Sunday, October 27, 2019

Kenapa sakit membuat seseorang makin dekat kepada Allah Azza wa Jalla ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa hari yang lalu sempat masuk angin berat, sampai tidak kuat berdiri, akhirnya tergolek diatas pembaringan, penyebabnya mungkin kecapekan disertai lupa makan, ditambah kehujanan ketika mengantar paket pesanan buku teman juga mengantar beberapa kotak Mushaf Al-Qur'an ke ekspedisi untuk kelas-kelas bacaan Al-Qur'an dibeberapa masjid disejumlah daerah, ini harus saya antar meskipun hujan karena ditunggu banyak orang, kalau terlambat tentu kelas bacaan Al-Qur'an akan terlambat juga untuk dilaksanakan.
Saat sakit seperti itu jadi banyak mengingat Allah Azza wa Jalla, Alhamdulillah, benar nasehat seorang ustadz ketika membahas sebuah hadits bahwa sakit membersihkan dosa seseorang, karena dalam keadaan sakit seseorang sehebat apapun akan turun kesombongan yang ada pada dirinya, ini disebabkan karena orang yang sedang sakit merasa dalam keadaan paling lemah, dan pada saat seperti itu dia sangat membutuhkan pertolongan dzat yang jauh lebih kuat darinya yakni Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.
Ini adalah alasan kenapa orang yang sedang sakit sering berdoa dan minta didoakan kesembuhan kepada orang lain.
Waallahua'lam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)
Sakit juga akan Membawa Keselamatan dari api neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)
Sumber Referensi "Rahasia dibalik Sakit", karya Abu Hasan ST. Di web Muslim.or

Syubhat dalam Video Gus Nur


Oleh Siswo Kusyudhanto
Banyak teman-teman yang sudah mengenal Dakwah Salaf men-share video pengakuan Gus Nur tentang kesadaran beliau akan kebenaran perkataan Ustadz Khalid Basalamah bahwa musik haram, dan sejak meninggalkan mendengar musik Gus Nur merasa hidup lebih nyaman dari sebelumnya, Alhamdulillah ikut senang dengarnya, ini sama rasanya seperti ketika saya meninggalkan hobby mendengar musik jazz di masa lalu, ternyata jauh menenangkan meninggalkan musik.
Semoga suatu hari Gus Nur rujuk ke Manhaj Salaf, Aamiin.
Sekilas video ini bagus sehingga banyak dishare teman-teman, namun sebenarnya ada beberapa bagian yang mengandung muatan syubhat, seperti "Ambil baiknya dan tinggalkan buruknya", dan syubhat ini sudah populer didalam masyakarat, bahkan diserukan beberapa ustadz terkenal lainnya, kaidah ini sebenarnya tidak benar, seperti dituturkan oleh Ustadz Abu Zubair Hawaary, beliau mengatakan, "Ada syubhat dikalangan masyarakat bahwa mengambil ilmu agama itu dapat dari siapa saja, asal ambil baiknya dan tinggalkan buruknya, ini sungguh kaidah bathil, karena bagaimana antum dapat memisahkan yang baik dan buruk apa yang disampaikan oleh seorang ustadz atau da'i ? Sedang antum tidak mengetahui mana yang baik dan yang buruk?, Bahkan misal antum disuruh membuka ayat Al-Qur'an nomer sekian antum tidak tau dimana tempatnya?.
Yang benar mengambil ilmu adalah dari orang yang jelas Aqidahnya, jelas keilmuannya, jelas dia berguru kepada siapa, seperti disampaikan Muhammad bin Sirin salah seorang Tabi'in ketika melihat seseorang belajar kepada seorang pelaku kebid'ahan, beliau mengingatkan untuk melihat dari mana kita mengambil ilmu.
Waalahua'lam.
Imam besar Ahlus sunnah dari generasi Tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata, “Sesungguhnya ilmu agama (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu meraih ketakwaan kapada Allâh), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu.”
(Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahîh Muslim, 1/43-44 – Syarhu Shahîh Muslim)
Sumber Referensi"Lihat dari mana engkau mengambil ilmu", karya Ustadz Abdullah Taslim di almanhaj.or

LINGKUNGAN ADEM YA YANG SESUAI SUNNAH




Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau berkunjung di sekolah atau pondok pesantren dimana mayoritas orang disitu berpaham Sunnah sangat terasa adem di hati dan fikiran, pastinya sedikit maksiat ditempat seperti ini, seperti para wanitanya tertutup auratnya sehingga sedikit peluang untuk menimbulkan syahwat bagi para lelaki. Juga banyak orang berdzikir dengan siir dan muroja'ah Al-qur'an, MasyaAllah terasa adem benar.
Jadi teringat ketika seorang ustadz membahas tentang tujuan akhir dari kegiatan dakwah, yakni mengajak Umat manusia kepada ketaatan pada Allah dan RasulNya, ketika itu semua tercapai maka diharapkan rahmat Allah Azza Wa jalla akan tercurah dari dalam tanah dan langit, jika ini terjadi maka semua kebahagiaan akan terkumpul dimana negri itu dirahmati.
Semoga pada suatu hari Indonesia mayoritas warganya mengenal Dakwah Sunnah dan tegar serta istiqomah diatas Tauhid dan Sunnah, dan dijauhkan dari kehidupan yang penuh maksiat, bid'ah dan kesyirikan, agar negri ini dirahmati oleh Allah Azza Wa Jalla, aamiin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [Al-A’raf/7 : 96]
Foto TK As Sunnah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

