Sunday, December 4, 2016

Jangan bangga dengan jumlah orang yang besar.


Lihat banyak posting demo atau apalah judulnya dengan menyebut kebanggaan atas besar nya jumlah orang yang hadir, sesungguhnya itu tidak membuktikan sama sekali kekuatan umat Islam sesungguhnya. Jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, "kalau anda ingin lihat kekuatan umat muslim sesungguhnya, maka lihat berapa orang jamaah shalat fardhu disaat subuh, itulah kekuatan umat Islam sesungguhnya. Karena merekalah yang punya kecintaan dan keikhlasan kepada agama ini".
Telah diriwayatkan dalam hadits shohih bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sebentar lagi akan muncul umat-umat yang berkerumun (memperebutkan) kalian seperti berkerumunnya orang-orang yang makan pada piringnya. Maka seseorang bertanya : “Apakah karena kami sedikit pada waktu itu? Rasulullah menjawab : “Bahkan jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih ombak di lautan. Dan sungguh-sungguh Allah akan mencabut rasa gentar di hati musuh-musuh kalian, kemudian Allah benar-benar akan melemparkan wahn ke dalam hati-hati kalian,” Maka seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Rasulullah menjawab : “Cinta dunia dan benci pada kematian.” (Dishohihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Ash shahihah 958).
Riwayat ini menceritakan keadaan umat Islam yang memprihatinkan sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Bukti kebenaran hadits ini semakin jelas, sejak munculnya fitnah besar. Yaitu sejak terbunuhnya khalifah Utsman bin ‘Affan radliyallahu’anhu, yang menyebabkan terpecahnya kalimat persatuan pada kaum muslimin dan tercerai-berainya barisan mereka. Sehingga kaum muslimin digambarkan bagai buih di lautan, diombang-ambing kesana kemari dan tidak memiliki kewibawaan lagi dihadapan musuh-musuh Islam. Dewasa ini percikan fitnah yang dahsyat itupun telah menimpa hati-hati kaum muslimin.
Dalam hadits di atas, Rasulullah juga memberikan gambaran tentang keadaan umat ini setelah Beliau wafat. Yaitu kabar kelemahan dan keterpurukan umat ini dihadapan musuh-musuh dikarenakan penyakit wahn yang melanda mereka. Penyakit ini jelas tidak dapat diobati Kecuali dengan kembalinya umat ini kepada pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, melalui bimbingan para ulama yang mengikuti jejak salafush sholeh (para pendahulu yang sholih).
Maka upaya untuk mengembalikan ‘izzah (kemuliaan kaum muslimin) adalah dengan mempelajari ilmu agama ini dan mengamalkannya. Sehingga umat ini dapat kembali kepada Dien dan terlepas dari berbagai macam problematika yang melanda.
Al Allamah Al Muhaqqiq Asy Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi Al Yamani mengatakan : “Telah banyak orang yang berilmu tentang Islam menetapkan, bahwa setiap kelemahan dan kehinaan serta berbagai bentuk kemunduran lainnya yang menimpa kaum muslimin ini, hanya dikarenakan jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar. Saya berpendapat bahwa (seluruhnya itu) kembali kepada tiga perkara :
1. Tercampurnya perkara yang tidak termasuk Dien dengan perkara Dien.
2. Lemahnya keyakinan terhadap perkara Dien.
3. Tidak mau beramal dengan hukum-hukum Dien
Oleh sebab itu, berilmu tentang adab-adab Nabawiyah As-Shahihah di dalam perkara ibadah dan mu’amalah –seperti mukim (bertempat tinggal), safar, bergaul, bersatu, bergerak, diam, bangun, tidur, makan, minum, berbicara, dan perkara-perkara lain yang terdapat pada manusia ketika hidupnya, dan beramal sesuai dengan kemampuan- adalah satu-satunya obat bagi problem itu. Sesungguhnya perkara-perkara adab tersebut adalah perkara yang mudah bagi jiwa. Maka apabila manusia beramal dengan perkara-perkara mudah dari adab-adab tersebut dan meninggalkan perkara yang menyelisihinya, Insya Allah dia senantiasa mempunyai keinginan untuk menambah amalannya.
Akhirnya, tidak ada sedetik pun waktunya kecuali akan menjadi tauladan yang baik bagi orang lain dalam perkara itu. Dia mengambil petunjuk yang lurus dan berperilaku dengan akhlak yang agung. Hati akan bercahaya dan dada akan lapang, jiwa akan tenang, keyakinan akan kokoh, dan amal akan menjadi baik. Apabila telah banyak orang yang berjalan di atas jalan ini, maka segala problematika itu, insya Allah akan sirna. (Muqaddimah Fadlullahis Shamad 1/17)
Asy Syaikh Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa jalan satu-satunya untuk terlepas dari keadaan muslimin yang menyedihkan ini adalah dengan kembali kepada Dien yang metodenya adalah dengan At Tashfiyah wat Tarbiyah (pembersihan pemikiran dan pendidikan). Beliau mengatakan : “Agar kita dapat memberikan dalil yang menunjukkan benarnya pendapat yang kita pegangi dalam manhaj (jalan) ini (yaitu) kita kembali kepada kitab Allah Al karim. Didalamnya ada satu ayat yang menunjukkan kesalahan orang-orang yang menyelisihi kita pada perkara yang sudah kita yakini, yaitu bahwa Al Bidayah (langkah pertama untuk kembali kepada Dien) adalah dengan melakukan At Tashfiyah dan At Tarbiyah.” Allah Ta’ala berfirman :
“Jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolong kamu.” (Muhammad : 7).
Inilah ayat yang dimaksudkan. Di sini para mufassirin (Ahli Tafsir) menerangkan bahwa makna Nashrullah (menolong Allah) adalah beramal dengan hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala. Allah Ta’ala berfirman :
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat”. (Al Baqarah : 3) (lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/293)
Maka, apabila pertolongan Allah tidak akan turun kecuali dengan menegakkan hukum-hukum-Nya, bagaimana kita dapat masuk ke dalam jihad. Yakni perang di medan tempur yang kita berharap pertolongan Allah turun di sana. Sedangkan kita tidak menolong Allah sesuai dengan yang telah disepakati oleh mufassirin. Bagaimana kita akan berjihad sedang akidah kita bobrok? Bagaimana kita bisa mendapat pertolongan dalam berjihad sedang akhlak kita rusak?
Referensi darussallaf.co

