Saturday, November 10, 2018

KAMU KIRA SURGA ITU MURAH ???


Oleh Siswo Khusyudhanto
-----
Barang dagangan Allah Ta'ala adalah sebuah barang dagangan yang mahal.
Maka mustahil sesuatu yang mahal didapat tampa usaha yang berat.
Sesuatu yang mahal mustahil didapatkan dengan berleha-leha/bersantai.
Sesuatu yang mahal mustahil didapatkan dengan rasa malas.
Sesuatu yang mahal mustahil didapatkan dengan sedikit shalat.
Sesuatu yang mahal mustahil didapatkan dengan sedikit doa dan dzikir.
Sesuatu yang mahal mustahil didapatkan dengan sedikit sedekah.
Sesuatu yang mahal mustahil didapatkan dengan sedikit ilmu.
Barang dagangan Allah Ta'ala adalah sesuatu yang mahal
Karenanya Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam mendapatkan cobaan yang berat ketika berjuang menyampaikan agama ini.
Karenanya beliau juga terusir dari kampung halamannya dan hijrah ketempat yang lain.
Karenanya para sahabat nabi mendapatkan siksaan, hujatan dan meninggalkan rumah dan hartanya untuk berhijrah.
Karenanya para mukminin dijaman mereka berjuang dengan tangis air mata, peluh dan darah.
Sesungguhnya barang dagangan Allah Ta'ala adalah mahal, maka berjuanglah sekuat tenaga dalam meraihnya, berpegang teguhlah kepada Risalah Allah Ta'ala dan RasulNya, meskipun itu sangat berat, dikucilkan orang sekitar kita karena kita ingin berusaha menjadi benar.
Dan perbaguslah akhlak, karena akhlak mulia memiliki keutamaan pahala disisi Allah Ta'ala.
Sesuatu yang mahal dalam meraihnya perlu perjuangan, dan Istiqomah diatasnya.
Waallahua'lam.
Allah Ta'ala berfirman :
ان للهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ"
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Taubah: 111).
Al-'Imam ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya."
Dikutip dari Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah.

PENDAKWAH YANG MENDAKWAHKAN NAHI MUNKAR SANGAT SEDIKIT ???