MEMBERI HADIAH ADALAH SALAH SATU AMALAN SUNNAH YANG MULIA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Tadi siang ada ustadz bercerita kepada saya, beliau menceritakan kegembiraannya mendapatkan hadiah dari Ustadz Khalid Basalamah, yakni berupa parfum yang sangat langka juga termasuk parfum premium, jarang dijual ditoko kebanyakan, saking gembiranya dengan pemberian hadiah dari Ustadz Khalid Basalamah ini sampai beliau simpan di lemari dirumahnya dengan sangat rapi, bahkan agar awet ini parfum hanya pada hari tertentu saja digunakan, seperti menjelang shalat Ied atau acara penting lainnya.
Jadi ikut senang dengar cerita beliau, jadi paham betapa senangnya membuat orang lain bahagia dengan memberikan hadiah, dan ini adalah salah satu amalan Sunnah yang mulia yang seharusnya kita juga amalkan, InsyaAllah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَهَادُوا تَحَابُّوا
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai“.
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa hadiah ini bisa menyebabkan persatuan dan saling cinta, bahkan terkadang memberikan hadiah lebih utama daripada sedekah pada keadaan tertentu. Beliau berkata,
ولأنها سبب للألفة والمودة. وكل ما كان سبباً للألفة والمودة بين المسلمين فإنه مطلوب؛ ولهذا يُروى عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه قال: (تهادوا تحابوا)، وقد تكون أحياناً أفضل من الصدقة وقد تكون الصدقة أفضل منها
“Karena hadiah merupakan sebab persatuan dan rasa cinta. Apapun yang dapat menjadi sebab persatuan dan rasa cinta antar kaum muslimin, maka ini dianjurkan. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai’. Terkadang memberi hadiah itu lebih baik dan terkadang sedekah itu lebih baik (pada keadaan tertentu).”
Sumber Referensi "Sunnahnya saling memberikan hadiah", karya Dr. Raehanul Bahraen, di muslim.or
Foto Baliho Dakwah di jalan Air Hitam, Pekanbaru.

SEBANYAK APAPUN DOSAMU, BERUSAHALAH UNTUK TERUS MEMPERBAIKI DIRI



Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau dikirimi foto kegiatan kelompok Bacaan Al-Qur'an yang saya ikut membantu dengan menyalurkan sumbangan teman-teman berupa Mushaf Al-Qur'an dan buku iqro' untuk kelas bacaan Al-Qur'an di beberapa lokasi seperti Lembaga Pemasyarakatan Jailolo Halmahera Barat Maluku Utara atau Lembaga Pemasyarakatan Sarolangun Jambi jadi teringat nasehat seorang ustadz, kata beliau ketika kita melakukan kesalahan dan dosa segera bangkit dan berusaha memperbaiki diri, pada dasarnya selama hidup kita melakukan hal demikian, jatuh bangkit lagi untuk berusaha menjadi lebih baik lagi, jatuh lagi dan berusaha bangkit lagi, begitu seterusnya sampai kematian menjemput kita.
Jadikan kesalahan dan dosa sebagai motor penggerak bagi kita untuk selalu memperbaiki amal dan ibadah kita, dan menjadi pendorong agar tetap Istiqomah diatas ketaatan pada Allah Azza wa Jalla, insyaallah, dan jangan lupa berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar dimatikan diatas Islam, diatas ketaatan kepadaNya, jangan sampai kita mati diatas maksiat, itu sungguh kematian yang sangat buruk, waalahua'lam.
Juga sekalian saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman donatur yang sudah membantu mereka dalam usaha untuk memperbaiki diri mereka yang pernah melakukan kesalahan dimasa lalu, sehingga karenanya mereka mendekam di lembaga pemasyarakatan dalam sekian waktu, semoga bacaan Al-Qur'an mereka juga menjadi pahala bagi para donatur Mushaf Al-Qur'an dan buku, Aamiin.
Allah ta’ala berfirman,
وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً
“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 27)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nuur: 10)
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya.” (QS. An Najm: 32)
Allah ta’ala berfirman,
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raaf: 156)
Foto warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Jailolo Halmahera Barat, Maluku Utara dan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Sarolangun Jambi.