Jaga adab kita kepada Allah, karena kita hanya hamba.


Seseorang bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah, "ya ustadz kenapa kita masih juga dihisab kelak, bukankah takdir kita sudah di tulis di lauh mahfuzh?".
Mendengar pertanyaan ini ustadz agak kaget dan marah, lalu beliau berkata, " hati-hati berkata dan mempertanyakan penjelasan Allah dan RasulNya, jaga adab dan akhlak kita kepada Allah, kita hanya seorang hamba, maka sepatutnya kita berlaku sebagai hamba, dan tidak bolehmempertanyakan kenapa Allah begini dan begitu. Hati-hati menjaga lisan kita, apalagi jika itu berkaitan dengan Allah dan RasulNya. Banyak orang masuk ke dalam neraka karena lisannya, disebabkan dia tidak peduli akan perkataannya karena menuruti syahwat dan akalnya."
Lalu beliau mengutip sebuah hadist,
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [3] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”
Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2616 yang sekaligus dia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda.
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?”
Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas pertanyaan Mu’adz.
يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ
“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa yang dia tanam. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang menanam Sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatan maka kelak akan menuai penyesalan”.
Referensi Almanhal.or.id.co

Hukum Makanan Dalam Acara Tahlil Kematian, dan juga makanan dari perayaan orang kafir.