Oleh Siswo Khusyudhanto
Sering kali mengajak teman yang awam ke kajian Sunnah sering kali ajakan itu mendapatkan penolakan, alasannya hampir sama, seperti, " kajianmu itu aliran keras", "golongan mu itu dikit-dikit haram", atau "kajian yang saya ikut lebih sejuk, gak pernah membahas Syirik, Bid'ah dan Riba, enak pokoknya, bikin seneng".
Kenapa bisa demikian?, berikut ini mungkin penjelasannya.
Dalam sebuah kajian seorang jamaah bertanya kepada ustadz pemateri kajian, "Ustadz kenapa banyak disebut dikalangan masyarakat awam kajian ini terlalu keras, radikal dan semacamnya?, Mungkin Ustadz dapat menjelaskan fenomena ini".
Ustadz menjawab, "Hal seperti ini mungkin diakibatkan kebanyakan masyarakat terbiasa mendengar kajian agama yang hanya materinya adalah bermuatan Amar Ma'ruf, dan sangat sedikit mereka mendengar kajian agama yang menjelaskan Nahi Munkar, sehingga ketika mereka mendengar kajian yang materinya bermuatan Nahi Munkar mereka menilai hal demikian sangat keras, sehingga menimbulkan tuduhan berbagai macam pada kajian yang demikian, seperti kajian radikal, kajian aliran keras bahkan juga Wahabi.
Semua itu disebabkan karena sangat sedikit pendakwah di negri ini mengikuti konsep Sunnah dalam berdakwah, yakni Amar Ma'ruf Nahi Munkar, kebanyakan pendakwah hanya menyampaikan Amar Ma'ruf, mereka menyampaikan kajian yang berisi seruan agar umat menjadi anak yang baik, istri yang baik, suami yang baik, karyawan yang baik dan seterusnya, dan mereka meninggalkan dakwah yang berisi seruan Nahi Munkar, sangat sedikit pendakwah menjelaskan bahaya Syirik, bahaya Bid'ah, bahaya Riba dan seterusnya.
Ketika mereka(para pendakwah) itu ditanya "kenapa kalian hanya mendakwahkan Amar Ma'ruf saja dan meninggalkan dakwah Nahi Munkar?", Mereka menjawab "itu bukan tugas saya", atau dalam artian mereka hanya mencari aman dengan menyampaikan Amar Ma'ruf dan takut ditinggalkan jamaahnya jika menyampaikan yang berkaitan dengan Nahi Munkar.
Maka ketika ada sebagian kecil pendakwah di negri ini yang berusaha mengikuti konsep Dakwah Sunnah yakni menyampaikan Amar Ma'ruf sekaligus Nahi Munkar, menjelaskan syariat agama dengan jelas mana yang hak dan bathil, yang terjadi justru banyak tuduhan dilayangkan kepada mereka, mulai ustadz radikal, aliran keras atau Wahabi, padahal apa yang disampaikan mereka didasarkan kepada dalil Sahhih baik dari Al-Qur'an dan Sunnah Sahhihah sekalipun.
Akibat budaya ingkar Nahi Munkar dan hanya mengutamakan Amar Ma'ruf ini akhirnya masyarakat terfitnah syubhat dan terlibat dalam amalan-amalan yang menyimpang, banyak perbuatan Syirik, Bid'ah dan Riba didalam masyarakat kita, dan kebanyakan merasa dalam amalan yang benar.
Hal demikian disebabkan tidak ada yang menjelaskan kepada mereka mana Perkara yang hak dan bathil.
Untuk itu menjadi pekerjaan besar para pendakwah untuk mengedukasi masyarakat terutama Umat Muslim agar mereka dapat menerima Dakwah Sunnah, yakni dakwah yang mengikuti Konsep Dakwah Sunnah, Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Waalahua'lam.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali Imrân/3:104]
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)
Sumber Referensi almanhaj.co dan Rumoysho.co

Friday, November 9, 2018

TIDAK DEMO BUKAN BERARTI TIDAK MEMBELA AGAMA


Ada teman yang baru kenal Kajian Sunnah bertanya kenapa jamaah kajian Sunnah atau lebih dikenal salafi tidak ikut berdemo, apakah tidak ikut membela agama Islam?
Saya balik bertanya,
Coba antum jawab, diantara banyak kelompok di negri ini siapa paling depan berdakwah melawan kesyirikan dan menegakkan tauhid?
dia jawab"salafi".
Coba antum jawab diantara banyak kelompok di negri ini siapa yang paling depan berdakwah melawan kebid'ahan dan berusaha menegakkan Sunnah ?
dia jawab,"salafi".
Coba antum jawab diantara banyak kelompok di negri ini siapa yang paling depan berdakwah melawan riba?.
dia jawab " salafi".
dan seterusnya jawabannya salafi semua.
lalu saya jawab itulah cara membela agama yang benar, insyaAllah.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali Imrân/3:104]