NASEHAT EMAS KETIKA MERASA DIZALIMI


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada nasehat yang sangat mencerahkan dan menyegarkan dari seorang teman yang saya perlukan ketika kita merasa dizalimi, atau mungkin merasa dikhianati dan dikecewakan seseorang, dia berkata, " Bagi kita yang sudah ngaji lama, dan tau bahwa setiap perbuatan ada hisabnya, maka ketika kita dizalimi yakinkan bahwa pelakunya akan menghadapi hisab kelak, dan dia harus mempertanggung jawabkan kelak saat hisab, jadi kenapa kita harus kecewa dan sedih?, tidak ada alasan bagi kita untuk kecewa dan sedih, kita akan menghadapi hisab atas perbuatan kita demikian juga dengan dia, yang dapat kita lakukan adalah berusaha bersabar dan berdoa agar dikuatkan menghadapi hal-hal buruk yang menimpa kita, bukankah sabar adalah salah satu tiket ke surga?".
MasyaAllah nasehat senilai emas, jazakallahu khairan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menulis semua amalan hambaNya, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firmanNya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴿٧﴾وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. [al Zalzalah / 99:7-8].
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. [al Mujaadilah / 58 : 6].
Sehingga seluruh pelaku perbuatan melihat amalannya dan tidak dapat mengingkarinya, karena bumi menceritakan semua amalan mereka. Begitu pula seluruh anggota tubuh pun berbicara tentang perbuatan yang telah ia lakukan. Dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا﴿١﴾وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا﴿٢﴾وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini),” pada hari itu bumi menceritakan beritanya, [al Zalzalah / 99 : 1-4].
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. [Yaasin / 36:65]
Sumber Referensi "Hisab pada hari pembalasan" karya Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi Lc di almanhaj.or

Saturday, October 19, 2019

YANG DINILAI OLEH ALLAH AZZA WA JALLA ADALAH HATIMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kemarin dihubungi seorang teman, dia bercerita ingin bersedekah Mushaf Al-Qur'an untuk membantu kami memenuhi kebutuhan Mushaf Al-Qur'an dibeberapa lokasi kelas bacaan Al-Qur'an yang berada dibeberapa Masjid dan Musholla di Sumatera Barat, pertama mendengar itu saya sangat gembira, maklum permintaan dari para ustadz pengajar sangat banyak hampir 250 Mushaf Al-Qur'an saat ini dibutuhkan untuk mendukung mereka dalam proses belajar mengajar dan dakwah ke masyarakat, sementara donatur yang menyumbang sangat sedikit.
Namun cerita berikutnya membuat saya menolak secara halus sedekahnya, sekaligus bikin haru dan bangga padanya, teman yang akan bersedekah ini bercerita bahwa dia baru saja di PHK oleh perusahaan dimana dia bekerja, dan dia mendapatkan sejumlah pesangon sejumlah uang, dan sebagian dari pesangon itu rencananya dia gunakan untuk menyumbang Mushaf Al-Qur'an kepada saya, MasyaAllah, jadi merinding dengarnya, maklum disaat dia mendapat kemalangan berupa PHK dari perusahaannya masih juga dia ingin bersedekah, tentu keinginan dia saya tolak, saya sarankan agar uangnya digunakan untuk memulai usaha atau digunakan biaya hidup selama belum bekerja, insyaallah itu lebih baik, soal sedekah Mushaf Al-Qur'an biar teman yang lain yang lebih lapang soal harta yang mengisinya.
Jadi teringat kajian Ustadz Abdullah Zein tentang hal ini, beliau mengatakan seseorang bergaji 3 juta kemudian dia bersedekah 1 juta, dengan seseorang yang bergaji 10 juta kemudian bersedekah 1 juta, meskipun kedua orang ini sama-sama bersedekah 1 juta, secara nominal uang sama, namun menurut pembahasan ulama yang bergaji 3 juta dan bersedekah 1 juta nilainya jauh lebih besar disisi Allah Azza wa Jalla, dari orang yang bergaji 10 juta dan bersedekah 1 juta, kenapa?, Karena orang yang bergaji 3 juta dan kemudian bersedekah 1 juta membutuhkan pengorbanan yang lebih besar dalam hatinya, karena yang disedekahkan adalah sepertiga dari gajinya, sementara orang yang bergaji 10 juta yang disedekahkan 1 juta itu nilainya cuma sepersepuluh dari gajinya, tentu ringan bagi dia dan tidak terlalu membutuhkan pengorbanan besar dalam hatinya, Allah Azza wa Jalla tidak melihat rupa juga harta seseorang namun menilai dari amalan hatinya, waalahua'lam.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
Beberapa faedah dari hadits di atas:
1- Amalan yang dibalas oleh Allah adalah amalan yang disertai niat yang ikhlas dan benar.
2- Kita harus lebih memperhatikan keadaan hati dari berbagai sifat tercela.
3- Memperbaiki hati lebih didahulukan daripada memperhatikan amalan lahiriyah. Yang utama, hati diperbaiki dengan memperhatikan akidah.
4- Amalan seseorang bisa jadi nampak baik secara lahiriyah, namun hatinya rusak. Oleh karena itu, tetap kita berinteraksi dengan orang semacam ini dengan memperhatikan lahiriyahnya. Sedangkan hatinya yang rusak adalah urusannya dengan Allah.
Sumber Referensi "Lihat Hatimu", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di rumaysho.c