Jika makanan tersebut berupa buah-buahan, nasi dan lauk pauknya serta tidak ada dagingnya, maka hukumnya halal karena tidak dalil yang mengharamkan.
Jika makanan tersebut berupa daging sembelihan, maka dirinci juga: jika diniatkan karena Allah, hukumnya halal. Karena, daging tersebut tidak dipersembahkan kepada selain Allah, melainkan hanya untuk menghormati tamu yang datang pada acara tersebut, dan ini yang sering diakui oleh orang-orang yang punya hajat dalam acara tersebut. Tetapi, jika benar-benar ada sebagian daging yang ketika menyembelih meniatkan untuk arwah orang yang meninggal, maka status daging tersebut menjadi haram.
Pertanyaannya: Bukankah acara memperingati kematian seseorang tersebut tidak ada tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah orang yang memakan makanan yang disuguhkan berarti telah menyetujui dan mendukung acara yang tidak ada tuntunannya, berarti hukumnya haram memakan makanan tersebut?
Jawabannya :
Pertama: Tidak semua orang yang ikut makan setuju dengan acara tersebut, karena terkadang dia hanya mendapat kiriman makanan dari tetangganya, walaupun dia tidak ikut acara tersebut. Bahkan, barangkali dia menentang acara tersebut.
Apakah makanan tersebut dikembalikan lagi atau diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan? Ini tergantung pada keadaan masyarakat yang menjadi obyek dakwah.
Kedua: Harus dibedakan antara dzat makanan yang pada dasarnya halal, dengan sebuah acara bid’ah yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya tidak saling terkait. Bukankah anda tidak setuju dengan orang Jepang yang menyembah matahari atau tidak beragama, tetapi tetap saja anda membeli mobil yang diproduksinya? Apakah membeli mobil yang diproduksi orang kafir, berarti kita setuju dengan kekafiran mereka? Tentu saja tidak ada kelaziman antara keduanya.
Bagaimana Hukum Makanan dari Perayaan Natalan?
Jika makanan tersebut bukan masuk dalam katagori ritual agama mereka atau bukan dipersembahkan kepada selain Allah yang berupa daging dan sejenisnya, maka dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu halal. Karena makanan tersebut kebanyakan disuguhkan untuk orang-orang yang datang ke gereja, bukan bagian dari ritual itu sendiri.
Jika makanan itu berupa daging yang dipersembahkan kepada selain Allah, maka hukumnya haram. Di dalam Mushonnaf Abdurrozaq disebutkan bahwa :
أَنَّ اِمْرَأَةً سَأَلَتْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: إِنَّ لَنَا أظآرا مِنَ الْمَجُوْسِ، وَإِنَّهُ يَكُوْنُ لَهُمْ الْعِيْدُ فَيَهْدُوْنَ لَنَا؟ قَالَتْ: أَمَّا مَا ذُبِحَ لِذَلِكَ الْيَوْم فَلَا تَأْكُلُوْا، وَلَكِنْ كُلُوْا مِنْ أَشْجَارِهِمْ.
“Suatu ketika seorang perempuan bertanya kepada Aisyah, seraya berkata: “kami mempunyai teman orang-orang Majusi, mereka mempunyai hari raya, dimana pada hari itu biasa mereka memberikan hadiah kepada kami? Berkata Aisyah: “Adapun daging dari sembelihan pada hari itu (yang dipersembahkan selain Allah), maka janganlah kalian makan, tetapi makanlah yang berasal dari pohon-pohon mereka (yang bukan sembelihan)“
عَنْ أَبِيْ بَرْزَةَ: أَنَّهُ كَانَ لَهُ سُكَّانٌ مَجُوْسٌ، فَكَانُوا يَهْدُوْنَ لَهُ فِي النَّيْرُوْزِ وَالْمَهَرْجَانَ، فَكَانَ يَقُوْلُ لِأَهْلِهِ: مَا كَانَ مِنْ فَاكِهَةٍ فَكُلُوْهُ، وَمَا كَانَ مِنْ غَيْرِ ذَلِكَ فَرَدُّوْهُ.
Dari Abu Barzah, beliau mempunyai tetangga orang-orang Majusi, pada hari raya mereka, yaitu Nairuz dan Maharjan, mereka memberikan hadiah kepadanya, maka beliau menasihati keluarganya: “Yang berupa buah-buahan maka, makanlah, selain itu kembalikan kepada mereka.“
Berkata Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho Shirathol Mustaqim, hal: 250, menanggapi dua atsar di atas: “Ini semuanya menunjukkan bahwa tidak ada pengaruhnya dalam hari raya mereka untuk menerima hadiah dari mereka, bahkan (menerima hadiah) pada waktu hari raya atau di luar hari raya adalah hukumnya sama. Karena menerima hadiah dari mereka tidak termasuk dalam membantu penyebaran syiar kekafiran mereka…Makanya dibolehkan memakan makanan (sembelihan) dari Ahli Kitab dalam hari raya mereka dengan cara jual beli atau pemberian hadiah atau dengan cara-cara yang lain selama mereka tidak menyembelihnya demi ritual hari raya tersebut.”
Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA
Pondok Gede, 8 Syawal 1424 / 15 Agustus 2013
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