Thursday, November 8, 2018

SABAR UNLIMITED, INSYAALLAH


Oleh Siswo Khusyudhanto
Beberapa hari yang lalu disebuah masjid bertemu dengan teman pria yang sedang membawa anaknya yang berusia sekitar 10 tahun, si anak kebetulan seorang anak yang mengalami autis, dia mengajak si anak shalat fardhu berjamaah, selesai melakukan shalat berjamaah nampak oleh saya siayah dengan sabar memakaikan kaos kaki, sepatu dan jaket kepada si anak, masyaAllah jadi terharu, sementara si anak ngomong tidak tentu arah, dan seakan si ayah tidak peduli omongan si anak yang tak tentu arahnya.
Kagum dengan perjuangan para orang tua yang punya anak mengalami gangguan autisme, karena saya rasakan sendiri punya anak yang normal saja kadang melihat kenakalan atau kebandelannya bikin kita marah, dan butuh kesabaran menghadapi situasi seperti itu, tentu dalam menghadapi anak autis jauh lebih butuh banyak stock kesabaran karena ucapan dan tindakannya sulit diprediksi, dan kadang ucapan dan tindakan jauh dari keinginan kita.
Maka ketika ada seorang teman lain yang stress menghadapi anaknya yang autis, saya nasehati agar dalam merawat anak lihat sebagai ibadah dan jangan melihatnya sebagai keterpaksaan, dan insyaallah sikap sabar jauh lebih baik. Padahal entah sanggup atau enggak jika saya sendiri dalam menghadapi situasi demikian, yang penting dia tenang dan tidak stress.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abdullah Zein MA menyebutkan, sebuah kekeliruan jika ada seseorang mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya, ucapan seperti itu sebenarnya hanyalah dalih untuk membenarkan kemarahannya, seperti kita ketahui karena sabar adalah salah satu ibadah yang mulia disisi Allah Ta'ala, maka untuk sesuatu yang sifatnya ibadah tidak ada batasannya, artinya sabar tidak ada batasannya.
Dan salah satu ciri penghuni surga yang disebut oleh Allah Ta'ala diantaranya adalah sabar, waalahua'lam.
Allah Ta'ala berfirman :
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabbmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan, dan bumi Allâh itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. [az-Zumar/39: 10]
Sumber Referensi almanhaj.or.id

PELUANG INVESTASI DIDUNIA SEKALIGUS JUGA AKHIRAT, INSYAALLAH




Dulu saya masih ingat ketika diajak Ustadz Firdaus, pimpinan Pondok Pesantren Al Markis, Lipat Kain Utara, Lipat Kaian, Kampar, Riau untuk membantu usaha beliau mempertahankan konsep pondok yang beliau bina agar bersifat gratis biaya pendidikan dan hidup selama belajar disini, langsung saya semangat untuk membantu beliau, maklum kalau lihat dalam masyarakat kita kalau disebut pondok pesantren atau sekolah berbasis Ahlu Sunnah Manhaj Salaf yang terbayang adalah lembaga pendidikan mahal dengan uang masuk belasan juta hingga puluhan juta, dan pasti sekolahnya sangat representatif, sementara hampir tidak ada yang gratis, jika adapun gratis kemungkinan hanya bertahan beberapa waktu.
Dengan gratis biaya untuk santri seperti yang belajar di Pondok Pesantren seperti Al-markiz saya atau mungkin juga banyak orang lainnya berharap ilmu syar'i makin mudah diakses oleh masyarakat luas, bukan hanya kalangan ekonomi menengah keatas.
Ustadz Firdaus menyebutkan kebanyakan pondok pesantren gratis di Indonesia tidak bertahan lebih dari 5 tahun, atau hanya gratis biaya pendidikan bagi santrinya diawal tahun berdirinya namun pada tahun-tahun setelahnya terpaksa mengenakan biaya kepada santrinya mengingat kebutuhan makin besar bersamaan dengan besarnya jumlah santri.
Oleh karena melihat fenomena itu Ustadz Firdaus bersama teman ustadz pengajar lainnya di Pondok Al-Markiz berusaha mengembangkan usaha yang hasilnya digunakan untuk menutupi biaya pondok, seperti memelihara ikan nila dan ternak kambing, juga yang tengah berkembang yakni usaha membuat perabot tumah tangga dan kantor.
Bersama posting ini saya menawarkan kepada teman-teman untuk ikut berinvestasi kepada modal usaha yang dikelola oleh para santri Al Markiz, Lipat Kain, rencananya kami akan gunakan menambah modal usaha meubel yang tengah banyakj diminati produknya oleh masyarakat, namun kami tekendala oleh modal kerja yang masih minim.
Alhamdulillah minggu kemarin ada teman dari Amerika Serikat yang bersimpati kepada perjuangan kami dan mengivestasikan uang sejumlah 15 juta, namun setelah dikalkulasi kami kekurangan dana sebsar 20 juta.
Mungkin diantara teman-teman ada yang mungkin berminat investasi untuk mendukung perjuangan kami dapat menginvetasikan dana kepada Ustadz Firdaus dan teman ustadz pengajar untuk dapat dikembangankan dan hasilnya dapat mendukung proses belajar mengajar di Pondok Pesantren Al Markiz.
Jika minat investasi didunia juga akhirat insyaAllah, silahkan hubungi saya, Siswo kusyudhanto di WA 081378517454.
Atau juga Ustadz Firdaus di WA dan telpon 082386590057.
Atau teman-teman dapat datang langsung ke Pondok Pesantren Al-Markiz di Lipat Kain Utara, Lipat Kain, Kampar Riau.
Foto :
Buah karya Santri Ponpes Al Markiz, Lipat Kain, Riau

