANGAN SAMPAI SALAH BEKAL


Oleh Siswo Kusyudhanto
Mendapat nasehat dari salah seorang ustadz tentang bekal akhirat, kata beliau "selalu perhatikan bekal kita, yakni berupa amalan selama di dunia, jangan sampai ketika dijemput kematian bekal kita ternyata bukan menyelamatkan kita disaat hisab, justru bekal kita malah menjerumuskan kita kedalam neraka."
Nasehat singkat tapi penuh makna, betapa celaka ketika masuk liang kubur ternyata bekal kita berupa amalan yang melanggar syariat Allah dan RasulNya, ternyata bekal yang kita bawa full kesyirikan, full kebid'ahan, full maksiat.
Menjadi renungan pentingnya ilmu agama untuk memilah yang hak dan bathil, sehingga kita mampu memilah mana perbuatan yang hak dan mana yang bathil.
Mungkin ini sebab kenapa orang menuntut ilmu agama dimudahkan menggapai surga, karena dengan ilmu agama dia mengetahui jalan menuju surga, dan berusaha menghindari perbuatan yang membawanya ke neraka, waallahua'lam.
Hidup seperti tiket sekali jalan, jangan sia-siakan dengan perbuatan yang melanggar syariat Allah dan RasulNya, insyaAllah.
Dalam sebuah ayat Allah Azza Wa Jalla mengisahkan penyesalan seseorang yang ingin kembali ke dunia untuk beramal saleh,
رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100).

KENAPA ANDA SAYA BLOKIR ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menjelaskan wajibnya menghindari orang bodoh, "ciri orang bodoh yang melekat kepadanya adalah ketika kita mengajak mereka untuk taat kepada Allah dan RasulNya dan menjauhi larangan Allah dan RasulNya, dia malah marah kepada kita, dan ketika kita sudah meminta maaf namun dia terus marah, dan secara syariat kita wajib meninggalkannya. Ciri orang bodoh juga dia tidak mengerti fungsi dari diturunkannya agama, dia suka berdebat dalam perkara agama, padahal fungsi agama diturunkan adalah untuk dipelajari dan diamalkan, bukan untuk menjadi bahan perdebatan. Waallahua'lam."
Mungkin dalam dunia sosial media lebih tepatnya adalah melakukan blokir kepada orang-orang yang marah ketika menyampaikan amar makruf nahi munkar, meskipun kita sudah meminta maaf namun mereka tetap marah, jika sudah demikian sepatutnya kita meninggalkan dia, dengan cara memaafkan dan mblokirnya, waallahua'lam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ ١٩٩
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
Tafsir Ibnu Katsir:
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan tentang firman-Nya, خُذِ ٱلۡعَفۡوَ “Jadilah engkau pemaaf,” Allah memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam supaya memaafkan kaum musyrikin selama sepuluh tahun (ketika beliau di Makkah), kemudian (setelah hijrah ke Madinah) Allah memerintahkannya supaya bersikap keras terhadap mereka.
Sejumlah perowi menuturkan dari Mujahid mengenai firman-Nya, “Jadilah engkau pemaaf,” ia mengatakan, yakni terhadap akhlak dan perilaku manusia, tanpa mencari-cari kesalahannya.
Hisyam bin Urwah menuturkan dari ayahnya, Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam agar memaafkan berbagai perilaku manusia. Dalam suatu riwayat, ia mengatakan, “Jadilah engkau pemaaf terhadap segala perilaku mereka kepadamu.” Dalam Shahih Bukhari dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ‘Urwah, dari saudaranya, ‘Abdullah bin az-Zubair, ia mengatakan, “Allah menurunkan: “Jadilah engkau pemaaf,’ hanyalah berkenaan dengan akhlak manusia.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim sama-sama meriwayatkan: Yunus menuturkan kepada kami, Sufyan –yaitu Ibnu Uyainah­– menuturkan kepada kami, dari Umayya, ia mengatakan: Ketika Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan pada Nabi-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam ayat ini,
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ ١٩٩
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan, “Apa ini, wahai Jibril?” Ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu supaya memaafkan orang-orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang tidak memberi, dan menyambung orang-orang yang memutuskan perhubungan denganmu.” (Ath-Thabari (VI/ 154) dan Ibnu Abi Hatim (V/1638)
Sumber Referensi anacilacap.blogspot.c

Kajian Khusus Tuna Netra Masjid Umar bin Khattab Pekanbaru.




Oleh Siswo Kusyudhanto
Pagi ini saya ada diundang panitia kajian rutin khusus tuna netra di Masjid Umar bin Khattab jalan Delima Pekanbaru untuk meliput kegiatan mereka.
Begitu datang MasyaAllah, suasana jauh berbeda dengan kajian-kajian lainnya, karena mayoritas adalah tuna netra sehingga panitia sangat sibuk melayani peserta kajian, mulai datang harus dituntun menempati tempat duduk, sampai juga mengambil wudhu guna shalat tahiyatul masjid dan juga ketika mereka akan buang air kecil harus dituntun, MasyaAllah kesabaran panitia dalam melayani peserta kajian ini patut ditiru.
Kajian yang di gagas yayasan Ubudiyah ini juga mungkin kajian rutin termahal yang saya ketahui, karena sekali mengadakan kajian memerlukan dana sekitar 14 juta rupiah, dana yang di dapatkan dari beberapa donatur ini kebanyakan digunakan untuk transportasi para peserta kajian tuna netra dari rumah mereka ke tempat kajian, beberapa diantaranya datang jauh dari beberapa kota di Riau.
Sungguh duduk diantara teman-teman yang tidak memiliki penglihatan normal seperti mereka membuat banyak bersyukur, ternyata nikmat Allah Azza wa Jalla yang kadang kita anggap sepele namun bagi orang lain sangat berarti dan sangat besar artinya.
Semoga kajian khusus tuna netra seperti ini juga bermunculan di kota lainnya, agar teman-teman yang mengalami kekurangan fisik seperti tuna netra juga mendapatkan ilmu agama yang berguna bagi mereka, Aamiin