Pak kyai kok gak cingkrang?


Suatu sore seorang pemuda berjenggot dan bercelana cingkrang bertemu seorang kyai, dan si pemuda melihat pak kyai sarungnya menyentuh tanah, melihat itu si pemuda berniat mengingatkan, "mohon maaf pak kyai, saya lihat sarung pak kyai menyentuh tanah, bukankah itu termasuk isbal yang terlarang?", mendengar teguran itu pak kyai merasa tidak suka, " maaf pemuda, kalau isbal itu terlarang jika ada sikap sombong pada diri seseorang, kalau gak sombong ya gak apa2". Si pemuda heran mendengar jawaban Itu, lalu si pemuda berkata, "maaf pak kyai saya persilahkan pak kyai memahami sabda Rasulullah seperti itu, masalahnya siapakah yang tau dirinya sombong atau tidak?, bukankah yang menilai seseorang sombong atau tidak itu hanya Allah?, bukan seseorang menilai dirinya sendiri, dari mana dia tau sombong atau tidak?". Mendengar perkataan si pemuda si kyai langsung terdiam dan membenarkan hal itu, " iya juga yaa, ada benarnya", lalu si kyai menggulung naik sarungnya agar tidak isbal.
Isbal artinya berlabuh, yakni melabuhkan kain, menurunkan kain melewati mata kaki.
Para ulama salaf menyatakan bahwa ada sifat sombong atau tidak isbal tetap terlarang.
An Nawawi:
فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع ، ، فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه
“Kain yang melebihi mata kaki itu terlarang. Jika melakukannya karena sombong maka haram, jika tidak maka makruh” (Al Minhaj, 14/88)
Ibnu Hajar Al Asqalani :
وحاصله: أن الإسبال يستلزم جرَّ الثوب، وجرُّ الثوب يستلزم الخيلاء، ولو لم يقصد اللابس الخيلاء، ويؤيده: ما أخرجه أحمد بن منيع من وجه آخر عن ابن عمر في أثناء حديث رفعه: ( وإياك وجر الإزار؛ فإن جر الإزار من المخِيلة
“Kesimpulannya, isbal itu pasti menjulurkan pakaian. Sedangkan menjulurkan pakaian itu merupakan kesombongan, walaupun si pemakai tidak bermaksud sombong. Dikuatkan lagi dengan riwayat dari Ahmad bin Mani’ dengan sanad lain dari Ibnu Umar. Di dalam hadits tersebut dikatakan ‘Jauhilah perbuatan menjulurkan pakaian, karena menjulurkan pakaian itu adalahll
kesombongan‘” (Fathul Baari, 10/264)
Bahkan dalam sebuah hadist disebut larangan isbal secara mutlak.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari 5787)
Waallahua'lam.
Referensi almanhaj. Or.id

Cinta tapi khianat, gimana caranya?