BEGINILAH KAMI MEMERANGI MAKSIAT



Oleh Siswo Khusyudhanto
Ada teman yang masih awam terhadap kajian Sunnah bertanya, " kenapa kalian tidak ikut serta memerangi maksiat seperti halnya .###..," menyebutkan nama sebuah ormas.
Lalu saya tanya maksud dari memerangi itu seperti apa, dia menjelaskan maksudnya yakni melakukan tindakan pembubaran tempat maksiat seperti diskotik, warung remang-remang dan sejenisnya.
Lalu saya sampaikan bahwa dalam memerangi maksiat paham Ahlu Sunnah juga seharusnya mengikuti Sunnahnya, yakni berdakwah, menyampaikan kepada umat tentang Tauhid, menumbuhkan sikap takut kepada Allah Ta'ala, dengan demikian diharapkan mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat dengan kesadaran sendiri, Tampa ada paksaan dari orang lain, InsyaAllah yang demikian jauh lebih efektif dari tindakan anarkis seperti itu.
Seperti dijelaskan seorang ustadz, melakukan tindakan anarkis seperti membubarkan tempat-tempat maksiat adalah tindakan bagus, masuk tindakan dari amar ma'ruf nahi munkar, namun yang terbaik adalah mengajak umat manusia kepada sikap takut melakukan maksiat, dengan cara mendakwahi mereka agar taat dan takut kepada Allah Ta'ala.
Karena jika melakukan tindakan anarkis seperti itu mungkin pelakunya takut kepada kita, sehingga dia tidak melakukan maksiat didepan mata kita, namun ketika dia bersembunyi dari pandangan kita kemungkinan dia akan melakukan tindakan maksiat yang sama.
Dan ketika dia takut kepada Allah Ta'ala untuk berbuat maksiat, dimanapun dia berada dia tetap takut berbuat maksiat, bahkan ketika dia sendirian dan tidak terlihat orang lain sekalipun.
Dan demikian pula yang terjadi dijaman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, ketika Allah Ta'ala turunkan syariat larangan minum khamr, karena sudah terbangun Tauhid yang benar dikalangan sahabat dan Umat Islam saat itu sehingga ada sikap sangat takut menentang Syariat Allah dan RasulNya, maka dengan suka rela mereka meninggalkan kebiasaan minum khamr yang sudah dijalani selama bertahun-tahun lamanya.
Dalam kisahnya bahkan disebutkan jalan-jalan di Kota Madinah mengalami banjir dengan khamr, disebabkan hampir semua orang menuangkan semua persediaan khamrnya.
Kesimpulannya melawan kemaksiatan yang terbaik adalah mengajak Umat Manusia untuk taat kepada Allah Ta'ala dan RasulNya.
Seperti yang kami lakukan dibeberapa Lembaga Pemasyarakatan di negri ini, kami membuka kelas-kelas bacaan Al-Qur'an untuk warga binaan (napi), kenapa Lembaga Pemasyarakatan?, Jawabannya karena ini tempat berkumpulnya orang yang pernah berbuat maksiat dimasa lalu, mulai korupsi, merampok, mencopet, mencuri, membegal, dan seterusnya, dan untuk menyadarkan mereka perlu ilmu melalui dakwah yang dilakukan secara terus menerus.
Dengan kelas bacaan Al-Qur'an seperti ini disela materi bacaan Al-Qur'an diselipkan tauziah tentang Tauhid kepada mereka, insyaAllah pelan namun pasti berkat hidayah dari Allah Ta'ala terbangun sikap taat kepada syari'at Allah dan RasulNya.
Waalahua'lam.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa! Sungguh, semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih (kebajikan) serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. [Al-‘Ashr/103:1-3]