TIDAK PERLU MELAKUKAN BID'AH, KARENA SUNNAHNYA SUDAH DIAJARKAN NABI MUHAMMAD SHALALALLAHU ALAIHI WA SALLAM SEMUA.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz mengatakan, "dijaman sekarang di dunia ini perusahan secanggih apapun tidak ada satu perusahaan dimana mereka mengatur karyawannya bagaimana adab didalam kamar mandi, namun Islam sudah memberikan adab bagaimana harusnya didalam kamar mandi, berdoa sebelum masuk kamar mandi, kaki kiri dulu dilangkahkan ketika masuk dalam kamar mandi dan seterusnya. Jika urusan buang air kecil dan air besar saja yang sepele dimata manusia saja diatur oleh Islam, tentu mustahil Islam tidak mengatur hal yang jauh serius dalam agama seperti bagaimana berdzikir, bagaimana berdakwah, bagaimana bersedekah, bagaimana ketika ada orang mati, bagaimana shalat, bagaimana berjihad, bagaimana menegakkan agama ini dan hal lainnya.
Semua sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam sehingga tidak tersisa sedikitpun bagian kehidupan manusia yang tidak diatur oleh Islam.
Maka ketika kita menemukan sebuah perkara dalam kehidupan sehari-hari, kembalikan perkara itu kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam, bagaimana beliau bersikap atas perkara itu, bagaimana larangannya dan seruannya. Dari sana kita mengetahui mana yang hak dan mana yang bathil, karena mustahil ada urusan agama yang tidak beliau ketahui, karena manusia diatas permukaan bumi ini yang paling mengetahui Islam adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam, waallahua'lam.
Allah mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi segenap ummatnya. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Nama Allah.” [Al-Ahzaab/33: 21]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya. Untuk itu, Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya Azza wa Jalla ketika perang Ahzaab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada beliau hingga hari Kiamat.”
Sumber Referensi "Wajibnya Mentaati dan Meneladani Nabi Shallallahu alaihi wa Salla", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

Tingkatkan kualitas syukurmu




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kesempatan dapat nasehat seorang ustadz tentang sikap syukur, kata beliau, "Harusnya bagi kita yang telah mengetahui sedikit tentang ilmu agama banyak bersyukur, dan utama meningkatkan kualitas syukur kita, jika orang awam mereka bersyukur ketika mendapat gaji, ketika mendapatkan arisan, ketika mendapatkan hadiah dan semacamnya, seharusnya kita lebih dari itu, sebaiknya kita juga bersyukur ketika mampu duduk di kajian, bersyukur ketika mampu shalat fardhu berjamaah, bersyukur ketika mampu membaca Al-Qur'an dan beramal ibadah lainnya, karena disisi Allah Azza wa Jalla yang mahal adalah nilai amal ibadah kita, sementara urusan-urusan dunia itu sangat murah disisi Allah Azza wa Jalla, waallahua'lam."
MasyaAllah nasehat yang senilai emas batangan, memang benar adanya kita sejauh ini hanya banyak bersyukur kepada perkara-perkara dunia, sementara soal amal ibadah malah menganggapnya murah akhirnya kita jarang bersyukur atas hal ini, waallahua'lam.
Syukur secara bahasa,
الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف
“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” (Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.
Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:
الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة
“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).
Allah Ta’ala berfirman,
فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون
“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (QS. Al Baqarah: 152)
Sumber Referensi "Jadilah Hamba Allah yang bersyukur", karya Yulian Purnama di web Muslim.or

Saturday, February 15, 2020

Ustadz Masjid dan musholla sering di gembok, apa solusinya???




Ada teman bertanya kepada seorang Ustadz, " Ustadz bagaimana menyikapi banyaknya masjid dan mushollah yang digembok atau dikunci, dan dibuka hanya masuk waktu shalat tertentu saja?", lalu ustadz menjawab, " Coba renungkan dan cari tahu kenapa masjid dan musholla di negri kita sering digembok dan dikunci?, alasannya kebanyakan karena sedikitnya orang beramal ibadah di tempat itu, juga kalau tidak digembok dan dikunci tentu tidak aman, hal ini menunjukkan buruknya akhlak kebanyakan dari kita, karena bahkan masjid dan mushollah juga tidak aman dari kejahatan, semakin sedikit orang takut kepada Allah Azza Wa Jalla, maka mulailah bersemangat untuk beramal ibadah di masjid dan musholla, juga perbaiki tauhid kita, dan akhlak kita sehingga kita takut kepada Allah Azza Wa Jalla ketika akan melakukan kejahatan, mulai dari diri sendiri dan keluarga. waallahua'lam."
By Siswo Kusyudhanto