Kadang kala perilaku ahlul bid'ah itu kontradiktif, bertentangan, misal mereka bilang merayakan maulid nabi dengan alasan wujud dari cinta, melantunkan shalawat dan bahkan melafadzkan shalawat yang berbau kesyirikan seperti shalawat nariyah. Mereka bilang cinta mati pada Nabi, namun disaat mendengar hadist Nabi, perkataan dari manusia yang paling terbaik dimuka bumi itu mereka mengingkarinya, bahkan marah, kemudian mencaci maki saat mendengar perkataan Nabi, "kullu bidatin dhollah", adalah hadist sahhih, disahhihkan hampir semua perawi hadist, derajatnya tidak disangsikan lagi. Atau mereka bilang sangat mencintai nabi, namun disaat Nabi bilang, "inilah jalanku yang lurus, dan jangan ikuti jalan-jalan lain, dan jalan-jalan lain ada setan dipersimpangan yang menghasut manusia untuk memasukinya", derajat hadist ini juga sahhih, malah mereka cari jalan lain yang menurut mereka benar dan hasanah.
Cinta tapi mengkhianati?, gimana caranya kelak saat hisab? ngaku cinta dan pengikut Nabi namun tata cara dan jalannya menyelisihi tatacara nabi dan jalan Nabi?

Friday, December 2, 2016

Bid'ah itu saingan bagi syariat utamanya.


Semalam dirumah tetangga ada tahlil kematian seribu hari sanak keluarganya, soal amalan itu terserah mereka, soal hisab kelak urusan masing2 orang, kita tidak mampu melarangnya. Namun yang bikin prihatin ketika menjelang isya', banyak orang duduk disitu menunggu acara yang akan diselenggarakan setelah selesai isya', padahal mushola hanya berjarak 30 meter dari rumah itu. Sedih nengoknya, shalat fardhu yang jelas ada tuntunannya dilalaikan, sementara amalan yang tidak jelas asal muasalnya malah diutamakan, subhanaAllah. Jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, salah satu ciri khas amalan bid'ah adalah amalan itu menjadi saingan bagi amalan yang telah disyariatkan, menjadi saingan bagi syariat utamanya. Persis yang terjadi semalam, tahlil kematian lebih utama dari shalat fardhu berjamaah, padahal kelak yang dihisab pertama kali yakni shalat, dan gak ada pertanyaan apakah kita mengamlkan tahlil kematian atau enggak, karena amalan itu tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, juga tidak diajarkan para sahabat beliau, bahkan juga tidak diajarkan para imam madhzab, waallahua'lam.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”
Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi)

Jangan sekali-kali lupakan Allah.


Dalam beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa Allah Maha segala-galanya, artinya Allah tempat bergantung segala urusan manusia. Maka dakwah setan paling utama adalah melalaikan manusia agar tidak menganggap Allah adalah segala-galanya, membuat manusia tidak memiliki sikap bergantung kepada Allah, dan akhirnya manusia lupa kepada Allah. Jika manusia telah lupa kepada Allah, manusia jarang berdzikir menyebut asma Allah, saat itu adalah kesempatan besar bagi setan menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Sebaliknya jika manusia menganggap Allah satu-satunya tempat bergantung segala urusan, manusia selalu ingat kepada Allah dengan banyak berdzikir setiap saat, maka kemungkinan kecil dia akan dijerumuskan setan kepada kesesatan, karena jika ingat Allah selalu artinya dia mengetahui bahwa Allah selalu melihatnya, dan menilainya, dengan sendirinya dia akan bertingkah laku sesuai yang disyariatkan Allah dan RasulNya.
Namun apakah benar kita telah mengingat Allah, coba kita ingat, siapakah yang paling banyak kita ingat?, kalau kita ingat paling banyak adalah nama anak kita artinya anak kita lebih besar dari Allah, jika yang keluar jawaban itu adalah nama istri kita artinya istri kita lebih besar dari Allah, namun paling parah jika yang kita ingat adalah nama selingkuhan kita, Allah lebih buruk dari sesuatu yang buruk.
Maka ingatlah selalu Allah agar kita selamat di dunia dan akherat.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allâh, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” [al-Ahzâb/33:41-42]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman.
وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“… Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“[al-Ahzâb/33:35]
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.