Monday, November 5, 2018

SEPERTI MEMBAWA BABI KEDALAM MASJID ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu karena ada urusan saya pergi ke suatu tempat, dan saya berencana akan melakukan shalat ashyar didekat tempat itu karena waktunya tepat akan masuk shalat ashyar, namun betapa kagetnya katika sampai disana rupanya masjid yang akan saya tuju sedang memutar musik dan disalurkan ke TOA masjid sambil menunggu waktu masuk shalat, sehingga terdengar kemana-mana, jenis musiknya juga beragam, mulai dari sebuah group gambus terkenal saat ini, sampai musik dengan genre rock, subhanaAllah, memang musiknya dengan lirik Islami, namun bagaimana dengan hukum musiknya?, karena produk musik mencakup yang berasal dari semua jenis alat musik banyak ulama besar mengharamkannya secara mutlak.
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah menyebutkan, musik sepakat pendapat ulama berbagai mahzab adalah salah bentuk kemaksiatan, lalu kemudian jika musik dibawa ke masjid, dan diputar dengan pengeras suara ini merupakan perbuatan yang sangat buruk, meskipun dengan dalih itu musik Islami, karena masjid adalah rumah Allah Ta'ala seharusnya masjid dimuliakan dengan cara menjauhkan masjid dari segala bentuk kemaksiatan.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata –tentang hukum potong tangan bagi pencuri-:
فَكُلُّ ما له ثَمَنٌ هَكَذَا يُقْطَعُ فيه إذَا بَلَغَ قِيمَتُهُ رُبُعَ دِينَارٍ مُصْحَفًا كان أو سَيْفًا أو غَيْرَهُ مِمَّا يَحِلُّ ثَمَنُهُ فَإِنْ سَرَقَ خَمْرًا أو خِنْزِيرًا لم يُقْطَعْ لِأَنَّ هذا حَرَامُ الثَّمَنِ وَلَا يُقْطَعُ في ثَمَنِ الطُّنْبُورِ وَلَا الْمِزْمَارِ
“Maka segala barang yang berharga menyebabkan dipotong tangan sang pencuri jika harga barang tersebut mencapai seperempat dinar. Barang tersebut baik mushaf (al-Qur’an) atau pedang atau yang lainnya yang hasil penjualannya halal. Jika ia mencuri khomr atau babi maka tidaklah dipotong tangannya karena hasil penjualan khomr dan babi adalah haram. Dan juga tidak dipotong tangan sang pencuri jika mencuri tunbur (kecapi/rebab) dan mizmar (seruling)” (Al-Umm 6/147)
Jika analogi fatwa Imam Syafi'i yang menyetarakan alat musik setara keharamannya dengan khomr dan daging babi, kemudian musik itu dibawa ke dalam masjid dan disebarkan dengan cara memutar musik di pengeras suara milik masjid artinya sama saja perbuatan itu dengan memasukkan khomer dan babi kedalam masjid???. SubhanaAllah, Astaghfirulloh !!!.
Sumber Referensi. " Ajaran-ajaran Imam Syafi'i yang ditinggalkan pengikutnya", karya Ustadz Firanda Adirja di web firanda.co